Duniaekspress.com. (01/7/2018). – Bamako – Markas pasukan koalisi negara-negara Sahel yang tergabung dalam G5 dilaporkan mengirim pasukan ke wilayah konflik di Mali tengah menyusul meningkatnya aktifitas insurjensi di area itu. Secara khusus, pasukan militer dikirim untuk mengatasi serangan terbaru pada hari Jumat (29/06) yang memakan korban sedikitnya 6 orang tewas. Sejauh ini belum ada kelompok yang menyatakan bertanggung jawab.

Sekelompok penyerang yang diduga para jihadis mencoba menyusup ke markas pasukan koalisi G5 di Sevare, sebuah kota kecil di daerah Mopti, Mali bagian tengah. Sebuah bom mobil diledakkan untuk menembus perimeter terluar yang diikuti dengan kontak senjata sengit. Saat situasi kacau, satu unit kecil pasukan penyerang berani mati menyerbu ke dalam markas. Media lokal melaporkan, jumlah korban sementara 6 orang tewas kemungkinan adalah anggota pasukan koalisi G5.

Belum ada pernyataan resmi dari kelompok manapun yang menyatakan bertanggung jawab, namun dari segi taktik dan target operasi mengarah pada kelompok JNIM afiliasi al-Qaidah. Menurut media berita Mauritania, Al Akhbar, JNIM telah menghubungi mereka dan menyatakan berada di balik serangan tersebut, namun JNIM sendiri belum memverifikasi dari sumber yang lain. Menurut sumber yang ada, JNIM mengatakan serangan berani mati dilakukan oleh pejuang mereka bernama Harun al-Muhajir yang mengindikasikan pejuang asing.

Foto: Wilayah Sahel Afrika

Konglomerasi jihadis ini, beserta kelompok-kelompok sub-korporasinya telah melancarkan berbagai serangan sejenis sejak beberapa tahun lalu. Katibah Macina (MLF) diketahui secara rutin melancarkan serangan di wilayah Mali ini. Kota Sevare juga merupakan lokasi hotel yang menjadi target serangan Al-Murabithun di bawah  JNIM pada tahun 2015 lalu.

Di bulan April 2018, JNIM mengerahkan 4 pembom istisyhad untuk menyerbu markas elit PBB di dalam bandara Timbuktu. Saat itu, para jihadis menggunakan beberapa kendaraan yang sudah dimodifikasi mirip kendaraan PBB dan kendaraan militer Mali untuk infiltrasi ke dalam kompleks airport. Satu pasukan PBB dinyatakan tewas, dan sedikitnya 10 lainnya luka-luka akibat serangan tersebut. Perancis mengkonfirmasi 7 tentaranya luka-luka. Pasca serangan, JNIM mengumumkan 3 dari 4 orang pelaku serangan adalah pejuang asing anggota mereka.

Serangan terbaru pada hari Jumat kemarin, menurut data kompilasi, paling tidak menjadi serangan yang ke-133 oleh kelompok jihadis afiliasi al-Qaidah di Mali dan di wilayah luas Sahel sejak awal 2018. Jejak dan intensitas serangan jihadis relatif stabil cenderung meningkat selama beberapa tahun terakhir meskipun sudah digelar operasi masif kontra-terorisme oleh pasukan Perancis, PBB, termasuk koalisi pasukan G-5 yang terdiri dari Burkina Faso, Chad, Mali, Mauritania, dan Niger. (RR)

Sumber: Long War Journal

 

Baca juga, PESAN AMIR AL-QAIDAH PADA UMMAT ISLAM AL-MAGHRIBI