UPAYA MEMADAMKAN API-API JIHAD

Duniaekspress.com. (3/7/2018). Pada era perang dingin, dua raksasa kekafiran bersaing memperebutkan pengaruh di seluruh belahan bumi. Ketika Uni Soviet menginvasi Eropa Timur: Cekloslovakia, Rumania, Hungaria hingga Jerman Timur, AS menjalin persekutuan dengan Eropa Barat membentuk pakta pertahanan NATO. AS bersekutu dengan Saudi, Mesir, Kuwait, Soviet masuk ke Yaman, Suriah, Irak. Tidaklah satu bumi dimasuki satu pihak kecuali pihak pesaingnya masuk mempengaruhi bagian bumi yang lain. Hingga ketika Uni Soviet menginvasi Afghanistan, AS berusaha untuk mendekati Pakistan, mendatangi para pengungsi di sepanjang perbatasan Pakistan-Afghanistan, berusaha mencari jalan untuk menanamkan pengaruhnya kepada para mujahidin yang berjuang melawan pendudukan Uni Soviet.

Ketika itu rezim-rezin thawaghit di negara-negara kaum muslimin memberikan kelonggaran gerakan Islam untuk berjihad di Afghanistan menghadapi Uni Soviet. Mereka memberikan keleluasaan berangkat ke Afghan, bahkan sebagian tokoh mujahidin pulang balik dari negerinya ke Afghan untuk berjihad dengan leluasa, mereka berfikir, daripada mengganggu dan merecoki kekuasaan mereka, lebih baik diberi kemudahan berjihad menghadapi Uni Soviet.

Namun ketika para tokoh dunia baik Barat maupun Timur mulai menyadari bahwa para mujahidin mempunyai agenda sendiri yang tidak sejalan dengan kepentingan mereka, mulailah mereka menyamakan persepsi, merapatkan barisan, bersekutu satu dengan yang lain untuk menghadapi musuh bersama baru, yakni abnaa’ as-shahwah al-islamiyah al-jihadiyah dengan agendanya: melaksanakan syariat Allah, menegakkan khilafah ala minhaji nubuwwah dan membebaskan tempat-tempat suci kaum muslimin. Ronald Reagan bertemu Michael Gorbachev, dua pemimpin dari dua kekuatan yang selalu bersaing memperebutkan pengaruh bertemu, duduk bersama membicarakan musuh baru yang akan mengganggu singgasana mereka. Singgasana yang didirikan di atas pondasi kekufuran dan mengeksploitasi seluruh dunia untuk memuaskan hawa nafsunya. Mulailah era baru persekutuan dunia untuk menghadapi jihad dan mujahidin.

Setelah keruntuhan Uni Soviet di Afghanistan, disusul runtuhnya dominasi Rusia terhadap negara-negara yang bergabung di dalamnya, api jihad merembet kemana-mana. Runtuhnya Uni Soviet sebagai pesaing AS, menjadikan AS negara terkuat tanpa saingan. Karena karakter Islam yang tidak memberi tempat ideologi kufur, maka bagi umat Islam yang diwakili oleh abnaa’ as-shahwah al-islamiyah al-jihadiyah, keruntuhan Uni Soviet tidak menjadikannya tidak mempunyai musuh. Rusia menjadi pewaris terbesar wilayah Soviet dan kekuatan militernya, termasuk kontrol atas senjata nuklir.

AS mentahbiskan diri sebagai super power tunggal dan memperkenalkan ‘tatanan dunia baru’ di mana AS berperan sebagai satu-satunya yang berhak diikuti oleh penduduk bumi. Sebagai negara yang berdiri di atas bangunan materi dan tujuan memuaskan kesenangan hawa nafsu, tidak berbeda dengan Rusia, maka inisiatif perang menghadapi kekuatan baru yang sedang terbit dan menanjak naik diambil alih AS. Bumi Afghanistan tempat terjerembabnya ‘Beruang Merah’, dinvasi oleh AS dengan mengajak sekutu Baratnya berbekal lisensi PBB. Peralihan dan suksesi pemimpin perang terjadi di front yang berhadapan dengan jihad dan mujahidin.

Sementara itu api jihad terus meluas. Front jihad tidak lagi terkonsentrasi di Afghanistan, tetapi juga di Maghrib, Mali, Nigeria, Yaman, Somalia, Irak, Checnya-Dagestan, dan sekitarnya. Juga di Mindanao, perbatasan Pakistan-Afghanistan. Disusul (setelah pergolakan ‘Arab Springs’) munculnya medan jihad baru seperti di Libya, Sinai dan Suriah.

Perkembangan tersebut mendapat perhatian serius para pemikir Barat. Mereka secara intensif dan berkesinambungan terus melakukan studi tentang Islam dan jihad. Studi agresif mereka tujukan terhadap strategi jihad. Para pemikir Barat menyadari bahwa abnaa’ as-shahwah al-islamiyah al-jihadiyah. Dalam perkembangannya telah melahirkan para pemikir yang memberikan orientasi jihad dari perang mempertahankan diri menuju strategi penghancuran kekuatan Barat. Dan membangun di atas puing-puing keruntuhannya bangunan khilafah rasyidah ala minhajin nubuwah. Bahkan para pemikir jihad telah merilis tahapan-tahapan ‘marhalah’ hingga ultimate goal penegakan khilafah tercapai, berikut prediksi waktunya.

Sampai batas itu, para pemikir Barat menyadari bahwa menghentikan jihad dan mematikan apinya sudah tidak mungkin lagi, seperti tidak mungkinnya menahan aliran air pada jebolnya tanggul dan bendungan dengan jari-jari tangan. Tetapi mereka belum putus asa dan terus saling menyemangati untuk bersabar karena perang melawan ‘terorisme’ (sandi perang terhadap Islam) memerlukan waktu yang panjang.

Ratusan karya tulis para pemikir Barat bertema jihad dibuat, dan selalu diakhiri disertai kesimpulan dan rekomendasi dalam menghadapi perang melawan ‘terorisme’ tersebut. Kesimpulan dan rekomendasi itu jangan dibayangkan ABS (Asal Bapak Suka), asal dapat menghibur para pelaku perang baik tentara yang ada di front, para pemimpin militer, pemerintah yang mengendalikan perang, maupun pihak-pihak lain yang terlibat. Analisa kritikan terhadap kekeliruan persepsi dan kesalahan langkah yang dilakukan oleh pemimpin militer maupun keputusan politis pemerintah pengendali perang, tak jarang sangat keras dan tajam. Tetapi semua bermuara pada kesimpulan akhir dan rekomendasi bagi seluruh stake holder perang bersandi ‘war on terror’ itu untuk memenangkan perang.

Diantara rekomendasi yang terpenting untuk memenangkan ‘war on terror’, para pemikir Barat menyarankan untuk menjalankan strategi Harmony and Disharmony. Rincian rekomendasi itu diantaranya agar keamanan lingkungan Al-Qaidah terus dirusak, juga pengendalian operasi dan kontrol keuangannya. Mereka menyarankan agar kontrol organisasi Al-Qaidah ke bawah terus diganggu sehingga kalau struktur organisasi di bawah terlibat pelanggaran terhadap kesepakatan organisasi, tidak dapat diterapkan hukuman yang layak.

Rekomendasi tak kalah pentingnya adalah supaya ditimbulkan pertikaian internal di lingkungan Al-Qaidah dan ketika telah terjadi perselisihan jangan melakukan tindakan yang justru menjadikan mereka menjadi bersatu (karena menghadapi musuh yang sama dari luar). Mereka juga mengusulkan untuk meruntuhkan otoritas para komandan senior dengan mengeksploitasi aib dan kelemahan mereka, menjadikan mereka bingung, lemah semangat dan dipermalukan, dan masih banyak lagi usulan para pemikir tersebut.

Jika rekomendasi para pemikir perang tersebut direnungkan dan disimak lebih teliti, militer di lapangan maupun pemerintah yang mengendalikan perang tentu akan mencari pintu masuk untuk dapat memenuhi rekomendasi itu demi memenangkan perang. Dan pintu masuk itu adalah infiltrasi, operasi intelijen, dari mulai pengumpulan informasi hingga rekomendasi taktis operasional di lapangan. Operasi yang menghajatkan pelaksana lapangan dengan melibatkan agen-agen yang direkrut bukan saja dari kesatuan prajurit barat, tetapi juga melibatkan rekrutan lokal yang bersedia dibayar untuk bekerja bagi kepentingan mereka. Dalam operasi pembunuhan tokoh-tokoh jihad dengan pesawat drone untuk membatasi dan merusak kemananan lingkungan Al-Qaidah dan menimbulkan saring kecurigaan di basis-basis yang dikuasainya, diperlukan agen lapangan yang bertugas memasang chip untuk mengunci target serangan. Begitu pula pada operasi-operasi yang lain.

Silahkan dibayangkan, mungkinkah para thawaghit Arab bersepakat dengan para abnaa’ as-shahwah al-islamiyah al-jihadiyah dengan target-target yang dituju; penegakan khilafah ala minhajin nubuwah, implementasi syariat Islam dan pembebasan tempat-tempat suci umat Islam? Mungkinkah penguasa Hijaz setuju dengan mujahidin mengusir tentara barat kafir dari bumi Nabi Muhammad? Mungkinkah para penguasa Arab bersepakat dengan mujahidin untuk membatalkan perjanjian damai dengan Israel dan mengumumkan perang? Jawabannya jelas, tidak mungkin.

Baca juga, JANGAN MAU DIPECAH BELAH DENGAN ISLAM ARAB ATAU INDONESIA

Di sisi lain pemerintah negara-negara tersebut juga tidak mungkin lagi seperti awal revolusi Suriah, sama sekali menelantarkan penduduk Suriah setelah konverensi ulama sedunia di Mesir merekomendasikan untuk menolong umat Islam di Suriah dan menumbangkan Bashar. Mereka pasti berfikir keras untuk menemukan jalan agar tetap mendapat dukungan rakyat dengan memperhatikan secara terbatas seruan untuk menolong umat Islam dan menumbangkan Bashar di satu sisi, tetapi di sisi lain mereka pasti menolak agenda mujahidin melaksanakan syariat Islam dan menegakkan khilafah, mengusir orang-orang musyrik dari jazirah Arab.

Pada titik ini para thawaghit Arab berada pada satu kepentingan dengan Barat untuk menumbangkan Bashar, tetapi tetap menghalangi implementasi syariat Islam secara kaffah dan penegakan institusi khilafah. sebab jika runtuhnya kekuasaan Bashar diganti dengan khilafah, berarti lonceng kematian bagi rezim mereka.

Operasi intelijen dengan bantuan uang dan senjata, menawarkan posisi politik jika nanti Bashar telah jatuh adalah keniscayaan. Inteligen Barat dan arab pasti mencari celah untuk masuk kepada seluruh faksi perlawanan di Suriah demi menimbulkan kekacauan, perselisihan, pembunuhan tokoh-tokoh senior jihad dan memecah belah hubungan antar sesame tandzim jihad dengan menggunakan logistik, uang dan senjata tersebut.

Pada strategi besar Barat dan para thawaghit Arab tersebut, semestinya tidak boleh ada dari kalangan mujahidin dari faksi manapun yang boleh merasa aman dari operasi infiltrasi tersebut. Barangsiapa dari kalangan faksi-faksi mujahidin merasa bahwa operasi infiltrasi hanya dilakukan terhadap kelompok yan lain, sementara kelompoknya selamat dari operasi penyusupan dan penggalangan oleh musuh, maka anggapan itu kekanak-kanakan dan terlalu menganggap remeh lawan.

Sungguh diperlukan pemimpin yang bertakwa, berilmu, memiliki kebersihan hati, kuat firasah, takut kepada Allah dan berani mengambil keputusan, serta memiliki sikap berani untuk menghadapi situasi rumit di medan jihad yang sangat menekan syaraf tersebut. Semoga Allah menyelamatkan para mujahdin dan para pemimpinnya yang mukhlis, bertindak bodoh dan salah. (AB).

Sumber: Diambil dari Majalah An-Najah edisi 106

 

Baca juga, KRITIK SYAIKH USAMAH TERHADAP AMALIYAT DI NEGERI KAUM MUSLIMIN