Duniaekspress.com. (4/7/2018). Amerika Serikat telah menghiasi presidennya dengan segala kemewahan yang membuat kaisar Romawi tampak tidak ada apa-apanya bila dibandingkan dengannya. Dan tanda-tanda yang jelas dari pemujaan presiden AS dilengkapi dengan doktrin hukum yang membenarkan klaim Richard Nixon yang pernah didiskreditkan kepada David Frost, “Ketika presiden melakukan sesuatu, hal itu berarti bukanlah ilegal.”

Perkembangan-perkembangan ekstra-konstitusional ini mencerminkan transformasi Amerika Serikat dari sebuah republik, yang kemegahannya adalah kebebasan individu dan rajanya adalah aturan hukum, menjadi sebuah kerajaan imperium, yang kemegahannya adalah kekuasaan global dan yang hukumnya adalah presiden.

Para perumus Konstitusi AS akan terkejut bila mengetahui bahwa presiden yang menjabat saat ini telah menjadi jaksa, hakim, juri, dan algojo bagi siapa pun di planet ini yang dianggap sebagai ancaman terhadap keamanan nasional atas dasar “rahasia”, dan bukti yang belum teruji yang hanya diketahui oleh Gedung Putih.

Sebuah imperium membutuhkan adanya seorang Kaisar dan kepatuhan total dari warganya. Kepemimpinan dunia melalui proyeksi global kekuatan militer tidak dapat dilakukan dengan adanya kontrol dari pihak lain dan pemisahan kekuasaan, yang dapat mengurangi kecepatan dan mengundang perdebatan. Napoleon pernah memberi ceramah: “Tidak ada yang lebih penting di dalam perang daripada kesatuan perintah…. Lebih baik satu jenderal yang buruk daripada dua jenderal yang baik.”

Lord Tennyson memberi hormat kepada Kerajaan Inggris, yang disalin dalam The Charge of the Light Brigade:

“Forward, the Light Brigade!”

Was there a man dismayed?

Not though the soldier knew

Someone had blundered.

Theirs not to make reply,

Theirs not to reason why,

Theirs but to do and die.

Into the valley of Death

Rode the six hundred.

 

Karena wujud dari keadilan selalu dituntut untuk ada, maka sosok seorang Kaisar pun perlu dipilih. Oleh karena itu, presiden dilindungi oleh peleton dari agen Dinas Rahasia. Gedung Putih, dengan menutup jalan yang sebelumnya terbuka melalui jantung ibukota dan melindungi presiden dari para pengkritik, telah menjadi sebuah kastil. Staf Gedung Putih telah memperluas dan memperkuat kekuasaan dengan mengorbankan pejabat Kabinet yang dikonfirmasi dengan saran dan persetujuan Senat.

Perdebatan, yang didorong oleh pemisahan kekuasaan, menjadi tidak berarti di mana dukungan untuk imperium ditanggung oleh kompleks industri militer kontraterorisme bernilai multi-triliun dolar, seperti di Amerika Serikat. Partai Republik dan Demokrat bersatu di belakang setidaknya tujuh perang presidensial inkonstitusional yang sedang berlangsung dan meningkatkan anggaran keamanan nasional triliunan dolar.

Negara maniak perang ini telah melahirkan surveillance, kapitalisme kronis, dan negara-kesejahteraan. Kongres dan cabang yudisial menjadi sangat berisik dan marah, tetapi tidak melakukan apa-apa. Pemisahan kekuasaan sesuai Konstitusi sedang berhenti berkembang.

Kehidupan hukum bukanlah keadilan tetapi pemujaan terhadap kekuasaan. Hal ini menghasilkan doktrin yang menganut hukum rimba bahwa yang kuat dapat melakukan apa yang mau mereka lakukan dan yang lemah menderita. Ketika konfigurasi kekuasaan berubah, hukum menyesuaikan dengan tepat. Adaptasinya mungkin tidak seketika, tetapi tidak dapat ditawar. Hal ini tidak mengherankan. Hakim tidak dilahirkan seperti Athena dari kepala Zeus.

Mereka dipilih melalui proses politik yang memeliharanya demi kesesuaian pandangan para politisi. Benjamin Cardozo mengobservasi dalam buku The Nature of the Judicial Process: “Gelombang dan arus besar yang menelan orang lain tidak akan berpaling ke arah mereka dan membiarkan para hakim itu.”

Amerika Serikat telah menjadi imperium garnisun terbesar dan paling aktif dalam sejarah, yang dibangun oleh Perang Dunia II dan pasca disintegrasi Uni Soviet.

Imperium ini memiliki, antara lain, sekitar 800 pangkalan militer di lebih dari 70 negara. Memiliki lebih dari 240.000 gugus tugas aktif dan pasukan cadangan di setidaknya 172 negara dan wilayah. Berkomitmen de facto atau de jure untuk melindungi 70 negara, dan peperangan dalam kendali presiden, sebagai pihak utama yang berperang, atau memberi arahan kepada sekutu di Libya, Somalia, Yaman, Suriah, Irak, Pakistan, Afghanistan, dan melawan al-Qaeda dan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS).

Presiden AS telah dengan kebutuhan menjadi Caesar terlepas dari apakah penghuni Gedung Putih memiliki gen resesif atau dominan. Hukum telah beradaptasi dengan sesuai, menghancurkan Konstitusi seperti gelindingan bola penuh duri yang merusak.

Saat ini, presiden, dengan impunitas total, telah memprakarsai perang yang melanggar Klausul Deklarasi Perang; membunuh warga negara Amerika yang melanggar Klausul Proses Hukum; terlibat dalam pengawasan (surveillance) warga negaranya sendiri yang melanggar Amandemen Keempat; mengganti perjanjian eksekutif dengan perjanjian baru untuk menghindari persyaratan ratifikasi Senat oleh dua pertiga mayoritas yang melanggar Klausul Perjanjian.

Selain itu presiden juga mengganti perintah eksekutif untuk undang-undang yang melanggar Pasal I, bagian 1; menerbitkan pernyataan penandatanganan kepresidenan yang melanggar Klausul Penyajian; menggunakan delegasi yang tidak memiliki standar yang luas dari otoritas legislatif, yang melanggar pemisahan kekuasaan berdasarkan Konstitusi.

Presiden juga telah menyalahgunakan privilese rahasia negara untuk memblokir ganti rugi peradilan atas tindakan eksekutif yang tidak konstitusional yang melanggar proses hukum; menolak tunduk pada pengawasan kongres yang melanggar kekuatan penyelidikan kongres; dan menolak membela undang-undang yang disahkan sebagaimana mestinya.

Konstitusi AS akan terlahir kembali hanya jika rakyat Amerika menolak imperium mereka demi sebuah republik di mana kebebasan individu adalah inti. Namun kemungkinan hal itu terjadi tidak banyak. (RR).

Sumber:  theamericanconservative

 

Baca juga, KEBIJAKAN DONALD TRUMP PERBURUK PERDAMAIAN DI TIMUR TENGAH