PBB DESAK MESIR BEBASKAN PUTRI SYAIKH AL-QARADAWI

Duniaekspress.com (4/7/2018)- Dewan Hak Asasi Manusia PBB mendesak Mesir untuk segera membebaskan putri seorang cendekiawan Islam dan suaminya yang telah ditahan tanpa tuduhan resmi sejak 30 Juni lalu.

Ola Al-Qaradawi adalah putri Yusuf al-Qaradawi, seorang ulama Islam terkemuka, yang tinggal di pengasingan di Qatar.

“Kami mengetahui bahwa kesehatan Ola al-Qaradawi lemah dan semakian memburuk dan mendesak pihak berwenang untuk memastikan bahwa haknya untuk mendapat kesehatan dan integritas fisik dan psikologis dihormati,” tegas Liz Throssell, juru bicara hak asasi manusia PBB, seperti yang dilansir Al Ajzeera, Selasa (3/7/2018).

Ola al-Qaradawi telah ditahan di sel isolasi “di salah satu penjara terburuk di Mesir”, kantor hak asasi manusia PBB mengatakan pada hari Selasa.

Suaminya Hosam Khalaf ditahan dalam kondisi yang sama di penjara yang berbeda, menurut laporan media.

“Kami menyerukan Mesir untuk membebaskan semua orang yang ditahan sewenang-wenang di negara itu tanpa syarat,” tambahnya.

Baca Juga:

IMPERIUM PENJAJAHAN AMERIKA BUTUH KAISAR

ISRAEL HADAPI DEMONSTRAN WANITA DENGAN SENJATA

Pada bulan Juni, badan yang diamanatkan oleh PBB mengeluarkan keputusan yang menentukan bahwa Qaradawi dan suaminya ditangkap secara sewenang-wenang dan menyerukan agar mereka segera dibebaskan.

Pengasingan diri Qaradawi yang berkepanjangan juga bisa menjadi penyiksaan, perlakuan kejam, tidak manusiawi atau merendahkan, kata keputusan itu.

Pemerintah Kairo mengklaim bahwa Ola al-Qaradawi dan Hosam Khalaf dituduh menjadi anggota Ikhwanul Muslimin terlarang, yang dikatakannya sebagai kelompok “teroris”.

Keluarga itu membantah tuduhan itu dan membawa kasus itu September lalu kepada kelompok kerja PBB tentang penahanan sewenang-wenang.

Pihak berwenang Mesir telah menahan ribuan lawan politik kepada Presiden Abdel Fattah al-Sisi sejak ia memimpin penggulingan mantan Presiden Mohamed Morsi tahun 2013, yang merupakan anggota Ikhwanul Muslimin. Kritik mengatakan itu adalah penumpasan politik terburuk dalam sejarah modern Mesir.