Duniaekspress.com (5/7/2018)- Menteri Hak Asasi Manusia Yaman pada hari Rabu (4/7) mengatakan, pemberontak Houthi telah membunuh ratusan wanita sejak dimulainya perang saudara di Yaman.

“Milisi Houthi telah membunuh 814 wanita dan melukai 4.179 pada periode dari September 2014 hingga Mei 2018,” kata Mohammed Askar, seperti yang dilansir Anadolu Agency, Kamis (5/7/2018).

Askar berbicara di sebuah seminar di Jenewa dengan teman “Bagaimana Menyelamatkan dan Melindungi Perempuan dan Anak-Anak dalam Krisis Yaman”.

Pelanggaran pemberontak Houthi terhadap wanita di Yaman termasuk pembunuhan, penyiksaan, penghinaan, kekerasan seksual, penahanan, penyiksaan psikologis, pemindahan paksa dan pelanggaran lainnya, menteri menambahkan.

Ketika menjelaskan dimensi pelanggaran Houthi terhadap wanita, Askar ingat bahwa Reham al-Badr, anggota komisi penelitian pelanggaran hak asasi manusia dan aktivis hak asasi manusia, ditembak mati oleh seorang sniper Houthi di kota Taiz yang dikepung pada awal Februari.

Lebih lanjut Askar juga menyinggung pelanggaran Houthi terhadap anak-anak di semina.

“Houthi jatuh ke dalam enam kategori kejahatan serius terhadap anak-anak, pembunuhan, mutilasi, paparan bahaya termasuk dengan wajib militer kepada mereka, penculikan, perampasan bantuan makanan dan kekerasan seksual,” terangnya.

Dia mencatat bahwa anggota Houthi telah menanam ranjau darat di Yaman meskipun ada larangan internasional terhadap praktek ini dan ranjau telah membunuh atau melukai ratusan warga sipil, yang kebanyakan adalah wanita dan anak-anak.

Baca Juga:

135 GUGUR SEJAK AKSI KEPULANGAN DI JALUR GAZA

ANCAMAN IRAN PICU KENAIKAN MINYAK MENTAH

Yaman yang miskin telah didera kekerasan sejak 2014, ketika gerilyawan Syiah Houthi menguasai sebagian besar negara, termasuk ibu kota, Sanaa.

Konflik meningkat pada tahun 2015 ketika Arab Saudi dan sekutu Sunni-Arabnya, yang menuduh Houthi melayani sebagai kekuatan proxy untuk Syiah Iran, meluncurkan kampanye udara besar-besaran di Yaman yang bertujuan untuk mengembalikan keuntungan Houthi.

Tahun berikutnya, pembicaraan perdamaian yang disponsori PBB yang diadakan di Kuwait gagal mengakhiri konflik yang merusak.

Kekerasan telah menghancurkan infrastruktur dasar Yaman, termasuk sistem air dan sanitasi, yang mendorong PBB untuk menggambarkan situasi sebagai salah satu “bencana kemanusiaan terburuk di zaman modern”.