Perkataan-Perkataan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab Yang Disembunyikan Kelompok ghuluw (Tulisan pertama).

oleh : abu fatih muhammad joulani indunisy

Duniaekspress.com. (5/7/2018). Tidak diragukan lagi bahwa *Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab* dan para ulama dakwah Nejed setelahnya, adalah termasuk para ulama yang paling banyak mengkaji dan membuat ketetapan masalah _udzur jahil_ dalam perkara syirik akbar.

Mereka termasuk orang yang paling memiliki perhatian dan paling banyak mengkaji masalah ini. Oleh karena itu pernyataan-pernyataan mereka dalam masalah ini sangat banyak sekali, dalam konteks yang bermacam-macam dan untuk tujuan yang berbeda-beda. Sehingga pernyataan-pernyataan mereka tentang masalah ini sebagiannya nampak kontradiktif.
Dan sejak dulu sampai sekarang orang berselisih pendapat mengenai apa sebenarnya pendapat *Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab* dan para ulama dakwah Nejed lainnya dalam masalah ini. Berbagai macam kajian ditulis mengenai masalah ini dengan tujuan untuk memaparkan berbagai pernyataan mereka dan untuk mengetahui bagaimana sebenarnya pendapat mereka.

Siapa saja yang mengikuti berbagai kajian-kajian tersebut, niscaya dia akan dapatkan bahwa ternyata para penulisnya memiliki kesimpulan yang berbeda-beda sampai taraf kontradiksi. Di mana sebagian di antara mereka ada yang berkesimpulan bahwa *syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab* dan para ulama dakwah Nejed lainnya itu memberikan udzur bagi orang yang tidak tahu dalam perkara syirik dan mereka memaparkan berbagai pernyataan yang menguatkan bahwa memang seperti inilah pendapat Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dan para ulama dakwah Nejed lainnya.
(Lihat:

– Syarhu Kasyfi Asy-Syubuhat, Al-‘Utsaimin, hal. 46.
– Si’atu Rohmati Robbi Al-‘Alamin, Sayyid Al-Ghobbasyi, hal. 57-62.
– Nawaqidlu Al-Iman Al-I’tiqodiyah, Muhammad Al-Wuhaibi 1/268-286.
– Dlowabithu At-Takfir, Abdulloh Al-Qorni, hal. 134.
– Al-Jahlu Fi Masaili Al-I’tiqod Wa Hukmuhu, Abdurrozzaq Ma’asy, hal. 434.
– Al-‘Udzru Bi Al-Jahli Wa Ar-Roddu ‘Ala Bid’ati At-Takfiri, Ahmad Farid, hal. 63.
– Al-‘Udzru Bi Al-Jahli ‘Aqidatu As-Salafi, Syarif Hazza’, hal. 144.
– Syubuhatu At-Takfiriyyin, Umar Abdul Aziz, hal. 345.
– Taqrirotu Aimmati Ad-Da’wati Fi Ar-Roddi ‘Ala Al-Khowarij, Muhammad Thohiri, hal. 437-452.* )

Sebagian lagi berkesimpulan bahwa Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dan para ulama dakwah Nejed lainnya itu tidak memberikan udzur karena ketidaktahuan dalam perkara syirik. Dan mereka mengumpulkan berbagai nukilan yang menguatkan bahwa *Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab* dan para ulama dakwah Nejed lainnya itu berpendapat seperti ini.
(Lihat:

*- Al-Jawabu Al-Mufidu Fi Hukmi Tariki At-Tauhid, Abu Abdillah Abdurrohman bin Abdil Majid, hal. 111-119*
*- Al-‘Udzru Bi Al-Jahli Tahta Al-Mijhar, Madhat Alu Farroj.*
*- Atsaru Hujaji At-Tauhid, Alu Farroj.*
*- ‘Aridlu Al-Jahli, Abu Al-‘Ala Ar-Rosyid.*
*- Dlowabithu Takfiri Al-Mu’ayyani ‘Inda Syaikhoi Al-Islami Ibni Taimiyata Wa Ibni ‘Abdil Wahhab, Abu Al-‘Ala Ar-Rosyid. )*

Dalam kajian ini kami tidak ingin mengesampingkan berbagai macam nukilan dari para ulama dakwah Nejed mengenai masalah ini. Oleh karena itu kami akan nukilkan dalam kajian ini berbagai pernyataan yang menunjukkan bahwa mereka memberikan udzur atas ketidaktahuan orang dalam masalah syirik. Dan tentunya tidak diragukan lagi bahwa nukilan mengenai masalah ini banyak sekali.

Sebelum masuk ke sana, kami harus menyampaikan satu pengantar penting untuk memahami berbagai pernyataan para ulama dakwah Nejed yang berkaitan dengan _takfir al-mu’ayyan_ (mengkafirkan orang perorang). Yaitu bahwasanya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab itu pada saat memulai dakwahnya untuk pemurnian tauhid dan memerangi syirik, ia mendapatkan penentangan dari berbagai kelompok. Di mana yang paling keras dan paling banyak adalah dari kalangan yang menentang bahwa istighotsah kepada kuburan dan amalan lainnya yang dilakukan masyarakat itu adalah syirik akbar. Mereka berpendapat bahwa itu semua adalah _syirik asghor_ yang otomatis akan mendapatkan ampunan dengan berbagai musibah yang dialaminya maupun amalan-amalan baik penghapus dosa yang dilakukannya. Atas dasar itu dan juga yang lainnya mereka berpendapat tidak mungkin orang muslim yang terjerumus dalam syirik itu dikafirkan selama dia mengakui dua kalimat syahadat. Di antara yang paling terkenal yang memiliki sikap seperti ini adalah: *Sulaiman bin Abdul Wahhab* dan *Ibnu Jirjis* .
Para pengikut kelompok ini berusaha dengan sungguh-sungguh untuk menentang *Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab.* Mereka mengumpulkan nash-nash syariah dan pernyataan para ulama dengan sangat banyak sekali untuk memperkuat pendapat mereka. (AB)

bersambung Insya Allah…

 

Baca juga, NASEHAT SYAIKH AL FATIH ABU MUHAMMAD AL JOULANI HAFIZAHULLAH