DISEMBUNYIKANNYA PERKATAANNYA SYAIKH MUHAMMAD BIN ABDUL WAHHAB OLEH KELOMPOK GHULLUW FIT TAKFIR

Disembunyikannya Perkataan-Perkataan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab oleh Kelompok ghuluw (tulisan ke 2 )

Baca sebelumnya, PERKATAAN-PERKATAAN SYAIKH MUHAMMAD BIN ABDUL WAHHAB YANG DISEMBUNYIKAN

Duniaekspress.com. (6/7/2018). Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab* dan para pengikutnya juga mengerahkan usaha yang besar untuk membantah keduanya. Ia terpaksa menghadapi keduanya dengan segenap kekuatannya, banyak membahasnya, banyak menukil nash-nash syar’i yang menunjukkan bahwa bisa saja orang yang sholat, puasa dan dzikir itu kafir. Ia banyak mengumpulkan pernyataan para ulama — terutama *Ibnu Taimiyah* — yang menguatkan bahwa para ulama tersebut juga memfonis kafir dan musyrik kepada orang perorang apabila ia terjerumus pada sesuatu yang mengharuskan untuk difonis seperti itu. Dan amalan-amalan sholih yang dilakukannya tidak menghalangi para ulama tersebut untuk memfonis kafir.

Pernyataan-pernyataan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab mengenai hal ini banyak sekali. Bahkan ia menulis beberapa buku yang khusus membahas masalah ini. Di antaranya adalah buku terkenalnya yang berjudul: *Mufidu Al-Mustafidi Fi Kufri Tariki At-Tauhid.* Di mana tujuan asalnya buku ini ditulis untuk membantah orang yang menentang adanya kemungkinan seseorang yang terjerumus dalam kemusyrikan untuk dikafirkan. Jadi tujuannya itu bukan untuk menerangkan bahwa ketidaktahuan itu bukan udzur dalam perkara syirik. Hal ini dapat dipahami dari cara berdalil *Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab.*

Hal lain yang juga menguatkan hal ini adalah: bahwa kitab ini asalnya adalah bantahan terhadap saudaranya yang bernama *Sulaiman.* Sementara telah diketahui bersama bahwa saudaranya ini menentang dia dalam dua perkara tersebut.

Hal lain yang juga menguatkan hal ini adalah: bahwa para ulama dakwah Nejed itu menyikapi kitab tersebut sebagai kitab yang bertujuan untuk menetapkan atas dibenarkannya memfonis kafir orang perorang, bukan untuk menetapkan tidak adanya udzur atas ketidaktahuan. Dalam menjelaskan persoalan ini Muhammad bin Ibrohim mengatakan: “Imam dakwah (Nejed) ini telah menulis kitab tentang _takfir al-mu’ayyan_ dengan judul *Mufid Al-Mustafidi Fi Kufri Tariki At-Tauhid* di sana ia menjelaskan bahwasanya kita tidak bisa menghindar dari _takfir al-mu’ayyan_ dengan syarat-syaratnya yang syar’i.” *(Majmu’ Fatawa Wa Rosail Muhammad bin Ibrohim 1/60)*

Dan *Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab* selalu mengulang-ulang perkataannya bahwa orang yang terjerumus dalam kesyirikan itu dia kafir dan keluar dari Islam meskipun ia sholat dan puasa, dan bahwa orang perorang yang beristighotsah dan bernadzar kepada selain Alloh SWT itu tidak berguna lagi Islamnya.
Semua pernyataan ini diungkapkan dalam kontek membantah orang yang menentang kemungkinan dilakukannya _takfir al-mu’ayyan,_ sehingga tidak bisa dibenarkan untuk dijadikan alasan bahwa Syaikh berpendapat tidak ada udzur jahil. Karena beda antara pembahasan mengenai hukum melakukan takfir al-mu’ayyan dengan pembahasan mengenai kaidah-kaidah dalam melakukan _takfir al-mu’ayyan._ Karena membahas takfir al-mu’ayyan itu mengharuskan pemisahan antara tidak mengkafirkannya dengan pengakuannya sebagai orang Islam, dan juga penetapan bahwa tidak semua orang yang mengaku Islam itu tidak mungkin dikafirkan. Inilah yang dilakukan *Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab* dalam berbagai pernyataannya yang banyak sekali itu. (RR)

bersambung Insya Allah…

 

Baca juga, MEMAHAMI “MAHALNYA” DAKWAH DAN JIHAD