Duniaekspress.com (8/7/2018)- Tiga warga sipil, termasuk seorang pelajar perempuan berusia 15 tahun, tewas setelah pasukan paramiliter India menembaki para pengunjuk rasa di Kashmir yang dikuasai India, pada hari Sabtu (7/7).

Mushtaq Ahmad, seorang penduduk Hawoora Mishipora, mengatakan bahwa tentara memasuki desa pada siang hari dan mulai memukuli orang-orang.

“Mereka juga masuk sekolah dan mulai memukuli para guru. Ini memicu protes dan tentara langsung menembaki orang-orang,” kata Ahmad seperti yang dikutip Al Jazeera, Ahad (8/7/2018).

“Mereka menikmati pembunuhan ini karena tidak ada yang meminta pertanggung jawaban pada mereka.” tambah Ahmad.

Kashmir telah terbagi antara India dan Pakistan sejak 1947. Wilayah pegunungan memiliki sejarah panjang konflik dan merupakan salah satu tempat yang paling termiliterisasi di Bumi.

Ini adalah rumah bagi puluhan kelompok bersenjata yang berjuang untuk kemerdekaan atau penggabungan wilayah dengan Pakistan.

Baca Juga:

MUSLIM BELGIA KECAM KERAS SERANGAN ISLAMOPHOBIA

MUJAHIDIN AL-SHABAB BENTROK DENGAN MILISI SUKU ANTEK PENJAJAH

Ribuan orang berpartisipasi pada hari Sabtu dalam pemakaman ketiga warga sipil itu saat protes baru meletus di distrik selatan tempat ratusan orang turun ke jalan dan meneriakkan slogan anti-India.

Pembunuhan terakhir terjadi sehari sebelum ulang tahun kedua pembunuhan Burhan Wani, komandan kelompok Hizbul Mujahidin, oleh militer India

Kematian Wani pada 8 Juli 2016, memicu demonstrasi luas di seluruh wilayah yang disengketakan selama lima bulan, di mana lebih dari 100 pemrotes ditembak mati oleh pasukan India.

Ratusan warga sipil juga dibutakan atau menderita luka mata setelah pasukan paramiliter menembakkan gas air mata untuk mengendalikan massa yang protes.

Sebelum peringatan kematian Wani, pihak berwenang membatasi pergerakan orang-orang menuju kampung halamannya dan meningkatkan langkah-langkah keamanan.

Sejumlah besar pasukan keamanan telah menjaga jalan-jalan, sementara pos-pos pemeriksaan telah dibentuk di bagian-bagian yang bergejolak.

Para pemimpin separatis, yang menuntut kemerdekaan dari kekuasaan India, menyerukan penutupan pada 7 dan 8 Juli sebagai tanda protes. Toko, sekolah, dan perusahaan tetap tutup pada hari Sabtu.

“menembakkan peluru, membunuh anak laki-laki dan perempuan muda” mencerminkan “sinyal hijau” yang diberikan kepada angkatan bersenjata India “untuk menghapus Kashmir dengan kekebalan hukum mutlak untuk mempertahankan wilayah mereka” . twitt pimpinan pejuang Kashmir Mirwaiz Umar Farooq

Sejak pembunuhan Wani, yang memiliki banyak pengikut media sosial, telah terjadi peningkatan jumlah pemuda yang mengangkat senjata untuk melawan pemerintahan India.