KEWAJIBAN MENGANGKAT PEMIMPIN KAUM MUSLIMIN

duniaekspress.com, 10 Juli 2018

Diriwayatkan, dahulu para sahabat menunda memandikan, mengkafani, menshalati, dan menguburkan jenazah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Padahal, memandikan, mengkafani, dan menshalati, dan menguburkan jenazah adalah kewajiban yang tidak boleh ditunda-tunda. Apalagi, jenazah yang ditunda tersebut adalah jenazah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Tentunya, para sahabat memiliki alasan kuat menunda memandikan, mengkafani, menshalati, dan menguburkan jenazah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Dalam buku Rakhãqul Makhtûm, penulis, Syaikh Mubãrakfãrî menulis: “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Beliau telah berpulang kepada kekasih Yang Maha Tinggi. Hal ini terjadi saat pagi sudah terasa panas, pada Senin 12 Rabi’ul Awwal 11 H. beliau wafat pada usia 63 tahun lebih empat hari.” Kemudian beliau menuliskan lagi di halaman yang lain: “Sebelum mengurus jasad Nabi, terjadi perbedaan pendapat tentang pengganti beliau. Terjadi dialog dan debat serta sanggahan Antara pihak muhajirin dan anshar di Saqifah Bani Sa’idah. Namun akhirnya mereka sepakat mengangkat Abu Bakar sebagai khalifah. Hal ini terjadi hingga masuk waktu malam pada hari Senin”.

Para sahabat menelantarkan jenazah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bukan tanpa alasan. Mereka menunda pelaksanaan “fardhu kifayah” atas jenazah Rasulullah dikarenakan ada kewajiban yang lebih wajib dari sekedar mengurusi jenazah. Sekalipun itu adalah jenazah Rasulullah. Yaitu mengangkat seorang pemimpin pengganti Rasulullah; dalam kepemimpinan umat bukan dalam kerasulan dan wahyu.

Perlu dicatat, bahwa di antara perkara yang harus disegerakan adalah mengurusi jenazah, mulai dari memandikan jenazah, pengkafanan, menshalatinya, hingga penguburan. Pengurusan jenazah termasuk hal yang tidak boleh ditunda dan harus disegerakan. Namun, para sahabat menunda pengurusan jenazah Rasulullah, padahal yang wafat adalah makhluk terbaik. Padahal yang wafat adalah utusan Allah. Kenapa mereka berbuat demikian? Karena mengangkat pemimpin lebih wajib dan daruri daripada sekedar pelaksanaan “fardhu kifayah”.

Pengurusan jenazah adalah kewajiban. Namun kewajiban tersebut hanya akan mendatangkan maslahat kepada jenazah tersebut dan orang-orang yang ada di kampung tersebut. Berbeda dengan kepemimpinan, mashlahatnya akan dirasakan banyak orang. Karenanya, mengangkat kepemimpinan harus diutamakan dan tidak boleh ditunda-tunda.

****

Allah Ta‘ãlã berfirman: “Dan putuskanlah perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan mushibah kepada mereka disebabkan sebahagian dosa-dosa mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik.” (QS. Al Maidah/5: 49).

Aslinya seruan ini ditujukan kepada Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam. Namun. Seruan kepada Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam pada hakikatnya juga Seruan kepada umatnya; untuk melaksanakan hal yang yang sama, yaitu memberlakukan hukum Allah atas semua manusia dan memutuskan perkara yang mereka perselisihkan dengan hukum itu.

kesimpulan dari perintah tersebut adalah kewajiban mengadakan seorang pemimpin yang memberlakukan hukum Allah. Hal ini dikuatkan dengan ayat lainnya: “Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.” (QS. Al Maidah[5]: 44). Imam Nawawi menegaskan :

لَا بُدَّ لِلْأُمَّةِ مِنْ إِمَامٍ يُقِيمُ الدِّينَ، وَيَنْصُرُ السُّنَّةَ، وَيَنْتَصِفُ لِلْمَظْلُومِينَ، وَيَسْتَوْفِي الْحُقُوقَ وَيَضَعُهَا مَوَاضِعَهَا.

Merupakan keharusan bagi umat ini menegakkan kepemimpinan (imamah) yang (berfungsi) menegakkan agama (syariat), membela sunnah, memberikan hak orang yang dizhalimi, serta menunaikan hak dan menempatkannya pada tempatnya.

قُلْتُ: تَوَلِّيِ الْإِمَامَةِ فَرْضُ كِفَايَةٍ، فَإِنْ لَمْ يَكُنْ مَنْ يَصْلُحُ إِلَّا وَاحِدًا، تَعَيَّنَ عَلَيْهِ وَلَزِمَهُ طَلَبُهَا إِنْ لَمْ يَبْتَدِئُوهُ. وَاللَّهُ أَعْلَمُ.

Saya nyatakan: “menegakkan imamah adalah fardhu kifayah (hukumnya).” Jika tidak ada orang yang layak untuk menjadi imam kecuali hanya satu orang, maka orang tersebut wajib menjadi imam dan wajib baginya untuk meminta kepemimpinan tersebut jika masyarakat tidak berinisiatif mewujudkannya. Wallahu A’lam.

(Sutan Serdang)

ISIS KEMBALI MENIKAM MUJAHIDIN DARI BELAKANG

KRISIS, IRAN KEMBALI DILANDA DEMONSTRASI