Duniaekspress.com. (13/7/2018). – Basra – Ratusan warga kota Basra, Iraq selatan, Kamis (12/07) kembali turun ke jalan menuntut kondisi hidup yang lebih baik dan menyelesaikan krisis listrik dan pengangguran. Sebelumnya, aksi tersebut telah memakan korban tewas dan luka-luka dari pihak demonstran menyusul tindakan reprensif pasukan keamanan.

Dalam aksi lanjutan Kamis itu, demonstran memblokade jalan yang menghubungkan perbatasan Iran dengan Basra yang melintasi pintu penyeberangan perbatasan Shalamjah. Mereka mendirikan tenda di tengah jalan. Hal itu membatasi pergerakan truk dan kendaraan serta mencegah masuk dan keluarnya barang melalui jalur penyeberangan. Aksi ini untuk menekan pemerintah.

poto : para demonstran di basra iraq menuntut pekerjaan dan kehidupan yang layak

Demonstran lainnya memblokir jalan menuju ladang minyak di Rumaila North dan South Qurna I dan II. Mereka mencoba untuk menghalangi para pekerja mengakses ke fasilitas minyak. Aksi blokade jalan ini untuk menuntut pengusiran pekerja asing supaya digantikan dengan warga Basra yang banyak menganggur.

Demonstran berbaris di jalan-jalan provinsi, dipimpin oleh tetua suku dan tokoh politik. Aksi juga diwarnai dengan membakar ban untuk menuntut kondisi hidup yang lebih baik dan memecahkan masalah listrik, pengangguran dan air minum.

Di sisi lain, Perdana Menteri Haider al-Abbadi menugaskan komite lima menteri untuk mengunjungi kota Basra dan mendengarkan tuntutan para demonstran serta memecahkan masalah mereka.

Pekan lalu, seorang warga tewas dan delapan orang terluka ketika pasukan keamanan menembaki demonstrasi yang menuntut pekerjaan dan meningkatkan kehidupan mereka di Basra, menurut sumber resmi dan seorang wartawan.

Pasukan keamanan menembaki warga ketika pengunjuk rasa mencoba menutup jalan ke perusahaan minyak Rusia, Lukoil, dan perusahaan AS, ExxonMobil, dengan mendirikan tenda di jalan.

Selama bertahun-tahun, para penganggur telah memprotes ketergantungan perusahaan-perusahaan minyak terhadap para pekerja asing di Basra, yang menghasilkan sekitar 80 persen ekspor negara itu. Kebencian penduduk terhadap pemerintah juga diperburuk oleh pemadaman listrik di saat suhu panas meningkat, terutama setelah Iran menghentikan ekspor listrik ke Iraq seminggu yang lalu. (RR).

Sumber: Al-Jazeera

 

Baca juga, BENTROK PECAH ANTARA POLISI IRAK DAN MILISI HIZBULLAH