AS Tekan Arab Saudi untuk Turunkan Harga Minyak, Atau AS Tak Akan Melindungi Kalian!

Duniaekspress.com. (14/7/2018). – Amerika serikat – Jika negara-negara Teluk tidak meningkatkan output minyak untuk menutupi kekurangan yang ditinggalkan oleh Iran, Amerika mungkin tidak akan membela mereka, seperti diperingatkan oleh Presiden AS, Donald Trump, dalam sebuah tweet.

Amerika ingin memangkas ekspor minyak Iran menjadi nol pada bulan November mendatang. Jika tujuan tersebut berhasil dan dua juta barel minyak per hari dari Iran lenyap dari pasar, harga minyak akan melonjak dan menyebabkan sakit kepala bagi Trump di dalam negeri; sebab, Publik Amerika diketahui memusuhi segala hal yang membuat biaya bahan bakar mobil mereka meningkat.

Rencana Trump adalah membuat negara-negara Teluk berkomitmen untuk meningkatkan produksi lebih dari dua juta barel per hari untuk mengimbangi pasokan yang hilang dari sumber lain. Arab Saudi setuju dengan Trump tentang pentingnya menjaga harga turun tetapi belum berkomitmen untuk meningkatkan output secukupnya.

Arab Saudi memiliki kapasitas cadangan untuk membantu memenuhi permintaan tambahan di pasar, tetapi negara tersebut telah berhenti mengatakan akan segera mulai menambahkan kapasitas produksi sebesar dua juta barel per hari.

Trump, bagaimanapun, tampaknya tidak sabar dan ingin negara sekutunya di Teluk untuk menyambut seruannya. Trump mengirim pesan yang kuat kepada kepala Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dalam sebuah tweet.

“Monopoli OPEC harus mempertimbangkan bahwa harga gas naik dan mereka hanya melakukan sedikit hal untuk membantu,” tulisnya. Nampaknya Trump merasa kesal dengan apa yang dia rasakan dengan kurangnya kerjasama dari Arab Saudi, yang memimpin OPEC.

Trump menambahkan, “Yang ada, mereka mendorong harga lebih tinggi, padahal Amerika Serikat membela banyak anggotanya dengan imbalan dolar yang sangat sedikit. Harus ada solusi dua arah. TURUNKAN HARGA SEKARANG!”

Sejauh ini belum terlihat apakah ancaman ini akan membuat Arab Saudi ketakutan dan melakukan sesuatu yang sejauh ini enggan mereka lakukan. Menurut Financial Times, para pialang saham dan analis mengatakan bahwa menambahkan produksi dua juta barel minyak per hari, seperti yang diminta oleh Trump, akan menguras cadangan minyak Arab Saudi hingga batasnya dan menyebabkan kapasitas cadangan global mendekati nol, dengan sedikit stok penyangga harus ada untuk menjamin pasokan lebih lanjut.

Situasi ini telah menempatkan Arab Saudi pada posisi yang berbahaya dan mungkin ini adalah salah satu kondisi yang tidak diperkirakan sebelumnya oleh Arab Saudi, setelah mereka mendorong AS untuk mengambil garis keras terhadap Iran.

Trump tampaknya ingin memiliki kue dan memakannya; dia ingin memotong ekspor minyak Iran hinggal titik nol dan menjaga harga bensin pada tingkat moderat. Namun para analis mengatakan bahwa dia tidak dapat memiliki keduanya; Gedung Putih dapat mendorong ekspor minyak Iran jatuh hingga nol, atau bisa mempertahankan kestabilan harga bensin di AS saja, tetapi mungkin tidak dapat memiliki keduanya bersamaan.

Sementara Saudi mengatakan mereka bisa menghasilkan 12 juta barel per hari jika diperlukan tetapi akan membutuhkan setidaknya enam bulan, dengan pengeboran tambahan dan investasi yang diperlukan.

Dengan kondisi perekonomian Arab Saudi yang stagnan, diperkirakan akan tetap ada ketegangan antara prioritas kebijakan luar negeri pemerintah (sanksi keras terhadap Iran) dan perhitungan elektoral (untuk menjaga harga bensin tetap rendah). (RR).

Sumber:  middleeastmonitor

 

Baca juga, IMPERIUM PENJAJAHAN AMERIKA BUTUH KAISAR