BANTAHAN ATAS TIDAK ADANYA UDZUR JAHIL DALAM PERKARA SYIRIK AKBAR bagian kedua

duniaekspress.com, 15 Juli 2018

tulisan ini adalah sambungan dari :

BANTAHAN ATAS TIDAK ADANYA UDZUR JAHIL DALAM PERKARA SYIRIK

Imam ibnul qoyyim rhm. Dalam kitab beliau miftaahud daarisysyahaadah, berkata: “ alasan ke-24: sesungguhnya akal Rosululloh SAW adalah akal penduduk bumi yang paling sempurna, seandainya akal Rosululloh SAW dtimbang dengan akal seluruh penduduk bumi tentulah lebih berat akal rosululloh SAW, dan sungguh Alloh SWT telah memberitahukan bahwa sebelum turunnya wahyu belum mengerti apa itu iman, islam, sebagaimana beliau tidak mengetahui apa itu kitab suci. Alloh berfirman di dalam surat Asy-syura: 52, “dan demikianlah kami wahyukan kepadamu (muhammad) ruh(wahyu) dari perintah kami, sebelum turunnya (ruh/wahyu) sungguh engkau tidak mengetahui apa itu kitab suci, juga iman, akan tetapi kami jadikan ruh (wahyu) tersebut sebagai cahaya yang dengannya kami memberi petunjuk kepada siapa saja yang kami kehendaki dari hamba-hamba kami. Dan sungguh engkau (muhammad) benar-benar menunjukkan kepada jalan yang lurus”.

Dan Alloh SWT juga berfirman di dalam surat ad-dhuhaa: 6-7, “bukankah Alloh mendapatimu (muhammad) dahulu dalam keadaan yatim, kemudian Alloh merawat (mengasuh)mu, dan Alloh mendapatimu dahulu dalam keadaan kebingungan (tentang iman, islam, kitab, dll, ed.) maka Alloh memberimu petunjuk.”

“tafsir dari ayat ad-dhuhaa ini adalah dengan cara membaca ayat surat as-syuraa:52 di atas (yaitu bahwa ‘dlollan’ di sini adalah kitab suci, iman, ed.), jika manusia yang paling sempurna akalnya saja baru bisa mendapat petunjuk setelah turunnya wahyu sebagaimana Alloh firmankan dalam surat sabaa’:50, “katakanlah, jika aku tersesat maka sesungguhnya aku tersesat untuk diriku sendiri, jika aku mendapatkan petunjuk maka semata-mata berdasarkan wahyu yang Alloh turunkan kepadaku”, lalu bagaimana dengan orang-orang yang safiih (tidak bisa menimbang), dan orang-orang yang wawasannya sempit, juga orang-orang yang fikirannya firoosul albaab (terbatas/sempit/lawan dari ulul albab, ed.) bisa menggapai petunjuk tentang hakikat-haikat keimanan (tauhid, syirik, dsb, ed.) dengan akal mereka semata tanpa memerlukan nash-nash wahyu yang diturunkan kepada nabi”. Lalu ibnu qoyyim mengutip surat maryam:89-90: “sungguh kalian telah mendatangkan suatu perkara yang sangat keji, hampir-hampir langit pecah dan bumi terbelah  dan gunung-gunung runtuh menjadi debu karenanya..”

Demikianlah dua kutipan (dari imam al-lalika’i dan imam ibnul qoyyim) tentang bagaimana memahami dan mendudukkan masalah fithrah dan mitsaq ini.

Imam muhammad amin as-sinqithi dalam tafsir beliau “abwaa’ul bayan fi idhoohil qur’an bil qur’an”, sebuah tafsir al-qur’an dengan al-qur’an, tafsir bil maatsur pada abad 20M, beliau menyatakan ketika mentahqiq tafsiran yang benar tentang surat al-a’raf: 172-174 ini mengatakan, “maka ketahuilah bahwasannya cara pandang yang lain dalam memahami ayat itu adalah ada dua penafsiran, yang pertama: bahwa tidak pernah terjadi mitsaq (ayat tersebut bukan tentang mitsaq, red.), tidak pernah Alloh itu keluarkan benih manusia dari tulang sulbi bapaknya, yang ada bahwa Alloh SWT melahirkan manusia dengan membawa fitrah mengakui adanya Robb (tafsiran ini diperkuat diantaranya oleh imam ibnu katsir). Tafsiran kedua: Sesungguhnya Alloh SWT telah mengeluarkan seluruh anak keturunan nabi Adam dari tulang punggung bapak-bapak mereka dalam bentuk benih, dan Alloh SWT mengambil kesaksian  mereka dengan mengatakan, ‘bukankah aku ini robb kalian’, kemudian mereka menjawab, ‘ya’, kemudian Alloh mengutus para rosul setelah itu yang tujuannya adalah mengingatkan anak manusia tadi tentang perjanjian dengan Alloh SWT, karena setiap orang yang lahir kedunia akan lupa dengan perjanjian tersebut, dan tidak ada seorang manusiapun yang lahir ingat tentang perjanjian (mitsaq) tersebut. Dengan adanya pemberitaan para rosul itulah manusia bisa meyakini benar bahwa dahulu itu pernah terjadi mitsaq dengan Alloh SWT. Penafsiran yang terakhir inilah yang ditunjukkan oleh dalil-dalil ayat qur’an dan hadist-hadist nabawi. Ayat-ayat qur’an dengan jumlah yang banyak telah menegaskan bahwasannya Alloh SWT tidak mungkin meng’adzab seseorangpun sampai Alloh menegakkan hujjah kepadanya dengan peringatan para rosul. Maka ini merupakan bukti bahwasannya Alloh SWT tidak mencukupkan diri dengan bukti-bukti nyata yang Alloh tegakkan di alam raya ini. Dan Alloh tidak mencukupkan diri hanya dengan fithrah manusia (untuk mengakui adanya robb). Diantaranya adalah firman Alloh SWT di dalam surat al-israa’:15, “dan kami tidaklah meng’adzab/menyiksa seorangpun sampai kami mengutus seorang rosul” , karena Alloh SWT berkata ‘sampai kami mengutus seorang rosul’, dan Alloh SWT tidak mengatakan, ‘sampai kami menciptakan akal sehat’, ‘sampai kami menegakkan bukti-bukti di alam ini’, atau ‘sampai kami menegakkan fitrah manusia akan adanya rububiyyah Alloh’. Dan juga Alloh SWT berfirman di dalam surat An-nisaa’:  “kamilah yang mengutus para Rosul sebagai pemberi kabar gembira (bagi orang-orang yang beriman) dan pemberi ancaman (bagi orang-orang yang kafir) agar manusia tidak mempunyai alasan untuk membela diri di hadapan Alloh setelah diutusnya para rasul”. Dalam ayat ini Alloh tegaskan bahwa hujjah tegak kepada manusia sehingga mereka tidak ada ‘udzur lagi adalah dengan adanya peringatan para rosul, bukan dengan cara Alloh ciptakan bukti-bukti di alam raya ini, dan bukan juga dengan penciptaan fitrah manusia (di atas tauhid rububiyyah), hujjah yang Alloh mengutus para rosul untuk argumentasi para manusia tadi telah Alloh jelaskan di dalam surat thaaha:34, “dan sekiranya kami meng’adzab mereka sebelum datangnya rosul pastilah mereka mengatakan, ‘wahai Alloh kenapa engkau tidak mengirim kepada kami rosul sehingga kami bisa mengikuti ayat-ayatMu sebelum kami mendapatkan kehinaan dan kerendahan dari ‘adzabMu’”.

“dan Alloh mengisyaratkan hal itu dalam firmanNya dalam surat alqoshos: 47, “dan seandainya tidak kami utus kepada mereka para rasul kemudian mereka ditimpa oleh musibah akibat perbuatan mereka, tentulah mereka akan mengatakan, ‘wahai Alloh, kenapa engkau tidak mengutus kepada kami seorang rasul sehingga kami bisa mengikuti ayat-ayatMu menjadi orang-orang yang beriman”.

“dalil lainnya diantaranya adalah Alloh sebutkan bahwa seluruh penduduk yang masuk  neraka telah Alloh putuskan alasan mereka dengan adanya peringatan para rasul dan Alloh tidak hanya mencukupkan bukti-bukti yang ada di alam semesta  ini, diantaranya adalah firman Alloh di dalam surat Al-mulk: “setiap kali dilemparkan ke dalam neraka segolongan manusia, maka penjaga neraka bertanya, ‘bukankah telah datang kepada kalian seorang pemberi peringatanyang membacakan ayat-ayat Alloh SWT?’”

Demikian pula di dalam surat az-zumar: “dan orang-orang kafir digiring masuk ke neraka jahanam dalam rombongan-rombongan, sampai mereka tiba di neraka dibukakanlah pintu-pintu neraka, maka penjaga neraka bertanya kepada mereka, ‘bukankah telah datang kepada kalian para rosul dari golongan kalian sendiri yang membacakan kepada kalian ayat-ayat robb kalian dan memperingatkan kalian akan perjumpaan kalian dengan Alloh SWT?’, mereka berkata, ‘ya benar’,..”

“Dan sudah dipahami bahwa lafadz ‘kullamaa’ adalah termasuk shighoh umum yang mencakup siapapun (setiap orang, termasuk orang tua rosul, red.), demikian pula lafadz ‘alladziina’ dalam kalimat ‘watsiiqolladziina kafaruu’ adalah juga termasuk shighoh umum (termasuk orang-orang yang meninggal di zaman fathrah, dan bagi yang belum didatangi rosul di dunia  berdasarkan pendapat yang lebih kuat dan banyak disebutkan dalam hadist-hadist adalah bahwa ada 4 golongan yang akan diutus kepada mereka di akhirat nanti seorang rasul yang kemudian mereka diuji dengan rasul tersebut atau di test di akhirat, ini bisa dilihat dalam penjelasan surat al-israa’: 15 pada tafsir ibnu katsir. red.)

Yang lainnya dapat dilihat dalam surat al-maaidah:19. “wahai ahli kitab! Sungguh telah datang rasul kami menjelaskan kepada kalian pada masa fathrah, agar kamu tidak mengatakan, ‘tidak ada yang datang kepada kami baik seorang pembawa berita gembira maupun pemberi peringatan, ‘sungguh telah datang kepadamu pembawa berita gembira dan pemberi peringatan. Dan Alloh Maha Kuasa atas segala sesuatu”.

Dan banyak ayat-ayat lain yang menyebutkan bahwa hujjah tidak ditegakkan dari akal semata, tetapi juga dari peringatan rasul. Seperti dalil-dalil di bawah ini:

  1. Al-an’am: 155-157
  2. Faathir: 36-37
  3. ghaafir(al-mu’min):49-50

Bersambung insyaAlloh….

(USTADZ ABU AMMAR)

(AZ)

ISIS MENIKAM LAGI, 2 MUJAHIDIN HTS DIPENGGAL

MEMBURU PARA “PENIKAM JIHAD” KHAWARIJ ISIS DI IDLIB