Duniaekspress.com (15/7/2018)- Demonstran Irak di provinsi selatan Basra menutup jalur penyeberangan perbatasan Kuwait pada Sabtu (14/7) di tengah meningkatnya kemarahan atas pengangguran dan kurangnya pelayanan dasar bagi masyarakat di Irak selatan.

“Ratusan demonstran memaksa penutupan perbatasan Safwan dengan Kuwait,” kata Kapten Polisi Ali Kadhim seperti yang dilansir Anadolu Agency, Sabtu (14/7/2018).

“Ratusan demonstran juga berkumpul di ladang minyak Majnoon di timur Basra, menuntut peluang kerja bagi penduduk setempat,” tambahnya.

Ketegangan telah terjadi di Basra atas meningkatnya pengangguran dan pemadaman listrik berulang-ulang, dengan protes menyebar ke beberapa provinsi lain, termasuk ibukota Baghdad.

Pekan lalu, seorang demonstran dibunuh oleh pasukan keamanan selama protes terhadap layanan yang memburuk di Basra.

Kira-kira 80 persen dari keseluruhan ekspor minyak mentah Irak berasal dari ladang minyak di provinsi Basra.

Selama bertahun-tahun, penduduk Basra mengeluh bahwa warga negara asing, bukan penduduk setempat yang dipekerjakan oleh sektor energi domestik.

Mereka juga mengeluhkan seringnya listrik padam di musim panas yang sering mencapai setinggi 50 derajat Celcius.

Baca Juga:

PESAWAT ISRAEL BOMBARDIR JALUR GAZA

AS TEKAN ARAB SAUDI, TURUNKAN HARGA MINYAK ATAU AS TAK MELINDUNGI KALIAN

Sebelumnya pada hari Jum’at, ratusan pengunjuk rasa Irak menyerbu gedung-gedung pemerintah di bagian selatan negara itu dan menyerbu Bandara Internasional Najaf, menuntut layanan yang lebih baik, kesempatan kerja dan mengakhiri dugaan campur tangan Iran.

Dalam aksi terbaru, para demonstran juga mengkritisi tingginya korupsi dan pemerintahan yang buruk, para demonstran bentrok dengan pasukan keamanan di beberapa provinsi, termasuk Maysan, Dhi Qar, Basra, Najaf dan Karbala.

Para pejabat mengatakan dua demonstran lainnya tewas semalam di provinsi Maysan di perbatasan dengan Iran, sehingga jumlah orang yang tewas sejak protes meletus pada hari Minggu menjadi tiga.