SEPUTAR MASALAH TAKFIR

Duniaekspress.com. (19/7/2018). Seriusnya masalah vonis takfir adakah dikarenakan banyak terjadi di kalangan aktifis islam baik yang mujahid yang sedang berjihad di front-front ribath maupun yang sedang berdakwah di negeri-negeri damai. Dengan mudah menjadi ‘mufti’ pemutus perkara bahwa fulan atau kelompok fulan kafir, murtad atau telah keluar dari Islam. Syaikh Atthiyatullah Al-Libi  menjelaskan ketika ditanya masalah bagaimana mestinya sikap kaum muslimin berkaitan dengan takfir yang serampangan.

Pertanyaan:

Apa yang harus menjadi sikap umum dari seorang Mujahid biasa yang bukan Ulama berkaitan dengan isu-isu Takfir ?

Jawaban:

Masalah Takfir adalah salah satu masalah yang paling sensitif, ia adalah masalah yang selalu kami peringatkan kepada para Mujahid muda karena tingkat bahayanya tersebut.

Kami katakan kepada saudara-saudara kami para Mujahidin bahwa isu-isu sensitif ini serahkanlah pada Ulama tsiqqah. Tidak diperbolehkan bagi orang awam untuk membahas masalah ini. Ini adalah bab Ilmu, mengingat sensitif dan bahayanya masalah ini, bahkan ulama besar Imam madzhab telah menahan diri dari banyak mendiskusikan, bahkan sangat hati-hati dalam penerapan Takfir pada individu tertentu, dan akan selalu menjadi pilihan yang paling aman dalam menanggapi hal ini.

Pendahulu kita sering mengatakan bahwa: “Tidak ada yang lebih berharga bagi kita kecuali melindungi agama!” Dengan demikian, kepada setiap pemuda biasa, cukuplah dengan mempelajari ajaran Alloh dan Rasul-Nya (Sholallohu ‘alaihi wasallam) dan memiliki kepercayaan umum di atasnya, seperti keharusan mengkafirkan Thaghut secara umum.

Adapun rincian mengenai hal ini dan untuk mengetahui tentang putusan kafir pada seseorang atau kelompok tertentu, apakah mereka berada di luar Islam atau tidak, Apakah seseorang itu keluar dari Islam dengan melakukan suatu hal Atau hal yang serupa, maka untuk itu kita harus bicara tentang ini berdasarkan keilmuan yang dimiliki, karena masalah ini sudah masuk dalam ruang lingkup fatwa (putusan) dan penilaian Syari’ah yang seorang awam tidak memiliki kapasitas untuk berbicara mengenainya.

Dengan demikian, orang yang tidak memiliki pengetahuan tentang permasalahan ini, maka ia harus tetap diam atau harus mengatakan (saya tidak memiliki ilmu). Jawaban ini tidak akan mengurangi iman atau agamanya, melainkan dengan mengikuti sikap ini merupakan persyaratan iman yang penting.

Tidaklah pantas orang bodoh untuk membuka lidahnya dan berbicara tentang permasalahan ini, janganlah orang-orang seperti ini dijadikan sebagai sumber pemutus hukum (kafirnya seseorang), dan janganlah kata-kata orang bodoh dijadikan sebagai sandaran untuk mengkafirkan seseorang, tapi itu diperbolehkan hanya dalam kasus ketika ia mengikuti sikap dan putusan seorang Ulama (Taqlid), dan hanya mengulang pendapat Ulama tersebut (mengenai hukum kafirnya seseorang atau kelompok tertentu).

Orang yang tidak memiliki pengetahuan Islam (Jahil), jika ia diminta memberikan pendapat atas masalah ini (Takfir), maka hendaknya dia mengatakan bahwa; “Saya tidak memiliki ilmu tentang ini dan bertanyalah pada Ulama”, maka jika Ulama yang kredibel membuat Takfir atas suatu individu atau kelompok dengan secara khusus menyebut nama mereka, maka ikutilah mereka dan melakukan Taqlid pada Ulama yang terkenal memiliki kelimuan yang tinggi itu diperbolehkan.

Sesungguhnya Alloh lah yang memberi kemurahan hati untuk berbuat baik.

Pertemuan dengan Syaikh Atthiyatullah Al-Libi Al-Hisbah Jihadi Forum
.
Sumber : 📰 Majalah Hittin 8 (Majalah berbahasa Urdu dari Khurasan)

Diterjemahkan :
MUQAWAMAH MEDIA TEAM

 

Baca juga, VONIS KAFIR SANGAT BERBAHAYA JIKA DILAKUKAN SEMBARANGAN