Duniaekspress.com, 27 Juli 2018
Sabtu dini hari, 14 Dzul Qo’dah 1439 H / 28 Juli 2018 M, akan terjadi gerhana bulan. Awal Gerhana Bulan : pukul 01:24:27 WIB. Mulai Total Gerhana : pukul 02:30:15 WIB. Pertengahan Gerhana : pukul 03:21:43 WIB. Akhir Total Gerhana : pukul 04:13:14 WIB. Akhir Gerhana : pukul 05:19:00 WIB
Untuk itu marilah kita sama-sama meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kita kepada Allah Ta’ãlã dengan sebenar-benar takwa, yaitu dengan tetap istiqamah di atas tauhidullah; dengan mengerjakan segala perintah-Nya dan meninggalkan segala larangan-Nya. Dengan demikian, mudah-mudahan kita akan selalu dalam naungan rahmat-. Allah Ta’ãlã berfirman:
وَمِنْ آيَاتِهِ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ لَا تَسْجُدُوا لِلشَّمْسِ وَلَا لِلْقَمَرِ وَاسْجُدُوا لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَهُنَّ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ
“Dan sebagian dari tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam, siang, matahari dan bulan. Janganlah bersujud kepada matahari dan jangan (pula) kepada bulan, tetapi bersujudlah kepada Allah yang menciptakannya, jika kamu menyembah hanya kepada-Nya”. (Q.S. Fushshilat/41: 37 :
Kejadian alam berupa gerhana yang akan terjadi memiliki hikmah berupa peringatan: bahwa terjadinya alam semesta ini bukan hanya proses alami, namun ada kekuatan yang menciptakan dan menjalankannya, yaitu Allah Ta’ãlã. Tuhan Maha dari segala Maha: Maha Agung, Maha Bijaksana dan Maha Kuasa. Tiada Tuhan yang berhak disembah selain dari Dia dan tiada sekutu yang serupa dengan-Nya. Maha suci Allah yang menjalankan segala apa yang ada dilangit dan di bumi dengan tepat dan teliti.
Ketahuilah bahwa kejadian gerhana ini adalah salah satu bukti nyata kekuasaan dan kebesaran Allah Ta’ãlã, demikian juga pergantian siang dan malam, pergantian musim, dan peredaran planet-planet di angkasa. Ada matahari, mars, Jupiter dan masih banyak lagi yang masih belum diketahui manusia. Jadi kejadian gerhana seperti saat ini tidak perlu kita ramal-ramalkan dengan hal-hal yang bukan-bukan, karena hal itu dapat merusak akidah dan keyakinan kita.
Gerhana bukanlah disebabkan oleh kematian atau kelahiran seseorang sebagimana teguran Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Salllam terhadap masyarakat quraisy yang membuat berbagai khayalan tentang kejadian gerhana matahari yang terjadi dan bertepatan dengan hari wafatnya putra Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Salllam, Ibrahim, lalu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Salllam bersabda :
إِنَّ الشَّـمْـسَ وَالـقَـمَـرَ آيَـتَـانِ مِـنْ آيَا تِ اللهِ لاَيَـنْكَـسِـفَانِ لِـمَوْتِ أَحَـدٍ وَلاَ لِحَـيَـاتِـهِ فَإِ ذَا رَأَتُـمُـوهُـمَا فَا دْعُـوا اللهَ وَصَلُـوا حَـتَّـى يَـنْـكَـشِـفَ.
“Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua bukti daripada tanda-tanda kebesaran Allah Ta’ala. Kedua-duanya tidak akan terjadi karena kematian atau hidupnya seseorang. Maka apabila kamu melihat keduanya gerhana maka berdoalah kepada Allah dan dirikanlah shalat sehingga gerhana selesai.” (HR. Bukhãrî).
Apabila terjadi gerhana, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Salllam mengajarkan agar bersegera untuk melakukan perkara-perkara kebajikan seperti berdoa, berdzikir, shalat, bertakbir, bersedekah dan beristighfar. Sebagaimana sabda Rausullah Shallallahu ‘Alaihi wa Salllam,
إٍنَّ الشَّـمْـسَ وَالقَـمَـرَ أَيَـتَانِ مِـنْ أَيَاتِ اللهِ لاَتَخْـسِـفَانِ لِموْتِ أَحَـدٍ وَلاَ لِحَـيَا تِهِ فَإ ذ ا رَأَيْـتُـم ذ َلِكَ فَادْ عُـوااللهَ وَكَبِّـرُوا وَصَلُّوْا وَتَـصَـدَّ قُـوا.
“Sesungguhnya matahari dan bulan, keduanya adalah tanda-tanda kebesaran Allah. Terjadinya gerhana bukan karena hidup atau matinya seseorang. Maka apabila kalian melihatnya, berdoalah kepada Allah, Agungkanlah Dia, lakukanlah Shalat dan bersedekahlah.” (HR. Bukhãrî).

Dengan demikian, sudah jelas kiranya bahwa kejadian alam seperti gerhana saat ini adalah sebagian daripada tanda-tanda kekuasaan Allah dan tidak ada kaitanya sama sekali dengan nasib seseorang. Oleh karena itu, bila melihat atau menyaksikannya, kita dianjurkan untuk melakukan shalat, mengagungkan Allah, memanjatkan doa kepada-Nya dan bersedekah kepada fakir miskin. Anjuran –anjuran itu berupa tindakan positif guna menambah keimanan dan ketakwaan kita.
Pernah terjadi gerhana di zaman Rasulullah Shallallahu ‘Aalaihi wa Sallam, lalu beliau mengutus orang-orang untuk menyeru orang-orang di pasar dan jalanan “As Shalatul Jami’ah” agar orang-orang shalat dan berdoa kepada Allah Ta‘ala untuk mengampuni dan merahmati mereka seraya tetap mengucurkan nikmat-nikmatNya keapda mereka, baik nikmat yang tampak maupun nikmat yang tidak tampak.
Dari ‘Ãisyah, beliau menuturkan bahwa pada zaman Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah terjadi gerhana matahari. Beliau lantas mengutus seorang penyeru untuk mengumandangkan seruan, “As Shalãtu Jãmi’ah” (mari kita laksanakan shalat berjamaah). Orang-orang lantas berkumpul. Nabi lalu maju bertakbir. Beliau melakukan empat kali rukuk dan empat kali sujud dalam dua rakaat. (HR. Bukhãrî).

Hukum Shalat Gerhana

Berdsarkan keterangan di atas, dengan menilik hadis-hadis terkait gerhana maka dapat disimpulkan bahwa shalat gerhana sunnah hukumnya. Hal ini dikuatkan pernyataan Qãdhî Abû Syujã’ dalam matan Al Ghãyah wa At Taqrîb menyebutkan bahwa shalat-shalat sunnah itu ada lima: Idul Fitri dan Idul Adha, gerhana matahari dan bulan, dan shalat istisqa.
Imãm Taqiyuddîn Al Hisnî dalam Kifãyatul Akhyãr (1/86) ketika mensyarah Matan Al Ghãyah wa At Taqrîb mensyarah perkataan Qãdhî Abû Syujã’ bahwa Ash Shalawãt Al Masnûnah khamsun; shalat-shalat sunnah itu ada lima; yang dimaksud dengan shalat-shalat sunnah adalah shalat-shalat yang disunnahkan dilaksanakan secara berjamaah. Shalat gerhana dilaksanakan dilakukan secara berjamaah dengan khutbah dan menjaharkan bacaaan, hal ini seperti yang dinyatakan Qãdhî Abû Syujã’ dalam Matan Al Ghãyah wa At Taqrîb:
“فصل” وصلاة الكسوف سنة مؤكدة فإن فاتت لم تقض ويصلي لكسوف الشمس وخسوف القمر ركعتين في كل ركعة قيامان يطيل القراءة فيهما وركوعان يطيل التسبيح فيهما دون السجود ويخطب بعدها خطبتين ويسر في كسوف الشمس ويجهر في خسوف القمر.
Pasal: dan shalat gerhana hukumnya sunnah muakkadah (yang ditekankan) namun jika pelaksanaannya luput tidak diqadha. Shalat ini dikerjakan dikarenakan gerhana matahari dan bulan; dua rakaat dengan dua kali berdiri pada setiap rakaatnya. Pada setiap rakaat dua kali berdiri dengan memanjangakan bacaan dan dua kali ruku’ dengan mamanjangkan tasbih, namun sujud tidak dipanjangkan. Setelahnya dua kali khutbah. Pada gerhana matahari bacaan dipelankan (sir) dan pada gerhana bulan dijaharkan. Wallahu A’lam[]

(sutan serdang)

SALING BUNUH DI TUBUH ISIS TERLIHAT PADA LAJNAH MUFAWWADHAH MEREKA

PEMUDA PALESTINA TIKAM 3 PEMUKIM YAHUDI