duniaekspress.com, 27 Juli 2018. Rezim Suriah mengeluarkan sertifikat kematian bagi tahanan yang disiksa hingga tewas di ruang keamanan, kelompok pendukung oposisi mengatakan kepada Zaman al-Wasl.
Zaman al-Wasl dan The Gathering of Free Syria Advocates telah mendapatkan nama 145 tahanan yang disiksa sampai mati ketika rezim memerintahkan departemen Status Personal di provinsi Hama untuk mengeluarkan sertifikat kematian bagi para tahanan dengan mengabaikan sebab kematian.
Perintah yang sama juga di Hasaka untuk 600 tahanan yang juga meninggal karena penyiksaan.

Kelompok advokat telah menyerahkan daftar tersebut ke PBB, mengatakan pusat keamanan rezim adalah tempat untuk genosida dan pembersihan etnis.

PBB mengatakan dalam laporannya tentang tahanan Suriah bahwa skala kematian di penjara menunjukkan bahwa rezim Assad bertanggung jawab untuk “pemusnahan massal sebagai kejahatan terhadap kemanusiaan”.

Pada pertengahan 2013, tim penuntut kejahatan perang dan ahli forensik, telah menganalisis 55 ribu foto digital yang diambil dan disediakan oleh seorang pembelot Suriah dengan nama sandi “Caesar,” yang, bersama dengan keluarganya, sekarang tinggal di luar Suriah di lokasi yang dirahasiakan, menurut CNN.

Para anggota tim berbagi temuan mereka secara eksklusif gabungan dengan “Amanpour” dan koran The Guardian CNN pada 20 Januari 2014.

Amnesty Internasional menuduh rezim Suriah telah melakukan “kebijakan pemusnahan massal”, dimana terjadi berulang kali menyiksa tahanan dan membatasi makanan, air, dan perawatan medis.

Tahanan juga diperkosa atau dipaksa untuk memperkosa satu sama lain, dan penjaga akan memberi makan tahanan dengan melemparkan makanan ke lantai sel, yang sering tertutup kotoran dan darah, kata laporan itu.

Amnesty sebelumnya mengatakan bahwa lebih dari 17.700 orang diperkirakan tewas dalam tahanan rezim di seluruh Suriah sejak konflik negara itu meletus pada 2011.

Suriah bukan anggota Pengadilan Pidana Internasional. Satu-satunya cara pengadilan bisa menuntut seseorang dari Suriah adalah melalui rujukan dari Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Rumah Pembantaian Saydnaya

Keluarga 25 tahanan di kota selatan Kanaker sedih menerima panggilan dari komite rekonsiliasi rezim untuk mendapatkan pakaian dan barang-barang pribadi putra mereka dari penjara Saydnaya yang terkenal di dekat Damaskus.

25 anak yang memberontak melawan Bashar al-Assad pada tahun-tahun pertama pemberontakan Suriah pada tahun 2011 ditangkap seperti ribuan orang lagi dan dilempar di ruang-ruang keamanan militer dan sel-sel.

Sumber lokal mengatakan kepada Zaman al-Wasl bahwa para tahanan disiksa sampai mati di penjara Saydnaya, salah satu pusat penahanan terbesar di negara itu yang terletak 30 km di utara Damaskus.

Nasib ribuan tahanan masih belum diketahui karena aktivis hak asasi manusia khawatir mereka telah dieksekusi atau disiksa sampai mati.

Kanaker mencapai kesepakatan rekonsiliasi dengan rezim pada tahun 2016 di mana ratusan pemberontak mengevakuasi kota dan fasilitas negara kembali beroperasi lagi.

Pada 2017, Amnesty International mengatakan sekitar 13.000 orang digantung dalam lima tahun di penjara Saydnaya, menuduh rezim melakukan “kebijakan pemusnahan massal”.

Berjudul “Rumah Pembantaian Manusia: penggantungan dan pemusnahan massal di penjara Saydnaya,” laporan memberatkan Amnesty, dirilis pada hari Selasa, didasarkan pada wawancara dengan 84 saksi, termasuk penjaga, tahanan, dan hakim, menurut Al Jazeera.

Ditemukan bahwa setidaknya sekali seminggu antara tahun 2011 dan 2015, kelompok hingga 50 orang dibawa keluar dari sel penjara mereka untuk disidangkan secara sewenang-wenang, dipukuli, kemudian digantung “di tengah malam dan dalam kerahasiaan total.”

sertifikat kematian

-Laporan SNHR-

Keluarga yang anggotanya telah menjadi korban kejahatan penghilangan paksa dengan giat mencoba mencari informasi tentang keluarga dan anak-anak mereka yang terlibat, dalam banyak kasus mereka harus membayar sejumlah besar uang ke jaringan terorganisir seperti mafia yang merupakan produk samping dari bencana ini. Namun, hanya sedikit yang mampu memperoleh informasi semata. Pihak berwenang Suriah, di sisi lain, menyangkal hal-hal semacam ini secara terus-menerus, dan bukan saja mereka belum memulai penyelidikan atau meminta pertanggungjawaban resmi, tetapi mereka melindungi pejabat dan melegalkan kejahatan, jika tidak terlibat langsung di dalamnya.

Laporan, yang dirilis oleh Jaringan Suriah untuk Hak Asasi Manusia, mencatat bahwa banyak keluarga Suriah terkejut ketika mereka pergi ke kantor pencatatan sipil untuk menyelesaikan dokumen yang berhubungan dengan anak-anak atau kerabat mereka yang telah dihilangkan secara paksa di tangan rezim Suriah. untuk waktu yang lama yang dapat berjumlah bertahun-tahun karena mereka menemukan bahwa orang-orang yang mereka cintai telah tewas. Laporan itu mengatakan bahwa kasus-kasus seperti itu sering terjadi di gubernuran Hama, Damaskus, pinggiran Damaskus, Latakia, Homs, dan Hasaka.

Menurut laporan, sekitar 81.652 warga Suriah secara paksa menghilang di tangan rezim Suriah antara Maret 2011 dan Juni 2018, sementara sekitar 13.066 korban meninggal karena penyiksaan di penjara resmi dan non-resmi rezim Suriah pada periode waktu yang sama.

Lebih dari 400.000 orang telah tewas di Suriah sejak pemberontakan melawan Bashar al-Assad dimulai pada Maret 2011.

(AZ diterjemahkan dari zaman el-wasl)

HOUTHI KLAIM SERANG BANDARA INTERNASIONAL DI ABU DHABI

HTS SEPAKATI PERTUKARAN TAHANAN DENGAN REZIM