MEMAHAMI DAN MENGIKUTI JALAN ORANG BERIMAN

Duniaekspress.com. (01/8/2018). Allah Ta’ala berfirman, “Barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahanam, dan Jahanam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (An-Nisa’: 115)

Ibnu Katsir mengatakan, “Barang siapa yang menempuh jalan selain jalan syariat yang dibawa oleh Rasul Saw., ia berada di suatu jalur, sedangkan syariat Rasul Saw. berada di jalur yang lain. Hal tersebut dilakukannya dengan sengaja sesudah tampak jelas baginya jalan kebenaran.” (Tafsir Ibnu Katsir, II/412).

Ibnu Mas’ud berkata, “Pada suatu hari Rasulullah saw membuat sebuah garis lurus untuk kami, kemudian beliau bersabda, ‘Ini adalah jalan Allah’, kemudian beliau membuat garis-garis di sebelah kanan dan kirinya, seraya bersabda, ‘Ini adalah jalan-jalan lain, di setiap jalan tersebut ada setan yang mengajak untuk mengikutinya (jalan tersebut). Lalu beliau membaca ayat: ‘(Inilah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah jalan tersebut. Dan, janganlah kalian mengikuti jalan-jalan yang lain. Jika kalian mengikuti jalan-jalan tersebut, niscaya kalian semua akan terpisah dari jalan-Nya.’ (Al-An’am: 153).” (HR Ibnu Hibban dan Ad-Darimi)

Makna firman Allah “dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin” masih berkaitan dengan penyimpangan pada kalimat sebelumnya. Tetapi penyimpangan tersebut adakalanya terhadap nash syariat dan adakalanya terhadap perkara yang telah disepakati oleh umat Muhammad dalam hal-hal yang telah dimaklumi secara nyata. Karena kesepakatan umat ini telah terjaga dari kekeliruan. (Tafsir Ibnu Katsir, II/412). Ayat ini dijadikan dalil oleh Imam Syafi’i bahwa ijma’ adalah sumber hukum yang haram ditentang. Imam Syafi’i sampai kepada kesimpulan ini setelah melakukan kajian cukup lama dan penyelidikan yang teliti. Dalil ini merupakan suatu kesimpulan yang terbaik lagi kuat. (Tafsir Ibnu Katsir, II/412).

وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًا

“Dan demikianlah kami jadikan kalian umat pertengahan, agar kalian menjadi saksi atas seluruh kaum manusia, dan Rasul akan menjadi saksi atas kalian.” (Al-Baqarah: 143)

فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ

“Dan jika kalian berbeda pendapat pada suatu persoalan, maka kembalikanlah kepada Allah dan Rasul-Nya.” (An-Nisa’: 59)
Ayat ini menunjukkan, jika tidak terjadi silang pendapat di antara kaum muslimin, maka tidak menjadi keharusan untuk mengembalikannya kepada Allah dan Rasul-Nya. Menunjukkan bahwa ijma’ adalah dalil yang shahih. Rasulullah saw bersabda:

لَنْ تَجْتَمِعَ أُمَّتِيْ عَلىَ ضَلاَلَةٍ

“Umatku tidak akan bersatu dalam kesesatan.” (HR Thabrani, yang perawinya dinyatakan tsiqah oleh Al-Haitsami dalam Ma’mauz Zawaid)
Syaikh As-Sa’di mengatakan, “Jalan orang beriman adalah akidah dan amal perbuatan mereka.”
(Tafsir As-Sa’di: I/202). (RR).

 

Baca juga, PERJALANAN AKAN SELALU MEMERLUKAN KEKUATAN