Duniaekspress.com (4/8/2018)– Aktivis Swedia Charlie Andreasson dan Divana Levrini, yang ditahan oleh otoritas Israel pada hari Senin (30/7) ketika mencoba untuk menembus blokade Israel, kembali ke negara mereka pada hari Jumat kemarin.

Dror Feiller, seorang aktivis Swedia-Yahudi, menyambut mereka berdua dengan bunga mawar pada saat kedatangan mereka.

Dilansir dari MEE, Jum’at (3/8/2018), Levrini, yang ditahan setelah kapal di mana dia bepergian disergap oleh angkatan laut Israel, mengingat pengalamannya dalam tahanan Israel.

Ia mengatakan mereka telah berangkat dari Norwegia dan Swedia pada 15 Mei dalam empat armada kapal, dia berkata: “Ketika kami berada di perairan internasional, kami didekati beberapa kali oleh kapal militer Israel.”

Berita Terkait:

ISRAEL TANGKAP KAPAL KEMANUSIAAN UNTUK GAZA

NORWEGIA PROTES ATAS PENAHANAN KAPAL OLEH ISRAEL

“Meskipun kami berulang kali mengatakan kepada mereka bahwa kami adalah bagian dari armada internasional, mereka [personil militer Israel] masih mencegat kami dan naik ke kapal kami,” kenangnya.

“Mereka memukul rekan saya Charlie di kepala dan punggung. Leher aktivis lainnya juga berdarah. Mereka melemparkan beberapa penumpang dari atas ke dek bawah, ”kata Levrini.

Setelah dibawa ke tahanan Israel, lanjutnya, mereka kemudian mengalami beberapa hari penganiayaan.

“Mereka tidak membiarkan kami tidur. Setiap jam, seorang penjaga akan datang dan memaksa kami untuk berdiri sebelum menyiksa kami dengan pelecehan psikologis, ”tambahnya.

“Saya tidak diizinkan mendapatkan obat setelah dipukul di kepala ketika mereka menangkap kapal itu,” katanya.

Baca Juga:

AKSI JUM’AT KE-19, ISRAEL RESPON DENGAN TEMBAKAN DAN GAS AIR MATA

KEBIJAKAN DONALD TRUMP PICU PERANG NUKLIR DUNIA

Sementara itu Andreasson, mengatakan barang-barang pribadinya dicuri oleh tentara Israel dan juga mengancam akan membunuhnya.

“Mereka mengambil banyak harta kami, termasuk kartu kredit dan telepon kami. Ketika kami memberitahu sipir penjara bahwa barang-barang kami telah dicuri, kami dimasukkan ke dalam sel dengan tangan dan kaki kami diikat, ”katanya.

Namun demikian, Andreasson mengatakan dia tidak menyesal.

“Meskipun armada kami gagal mencapai Palestina [di Gaza], kami tetap membuat suara mereka terdengar,” katanya.

“Kami sekarang berencana untuk membawa kasus ini ke pengadilan dan mempertahankan dukungan kami untuk Palestina,” tambahnya.

Feiller, mengatakan para aktivis berencana untuk memaksimalkan upaya mereka untuk mematahkan blokade ilegal Israel di Gaza.

“Warga Gaza telah tinggal di penjara terbuka selama 11 tahun terakhir,” katanya. “Dan kami tidak akan goyah dalam upaya kami untuk membantu mereka,” pungkasnya.