PERKATAAN IBNU TAIMIYAH YANG JADI ANDALAN TAKFIR INI TERNYATA TIDAK JELAS ASAL-USULNYA

Duniaekspress.com (5/8/2018)- Ada pernyataan yang diklaim sebagai perkataan Ibnu Taimiyah yang menunjukkan kesepakatan para sahabat untuk mengkafirkan orang-orang yang menolak membayar zakat, maka untuk yang ini harus ada kajian yang agak sedikit panjang, lantaran pentingnya masalah ini.

Namun kata-kata yang diklaim sebagai perkataan Ibnu Taimiyah tersebut ternyata sama sekali tidak terdapat di dalam kitab-kitab Ibnu Taimiyah yang pernah dicetak, akan tetapi perkataan tersebut beredar di kalangan ulama’ dakwah Nejed, (Lihat Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab di dalam risalah beliau yang berjudul Mufidul Mustafid Fi Kufri Tarikit Tauhid. Lihat Ad Durar As Saniyah IX/418-419, dan disebutkan oleh anaknya yaitu Abdullah di dalam risalahnya yang tercantum di dalam Ad Durar As Saniyah X/178-179), kemudian dari merekalah para ulama’ jaman sekarang menukilnya. (Lihat Dhahiratul Irja’ Fil Fikril Islami II/446, Al Jami’ Fi Thalabil ‘Ilmisy Syarif, dan Al Hukmu Bi Ghairi Ma Anzalallah Ahwaluhu Wa Ahkamuhu, hal. 244-245).

Adapun perkataan yang dikatakan sebagai perkataan Syaikhul Islam, sebagaimana yang dikatakan oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab di dalam Mufidul Mustafid, adalah: “Dan Abul ‘Abbas (Ibnu Tamiyah) juga mengatakan ketika berbicara tentang kafirnya orang-orang yang menolak membayar zakat : Para sahabat tidaklah menanyakan: Kamu mengakui kewajiban zakat atau kalian mengingkarinya? Yang seperti ini belum pernah didapatkan dari para Khalifah dan para sahabat. Justeru Abu Bakar Ash Shiddiq mengatakan kepada Umar: Demi Allah seandainya mereka tidak memberikan kepadaku zakat onta dan kambing yang dahulu mereka tunaikan kepada Rasulullah SAW pasti aku perangi mereka karena mereka menahannya. Di sini beliau menjadikan perkara yang menyebabkan mereka boleh diperangi itu adalah hanya sekedar menolak membayar zakat, bukan mengingkari kewajiban zakat.

Baca Juga:

MEMAHAMI DAN MENGIKUTI JALAN ORANG YANG BERIMAN

Dan telah diriwayatkan bahwa beberapa kelompok di antara mereka ada yang mengakui wajibnya zakat namun mereka pelit (sayang) dengan harta zakat tersebut. Namun demikian sikap para Khalifah terhadap semuanya satu, yaitu membunuh orang yang mampu berperang di kalangan mereka, menawan anak-anak mereka, menjadikan harta mereka sebagai ghanimah, memberikan kesaksian behwa mereka berada di neraka, dan menamakan mereka semua dengan sebutan Ahlur Riddah. Bahkan termasuk kelebihan Abu Bakar yang paling besar menurut mereka adalah: Allah meneguhkan beliau untuk memerangi mereka, dan beliau tidak ragu-ragu sebagaimana yang lainnya ragu-ragu sehingga beliau berdiskusi dengan mereka sampai mereka mengikuti pendapatnya. Adapun perang yang dilancarkan kepada orang-orang yang mengakui kenabian Musailamah, maka mengenai kasus mereka ini tidak pernah terjadi perselisihan di kalangan para sahabat dalam memerangi mereka. Sampai di sini perkataan Ibnu Taimiyah.”

Syaikh Muhammad mengatakan: “Maka perhatikanlah perkataan beliau dalam takfirul mu’ayyan, kesaksiannya bagi orang yang terbunuh akan menjadi penghuni neraka, menawan wanita dan anak-anaknya ketika tidak membayar zakat. Inilah orang yang dikatakan oleh musuh-musuh agama bahwa beliau tidak melakukan takfirul mu’ayyan”. 

Kemudian beliau mengatakan: “Beliau (Ibnu Taimiyah) setelah itu mengatakan: Kekafiran mereka dan dimasukkannya mereka ke dalam golongan Ahlur Riddah ini, telah ditetapkan berdasarkan kesepakatan para sahabat, dan berdasarkan nash-nash Al Qur’an dan Sunnah._ Sampai di sini perkataan beliau” *(Ad Durar As Saniyah IX/418-419.)*

Adapun anak beliau, Syaikh Abdullah, telah menukil awal dari perkataan yang sama sampai perkataan yang berbunyi: “… adapun peperangan yang dilancarkan kepada orang-orang yang mengakui kenabian Musailamah, maka tidak ada perselisihan mengenai peperangan terhadap mereka ini. Dan ini merupakan hujjah bagi yang berpendapat bahwa jika mereka memerangi pemimpin karenanya maka mereka kafir, namun jika tidak maka mereka tidak kafir. Karena kekafiran mereka dan dimasukkannya mereka ke dalam golongan Ahlur Riddah itu berdasarkan kesepakatan para sahabat yang berlandaskan Al Qur’an dan Sunnah, lain halnya dengan orang yang tidak memerangi pemimpin karenanya. Karena di dalam kitab Ash Shahih disebutkan riwayat dari Nabi SAW bahwasanya ada orang yang mengatakan kepada beliau: Ibnu Jamil menolak membayar zakat. Maka beliau bersabda:

ما ينقم ابن جميل إلا أنه كان فقيرا فأغناه الله

Tidaklah Ibnu Jamil membangkang kecuali karena dia dahulu miskin lalu Allah kayakan dia (maksudnya: Ibnu Jamil telah membangkang padahal dia dahulu miskin lalu Allah menjadikannya kaya.).

Di sini beliau tidak memerintahkan untuk membunuhnya dan tidak pula memvonisnya kafir. Dan disebutkan dalam hadits Bahz bin Hakim, dia dari bapaknya, bapaknya dari kakeknya, kakeknya dari Nabi SAW:

Barangsiapa menolak membayarkannya maka kami akan mengambilnya ditambah dengan setengah dari hartanya. Sampai di sini nukilannya.” (Ad Durar As Saniyah X/178-179.)*

Mengenai nukilan ini saya sampaikan beberapa catatan:

Pertama:

Struktur awal kalimat menunjukkan bahwa perkataan ini berbicara tentang _tanqihul manath (mencari alasan) untuk masalah perang bukan untuk masalah memvonis kafir: apakah yang menjadi manathnya adalah juhud (mengingkari syari’at) atau sekedar tidak mau menunaikan. Dan tidak diragukan lagi bahwa perkataan tersebut menunjukkan bahawa sekedar menolak membayar zakat itu merupakan manath (alasan yang dijadikan patokan hukum) peperangan yang tidak diperselisihkan lagi. Akan tetapi kalimat awal dalam perkataan tersebut menunjukkan bahwa ini berkenaan dengan tahqiqul manath (menetapkan manath) dalam masalah perang, bukan dalam masalah memvonis kafir.

Kedua:

Perkataannya yang berbunyi: “..namun demikian sikap para Khalifah terhadap mereka semuanya satu, yaitu membunuh orang yang mampu berperang di kalangan mereka, menawan anak-anak mereka, menjadikan harta mereka sebagai ghanimah, memberikan kesaksian behwa mereka berada di neraka..” yang nampak kuat bahwa dlamir (kata ganti orang ketiga) di dalam kalimat yang berbunyi: “..namun demikian sikap para Khalifah terhadap mereka ..” kembali kepada orang-orang yang menolak membayar zakat.

Di sini ada dua masalah:

Pertama: perkataan ini sendiri salah, karena satu-satunya riwayat tentang masalah ini  sejauh kajian saya adalah riwayat tentang utusan Buzakhah, sementara dalam riwayat tersebut tidak ada kalimat yang menyebutkan bahwa para sahabat membunuh mereka yang mampu berperang dan menawan anak-anak mereka.

NB: Imam Al Hafidh Abu ‘Ubaid Al Qasim bin Sallam menyebutkan dalam Risalah Al Iman, hal. 17 bahwa: “.. jihadnya Abu Bakar Ash Shiddiq bersama Muhajirin dan Anshar terhadap orang-orang Arab yang menolak membayar zakat itu sama persis dengan jihadnya Rasulullah SAW terhadap orang-orang musyrik. Tidak ada perbedaannya dalam hal menumpahkan darah, menawan anak-anak dan menjadikan hartanya sebagai ghanimah.” Namun selama beliau dalam menyebutkan bahwa para sahabat itu menawan anak-anak mereka dan menjadikan harta mereka sebagai ghanimah itu tidak menyebutkan sanadnya, maka kita memiliki kelonggaran pilihan dalam menerima apa yang beliau sebutkan tersebut.

Bahkan di dalam riwayat tersebut terdapat hal yang menyalahkan hal itu, yaitu perkataan Abu Bakar yang berbunyi: “Lalu kalian dibiarkan sebagai orang yang mengikuti ekor-ekor onta sampai Allah memperlihatkan kepada Khalifah Nabi-Nya dan kepada kaum Muhajirin suatu hal yang mereka dapat memaafkan kalian..” perkataan ini menunjukkan bahwa beliau tidak membunuh orang yang mampu berperang di antara mereka. Inipun jika kita telah menerima bahwa mereka itu adalah termasuk bagian orang-orang yang menolak membayar zakat, padahal telah disebutkan di muka bahwa utusan Buzakhah itu adalah bagian dari pengikut Thulaihah yang mengaku sebagai nabi, dan sama sekali bukan golongan orang-orang yang menolak membayar zakat.

Kedua: ada perkataan yang benar-benar perkataan dari Ibnu Taimiyah, yang menyalahkan perkataan tersebut secara total. Di dalam Kitab Minhajus Sunnah beliau membantah perkataan orang Rafidlah yang mengatakan: “Perselisihan keenam: mengenai peperangan terhadap orang-orang yang menolak membayar zakat, yang diperangi oleh Abu Bakar namun Umar pada masa menjabat sebagai khalifah berijtihad untuk mengembalikan tawanan dan harta mereka, dan beliaupun membebaskan orang-orang yang ditangkap.”

Dan yang berkaitan dengan kita dari bantahan Ibnu Taimiyah adalah perkataan beliau yang berbunyi: “Umar itu sependapat dengan Abu Bakar dalam memerangi Ahlur Riddah dari kalangan orang-orang yang menolak membayar zakat. Demikian pula seluruh sahabat. Dan orang-orang itupun mengakui kewajiban zakat setelah mereka menolak membayarkannya, namun anak-anak mereka tidaklah ditawan dan tidak pula seorangpun yang ditangkap.”(Minhajus Sunnah X/5-241)*

Di sini Syaikhul Islam dengan kata-kata yang jelas menetapkan bahwa anak-anak mereka tidak ditawan dan bahwasanya mereka mengakui kewajiban zakat. Lalu bagaimana bisa ada sebuah perkataan diklaim sebagai perkataan beliau, di mana dalam perkataan tersebut dikatakan: “..namun demikian sikap para Khalifah terhadap mereka semuanya satu, yaitu membunuh orang yang mampu berperang di kalangan mereka, menawan anak-anak mereka, menjadikan harta mereka sebagai ghanimah, memberikan kesaksian bahwa mereka berada di neraka..”

Kemudian siapakah para khalifah yang mengambil sikap sama dengan beliau ini? Padahal pada saat itu tidak ada khalifah selain Abu Bakar? Hal ini menunjukkan bahwa perkataan yang diklaim sebagai perkataan Ibnu Taimiyah ini terdapat kalimat yang terhapus padanya atau yang beliau maksud orang-orang yang disikapi sama oleh seluruh khalifah itu adalah suatu kaum selain kaum yang menolak membayar zakat yang disebutkan di awal kalimat. Atau kalau tidak, kami berani memutuskan untuk menolak nukilan yang bertentangan dengan perkataan yang jelas-jelas dari Ibnu Taimiyah tersebut.

Ketiga:

Adapun kalimat finalnya adalah: “Kekafiran mereka dan dimasukkannya mereka ke dalam golongan Ahlur Riddah (orang-orang murtad) itu telah ditetapkan berdasarkan kesepakatan sahabat yang berlandaskan nash-nash Al Qur’an dan Sunnah.” Di sini juga ada dua permasalahan:

Pertama: kita perhatikan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab menukilnya setelah satu kalimat sisipan dari beliau sendiri. Baru kemudian beliau mengatakan: [Beliau (Ibnu Taimiyah) setelah itu mengatakan …],_ dan kita tidak tahu apakah kata-kata Ibnu Taimiyah ini diucapkan setelah ucapan sebelumnya secara langsung ataukah ada kalimat yang tidak dicantumkan, padahal di dalam nukilan Syaikh Abdullah itu ada kalimat lain antara keduanya, yaitu yang berbunyi: _[Dan ini merupakan hujjah bagi yang berpendapat bahwa jika mereka memerangi pemimpin karenanya maka mereka kafir, namun jika tidak maka mereka tidak kafir]._ Oleh karena itu kami tidak dapat meyakini bahwa yang dimaksud dalam kalimat _[Kekafiran mereka…]_ itu orang-orang yang menolak membayar zakat ataukah yang lain? Meskipun yang nampak dari konteks kalimat yang disusun tersebut menunjukkan bahwa yang dimaksud adalah yang pertama (orang-orang yang menolak membayar zakat).

Kedua: kalimat ini tertolak dengan sendirinya. Karena di manakah nash-nash Al Qur’an dan Sunnah yang dijadikan landasan ijma’ yang diklaimkan tersebut?! paling banter yang dapat dijadikan landasan adalah dimasukkannya mereka ke dalam kelompok murtad, ditawannya kaum wanita mereka dan anak-anak mereka, serta dibunuhnya orang-orang yang mampu berperang di antara mereka. Sementara berdalil dengan itu semua telah dibantah di depan. Wallahu a’lam.

Dengan demikian engkau dapat pahami bahwa perkataan yang diklaim sebagai perkataan Ibnu Taimiyah tersebut mengandung unsur-unsur semacam itu. Dan kalimat tersebut  dengan potret yang digambarkan dalam nukilan tersebut sangat layak untuk ditolak kandungannya dan untuk tidak dianggap sebagai perkataan Ibnu Taimiyah, meskipun beberapa ulama’ sering kali mengatakannya sebagai perkataan beliau, sebagaimana yang dilakukan oleh Ibnu Sahman.

Pembicaraan Ibnu Sahman dalam mendiskusikan pendapat orang yang tidak sependapat dengannya dalam perkara ini pada dasarnya disusun berdasarkan pemahaman yang terkandung dalam nukilan yang menyatakan adanya ijma’ tersebut. Oleh karena itu engkau dapatkan beliau terkadang menyampaikan berbagai nukilan dari berbagai ulama tentang pujian mereka terhadap Ibnu Taimiyah kedalaman ilmu dan penguasaan beliau untuk menekan pihak yang tidak sependapat dengan beliau agar menerima ijma’ yang disampaikan Ibnu Taimiyah tersebut. Terkadang lagi beliau menyerang para ulama’ yang tidak mengkafirkan orang-orang yang menolak membayar zakat dan menuduh mereka telah menyelisihi para sahabat, misalnya dalam halaman 52 beliau mengatakan tentang Al Qadli ‘Iyadl bahwasanya beliau itu: “.. telah menyelisihi para sahabat dan telah membuat ketetapan hukum berdasarkan pemahaman dan akalnya sendiri, yang mana hal semacam ini dikenal oleh para ulama’ dari kalangan peneliti yang telah memiliki bukti-bukti kejujurannya di dunia, bahwa tindakan semacam ini adalah berhukum dengan menggunakan akal.”Padahal Al Qadli ‘Iyadl itu berlepas diri dari semua tuduhan tersebut dalam kajiannya tentang perkara ini.