Israel larang kaum muslimin shalat di Masjid Jami’ Al-Umari selama 46 tahun

Duniaekspress.com (8/8/2018)- Israel merampas spirit dan jiwa dari semua yang bernama Palestina, bukan hanya dengan aksi-aksi pembunuhan dan pengusiran, tetapi tempat ibadah juga tidak luput dari kejahatannya. Khususnya masjid-masjid di Kota Tua Al-Quds.

Hal ini dilakukan dalam upaya untuk menghancurkan kekuatan yang bersumber dari Allah dan melakukan upaya yahudisasi di kota suci tersebut.

Kota Tua Al-Quds memiliki 43 Masjid yang sedang diserang oleh penjajah Zionis dengan berbagai cara. Sehingga catatan kejahatan mereka menjadi lebih banyak. Termasuk kejahatannya terhadap Masjid Jami’ Al-Umari yang terletak di lorong Al-Sharaf.

Masjid ini merupakan salah satu dari simbol Islam yang terkemuka di Kota Tua Al-Quds, namun masih ditutup untuk orang-orang yang ingin shalat di sana.

Baca Juga:

SERANGAN TANK ISRAEL, 2 ANGGOTA HAMAS GUGUR

GAZA LUNCURKAN KAPAL KEMERDEKAAN 3

Menurut pemandu wisata Robin Abu Shamsieh, masjid Agung al-Umari berada di “Lorong Yahudi”, di sisi selatan Lorong Asy-Syaraf, yang mengarah ke lorong Al-Magharibah dari sisi barat.

Kepada koresponden Pusat Informasi Palestina, Abu Shamsieh menambahkan bahwa masjid ini dikelilingi oleh dua sinagog. “Satu dari utara, yang dibangun pada abad ke-19 oleh Yahudi Ashkenazim, dan yang lainnya adalah sinagog al-Kharab yang dibuka pada 16 April 2010, bejarak sekitar 50 meter di sebelah timur masjid. Di sebelah baratnya terdapat dua lembaga agama untuk orang Yahudi dan sebuah kantor polisi. Keduanya terpisahkan dari masjid oleh jalan umum dan beberapa toko,” terangnya.

Patut disebutkan bahwa Masjid Al-Umari ini didirikan di atas tanah yang diwakafkan oleh seorang Muslim sebelum pertengahan abad ke-8 H / abad ke-15 M. Namun lahan tersebut dikelilingi oleh properti-properti yang dikuasai (dirampas, red) oleh orang Yahudi setelah pendudukan dan perang tahun 1967, sehingga membuat tempat ini menjadi lokasi yang sensitif.

Sejarah Masjid

Masjid Jami’ al Umari dibangun Abad ke 8 Hijiryah. Sehubungan dengan tanggal pendirian Masjid Al-Umari, Abu Syamsiyah mengatakan, “Tanggal pendirian Masjid Jami’ Al-Umari lebih dekat daripada tanggal wakafnya. Sejarawan Al-Quds, Mujiruddin Al-Hambali menyebut pembangunan menara masjid dari arah kiblat itu baru dibangun setelah Abad ke-8 Hijriyah. Al-Hambali juga menginformasikan bahwa salah satu lantai yang berdekatan dengan masjid dibangun pada tahun 878 H/1473 M, yang menyimpulkan bahwa masjid dibangun sebelum periode tersebut,” ujarnya dikutip PIC.

“Orang-orang yang hendak shalat di Masjid Jami’ Al-Umari harus melewati pagar besi di dekat jalan. Kemudian naik melalui lorong sepanjang kurang lebih 6 meter. Lalu melalui beberapa pintu yang menuju ke sebuah halaman terbuka yang di tengah-tengahnya ada Kubah Batu, yang menghadap ke sebuah pintu yang akan menuju ke tempat shalat, yang menurut dokumen dari Lembaga Revitalisasi Warisan dan Penelitian Islam, memiliki luas 30 m2,” lanjut Abu Syamsiah.

Masjid Jami’ Al-Umari tidak terlepas dari lengkungan-lengkungan yang bertitik temu di sebuah lubang di tengah dan berfungsi sebagai saluran ventilasi dan penerangan. Lubang ini beserta tiga jendela lain, yaitu dua jendela di dinding sebelah timur, dan satu jendela di sebelah barat, semuanya membentuk persegi menara yang indah dan bergaya seperti menara kesultanan. Tingginya sekitar 15 meter dan di dinding sebelah selatan telah dibangun sebuah mihrab.

Masjid Jami’ Al-Umari ini lantainya telah dikeramik dan dihias dengan bufet. Berikutnya sebelah selatan Masjid dengan wilayah terbuka seluas 1.5 × 7.2 m dan di sekelilingnya ada pagar pembatas.

Wilayah ini dapat dimasuki dari pintu yang menuju ke pagar besi di wilayah barat daya. Melewati pagar ini akan menuju ke tempat wudhu, toilet dan midhat di mana orang yang selesai wudhu dapat duduk di sana. Setelah tempat ini ada ruangan kecil seluas 2×3 m yang dekat dengan pintu masuk Masjid, dan digunakan oleh orang-orang yang shalat untuk meletakkan barang bawaan mereka.

Israel Larang Lebih 600 Panggilan Adzan dari Masjid Ibrahimi selama 2015
Zionis-Israel Larang Adzan Di Masjid Ibrahimi
Beberapa pendapat yang kuat menunjukkan bahwa Masjid Jami’ al Umari ini tetap digunakan pada masa Kekhalifahan Utsmani (Ottoman), yang memerlukan penunjukan petugas dan imam masjid dari waktu ke waktu.

Di antaranya adalah Syaikh Abu Daud dan anaknya, Haji Ahmad. Sedangkan tanah wakaf Masjid Jami’ Al-Umari meliputi 6 toko terdekat dari masjid, sebuah rumah dengan dua kamar, dan Hakurah yang dikenal dengan nama Hakurah al Qasarah di Lorong Al-Armenia.

Dewan Perwakafan di Al-Quds telah menganggap Masjid Jami’ Al-Umari sebagai sesuatu yang penting. Mereka juga telah melakukan perbaikan dan perawatan yang dibutuhkan, dengan membangun dinding penahan, mempergelap menara, dan juga membangun kembali dinding di luar dan di dalam Masjid Al-Umari dengan bebatuan.

Sementa aitu, penjajah Israel melakukan penggalian di sekeliling Masjid Jami’ Al-Umari dan mereka menyebutnya sebagai perluasan kampung Yahudi illegal sejak tahun 1972.

Biasanya hanya shalat Dhuhur dan ‘Ashar saja tanpa terdengar suara adzan. Tapi yang lebih sering, Masjid Jami’ al Umari ini ditutup tanpa pelaksanaan shalat sama sekali.