BOLEHKAH KELOMPOK JIHAD MELAKUKAN KOALISI ATAU PERJANJIAN DENGAN NEGARA LAIN?

duniaekspress.com, 12 Agustus 2018. Sekarang ini berkembang wacana pengkafiran terhadap kelompok – kelompok mujahidin yang digemboskan oleh kelompok takfiri. Selain untuk menjatuhkan kelompok jihad lain juga agar orang menganggap bahwa kelompoknyalah yang paling unggul dan paling benar manhajnya. Bahkan untuk membenarkan kelompoknya melakukan peperangan bahkan pembunuhan terhadap jama’ah jihad lain. Salah satu wacana yang digulirkan adalah bahwa kelompok jihad yang melakukan koalisi atau perjanjian atau negosiasi dengan negara kafir atau negara sekuler telah jatuh kepada kemurtadan.

Sebelum kita membahas ini, mari kita sepakati dasar dari setiap perjanjian maupun koalisi, yaitu dalil yang memerintahkan kaum muslimin dan selain kaum muslimin untuk saling tolong menolong dalam kebaikan dan melarang mereka dari sesuatu yang memudharatkan dan mengganggu mereka :
“Dan saling tolong menolonglah kalian dalam kebaikan dan ketakwaan dan janganlah kalian saling tolong menolong dalam dosa dan permusuhan. Dan bertakwalah kepada Allah sesungguhnya Allah amat keras siksaNya”. (QS. al-Maidah: 2)

at-Tahaluf (koalisi) berasal dari kata al-Hilfu yg artinya perjanjian untuk saling menolong, ia berasal dari wazan: halafa-yahlifu-hilfan. Dlm bentuk kalimat dikatakan hilfuhu fulan fayakunu halifuhu (Fulan berjanji dengan fulan maka ia menjadi sahabatnya) .
dalam hadits nabi SAW disebutkan dari Ashim ra : “Aku berkata kepada Anas bin Malik : Apakah telah sampai kepadamu bahwa nabi SAW bersabda : “Tidak ada hilfu dalam Islam.” Maka jawab Anas ra : “Bahkan nabi SAW telah mengambil sumpah suku Quraisy dan Anshar dirumahku.” (HR Bukhari bab Laka al Adab, hal 78 dan bab al-Ikha wa Halaf juz 8/26, cet Dar asy-Syatibi).
Berkata Ibnu Katsir rahimahullah ketika menafsirkan ayat ini : “Allah Ta’ala memerintahkan hamba-hambaNya yang beriman untuk saling tolong menolong dalam melakukan kebaikan dan itulah al-birr, dan tolong menolong dalam meninggalkan kemungkaran dan itulah ketakwaan. Allah juga melarang mereka saling membantu dalam melakukan kebatilan dan melarang mereka bekerja sama dalam perbuatan dosa dan perbuatan yang diharamkan”.
Apa hukum persekutuan / koalisi antara kaum muslimin dengan non muslim dalam urusan yang di dalamnya terdapat kemaslahatan bagi kaum muslimin namun pada saat yang sama juga memberikan maslahat bagi non muslim? Mana bentuk kerjasama yang dibolehkan dan mana yang tidak diperbolehkan?
Untuk menjawab pertanyaan tersebut dengan tidak berpanjang lebar kita katakan : Hukum bersekutu dengan non muslim tergantung kepada kuat atau lemahnya posisi kaum muslimin. Ketika kaum muslimin tidak membutuhkannya sama sekali dimana mereka mempunyai eksistensi dan kekuatan yang dengannya mereka tidak membutuhkan pertolongan dari siapapun dalam menegakkan kebenaran dan menyeru manusia kepada kebenaran itu dan bahwasanya eksistensi dan kekuatan tersebut menjadikan mereka mampu menyampaikan kebaikan-kebaikan kepada siapapun yang berhak mendapatkannya dimana tidak seorangpun yang mampu menghalang-halangi mereka dalam hal tersebut, maka dalam keadaan seperti itu tidak layak bagi kaum muslimin untuk bersekutu dengan pihak-pihak yang menyelesihi mereka. Maka patokannya adalah kemaslahatan umum bagi kaum muslimin dan negeri mereka, dan hukumnya bergantung kepada maslahat dan mudharat.
Adapun jika mereka dalam keadaan lemah dalam menghadapi musuh-musuh Islam maka mereka boleh mengambil keringanan (rukhshah) dalam masalah ini, sesuatu yang tidak diperbolehkan bagi mereka dalam keadaan kuat.
Dibolehkan melakukan aliansi politik dengan kelompok non muslim yang menyelisihi Islam yang bersandar kepada beberapa dalil, diantaranya :

1. Hadits Thalhah bin ‘Ubaidillah radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Sungguh aku telah menyaksikan di rumah Abdullah bin Jud’an sebuah hilf (perjanjian dan sumpah setia untuk saling menolong), aku tidak menginginkan hal tersebut ditukar dengan unta merah. Seandainya aku diajak kepada perjanjian seperti itu dalam Islam aku pasti akan memenuhinya”.[1]

2. Aliansi yang dibangun oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam perjanjian Hudaibiyah dengan kabilah Khuza’ah [2]. Dimana Khuza’ah masuk dalam persekutuan bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka mencintai beliau dan menjadi penjaga amanah dan rahasia beliau dan kaum muslimin.
Berkata Ibnu Hajar rahimahullah [3] : “Di dalam hadits ini terdapat kebolehan meminta nasehat / pendapat dari sebagian kafir mu’ahad (yaitu orang kafir yang memiliki perjanjian dengan kaum muslimin) dan ahlu dzimmah apabila nampak dari mereka bahwa mereka menginginkan kebaikan bagi kaum muslimin dan sudah terbukti bahwa mereka lebih mengutamakan kaum muslimin dari selainnya bahkan dari orang yang seagama dengan mereka sekalipun. Hadits ini juga menunjukkan bolehnya meminta nasehat / pendapat dari sebagian pemimpin dari golongan musuh sebagai upaya untuk mengalahkan musuh lainnya dan hal ini tidak dianggap sebagai pemberian loyalitas kepada orang-orang kafir dan musuh-musuh Allah, bahkan sebaliknya dia merupakan upaya untuk memperalat mereka dan melemahkan jaringan mereka serta menggunakan sebagian mereka untuk mengalahkan sebagian yang lain. Namun hal ini tidak menunjukkan bolehnya meminta bantuan kaum musyrikin secara mutlak”.

3. Perjanjian yang dibuat oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan paman beliau Abu Thalib dan dengan Muth’im bin Adi [4]. Dimana beliau membuat perjanjian secara terpisah dengan keduanya untuk melindungi beliau yang tentu saja bermakna melindungi dakwah sehingga dapat mewujudkan tujuan dakwah yang disyariatkan dengan tidak mengorbankan prinsip-prinsip agama. Perjanjian seperti ini tentu lebih ringan dari memasukkan diri ke dalam perlindungan orang kafir.

4. Ketika beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berhijrah ke Madinah, diantara program yang pertama beliau lakukan adalah membuat perjanjian antara kaum muslimin dan kaum Yahudi yang berisi kesepakatan-kesepakatan antara kedua kelompok yang dituliskan dalam sebuah prasasti yang tercatat dalam sejarah [5] memuat perjanjian aliansi militer dan musyawarah rutin dalam masalah pemerintahan, dan bahwasanya perkara-perkara yang mereka perselisihkan dikembalikan kepada Allah dan RasulNya shallallahu ‘alaihi wa sallam.

5. Sebelum perang Badar, Nabi SAW singgah dan bertemu dengan pimpinan kabilah Bani Dhamrah, Amr bin Makhsyi. Beliau melakukan perjanjian kerjasama untuk tidak saling memerangi dan saling menolong. Perjanjian ini terjadi pada Shafar 2 H / Agustus 623 M
beliau sempat singgah di kabilah Bani Mudlij dan mengikat perjanjian damai dengan mereka dengan isi yang sama dengan perjanjian dengan bani Dhamrah, terjadi pada jumadil ula – jumadil akhir 2H / Nov – Des 623 M

Koalisi atau perjanjian damai

MASYARAKAT JAWZJAN MENUNTUT MILITAN ISIS AGAR DIADILI

REZIM ASSAD MULAI SERANG GUNUNG TURKMAN

Biasanya paham yang mengharamkan segala bentuk koalisi dengan kelompok kafir lainnya berdasarkan dalil sebagai berikut
A. “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim”.(QS. al-Maidah: 51)
Mereka menafsirkan keharaman segala bentuk koalisi dikarenakan jatuh dalam loyalitas (wala’) pada kekafiran.
BANTAHAN:
Ayat ini sebenarnya tidak berbicara tentang masalah yang diperselisihkan. Ayat ini adalah nash yang jelas menunjukkan larangan memberikan loyalitas kepada orang-orang kafir. Dimana yang dimaksud dengan loyalitas adalah ridha terhadap mereka, mencintai mereka dan mengagungkan agama mereka [6] termasuk juga berkhianat kepada kaum muslimin dan justru mendekat kepada orang kafir dan musuh agama. Hal ini bahkan merupakan sebab turunnya ayat ini, sebagaimana dapat dilihat dalam kisah Abdullah bin Ubay dan Ubadah bin Shamit radhiyallahu ‘anhu [7] dan masalah ini keharamannya disepakati oleh seluruh ulama.
Adapun beraliansi dengan non muslim untuk kemaslahatan Islam adalah persoalan lain yang di dalamnya terdapat kemaslahatan bagi semua tanpa mengorbankan agama sedikitpun dan tanpa menghilangkan kebencian yang ada dalam hati terhadap musuh-musuh syariat.

B. Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang diriwiyatkan At-Tirmidzi dari ‘Amru bin Syuaib dari bapaknya dari kakeknya, Rasul bersabda: “Penuhilah hak persekutuan (yang terlanjur dibuat) di masa jahiliyah karena sesungguhnya hal tersebut tidak menambah untuk Islam kecuali kekuatan, akan tetapi janganlah kalian membuat persekutuan dalam Islam”.
BANTAHAN :
Adapun berdalilnya mereka dengan hadits : “Tidak ada persekutuan dalam Islam”, dan hadits-hadits yang semakna dengannya maka dapat dijawab dengan hadits lain yang diriwayatkan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam dan perbuatan beliau yang menunjukkan bolehnya beraliansi dengan kaum musyrikin seperti yang terdapat dalam sahih Bukhari dari Anas dia berkata : “Sungguh Rasulullah telah mempersekutukan antara Quraisy dan Anshar di rumahku”. [10]
Imam An Nawawi rahimahullah [9] : “Adapun sabda beliau “Tidak ada persekutuan dalam Islam”, yang dimaksud adalah persekutuan yang saling mewariskan dan persekutuan dalam perkara yang dilarang oleh syariat, wallahu a’lam”.

Berkata Ibnu Hajar rahimahullah [10] : “Hadits-hadits ini mungkin digabungkan maknanya bahwa yang dilarang adalah bentuk aliansi yang dahulu mereka lakukan di zaman jahiliyah yaitu menolong sekutu meskipun dia berbuat zhalim, membalas dendam kabilah apabila ada anggota kabilah yang dibunuh kabilah lain, saling mewarisi diantara orang-orang yang bersekutu dan hal lain yang sejenis. Adapun yang dibolehkan adalah selain bentuk-bentuk tersebut, seperti bersekutu untuk menolong pihak yang terzhalimi atau untuk menjalankan urusan agama dan anjuran-anjuran syariat lainnya”.

Catatan kaki:

[1] Diriwayatkan oleh Ahmad, No. 1676), juga terdapat dalam Sirah Ibnu Hisyam, Juz I, hal. 134. Dan perjanjian ini dihadiri oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam– sebelum beliau mendakwahkan Islam – bersama sekelompok orang-orang musyrik dimana mereka mengikat perjanjian dan sumpah setia untuk melawan kezhaliman dan menolong orang yang terzhalimi.
[2] Sirah Ibn Hisyam, Juz II, hal. 317.
[3] Fathul Bari, Juz V, hal. 338.
[4] Lihat:al-Bidyah waal-Nihayah, Juz III, hal. 84;Sirah Ibnu Hisyam, Juz II, hal. 195.
[5] al-Bidyah waal-Nihayah, Juz III, hal. 225.
[6] Lihat penjelasan Ibnu Jarir rahimahullah tentang ayat ini dalam tafsirnya, Juz VI, hal. 277. Dan Ibnul Qayyim rahimahullah dalamAhkam Ahl al-Dzimmah,Juz I, hal. 195.
[7] Lihat: Tafsir al-Thabary, Juz VI, hal. 277.
[8] Fathul Bari, Juz X, hal. 501.
[9] An-Nawawi,Syarh Sahih Muslim, Juz XVI, hal. 81.
[10] Fathul Bari, Juz X, hal. 502.

 

(AZ)