HRW meminta penyelidikan atas pembantaian Rabaa pada tahu 2013 yang membunuh banyak para pendukung Presiden terpilih secara demokratis Mohamed Morsi

Duniaekspress.com (14/8/2018)- Sebuah kelompok hak asasi manusia menyerukan penyelidikan internasional terhadap aksi pembataian terhadap pendukung Ikhwanul Muslimin pada saat aksi protes tahun 2013 di Mesir.

Human Rights Watch mengatakan pada hari Senin (13/8) bahwa pihak berwenang Mesir telah gagal menyelidiki atau mengadili satu anggota pasukan keamanan yang bertanggung jawab atas serangan di Alun-alun Rabaa al-Adawiya di Kairo.

Kelompok hak asasi manusia itu mengatakan serangan terhadap aksi demonstrasi itu menewaskan lebih dari 800 pemrotes dalam hitungan jam. Kelompok HAM tersebut menyebutnya dengan “pembunuhan massal terbesar dalam sejarah modern Mesir”.

“Lima tahun sejak pembantaian Rabaa, satu-satunya tanggapan dari otoritas adalah mencoba untuk melindungi mereka yang terlibat atas kejahatan ini dari peradilan,” kata Sarah Leah Whitson, direktur HRW untuk Timur Tengah dan Afrika Utara, seperti yang dikutip Al-Jazeera, Senin (13/8/2018).

Berita Terkait:

PEMIMPIN IKHWANUL MUSLIMIN DIVONIS SEUMUR HIDUP

PENGADILAN MESIR KEMBALI VONIS MATI PENDUKUNG MURSI

Pembubaran demonstrasi berdarah itu terjadi berminggu-minggu setelah Mohamed Morsi digulingkan menyusul unjuk rasa massal terhadap kekuasaannya selama satu tahun. Pemerintah Mesir berdalih dengan mengatakan banyak demonstran bersenjata.

Sejak itu ratusan pengunjuk rasa, termasuk para pemimpin Ikhwanul Muslimin Morsi, telah dihukum di pengadilan massal. Pengadilan Mesir pada bulan Juli memvonis 75 orang dengan hukuman mati karena berpartisipasi dalam aksi demonstrasi.

Baca Juga:

PASUKAN KHUSUS AMERIKA TEWAS DI AFGHANISTAN

SERANGAN MUJAHIDIN TALIBAN GUNCANG PANGKALAN MILITER, PASUKAN REZIM KABUR

Presiden Abdel Fattah al-Sisi bulan lalu menyetujui undang-undang yang memberi kekebalan hukum kepada pejabat militer senior dari penuntutan terkait dengan kerusuhan yang terjadi setelah penggulingan Morsi.

“Tanpa keadilan, Rabaa tetap menjadi luka terbuka. Mereka yang bertanggung jawab atas pembunuhan massal para pemrotes tidak boleh mengandalkan kemampuan untuk melindungi diri dari pertanggungjawaban selamanya,” Whitson memperingatkan.

Di antara mereka yang masih menunggu putusan adalah foto jurnalis terkemuka Mahmud Abu Zeid, yang secara luas dikenal sebagai Shawkan, yang pada bulan Mei menerima Hadiah Kebebasan Pers UNESCO.

Ikhwanul Muslimin menjadi gerakan terlarang menyusul penggulingan Morsi pada Juli 2013 dalam kudeta yang dipimpin oleh Sisi yang menjadi presiden negara itu setahun kemudian. Sisi terpilih kembali pada bulan Maret tahun ini.