Dua Masjid di Birmingham jadi sasaran aksi serangan teror, diduga pelaku serangan menggunakan ketapel

Duniaekspress.com (17/8/2018)- Organisasi Muslim di Inggris mengecam serangan teror di dua masjid di Birmingham, yang menghancurkan beberapa jendela saat pelaksanaan ibadah shalat Isya.

Al Jazeera melapor, Masjid Masjid Qamarul Islam dan masjid Al-Hijrah yang berdekatan diserang dengan pelor besar yang ditembakkan dari ketapel pada hari Rabu (15/8) ketika dilaksanakannya shalat Isya.

Polisi bersenjata “dikerahkan untuk berjaga-jaga”, kata polisi setempat di Twitter.

Pada hari Kamis, polisi mengatakan mereka telah melakukan penyelidikan terhadap serangan tersebut, yang dugaan awal serangan tersebut sebagai kejahatan kebencian. Pihak keamanan akan mengerahkan pasukan tambahan dilokasi tersebut.

Berita Terkait:

MUSLIM BELGIA KECAM KERAS SERANGAN ISLAMOPHOBIA

MENDAPAT SERANGAN, MASJID DI SWEDIA HABIS TERBAKAR

NEO NAZI TEROR KELUARGA MUSLIM DI BELANDA

“Sementara kita belum sepenuhnya tahu motifnya, gotri besi ini adalah seukuran kelereng  [dan memiliki] potensi untuk membunuh,” kata kelompok Bahu Trust yang berbasis di Birmingham, dalam akun twittewrnya.

Tell MAMA UK kelompok pemantau serangan kebencian mengatakan “sangat mengutuk serangan katapel” kedua Masjid di Birmingham tersebut.

Serangan itu terjadi setelah seorang pria berusia 29 tahun dari Birmingham ditangkap karena dicurigai melakukan terorisme setelah menabrakkan mobilnya ke dalam pagar keamanan di parlemen Inggris di London pada Selasa lalu.

Baca Juga:

ISIS MEMBOM SEKOLAH DI AFGHANISTAN, PULUHAN PELAJAR TEWAS

HAYAT TAHRIR AL-SHAM KEMBALI TANGKAP PARA PENGKHIANAT

Naveed Sadiq, seorang jamaah di masjid Al-Hijrah, mengatakan kepada penyiar Sky News bahwa dia merasa serangan itu mungkin “terkait” dengan apa yang terjadi di London.

Bulan lalu, Tell MAMA mengatakan bahwa tampaknya ada pola lonjakan dalam insiden Islamofobia setelah serangan di Inggris dan di luar negeri.

Kelompok Thr mengatakan ada kenaikan 700 persen dalam insiden anti-Muslim di publik dalam seminggu setelah serangan di Manchester Arena pada Mei 2017, ketika 22 orang tewas dan ratusan lainnya terluka setelah penampilan oleh penyanyi AS Ariana Grande.