duniaekspress.com, 17 Agustus 2018. Mencintai ulama dan orang shalih adalah adab/akhlak mulia. Bahkan termasuk akhlak para ulama dan orang-orang shalih terdahulu. Karena Allah Ta’ãlã telah mengangkat derajat dan memuliakan para ulama pengemban ilmu, maka orang-orang beriman juga harus memuliakan orang yang telah dimuliakan Allah. Allah Ta’ãlã berfirman:

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

 

“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan (ulama) beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan.” (Q.S. Al Mujãdilah/58: 11).

Namun di akhir zaman, jumlah ulama rabbani, ulama sejati, ulama pengemban ilmu dan taqwa, akan berkurang drastis jumlahnya. Bahkan, di akhir zaman banyak orang yang dijadikan ulama panutan padahal mereka bukanlah ulama panutan. Diriwayatkan dari Abdullah bin ‘Amrû bin Al ‘Ãsh, ia menuturkan, saya mendengar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

إِنَّ اللَّهَ لاَ يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنَ الْعِبَادِ وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا اتَّخَذَ النَّاسُ رُؤُوسًا جُهَّالاً فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا.

“Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu sekaligus dari para hamba-Nya. Namun Allah mencabut ilmu dengan mewafatkan para ulama, hingga apabila tidak tersisa lagi seorang ulama, orang-orang akan mengangkat orang bodoh menjadi pemimpin. Mereka ditanya, mereka tepaksa berfatwa tanpa ilmu, mereka sesat dan menyesatkan.” (H.R. Bukhãrî dan Muslim).

Saudi Now terhadap ulama dan IS terhadap mujahidin

Diriwayatkan pula dalam riwayat yang lain, dari Abdullah bin ‘Amrû bin Al ‘Ãsh, ia menuturkan, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يَأْخُذَ اللهُ شَرِيطَتَهُ مِنْ أَهْلِ اْلأَرْضِ فَيَبْقَى فِيهَا عَجَاجَةٌ لاَ يَعْرِفُونَ مَعْرُوفًا وَلاَ يُنْكِرُونَ مُنْكَرًا.

 

“Kiamat tidak akan terjadi hingga Allah mengambil orang-orang baik (penegak syariah-Nya) dari penduduk bumi, sehingga yang tersisa hanyalah orang-orang yang jelek, mereka tidak mengetahui yang baik dan tidak mengingkari yang munkar.” (HR. Ahmad dalam Musnadnya. Ahmad Syãkir berkata, “Sanadnya shahih.”).

Dari keterangan dua hadis di atas, harus dibedakan dengan seksama antara ulama rabbani dan ulama su/jahat. Karena di akhir zaman, jumlah ulama su akan bertambah seiring dengan bertambahnya jumlah rezim jahat di dunia ini. Karena ulama su adalah sejoli dari rezim jahat; dimana ada rezim jahat maka disitu pasti ada ulama su yang akan menjadi pembela sejatinya. Perhatikan ayat berikut:

وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ الَّذِي آتَيْنَاهُ آيَاتِنَا فَانْسَلَخَ مِنْهَا فَأَتْبَعَهُ الشَّيْطَانُ فَكَانَ مِنَ الْغَاوِينَ (175) وَلَوْ شِئْنَا لَرَفَعْنَاهُ بِهَا وَلَكِنَّهُ أَخْلَدَ إِلَى الْأَرْضِ وَاتَّبَعَ هَوَاهُ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ الْكَلْبِ إِنْ تَحْمِلْ عَلَيْهِ يَلْهَثْ أَوْ تَتْرُكْهُ يَلْهَثْ ذَلِكَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا فَاقْصُصِ الْقَصَصَ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ (176) سَاءَ مَثَلًا الْقَوْمُ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا وَأَنْفُسَهُمْ كَانُوا يَظْلِمُونَ

“Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami (pengetahuan tentang isi Al-Kitab), kemudian dia melepaskan diri dari ayat-ayat itu lalu dia diikuti oleh setan (sampai dia tergoda), maka jadilah dia termasuk orang-orang yang sesat. Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat) nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan memperturutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing. Jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga). Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berpikir.” (Q.S. Al A’rãf/7: 175-176).

Ayat ini adalah kisah bani Israil. Ketika itu, Mûsã dan para pengikutnya hijrah ke negeri Kan’an yang dihuni bani israil. Ringkasnya. Pimpinan dari bani Israil meminta Bal’ãm untuk mendoakan kehancuran Mûsã dan dakwahnya. Imam Ibnu katsir dalam tafsirnya menjelaskan, Muhammad bin Ishãq bin Yasar meriwayatkan dari Salîm Abun Nadhar, ia menuturkan tatakala Mûsã singgah di negeri bani Kan’an, yaitu di wilayah Syiria, maka beliau dikunjungi oleh kaum Bal’ãm. Penduduk Kan’an berkata kepada Bal’ãm, “Orang ini adalah Mûsã bin Imrãn yang berada di tengah-tengah bani Israil. Dia telah datang untuk mengusir kami dari negeri kami sendiri, untuk membunuh kami dan menempatkan bani Israil di sana.

Sesungguhnya kami adalah kaummu. Kami tidak memiliki tempat tinggal, sedang kamu adalah orang yang makbul do’anya. Pergilah dan do’akanlah mereka mendapat keburukan. Bal’ãm berkata: ‘Celakalah kamu. Nabi Allah itu disertai oleh para malaikat dan kaum mukminin. Bagaimana mungkin aku pergi untuk mendo’akan buruk pada mereka padahal aku mengetahui dari Allah apa yang aku ketahui’.

Kaum Kan’an terus mendesak Bal’am hingga akhirnya ia berangkat menuju ke sebuah gunung yang dapat mengintai pasukan bani Israil. Gunung itu bernama Husban. Ketika bal’am berada di puncak Husban dan melihat pasukan Mûsã serta Bani Israil, maka ia mulai mendo’akan buruk kepada mereka. Tidaklah ia mendo’akan buruk kepada mereka kecuali Allah membelokkan lidahnya ke arah kaumnya sendiri. Dan tidaklah dia mendo’akan baik kepada kaumnya melainkan Dia membelokkan lidahnya kepada bani Israil.

Dan di akhir zaman ini, keberadaan rezim-rezim jahat yang memaksakan kehendak akan menjadi keniscayaan. Rezim-rezim ini akan ditopang oleh para ulama su yang siap membenarkan langkah-langkah mereka. Diriwayatkan dari Abu Hurairah, ia menuturkan, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّـارِ لَمْ أَرَهُمَا قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَـرِ يَضْرِبُونَ بِهَا النَّاسَ…

“Ada dua kelompok calon penghuni Neraka yang belum pernah aku lihat; satu kaum yang membawa cemeti seperti ekor sapi (baca, rezim jahat), dengannya mereka mencambuk manusia…” (HR. Muslim).

Pada hadis lain disebutkan, dari Hudzaifah ibnul Yaman ia menuturkan bahwa  Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

“يَكُوْنُ أُمَرَاء يُعَذِّبُوْنَكُمْ وَيُعَذِّبَهُمُ اللهُ “.

“Akan memimpin suatu hari nanti, para pemimpin yang akan menyiksa kalian dan Allah balas siksaan mereka dengan menyiksa mereka.” (HR. Al Hãkim, ia menyebutkan bahwa sanad hadis ini shahih namun tidak diriwayatkan Imam Bukhãrî dan Imam Muslim. Keterangan ini disepakati Imam Adz Dzahabî dalam At Talkhîsh.

****

ISRAEL TANGKAP JURNALIS PALESTINA

RUBAH HUKUM WARIS, AL-AZHAR PERINGATKAN TUNISIA

Kaum muslimin diperintahkan mencintai dan memuliakan para ulama karena Allah mencintai dan memuliaka mereka. Dalam Al Qur’an, menghormati ulama dicontohkan dengan memberikan tempat duduk yang terhormat. Bahkan kalau tempat itu sudah terisi, kita diminta bergeser. “Dan apabila dikatakan, ‘Berdirilah kamu’, maka berdirilah; Allah meninggikan derajat orang-orang yang beriman di antaramu dan ulama.” (Q.S. Al Mujãdilah/58: 11). Bahkan Allah mengangkat derajat mereka di atas yang lainnya.

Ulama adalah orang yang paling berilmu, paling takut kepada Allah Ta’ãlã, “Sesungguhnya orang yang takut kepada Allah di antara para hamba-Nya, hanyalah para ulama.” (Q.S. Al Fãthir/35: 28].. Ilmu ulama bukan sekadar sekumpulan informasi berupa buku berjilid-jilid yang tersimpan dalam memori mereka; tapi ilmu yang membuat mereka takut kepada Allah, sehingga mengamalkannya dan menjadi garda terdepan dalam memperjuangkannya.

Ulama menguasai ilmu yang luas dan dalam; karena mereka menjadi rujukan umat dalam mengetahui hukum halal dan haram, membimbing umat menuju ridha Allah Ta’ãlã. Ilmu yang mendalam hanya bisa dikuasai dengan usaha keras dan kesabaran. Sehingga gelar ulama (termasuk kyai, ustadz, da’i, tuan guru, dan lain-lain) tidak boleh sembarang disematkan; kerena Allah Ta’ãlã yang berhak menganugerahkannya, “Dan Kami (Allah) jadikan di antara mereka itu imam-imam yang memberi petunjuk dengan perintah Kami, setelah mereka sabar.” (Q.S. As Sajdah/32: 24).

*****

Mencintai dan memuliakan orang shalih dan para ulama adalah salah satu sarana taqarrub, mendekatkan diri kepada Allah. Allah Ta’ãlã berfirman: “Sesungguhnya penolong kalian hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah). Dan barang siapa mengambil Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman menjadi penolongnya, maka sesungguhnya pengikut (agama) Allah itulah yang pasti menang”. (Q.S. Al Mãidah/5: 55-56).

(Sutan Serdang)