“PESAN JAKARTA” dari Forum Perdamaian Dunia

Duniaekspress.com. (17/8/2018). – Jakarta – The 7th World Peace Forum (WPF) telah dilangsungkan pada 14 sampai 16 Agustus 2018 di Jakarta. Forum resmi ditutup pada Selasa siang (16/08/2018) oleh Utusan Khusus Presiden untuk Dialog dan Kerjasama Antar Agama dan Peradaban, Din Syamsuddin.

Dialog dan diskusi berlangsung lancar, forum dialog yang mengangkat gagasan “Jalan Tengah untuk Peradaban Dunia” disambut baik peserta. Butir-butir ide dari forum ini pun disajikan dalam Pesan Jakarta (Jakarta Messege) yang dideklarasikan di penghujung acara.

Pesan Jakarta berisikan komitmen peserta yang mewakili lebih 40 negara untuk merealisasikan jalan tengah dalam segala bidang kehidupan baik itu ekonomi, politik, sosial, budaya hingga beragama.

Pesan Jakarta ini dibacakan langsung oleh Din Syamsuddin. Namun draf Pesan Jakarta belum bisa dinyatakan final, karena masih ada tambahan-tambahan di sesi akhir acara.

“Karena ada beberapa saran, koreksi dari para peserta pada sesi terakhir. Ada tambahan tambahan yang masih dikerjakan,” ungkap Din.

Hasil gambar untuk forum perdamaian dunia di jakarta

Foto: Forum Perdamaian Dunia ke-7 digelar di Jakarta

Berikut Pesan Jakarta yang dirumuskan oleh pencipta, pegiat perdamaian hingga tokoh berbagai agama dari mancanegara:

The Jakarta Message on The Middle Path for the World Civilization
The 7th World Peace Forum (WPF)
Jakarta, 14-16 Agustus 2018

Peradaban dunia terus berkembang menghasilkan dampak positif dan negatif terhadap umat manusia. Transformasi milenium saat ini ditandai oleh apa yang disebut peradaban baru mengacu pada inovasi teknologi revolusioner yang tidak hanya mengubah sisi teknis teknologi informasi, tetapi juga berbagai aspek kehidupan manusia – ekonomi, politik, sosial, budaya dan bahkan agama.

Transformasi teknologi ini menghasilkan dampak positif dan negatif. Dalam dampak positifnya, perkembangan teknologi informasi yang kiat pesat dan berjangkauan luas membuat hari-hari kita lebih mudah dan juga telah mengarah pada pembentukan masyarakat berbasis pengetahuan. Namun, perubahan yang cepat juga membawa dampak negatif yang menciptakan krisis bagi peradaban sebagaimana tercermin dalam sistem dunia yang tidak seimbang saat ini, mulai dari politik, ekonomi hingga sosial-budaya. Krisis dapat terlihat jelas dalam ketidaktentuan dan kekacauan global, menciptakan peralihan besar peradaban, disrupsi yang besar, dan akumulasi kerusakan global. Dampak negatif tersebut mencerminkan apa yang disebut paradoks peradaban.

Dalam konteks ini, kami, para pemimpin dunia dan negara-bangsa, pemimpin agama, akademisi serta pemikir, cendekiawan dan aktivis perdamaian dari 43 negara berkumpul dalam Forum Perdamaian Dunia ke-7 di Jakarta, dari 14 – 16 Agustus 2018 untuk membahas secara menyeluruh jalan tengah menuju peradaban dunia yang lebih baik, lebih damai, adil, dan harmonis.
 
Kami amati,

1. Peradaban dunia terus menghadapi krisis, seperti kekurangan pangan, masalah energi, bencana lingkungan, perubahan iklim, pengungsi, degenerasi moral yang menyebabkan tidak adanya perdamaian; ketidakadilan meluas, kemiskinan ekstrim; buta huruf yang belum terpecahkan; teologi egosentris; kurangnya keragaman; dan diskriminasi sosio-ekonomi, rasial, dan agama; yang semuanya merupakan peradaban yang mengancam serius;
2. Krisis tersebut juga mengarah pada egosentrisme, primordialisme, populisme politik berdasarkan agama atau suku dan etnis, yang mengakibatkan melemahnya demokrasi di banyak negara di mana berbagai bentuk intoleransi, ekstremisme, kekerasan dan terorisme terbukti membawa pelanggaran dan penghancuran supremasi hukum dan hak asasi manusia, ketidakadilan politik dan ketimpangan ekonomi.

Kami yakin,

1. Ekstremisme dalam bentuk apa pun – sosial-religius, ekonomi, atau politik – menghambat tindakan yang lebih positif dari manusia.
2. Jalan Tengah adalah orientasi kehidupan yang mempromosikan keseimbangan yang lebih adil, harmoni antara jenis manusia, sisa alam dan transenden.
3. Jalan Tengah menyediakan suasana keadilan, toleransi, kompromi, inklusi, dan kerjasama di mana pluralisme dan keragaman dihormati.
4. Jalan Tengah adalah pendekatan untuk masalah di atas dan harus diadopsi, diarusutamakan dan dilaksanakan oleh orang-orang dan negara-bangsa dalam semua aspek.

Kami mengakui,

Pertemuan di Jakarta, di Forum Perdamaian Dunia 7, sejak 14-16 Agustus 2018 kami telah mengambil hikmah, wawasan dan praktik terbaik para pemimpin negara-bangsa, pemimpin agama, aktivis perdamaian, akademisi dan sarjana dari 43 negara di seluruh dunia dan terinspirasi dari berabad-abad religius dan pluralism budaya dan harmoni di antara masyarakat di Kepulauan Melayu-Indonesia. Ini adalah negara dan wilayah yang merangkul keanekaragaman budaya dan agama telah mengilhami orang lain dari komunitas agama yang sama dan jauh ke apresiasi yang lebih dalam tentang inklusi dan kekayaan warisan kolektif umat manusia.

Kami berkomitmen,

1. Bekerja sama untuk mengarusutamakan Jalan Tengah sebagai prinsip utama bagi peradaban dunia yang harus diimplementasikan dalam kehidupan politik, ekonomi, dan sosial budaya.
2. Mendorong negara-bangsa untuk mengambil tanggung jawab guna meningkatkan kesadaran dan menyiapkan aturan dan mekanisme untuk pelaksanaan Jalan Tengah di negara masing-masing.
3. Mendorong para pemimpin agama untuk memberikan contoh, mempromosikan dan memimpin pelaksanaan Jalan Tengah di komunitas masing-masing.
4. Mendorong akademisi, cendekiawan, dan guru untuk melakukan penelitian menyeluruh dan ekstensif dan mendidik generasi muda di Jalan Tengah.
5. Mendorong orang untuk terus melaksanakan prinsip-prinsip Jalan Tengah dalam kehidupan sehari-hari mereka.
6. Mendorong para pemangku kepentingan, termasuk masyarakat sipil, dan media, untuk mengambil inisiatif untuk meluncurkan gerakan global pada pelaksanaan guna meimplementasikan Jalan Tengah di komunitas mereka masing-masing. (RR).

Jakarta 16 Agustus 2018.

 

Baca juga, INDONESIA TERPILIH MENJADI ANGGOTA TIDAK TETAP DK PBB PERIODE 2019 – 2020