duniaekspress.com, 23 Agustus 2018. Syudzudz adalah sikap menyempal atau berbeda dari lainnya, kalimat syudzudz terdapat dalam hadits:

يجمع الله أمر أمتى على ضلالة أبدا اتبعوا السواد الأعظم يد الله على الجماعة من شذ شذ فى النار

“Allah tidak akan membiarkan ummatku dalam kesesatan selamanya. Ikutilah As-Sawad Al-A’zhom (mayoritas kaum muslim). Tangan Allah bersama JAMA’AH. Barangsiapa menyendiri (menyempal = syadzdza), ia akan menyendiri (menyempal) di dalam neraka.” Diriwayatkan oleh Al-Hakim dari Ibnu Abbas juz 1 hal. 202 nomor 398 dan dari Ibnu Umar juz 1 hal. 199 nomor 391 (Jami’ul Ahadits: 17.515).

Dari hadits di atas bahkan Alloh Subhaana wata’ala mengancam pelaku syudzudz dengan api neraka. Dan bahwa makna al-jama’ah adalah ‘sawadul a’zom’ (mayoritas kaum muslimin). Kalimat sawadul a’zom muncul dari hadits:

عُرِضَتْ عَلَيَّ الْأُمَمُ، فَرَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمَعَهُ الرُّهَيْطُ، وَالنَّبِيَّ وَمَعَهُ الرَّجُلُ وَالرَّجُلَانِ، وَالنَّبِيَّ لَيْسَ مَعَهُ أَحَدٌ، إِذْ رُفِعَ لِي سَوَادٌ عَظِيمٌ، فَظَنَنْتُ أَنَّهُمْ أُمَّتِي، فَقِيلَ لِي: هَذَا مُوسَى صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَوْمُهُ، وَلَكِنْ انْظُرْ إِلَى الْأُفُقِ، فَنَظَرْتُ فَإِذَا سَوَادٌ عَظِيمٌ، فَقِيلَ لِي: انْظُرْ إِلَى الْأُفُقِ الْآخَرِ، فَإِذَا سَوَادٌ عَظِيمٌ، فَقِيلَ لِي: هَذِهِ أُمَّتُكَ وَمَعَهُمْ سَبْعُونَ أَلْفًا يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ بِغَيْرِ حِسَابٍ وَلَا عَذَابٍ

“Diperlihatkan kepadaku umat manusia seluruhnya. Maka akupun melihat ada Nabi yang memiliki pengikut sekelompok kecil manusia. Dan ada Nabi yang memiliki pengikut dua orang. Ada Nabi yang tidak memiliki pengikut. Lalu diperlihatkan kepadaku sekelompok hitam yang sangat besar, aku mengira itu adalah umatku. Lalu dikatakan kepadaku, ‘itulah Nabi Musa Shallallhu’alaihi Wasallam dan kaumnya’. Dikatakan kepadaku, ‘Lihatlah ke arah ufuk’. Aku melihat sekelompok hitam yang sangat besar.Dikatakan lagi, ‘Lihat juga ke arah ufuk yang lain’. Aku melihat sekelompok hitam yang sangat besar. Dikatakan kepadaku, ‘Inilah umatmu dan diantara mereka ada 70.000 orang yang masuk surga tanpa hisab dan tanpa adzab’.” (HR. Bukhari 5705, 5752, Muslim, 220)

As sawad artinya sesuatu yang berwarna hitam, dalam bentuk plural. Al A’zham artinya besar, agung, banyak. Sehingga as sawaadul a’zham secara bahasa artinya sesuatu yang berwarna hitam dalam jumlah yang sangat banyak. Menggambarkan orang-orang yang sangat banyak karena rambut mereka umumnya hitam.

Hadits tentang larangan Syudzudz di atas diperkuat dengan hadits di bawah ini:

“Sesungguhnya umatku tidak akan mungkin bersepakat dalam kesesatan. oleh karena itu, apabila kalian melihat terjadinya perselisihan, maka ikutlah golongan mayoritas” (HR. Ibnu Majah no. 3950, Al-Lalaka’i dalam Syahr Ushul I’tiqad Ahlus Sunnah (153), As-Suyuthi menilai Hadist ini Shahih dalam Al-Jami’ As-Shagir Juz 1 hlm 88).
Defenisi al-jama’ah sebagai sawaadul a’dzhom juga dikemukakan oleh imam Ath Thabari, beliau mengatakan : “Berkata kaum (yakni para ulama), bahwa jama’ah muslimin adalah as-sawadul a’zham“, lalu beliau berdalil dengan riwayat Muhammad bin Sirin dari Abu Mas’ud bahwa beliau berwasiat kepada orang yang bertanya kepadanya ketika Utsman bin ‘Affan terbunuh, Abu Mas’ud menjawab: “hendaknya engkau berpegang pada Al Jama’ah karena Allah tidak akan membiarkan umat Muhammad bersatu dalam kesesatan“.

Jadi ada perintah untuk mengikuti mayoritas kaum muslimin bersama para ulamanya, tentunya di sini bukan ulama su’ atau para ulama yang mengedepankan nafsu dunia dan kekuasaan. Dan janji Alloh bahwa umat ini tidak mungkin bersepakat dalam kesesatan.

============

Namun ada sebuah pemahaman di kalangan sekelompok kecil umat Islam yang meyakini bahwa untuk mencapai kebenaran yang hakiki maka janganlah mengikuti pemahaman kebanyakan orang, bahwa mayoritas umat ini telah sesat bahkan murtad. Mereka mengambil beberapa dalil qur’an dan hadits-hadits tentang Ghuroba.

Maka kami uraikan dalil-dalil tersebut beserta bantahannya.

  1. Mereka berdalil dengan ayat: “Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah” (QS. Al An’am: 116).

Kemudian dengan dalil:

“Alif laam miim raa. Ini adalah ayat-ayat Al Kitab (Al Qur’an). Dan Kitab yang diturunkan kepadamu daripada Tuhanmu itu adalah benar; akan tetapi kebanyakan manusia tidak beriman (kepadanya).” (QS. Ar Ra’du: 1)

Lalu mereka berdalil:
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Allah berfirman: “Wahai Adam!” maka ia menjawab: “Labbaik wa sa’daik” kemudian Allah berfirman: “Keluarkanlah dari keturunanmu ahli neraka!” maka Adam bertanya: “Ya Rabb, apakah ahli neraka itu?” Allah berfirman: “Dari setiap 1000 orang, 999 di neraka dan hanya 1 orang yang masuk surga.” Maka ketika itu para sahabat yang mendengar bergemuruh membicarakan hal tersebut.
Mereka bertanya: “Wahai Rasulullah, siapakah di antara kami yang menjadi satu orang tersebut?” Maka beliau bersabda: “Bergembiralah, karena kalian berada di dalam dua umat, tidaklah umat tersebut berbaur dengan umat yang lain melainkan akan memperbanyaknya, yaitu Ya’juj dan Ma’juj. Pada lafaz yang lain: “Dan tidaklah posisi kalian di antara manusia melainkan seperti rambut putih di kulit sapi yang hitam, atau seperti rambut hitam di kulit sapi yang putih.” (HR. Bukhari dan Muslim)

BANTAHAN:

dalil-dalil di atas berbicara tentang : “kebanyakan manusia” bukan “kebanyakan kaum mu’minin”, dan memang banyak ayat dan hadis yang berbicara bahwa kebanyakan manusia adalah penghuni neraka seperti hadits yang terakhir. Pun, yang dimaksud dengan al jama’ah dalam konteks sawaadul a’zhom adalah kelompok  umat islam yang mengikuti ulama-ulama yang tidak memperturutkan hawa nafsu, dan jumlah mereka menurut pengamatan kami saat ini jumlahnya  juga tidak sedikit. Jadi al-jama’ah bukanlah manusia umum bersama umat islam serta ulama-ulamanya yang menjual akhirat dengan dunia, yang jumlahnya jauh lebih banyak dari al-jama’ah itu sendiri.

Kemudian tentang perbandingan keturunan Adam yang masuk neraka dibandingkan dengan yang masuk surga adalah 999 : 1, selain keterangan kami di atas juga ada sebuah kenyataan bahwa Ya’juj dan Ma’juj yang akan keluar menjelang hari kiamat itu jumlahnya sangat banyak, hingga mampu meminum air danau thobariah hingga kering, sebagaimana dikabarkan dalam hadits yang shahih

2. Bahwa islam akan menjadi sesuatu yang asing (Ghuroba), dan kelompok yang asing itu pasti sedikit, mereka berdalil:
“Islam pada awalnya asing dan akan kembali asing kelak sebagaimana awalnya. Maka pohon tuba di surga bagi orang-orang yang asing” (HR. Muslim no.145)
Dan hadits-hadits lain yang senada yang berbicara tentang Ghuroba.

BANTAHAN:
sekali lagi bahwa al-jama’ah dengan makna sawadul a’zhom dibandingkan dengan manusia umum keseluruhan di dunia adalah sedikit. Artinya bahwa mayoritas umat islam beserta para ulamanya yang soleh, yang tidak memperturutkan hawa nafsu dunianya masih jauh lebih kecil dan ‘asing’ bagi manusia secara umum plus umat islam yang mengikuti ulama dunia, atau ulama su’.

3. Abdullah bin Mas’ud Radhiallahu’anhu, menafsirkan istilah Al Jama’ah:

الجماعة ما وافق الحق وإن كنت وحدك

“Al Jama’ah adalah siapa saja yang sesuai dengan kebenaran walaupun engkau sendiri”
Jadi tidak masalah jika kita menyempal sendiri, atau menjadi kelompok kecil menselisihi mayoritas kaum muslimin, karena mayoritas kaum muslimin tidak jadi patokan kebenaran, tidak jadi patokan bahwa mereka berada dalam ‘al-jama’ah’.

BANTAHAN:

perkataan Abdullah bin Mas’ud ra (dan ini adalah qoul shohabat, bukan qoul Rosululloh SAW) tidak menunjukkan kita harus selalu sendiri, maksud beliau InsyaAlloh adalah bahwa : jika kita sudah mengikuti pemahaman mayoritas umat islam beserta ulamanya (bukan ulama su’) namun di lingkungan terdekat kita, baik itu kampung, atau pulau atau negara kita sendirian, maka kita diperintahkan untuk tetap dalam kebenaran itu walau kita adalah sendirian di “lingkungan kita”.

4. Kami melihat bahwa banyak dan mayoritas para ulama dan kaum muslimin yang walaupun mereka ikhlas, tapi mereka memaklumi, membenarkan memperjuangkan islam via syirik demokrasi bahkan banyak juga mereka ikut di dalamnya. Maka kami berkesimpulan bahwa mayoritas umat islam dan ulama panutannya yang dianggap lurus itu adalah sesat bahkan murtad.

BANTAHAN

masalah Demokrasi itu Syirik dan para pelakunya bisa murtad, adalah perkara Ikhtilaf, bukan masalah maklum atau perkara Zhahirah yang sudah pasti benarnya, karena pemahaman ulama terhadap demokrasi itu tidak sama dengan yang dimaksud oleh barat, misalnya dalam kebebasan tanpa batas, ini jelas ditolak bahkan oleh ulama yang memperjuangkan islam via demokrasi.
Dan pula, masih banyak ulama yang mengharamkan berjuang via demokrasi kecuali memenuhi syarat-syarat tertentu, dan mayoritas mereka tidak gegabah mengkafirkan umat islam atau ulama yang memperjuangkan islam via demokrasi misalnya karena pertimbangan udzur dalam takwil di atas.

Wallohu a’lam bisshowaab.

(Abu Ihdal)

“ANJING” AKHIR ZAMAN BERTOPENG KHAWARIJ

PEMBUNUHAN KARAKTER OLEH KAUM KHAWARIJ