Ketidakadilan dalam memberikan cap Teroris

Duniaekspress.com. (23/8/2018). Islam itu indah tidak pernah mengajarkan teror. Teroris adalah alat paling ampuh yang digunakan untuk mengelabui masyarakat yang tidak paham dengan ‎makna teroris sesungguhnya. Menurut mereka, Islam itu harus lembut dan sabar dalam menerima ‎perlakuan kasar dan tidak boleh memberikan perlawanan. Jika keluar vonis kafir yang sah, itu teroris. Jika ‎keluar vonis bidah yang sah, itu teroris. Jika Islam melawan, itu teroris.

Salah Persepsi

Para pejuangnya adalah teroris, ‎radikal, extrimis dan barbar. Kalimat-kalimat yang tidak hanya terlontar dari mulut orang-orang kafir, tapi ‎juga dari orang-orang yang mengaku paham Islam. Teroris adalah alat yang paling disukai musuh untuk ‎dalih menyerang suatu wilayah Islam.‎

Akan tetapi ketika Amerika membantai umat Islam di Afghanistan dan Irak. Tidak ada media yang ‎menilainya teroris. Ketika Basar Asad dan aliansinya Iran dan Lebanon membunuh setengah juta umat ‎Islam di Suriah, tidak ada satu negara pun yang mengatakannya teroris.

Myanmar yang telah membantai, ‎membakar dan memutilasi umat Islam Rohingya tidak ada satu pun yang menganggapnya teroris. Saat ‎agresor Rusia yang berbuat terorisme di Afghanistan, Chechnya dan Suriah, tidak pernah ada yang bilang ‎teroris. Dan ketika Yahudi menyerang umat Islam di Palestina, semuanya diam dan tidak pernah berkata ‎teroris.‎

Apa pernah penduduk Rohingya, Myanmar, Cheshnya ataupun Suriah, mengebom penduduk Amerika dan sekutunya atau membunuh, memenjarakan, memperkosa, menganiaya, menodai wanita-wanita mereka?

Islam Itu Indah

Seakan kata teroris hanya disematkan kepada para pejuang Islam yang membela agama, harga diri dan ‎wilayahnya. Dan kamus teroris hanya milik orang-orang kafir dan musyrik. Makanya ketika para mujahidin ‎di Suriah melawan rezim Basar Asad, medsos memberitakannya sebagai teroris dan pemberontak.

Dan ‎ketika umat Islam Rohingya mulai melawan tentara Myanmar, barulah keluar kata teroris dari mulut-mulut ‎mereka. Akan tetapi mereka dibantai, dunia diam seribu bahasa. Dan ketika ada orang Rusia dibunuh, ‎dunia langsung mengutuk dan mengatakan itu tindakan teroris. Itu semua terjadi, karena “al-kufru millatun wahidah”, kekafiran adalah satu agama.‎

Bahkan untuk meredam perlawanan umat, dibuatlah pamflet yang berisikan ciri-ciri teroris. Dengan ‎contoh, “Ciri-ciri teroris sekarang adalah berniat dirikan khilafah, mengujar kebencian etnis, agama, dan ‎aliran, serta gemar mengkafir-kafirkan orang, anti PBB dan Amerika, dan marah bila para mujahid dan ‎pejuang Islam disebut teroris.”

Slogan-slogan mereka sangat persis dengan firman Allah Ta’ala yang berbunyi

يُرِيدُونَ أَنْ يُطْفِئُوا نُورَ اللَّهِ بِأَفْوَاهِهِمْ وَيَأْبَى اللَّهُ إِلَّا أَنْ يُتِمَّ نُورَهُ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ

Mereka berkehendak memadamkan cahaya Allah dengan mulut mereka, dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahaya-Nya, walaupun orang-orang kafir membencinya.” (Qs. At-Taubah: 32)‎

Syaikh Shalih al-Fauzan berkata, “Orang-orang kafir sejak dahulu memerangi Islam, dan menyebutnya ‎dengan sebutan yang paling jelek agar manusia lari dari Islam. Salah satu bentuknya adalah menyebut ‎Islam itu teroris dan biadab. Dan orang-orang kafir itu yang lupa, sesungguhnya yang teroris, biadab, ‎membunuh rakyat, dan berbuat sewenang-wenang atas manusia tanpa dalih yang benar, dan semua sifat ‎yang tercela hanya ada pada ajaran kafir, dan termasuk sifat orang-orang kafir.” (Shalih al-Fauzan, Al-Muntaqa min Fatawa al-Fauzan, jilid I, hal.416).‎ Wallahu Ta’ala ‘Alam

Penulis : Abu Muslim Zarkasyi

sumber : Majalah An-Najah edisi 143, hal. 51, 52

 

Baca juga, KAPOLRI : “ISLAM BUKAN BERARTI TERORISME”