ISIS culik 27 warga sipil untuk negoisasi dengan pemerintah Suriah

Duniaekspress.com (26/8/2018)- Human Rights Watch mengatakan, ISIL atau yang terkenal dengan sebutan ISIS telah menculik setidaknya 27 orang sebagai sandera di gurun Sweida yang jarang penduduknya di Suriah selatan.

“Di antara mereka yang diculik, yang sebagian besar anggota komunitas minoritas Druze, setidaknya 16 anak-anak berusia antara tujuh dan 15,” kata kelompok hak asasi manusia pada hari Sabtu (25/8/2018) yang bersumber dari saksi dan kerabat korban.

Penduduk setempat mengatakan kepada HRW bahwa ISIS berencana untuk menggunakan sandera sebagai tawar dalam negosiasi dengan pemerintah Suriah dan Rusia, salah satu sekutu terdekat Suriah.

Baca Juga:

PESAWAT BALING-BALING, SOLUSI MENINGKATKAN DAYA PUKUL BAGI LOW BUDGET

ERDOGAN SIAPKAN RAKYATNYA UNTUK PERANG EKONOMI MELAWAN AS

“Sejak satu bulan yang lalu keluarga Sweida yang menjadi korban penculikan telah menyerukan pembebasan atas orang-orang yang mereka cintai,” Lama Fakih, wakil direktur HRW Timur Tengah, mengatakan dalam sebuah pernyataan.

“Warga sipil tidak boleh digunakan sebagai poin tawar-menawar, dan ISIS harus segera membebaskan semua sandera.” tegasnya.

Anak-anak itu diambil selama serangan pada akhir Juli di beberapa desa di bagian timur Sweida, kata HRW.

Beberapa saksi mengatakan kepada kelompok hak asasi manusia bahwa 57 orang tewas dalam serangan itu, setelah 27 culik oleh anggota ISIS.

Menyusul serangan itu, kelompok bersenjata itu (ISIS) merilis video yang menunjukkan wanita-wanita yang diculik, dengan satu menyatakan bahwa mereka akan dibunuh jika pemerintah Suriah tidak menghentikan serangannya di Yarmouk, sebuah kamp pengungsi Palestina yang dipegang oleh ISIS di selatan Damaskus.

Dalam beberapa minggu setelah serangan, media lokal melaporkan pemenggalan Muhannad Abu Ammar yang berusia 19 tahun di tangan penculik ISIS.

Seorang wanita bernama Zaya, yang juga disandera oleh ISIS, meninggal karena penyebab yang tidak diketahui beberapa hari kemudian.