Dasar Argumentasi Berlakunya Udzur dengan Kebodohan dalam Perkara Syirik

Duiaekspress.com. (31/8/2018). Terdapat banyak dalil syar’i yang menunjukkan dengan jelas bahwa seorang muslim yang telah mengumumkan penerimaannya terhadap dien Islam dan dari dirinya nampak bukti-bukti komitmen terhadap pokok-pokok ajaran Islam serta pembenaran secara global terhadap Rasulullah SAW, lalu ia terjatuh pada sebagian bentuk syirik akbar karena faktor kebodohannya, maka ia tidak menjadi kafir karenanya dan status sebagai muslim tidak hilang dari dirinya.
Dalil-dalil syar’i tersebut berjumlah banyak dan keseluruhannya menunjukkan suatu kesimpulan; orang tersebut mendapatkan udzur karena kebodohannya. Dalil-dalil syar’i menunjukkan hal ini dengan beragam cara dan metode.
Dari aspek cara penunjukkannya kepada makna, dalil-dalil syar’i yang menunjukkan berlakunya udzur kebodohan dalam perkara syirik bisa dibagi menjadi beberapa macam. Namun dalam kesempatan ini kita hanya akan menyebutkan tiga di antara cara-cara tersebut.
Dalil Jenis Pertama: Dalil-dalil syar’i yang menunjukkan berlakunya udzur atas orang yang keliru
Di antara dalil syar’i yang termasuk dalam jenis ini adalah:
[1]- Firman Allah SWT:

“Ya Allah, janganlah Engkau menyiksa kami jika kami lupa atau kami keliru.” (QS. Al-Baqarah [2]: 286)
Doa dalam ayat yang mulia di atas telah dikabulkan oleh Allah Ta’ala, seperti disebutkan dalam hadits shahih riwayat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu:

“Para sahabat mengatakan: “Kami mendengar dan kami menaati. Ya Allah, turunkanlah ampunan-Mu dan hanya kepada-Mu kami kembali.” Setelah para sahabat membacanya dan lisan mereka terbiasa dengannya, maka Allah menurunkan ayat-Nya:
“Rasul beriman kepada semua wahyu yang diturunkan kepadanya dari Rabbnya dan demikian juga orang –orang yang beriman. Masing-masing mereka beriman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan para rasul-Nya. Kami tidak membeda-bedakan antara seorang pun di antara para rasul-Nya. Dan mereka mengatakan: “Kami mendengar dan kami menaati. Ya Allah, turunkanlah ampunanMu dan hanya kepada-Mu kami kembali.” (QS. Al-Baqarah (2): 285)
Ketika mereka telah melakukan hal itu, maka Allah menghapus kewajiban tersebut dan menurunkan ayat-Nya:
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Baginya balasan pahala atas kebaikan yang ia lakukan dan baginya balasan dosa atas kejahatan yang ia lakukan. Ya Allah, janganlah Engkau menyiksa kami jika kami lupa atau kami keliru.”(QS. Al-Baqarah (2): 286). Maka Allah berfirman: “Ya.”(HR. Muslim no. 180)
Dalam riwayat shahih dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma dengan lafal:  :

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda kepada para sahabat: “Katakanlah oleh kalian: “Kami mendengar, kami menaati dan kami menerima.” Maka Allah pun menetapkan keimanan di dalam hati mereka. Kemudian Allah menurunkan ayat-Nya:
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Baginya balasan pahala atas kebaikan yang ia lakukan dan baginya balasan dosa atas kejahatan yang ia lakukan. Ya Allah, janganlah Engkau menyiksa kami jika kami lupa atau kami keliru.”(QS. Al-Baqarah (2): 286).
Maka Allah berfirman: “Ya, Aku telah melakukannya.”(HR. Muslim no. 126)

Dalam hadits shahih lainnya dari Ibnu Abbas RA ia berkata, “Katika Malaikat Jibril ‘alaihis salam sedang bersama Nabi SAW, tiba-tiba beliau mendengar suara keras dari arah atas beliau. Maka Jibril mengangkat pandangan matanya ke langit dan lantas berkata, “Ini adalah sebuah pintu langit yang saat ini sedang dibuka, sebelumnya ia belum pernah sekalipun dibuka.” Lalu seorang malaikat turun dari langit, maka Malaikat Jibril berkata, “Ini adalah seorang malaikat yang turun ke bumi, sebelumnya ia belum pernah turun sama sekali ke bumi.”
Malaikat itu mendatangi Rasulullah Saw dan mengucapkan salam kepada beliau, lalu ia berkata, “Wahai Muhammad, bergembiralah dengan dua cahaya yang dikaruniakan kepadamu, yang keduanya belum pernah diberikan kepada seorang nabi pun sebelummu. Kedua cahaya itu adalah surat Al-Fatihah dan ayatayat penutup surat Al-Baqarah. Tidaklah seseorang membaca satu huruf (kalimat atau permohonan) darinya kecuali akan diberikan kepadanya permintaannya.” (HR. Muslim no. 1339)
Secara umum para ulama bersepakat bahwa kelupaan dan kekeliruan merupakan udzur berdasar ayat dan hadits-hadits shahih di atas. Lalu para ulama berbeda pendapat tentang apa yang dimaksud dengan kelupaan dan kekeliruan dalam ayat di atas.
Ada dua pendapat ulama tentang hal itu.

Pendapat pertama, menafsirkan kelupaan dengan makna tidak teringat atas sesuatu hal dan menafsirkan kekeliruan dengan makna tidak sengaja. Ini merupakan pendapat mayoritas ulama dan pendapat ini dipilih oleh para ulama muhaqqiq seperti Imam Ibnu Athiyyah Al-Andalusi, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Ibnu Katsir, dan lain-lain. Berdasar pendapat ini, makna ayat di atas adalah “Ya Allah, Rabb kami, janganlah Engkau menyiksa kami jika kami terlupa dari apa yang Engkau perintahkan kepada kami atau kami tidak mengetahui apa yang Engkau perintahkan kepada kami”. Pendapat kedua, menafsirkan kelupaan dengan makna meninggalkan, dan menafsirkan kekeliruan dengan makna sengaja. Berdasar pendapat ini, makna ayat di atas adalah “Ya Allah, Rabb kami, janganlah Engkau menyiksa kami jika kami meninggalkan perintah-Mu secara sengaja.” Pendapat yang benar adalah pendapat pertama, yaitu pendapat yang menafsirkan lupa dengan makna tidak ingat akan sesuatu hal dan menafsirkan kekeliruan dengan makna meninggalkan suatu perintah tanpa sengaja. Hal itu dikarenakan:

• Nabi SAW telah menyabdakan dalam hadits-hadits shahih bahwa Allah SWT telah mengabulkan doa dalam ayat di atas. Seandainya ayat di atas dipahami sebagaimana pendapat kedua niscaya makna ayat tersebut adalah Allah mengampuni semua orang Islam yang secara sengaja meninggalkan perintah Allah atau berbuat maksiat. Makna seperti ini tentu saja keliru, karena bertentangan dengan dalil-dalil syar’i lainnya. Makna seperti itu juga melegalkan dan mendorong manusia untuk semakin berani meninggalkan perintah Allah dan melanggar larangan-Nya.

• Bukti lainnya yang menunjukkan kesalahan pendapat kedua adalah, dalam bahasa Arab lafal akhtha-a (berbuat keliru) hanya dipakai untuk makna tidak sengaja. Tidak ada lafal akhtha-a yang dipakai dengan makna sengaja. Demikian sebagaimana dijelaskan oleh para ulama tafsir dan pakar bahasa Arab. [2]- Firman Allah ta’ala:

“Dan tidak ada dosa atas kalian atas apa yang kalian keliru atasnya, akan tetapi yang ada dosanya atas kalian adalah apa yang disengaja oleh hati kalian. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Ahzab [33]: 5).

Penunjukkan makna oleh ayat ini serupa dengan penunjukan makna oleh ayat 286 surat Al-Baqarah di atas. Para ulama menyejajarkan kedua ayat tersebut saat menunjukkan argumentasi berlakunya udzur bagi orang yang keliru dan orang yang bodoh.
[3]- Sabda Nabi SAW: ِ“Sesungguhnya Allah mengugurkan atas umatku (dosa) karena kekeliruan, kelupaan, dan perkara yang mereka dipaksa untuk melakukannya.”
Hadits ini diririwayatkan dari banyak jalur dan dishahihkan oleh sejumlah besar ulama hadits seperti Imam Ibnu Hibban, Al-Hakim, Ibnu Hazm, Adz-Dzahabi, Ibnu Katsir, As-Sakhawi, Al-Albani, dan lain-lain.
Andaikata hadits ini dianggap lemah sebagaimana penilaian sebagian ulama, toh hadits ini tidak berdiri sendiri. Ia berada dalam ruang lingkup dalil-dalil lainnya yang shahih seperti QS. Al-Baqarah [2]: 286, Al-Ahzab [33]: 5, dan tiga buah hadits shahih dalam Shahih Muslim yang telah disebutkan di atas. Oleh karenanya, para ulama Islam berargumentasi dengan hadits ini.
Ketiga dalil di atas dan dalil-dalil yang semisal dengannya menetapkan salah satu kaedah yang menjadi landasan taklif dalam Islam, yaitu bahwa orang yang menyelisihi perkara yang ditaklifkan atas dirinya karena faktor ia terlupa atau ia tidak tahu, maka orang tersebut dimaafkan. Allah dengan keadilan dan kasih sayang-Nya memberi udzur kepada seorang muslim yang terjatuh dalam pelanggaran syar’i yang terjadi karena ia terlupa atau ia keliru.
Orang yang keliru secara otomatis mencakup orang yang bodoh. Sebab hakekat orang yang keliru adalah orang yang menyelisihi kebenaran tanpa sengaja. Keliru (al-khatha’) dalam bahasa Arab adalah lawan kata dari sengaja (al-‘amd), yaitu tidak tepat mengenai kebenaran tanpa adanya kesengajaan. Orang yang bodoh juga demikian keadaannya.
Menegaskan hal ini, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, “Lafal al-khatha’ dan akhtha-a ketika disebutkan secara mutlak mencakup orang yang tidak sengaja. Jika lafal itu kemudian disebutkan bersama lafal an-nisyan (lupa) atau disebutkan sebagai lawan kata dari orang yang sengaja, maka penunjukkan maknanya menjadi nash (sangat tegas). Terkadang bila disertai qarinah (faktor lain yang melingkupinya) ia juga dimaknai sengaja, atau sengaja dan keliru sekaligus.”1

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin berkata, “Al-khatha’ adalah menyelisihi (perintah) tanpa ada kesengajaan untuk menyelisihi (perintah tersebut). Ia mencakup kebodohan, sebab orang yang bodoh jika melanggar perkara yang dilarang sesungguhnya ia telah melakukan pelanggaran tanpa kesengajaan.”2
Saat menjelaskan hadits udzur dengan kekeliruan, Syaikh Utsaimin menyatakan, “Kebodohan tanpa diragukan lagi termasuk dalam kategori kekeliruan. Oleh karena itu kami mengatakan jika seseorang melakukan sebuah perkara yang menyebabkan kekafiran, baik berupa ucapan maupun perbuatan, karena ia tidak mengetahui, maka ia tidak kafir.”3
Penunjukkan dalil-dalil syar’i di atas bersifat umum sehingga mencakup semua bentuk kekeliruan, baik dalam perkara ushul dien maupun furu’ dien. Imam Ibnu Hazm Al-Andalusi menegaskan sisi penunjukan secara umum ini dengan mengatakan:
“Telah shahih berdasar nash syar’i bahwasanya (dosa) kekeliruan itu diangkat (dimaafkan) atas diri kita. Maka barangsiapa memutuskan dengan sebuah pendapat sedangkan ia tidak mengetahui bahwa pendapat tersebut keliru, padahal di sisi Allah pendapat tersebut keliru, niscaya ia telah melakukan kekeliruan dan ia tidak secara sengaja memutuskan dengan pendapat yang ia ketahui kekeliruannya. Hal ini tidak mengaa (tiada dosanya) atas dirinya di sisi Allah.
Ayat ini (yaitu QS. Al-Ahzab [33]: 50) bersifat umum, termasuk di dalamnya mufti-mufti, penguasa-penguasa (yang menjalankan hukum Islam, pent), orangorang yang beramal, dan orang-orang yang memiliki keyakinan (akidah). Dosa diangkat atas diri mereka berdasar nash Al-Qur’an dalam perkara yang mereka ucapkan atau mereka perbuat dalam hal-hal yang mereka keliru di dalamnya.”4
Imam Al-Qurthubi bahkan meriwayatkan tercapainya ijma’ (kesepakatan ulama) atas gugurnya dosa dan vonis kafir karena udzur kekeliruan. Beliau berkata:

وهذا لم يختلف فيه أن الثم مرفوع، وإنما اختلف فيما يتعلق على ذلك من الأحكام، هل ذلك مرفوع لا يلزم منه شي أو يلزم أحكام ذلك كله؟ اختلف فيه. والصحيح أن ذلك يختلف بحسب الوقائع، فقسم لا يسقط

باتفاق كلغرامات والديات والصلوات المفروضات. وقسم يسقط باتفاق كلقصاص والنطق بكلمة الكفر. وقسم ثالث يختلف فيه كمن أكل ناسيا في رمضان أو حنث ساهيا، وما كن مثله مما يقع خطأ ونسيانا، ويعرف ذلك في الفروع

“Tidak diperselisihkan bahwa dosanya diangkat (digugurkan). Hal yang diperselisihkan hanyalah dengan adalah hukum-hukum yang berkaitan dengannya; apakah hukum-hukumnya juga terangkat tidak wajib atas dirinya ataukah semua hukum tersebut masih berlaku atas dirinya? Hal inilah yang masih diperselisihkan oleh para ulama.
Pendapat yang benar adalah bahwa hal itu berbeda-beda tergantung perbedaan kasus-kasus. Ada bagian yang hukumnya disepakati tidak gugur seperti hukum denda, diyat, dan shalat wajib. Ada bagian yang hukumnya disepakati gugur seperti hukum qisash dan mengucapkan kalimat kekufuran. Bagian ketiga adalah bagian yang hukumnya diperselisihkan seperti orang yang memakan di siang bulan Ramadhan karena lupa atau melanggar janji karena lupa serta halhal sejenisnya yang bisa saja terjadi kelupaan atau kekeliruan padanya. Hal-hal itu bisa diketahui dalam perkara furu’.”5
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata,

“Jika telah tetap berdasar Al-Qur’an yang diperjelas oleh As-Sunnah bahwasanya Allah telah mengampuni bagi umat Islam ini kekeliruan dan kelupaan, maka hal ini bersifat umum, dengan keumuman yang terpelihara. Dalam dalil-dalil syar’i tidak ada yang menunjukkan bahwa Allah mengazab orang yang keliru atas (dosa) kekeliruan tersebut dari kalangan umat Islam ini, meskipun Allah mengazab orang yang keliru dari selain umat Islam ini.”6

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah telah menerapkan kaedah ini dalam perkara takfir. Beliau menegaskan bahwa orang yang keliru tidaklah jatuh kafir, baik kekeliruannya tersebut dalam perkara ushul dien maupun furu’ dien, perkara akidah (masail ilmiyah khabariyah) maupun perkara ibadah dan mu’amalah (masail ‘amaliyah).
Beliau berkata,

“Padahal aku senantiasa dan demikian pula orang yang duduk (bergaul dan berdiskusi) denganku mengetahui hal itu sepenuhnya dariku, bahwasanya aku termasuk orang yang paling keras melarang penjatuhan vonis kepada orang tertentu dengan vonis kafir, fasik, atau pelaku maksiat; kecuali jika telah diketahui bahwa telah tegak atas dirinya hujah risalah yang barangsiapa menyelisihinya maka terkadang ia menjadi orang kafir, terkadang ia menjadi orag fasik, dan terkadang ia menjadi pelaku maksiat. Sesungguhnya aku telah menegaskan (mengakui) bahwa Allah telah mengampuni kekeliruan umat Islam ini, dan hal itu bersifat umum mencakup kekeliruan dalam perkara-perkara khabariyah qauliyah (aqidah) maupun perkara-perkara ‘amaliyah (amal ibadah dan mu’amalah).”7
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah juga menegaskan bahwa udzur atas kekeliruan ini berlaku umum, sampai dalam perkara-perkara yang qath’i. Beliau menulis: َ

“Di dalam Al-Qur’an Allah berfirman ‘Ya Rabb kami, janganlah Engkau menyiksa kami jika kami lupa atau keliru’. Allah menjawab “Ya, Aku telah melakukan (permintaan kalian)”. Allah tidak membeda-bedakan antara kekeliruan yang qath’i dalam perkara yang qath’i maupun perkara yang zhanni, dan antara kekeliruan yang zhanni dalam perkara yang tidak dipastikan keliru kecuali jika ia melanggar perkara yang qath’i. Mereka (para ulama) berkata: Barangsiapa menyatakan orang yang keliru dalam perkara yang qath’i maupun perkara yang zhanni adalah berdosa, niscaya orang tersebut telah menyelisihi Al-Qur’an, As-Sunnah, dan ijma’ yang lama (ijma’ salaf).”
Di antara ulama lainnya yang menegaskan bahwa udzur kekeliruan ini bersifat umum, sehingga mencakup perkara akidah dan perkara selain akidah adalah Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di dan Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin.
Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di berkata, “Hal ini berlaku umum dalam semua perkara yang kaum beriman melakukan kekeliruan padanya, baik perkara ‘amaliyah maupun perkara khabariyah.”8
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin berkata, “Hal ini berlaku umum dalam segala perkara yang manusia melakukan perbuatan yang diharamkan karena faktor kelupaan atau ketidak tahuan, tidak ada dosa atas dirinya, dan setiap kewajiban apapun yang ia tinggalkan karena faktor kelupaan atau ketidak tahuan, maka tidak ada dosa atas dirinya.”9
Oleh karena itu, nash-nash syar’i yang menegaskan pemberian udzur karena kekeliruan (al-khatha’) adalah termasuk landasan-landasan yang shahih tentang berlakunya udzur karena ketidak tahuan (al-jahl). Bahkan ia merupakan nash yang yang paling kuat dalam menegaskan berlakunya udzur karena ketidak tahuan.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menjelaskan bahwa kaedah yang diakui oleh para ulama dalah membedakan antara vonis terhadap sebuah perbuatan atau perkataan, dengan vonis terhadap orang yang melakukan perbuatan tersebut atau mengatakan perbuatan tersebut. Beliau lalu juga memberlakukan kaedah tersebut terhadap personal-personal kelompok Jahmiyah. Beliau menulis:
ْ “Perkataan-perkataan ini dan perbuatan-perbuatan ini, yang dilakukan oleh beliau (Imam Ahmad bin Hambal) dan para ulama lainnya dengan tegas menunjukkan bahwa mereka tidak mengkafirkan personal-personal kelompok Jahmiyah yang mengatakan ‘Al-Qur’an adalah makhluk dan Allah tidak akan bisa dilihat di akhirat’.

Dari Imam Ahmad juga diriwayatkan pernyataan-pernyataan yang menunjukkan beliau mengkafirkan personal-personal kelompok Jahmiyah. Maka dalam masalah pengkafiran terhadap personal-personal kelompok Jahmiyah tersebut, ada kemungkinan dari Imam Ahmad diriwayatkan dua pendapat, namun kemungkinan ini perlu dikaji ulang (yaitu kemungkinan tersebut lemah, pent).
Atau kemungkinan lainnya, riwayat tersebut harus diperinci lagi. Yaitu, orang yang dikafirkan secara personal oleh Imam Ahmad adalah karena menurut Imam Ahmad pada diri personal tersebut telah terpenuhi syarat-syarat pengkafiran dan tiada terdapat pada dirinya penghalang-penghalang pengkafiran. Adapun personal yang tidak dikafirkan oleh Imam Ahmad, adalah karena tidak terpenuhinya syarat-syarat pengkafiran pada diri personal tersebut, dengan tetap disertai pengkafiran terhadap perbuatan personal tersebut.
Adapun dalil yang melandasi hal ini adalah Al-Qur’an, As-Sunnah, ijma’, dan qiyas. Dalil dari Al-Qur’an adalah firman Allah, “…” (QS. Al-Ahzab [33]: 5) dan firman-Nya, “…” (QS. Al-Baqarah [2]: 286…”10
Pernyataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah di atas menunjukkan bahwa beliau berdalil atas keabsahan pemberian udzur terhadap personal-personal kelompok Jahmiyah yang terjatuh dalam perbuatan kekufuran, yaitu men-ta’thil sifat-sifat Allah. Adapun dalil-dalil yang dipergunakan oleh Syaikhul Islam dalam hal itu adalah dalil-dalil yang menegaskan udzur bagi orang yang keliru.

Bahkan, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menegaskan bahwa penggunaan dalildalil tersebut untuk pemberlakuan udzur dalam masalah pengkafiran adalah lebih layak lagi. Jika orang yang keliru dan orang yang lupa tidak divonis berdosa, maka tentunya ia lebih layak untuk tidak divonis kafir. Tentang hal itu, beliau berkata: ِ“Sebab Allah memaafkan bagi umat ini kekeliruan dan kelupaan. Jika hal itu berlaku dalam hal tidak jatuhnya dosa (atas orang yang keliru dan orang yang lupa), maka bagaimana lagi dengan masalah pengkafiran?”
Banyak manusia terkadang tumbuh di tempat-tempat dan di zaman-zaman yang di sana banyak ilmu (ajaran) kenabian yang telah pudar, sampai tidak tersisa lagi ulama yang menyampaikan ajaran yang dibawa oleh Rasulullah SAW yaitu Al-Qur’an dan As-Sunnah. Akibatnya ia tidak mengetahui banyak ajaran yang Allah mengutus Rasul-Nya dengannya dan juga tidak ada ulama yang menyampaikan ajaran tersebut kepadanya. Maka orang yang seperti ini tidak kafir (jika ia melakukan perbuatan kekufuran atau ucapan kekufuran yang tidak ia ketahui ilmunya, pent).”11
Oleh karenanya, jika seorang muslim keliru melakukan sebuah perbuatan kesyirikan atau mengucapkan ucapan kesyirikan; disebabkan ketidak tahuannya bahwa hukum perbuatan atau ucapan tersebut adalah haram, atau tidak terbetik dalam pikirannya bahwa perbuatan dan ucapan tersebut adalah kesyirikan, atau ia lupa; maka orang tersebut tidak divonis kafir dan hukum-hukum atas orang kafir tidak diberlakukan terhadapnya. Lebih dari itu, ia tetap menyandang nama dan sifat sebagai seorang muslim.
Saat menjelaskan tentang jenis kesyirikan, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata: “Setiap ibadah yang tidak diperintahkan (oleh syyariat) haruslah dilarang. Lalu, jika ia mengetahui bahwa perbuatan tersebut dilarang namun ia tetap mengerjakannya, maka ia berhak untuk dihukum. Adapun jika ia tidak mengetahui bahwa perbuatan tersebut dilarang syariat, maka ia tidak berhak untuk dihukum. Jika ia meyakini bahwa perbuatan tersebut diperintahkan oleh syariat, dan ia sejenis dengan perbuatan yang diperintahkan, maka ia diberi pahala atasnya.

Adapun jika ia dari jenis perbuatan yang terkategori syirik, maka hal yang seperti itu tidak ada satupun yang diperintahkan (oleh syariat). Namun, sebagian orang terkadang menyangka bahwa sebagin jenis perbuatan tersebut diperintahkan oleh syariat. Orang yang seperti inii bukanlah seorang mujtahid, sebab seorang mujtahid pasti harus mengikuti dalil syar’i. Sementara perbuatan tersebut tidak memiliki dalil syar’i. Hanyasaja terkadang ia dilakukan oleh “ijtihad” orang yang sepertinya, yaitu dengan bertaklid kepada sebagian ulama dan syaikh yang melakukannya. Padahal ulama atau syaikh tersebut boleh jadi mengerjakannya karena melihat perbuatan tersebut bermanfaat atau karena mereka mendengar sebuah hadits tentangnya , yang sebenarnya adalah hadits palsu.
Orang seperti mereka itu, jika belum tegak kepada mereka hujjah tentang keharaman perbuatan tersebut, niscaya mereka tidak akan diazab karena perbuatan tersebut. Adapun soal pahala terhadap perbuatan tersebut, terkadang pahala mereka lebih kuat daripada pahala orang yang sejenis dengan mereka. Adapun pahala karena mendekatkan diri kepada Allah, maka tidaklah bisa diraih dengan amalan seperti ini.”12. (RR).

 

Bersambung…

 

Catatan :

1 . Majmu’ Fatawa 20/23 karya Ibnu Taimiyah. Lihat juga At-Tahbir Syarh At-Tahrir, 3/1199 karya Al-Mardawi dan Itsarul Haq ‘alal Khalqi hlm. 393 karya Ibnu Wazir Al-Yamani.

2 . Tafsir Al-Qur’an (Surat Al-Baqarah), 3/452 karya Syaikh Al-Utsaimin.

3 . Asy-Syarh Al-Mumti’ ‘ala Zad Al-Mustaqni’, 14/449 karya Syaikh Al-Utsaimin.

4 . Al-Ihkam fi Ushulil Ahkam, 8/633 karya Ibnu Hazm Al-Andalusi

5 . Al-Jami’ li-Ahkamil Qur’an, 4/502 karya Al-Qurthubi. Lihat juga Al-Muwafaqat, 1/259 karya Asy-Syathibi.

6 . Majmu’ Fatawa, 12/490.

7 . Majmu’ Fatawa, 3/229.

8 . Al-Irsyad ila Ma’rifatil Ahkam, hlm. 208 karya As-Sa’di.

9 . Ahkamul Qur’an Al-Karim, 2/380 karya Al-Utsaimin.

10 . Majmu’ Fatawa, 12/489.

11 . Majmu’ Fatawa, 11/408.

12 . Majmu’ Fatawa, 20/32

 

Baca juga, PRINSIP-PRINSIP SYARI’AT YANG MENUNJUKAN ADANYA UDZUR DENGAN KEBODOHAN