Duniaekspress.com (31/8/2018)- Senator Marco Rubio dan Perwakilan Chris Smith, kepala Komisi Eksekutif Kongres China (CECC) telah mengirim surat kepada Menteri Luar Negeri Mike Pompeo dan Menteri Keuangan Steve Mnuchin, untuk mendesak mereka untuk menjatuhkan sanksi terhadap China atas pelanggaran hak asasi di Xinjiang.

“Mengingat beratnya situasi, dan tingkat keparahan dan pelanggaran hak asasi yang dilakukan, kami mendesak Anda untuk menerapkan sanksi Global Magnitsky, dan mempertimbangkan langkah-langkah tambahan, terhadap pemerintah Cina dan pejabat senior Partai Komunis yang mengawasi kebijakan represif ini,” isi surat tersebut yang dikutip Anadolu Agency, Kamis (30/8/2018).

Sanksi Global Magnitsky awalnya dibuat untuk menjatuhkan sanksi terhadap Rusia, tetapi sekarang berlaku untuk global untuk pelanggar hak asasi manusia.

Berita Terkait:

CHINA TERUS PERLUAS KAMP-KAMP PENGASINGAN UNTUK MUSLIM

AS UNGKAP JUTAAN MUSLIM UIGHUR DITAHAN REZIM KOMUNIS CINA

Tujuh belas anggota parlemen, senator dan anggota kongres dari kedua partai politik menandatangani surat itu, dengan mengutip orang-orang China telah melakukan pelanggaran hak asasi manusia termasuk penahanan, penyiksaan, dan tingkat pembatasan yang mengejutkan terhadap kemampuan mereka untuk berlatih dan menampakan iman mereka.

China mengatakan, Kamis, menolak upaya oleh anggota parlemen AS untuk menjatuhkan sanksi pada para pejabat China atas penahanan mereka terhadap anggota komunitas Muslim di wilayah Xinjiang.

Seorang juru bicara kementerian luar negeri China menanggapi surat itu dalam konferensi pers, mengatakan warganya menikmati kebebasan beragama dan anggota parlemen AS harus benar-benar melayani negara mereka.

Berita Terkait:

CHINA GUNAKAN TEKNOLOGI CANGGIH UNTUK TINDAS MUSLIM UIGHUR

SEKEDAR MEMBERI NAMA ANAK “MUHAMMAD” DILARANG, BEGITU BENCINYA KOMUNIS CHINA TERHADAP ISLAM

China meningkatkan pembatasannya di kawasan itu dalam dua tahun terakhir, melarang laki-laki dari berjenggot dan wanita yang memakai jilbab, dan memperkenalkan apa yang oleh banyak ahli dianggap sebagai program pengawasan dengan teknologi paling cangih di dunia.

Menurut laporan majalah Jerman Der Spiegel, pihak berwenang China mulai menggunakan sebagian besar teknologi modern dalam beberapa tahun terakhir untuk mengkonsolidasikan kendali mereka terhadap populasi muslim Uighur.

Der Spiegel lebih lanjut melaporkan, pemerintah China telah mangambil data besar-besaran di Uighur, termasuk kontak mereka, kebiasaan konsumen, aktivitas perbankan, status kesehatan dan bahkan profil DNA  dikumpulkan, disimpan dan dianalisis oleh sistem operasi gabungan yang terintegrasi.