Dasar argumentasi berlakunya udzur dengan kebodohan dalam perkara Syirik part 2

Duniaekspress.com. (3/9/2018)

Baca sebelumnya, DASAR ARGUMENTASI BERLAKUNYA UDZUR DENGAN KEBODOHAN DALAM PERKARA SYIRIK

Dalil Jenis Kedua:
Dalil-dalil syar’i yang menunjukkan berlakunya udzur atas orang yang terjatuh dalam perbuatan syirik atau kekufuran, karena ia tidak mengetahui (bodoh), maka status keislamannya tidak hilang dan ia tidak diperlakukan sebagai orang kafir
Di antara dalil syar’i yang termasuk dalam jenis ini adalah:
[1]- Hadits tentang laki-laki yang banyak dosa dan jenazahnya dibakar
Hadits tersebut diriwayatkan oleh para ulama hadits dari jalur Abu Hurairah, Abu Sa’id Al-Khudri, Hudzaifah bin Yamah, Uqbah bin Amru, Abdullah bin Mas’ud dan banyak sahabat lainnya radiyallahu ‘anhum. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan Ibnu Al-Wazir Al-Yamani menyatakan hadits tersebut mutawatir. Berikut ini jalur periwayatan yang disebutkan dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim.
Riwayat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu: َDari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda, “Pada zaman dahulu ada seorang laki-laki yang selalu berbuat dosa. Tatkala ia akan menjemput kematian, ia berpesan kepada anak-anaknya: ‘Jika aku telah mati, maka bakarlah jenazahku, lalu tumbuklah arang jenazahku dan taburkan abunya (di laut, menurut lafal Muslim) pada saat angin bertiup kencang. Demi Allah, jika Allah mampu membangkitkan diriku, tentulah Rabbku akan menyiksaku dengan siksaan pedih yang belum pernah ditimpakan kepada seorang pun.”
Ketika orang itu mati, pesannya dilaksanakan oleh anak-anaknya. Maka Allah memerintahkan kepada bumi, “Kumpulkanlah abu jenazahnya yang ada padamu!” Bumi pun melaksanakan perintah Allah, sehingga laki-laki itu pun kembali berdiri secara utuh. Allah bertanya, “Kenapa kamu melakukan tindakan seperti itu?” Lakilaki itu menjawab, “Wahai Rabbku, karena rasa takutku kepada-Mu.” Maka Allah mengampuni laki-laki itu. (HR. Bukhari no. 3481 dan Muslim no. 2756)
Riwayat Hudzaifah bin Yaman dan Uqbah bin Amru radhiyallahu ‘anhuma:
Dari Hudzaifah bin Yaman radhiyallahu ‘anhu berkata: “Aku juga mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda, “(Pada zaman dahulu) ada seorang laki-laki yang tengah menghadapi kematian. Saat ia telah putus asa dari hidupnya (yakin tak lama lagi akan mati, pent) maka ia berwasiat kepada keluarganya: ‘Jika aku telah mati, maka kumpulkanlah kayu bakar yang banyak, nyalakanlah api padanya! Sehingga jika api telah memakan dagingku, mencapai tulangku dan tulangku tinggal arang, maka pungutlah ia dan tumbuklah! Lalu tunggulah hari di mana angin bertiup kencang, maka taburkanlah abu jasadku pada angin!” Keluarganya melaksanakan wasiat itu. Maka Allah menyatukan jasadnya kembali dan bertanya kepadanya (di akhirat), “Kenapa engkau melakukan hal itu?” Laki-laki itu menjawab, “Rasa takut kepada-Mu.” Maka Allah mengampuni laki-laki itu. Sahabat Uqbah bin Amru berkata: “Saya juga mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam menyabdakan seperti itu. Dan laki-laki itu adalah orang yang biasa membongkar makam orang yang telah mati (untuk mengambil perhiasan atau pakaian si mayat, pent).”(HR. Bukhari no. 3452 dan Muslim no. 2934-2935 dengan lafal Bukhari).

Riwayat Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu:  Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda, “Pada umat sebelum kalian ada seorang laki-laki yang dikaruniai oleh Allah harta yang melimpah. Ketika ia tengah menghadapi kematian, ia bertanya kepada anak-anaknya: “Bapak seperti apakah aku ini bagi kalian?” Mereka menjawab: “Engkau adalah sebaik-baik bapak bagi kami.” Laki-laki itu berkata: “Aku belum pernah melakukan satu pun amal kebaikan. Maka jika aku mati, bakarlah jenazahku, lalu tumbuklah arang jasadku dan taburkanlah abu jasadku pada hari yang angin bertiup kencang.” Anak-anaknya melaksanakan wasiat itu. Maka Allah menyatukan jasadnya kembali dan bertanya kepadanya (di akhirat), “Kenapa engkau melakukan hal itu?” Laki-laki itu menjawab, “Rasa takut kepada-Mu.” Maka Allah melimpahkan rahmat-Nya kepada laki-laki itu. (HR. Bukhari no. 3478 dan Muslim no. 2757) Para ulama bersepakat bahwa orang yang banyak berbuat dosa tersebut tidak kafir dan status keislamannya tidak hilang, oleh karenanya Allah SWT mengampuni dosanya. Namun para ulama berbeda pendapat tentang sebab orang tersebut tidak divonis kafir dan tidak diperlakukan sebagai orang kafir. Secara ringkas, perbedaan pendapat mereka adalah sebagai berikut. Pendapat pertama: Perbuatan orang tersebut bukanlah sebuah kekufuran, sehingga ia tidak menjadi kafir karenanya. Para ulama yang memegang pendapat ini kemudian melakukan beberapa penakwilan untuk memahami hadits di atas sebagai berikut: a. Orang tersebut mengakui qudrah Allah, bukan meniadakan (mengingkari) qudrah Allah. b. Lafal “jika Allah mampu mengumpulkanku” diartikan dengan makna “jika Allah menyempitkan atas diriku ampunan-Nya, niscaya Allah akan mengazabku”. Pendapat ini dipilih oleh Ath-Thahawi, Ibnu Jama’ah, dan lainnya.

c. Lafal “jika Allah mampu mengumpulkanku” diartikan dengan makna “jika Allah menakdirkan”. Sehingga mereka memahami hadits ini dengan pengertian “Jika sebelumnya telah tercatat ilmu Allah dan takdir-Nya bahwa Allah akan mengazabku, niscaya Allah mengazabku”. Pendapat ini dipilih oleh sebagian ulama.
d. Lafal “jika Allah mampu mengumpulkanku” dipahami sebagai sebuah majaz hadzf. Mereka mengartikannya dengan makna “jika Allah mengumpulkanku dan meng-hisabku, niscaya Allah akan mengazabku”. Pendapat ini dipilih oleh Al-Qushaimi.
Pendapat kedua: Perbuatan orang tersebut adalah sebuah kufur akbar, namun ia tidak kafir akibat perbuatan tersebut disebabkan adanya penghalang takfir. Ini adalah pendapat mayoritas ulama, dan dinyatakan sebagai pendapat yang lebih kuat oleh para ulama seperti Imam Ibnu Hazm, Ibnu Abdil Barr, Al-Qurthubi, Ibnu Taimiyah, Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Ibnu Hajar Al-Asqalani, Ibnu Wazir Al-Yamani, Abdullah Abu Buthain, dan Abdullah bin Muhammad bin Abdul Wahhab.
Lalu kelompok ulama ini berbeda pendapat tentang penghalang takfir pada diri orang tersebut. Berikut ini pendapat mereka.
a. Orang tersebut mengatakan perkataan tersebut dalam kondisi shock, ketakutan, dan kesakitan, sehingga ia tidak menyadari apa yang ia katakan. Pendapat ini dipilih oleh Al-Qurthubi, Ibnu Hajar Al-Asqalani, dan lainnya. b. Orang tersebut tidak mengingkari pokok sifat qudrah Allah, melainkan hanya mengingkari kesempurnaan sifat qudrah-Nya. Maka kekufuran yang ia lakukan adalah dalam perkara yang khafiyyah (tersamar, tidak jelas), bukan dalam perkara zhahirah (perkara yang jelas). Pendapat ini dipilih oleh Syaikh Abdul Aziz bin Bazz dan lainnya. c. Orang tersebut tidak mengetahui bahwa ucapannya tersebut adalah sebuah kekufuran akbar dan akan menyebabkan masuk neraka. Imam Ibnu Abdil Barr menyatakan pendapat ini adalah pendapat yang dipegang oleh para ulama salaf terdahulu. Pendapat ini juga dipilih oleh Ibnu Qutaibah, Ibnu Abdil Barr, Ibnu Aqil, Ibnu Hazm, Ibnu Taimiyah, Ibnu Qayyim, Ibnu Wazir Al-Yamani, dan para ulama muhaqqiq lainnya. Imam Ibnu Abdil Barr berkata, “Sebagian ulama mengatakan ini adalah orang yang tidak mengetahui sebagian sifat Allah, yaitu sifat qudrah, sehingga ia tidak mengetahui bahwa Allah Maha Kuasa atas segala hal yang dikehendaki-Nya. Para ulama tersebut mengatakan bahwa barangsiapa tidak mengetahui sebagian sifat Allah, namun ia mengimani sifat-sifat Allah lainnya dan mengetahuinya, niscaya ketidak tahuannya terhadap sebagian sifat Allah tersebut tidak menjadikannya sebagai orang kafir. Mereka mengatakan bahwasanya orang kafir adalah orang yang menentang kebenaran, bukan orang yang tidak mengetahui kebenaran. Ini adalah pendapat para ulama terdahulu (mutaqaddimin) dan para ulama belakangan yang mengikuti langkah mereka.”13 Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, “Orang ini ragu-ragu terhadap qudrah Allah dan ragu bahwa Allah sanggup mengembalikan tubuh manusia jika telah ditebarkan abunya (pada saat angin bertiup kencang). Bahkan ia meyakini bahwa ia tidak akan dikembalikan. Ini merupakan sebuah kekufuran menurut kesepakatan kaum muslimin. Namun ia adalah orang bodoh yang tidak mengetahui hal itu. Ia juga orang yang beriman dan takut jika Allah mengazabnya. Maka Allah mengampuninya karena faktor tersebut. Seorang mujtahid yang melakukan kajian dan ia sangat antusias mengikuti ajaran Rasulullah SAW tentu lebih layak untuk diampuni daripada orang ini.”14
Bahkan beliau menyatakan orang tersebut juga mengingkari hari kebangkitan. Beliau berkata, “Orang ini meyakini bahwasanya Allah tidak mampu untuk mengumpulkannya jika ia melakukan hal itu, atau ia ragu-ragu (terhadap kemampuan Allah) dan ia meyakini bahwa Allah tidak akan membangkitkannya. Masing-masing dari dua keyakinan ini adalah kekufuran yang jika telah tegak hujah niscaya pelakunya kafir karenanya. Namun orang tersebut tidak mengetahui hal itu, dan belum datang kepadanya ilmu yang bisa menolak ketidak tahuannya tersebut. Di samping itu ia memiliki keimanan kepada Allah, perintah-Nya dan larangan-Nya, janji-Nya dan ancaman-Nya. Ia takut terhadap siksaan-Nya, maka Allah mengampuninya karena rasa takutnya kepada-Nya.”
“Maka barangsiapa dari kalangan orang yang beriman kepada Allah, rasulNya, hari akhir, dan beramal shalih, lalu ia keliru dalam sebagian permasalahan akidah, niscaya kondisinya tidaklah lebih buruk dari kondisi orang ini. Maka Allah akan mengampuni kekeliruannya atau Allah akan menyiksanya jika ia melakukan keteledoran dalam mengikuti kebenaran sesuai kadar pemahaman keagamaannya. Adapun mengkafirkan seseorang yang telah diketahui keimanannya hanya karena kekeliruannya dalam hal seperti itu sungguh merupakan sebuah dosa besar.”15
Pendapat ketiga (c) yang menyatakan bahwa orang tersebut tidak kafir karena ketidak tahuannya merupakan pendapat yang benar. Hal itu karena beberapa alasan:
a. Orang tersebut benar-benar mengingkari sifat qudrah Allah SWT. Bukti atas hal itu adalah:

• Konteks hadits tersebut menjelaskan bahwa orang tersebut memerintahkan anak-anaknya membakar mayatnya dan menaburkan abu jenazahnya di lautan pada saat angina berhembus kencang. Tujuannya adalah Allah tidak akan mampu mengumpulkan abu jenazahnya dan membangkitkannya kelak di hari kiamat. Jadi, ia berusaha untuk melarikan diri dari kekuasaan Allah dan pengadilan di hadapan-Nya kelak. Lalu hadits tersebut menyambung kisah tersebut dengan huruf fa’, yaitu lafal ن َ بِّذَع َُ لي ِّ بَ رَََّ عَرَد َ قِْ ئ َ لَِّاللَو َ ف“Maka demi Allah, seandainya Rabbku mampu…”
Seandainya ia mengakui qudrah Allah untuk mengumpulkan abu jenazahnya dan membangkitkannya kelak di akhirat, niscaya ia tidak akan berwasiat seperti itu kepada anak-anaknya, dimana perkara tersebut akan sia-sia dan tidak merealisasikan keinginannya tersebut.16
• Susunan kalimat dalam hadits, demikian pula susunan bentuk syarat dan balasannya dalam hadits tersebut, tidaklah mungkin bisa dipahami dengan makna yang benar dan logis, kecuali jika dimaknai bahwa orang tersebut mengingkari qudrah Allah.
Seandainya kisah dalam hadits itu dipahami dengan makna orang tersebut mengakui qudrah Allah, lalu haditsnya ditakwil dengan pengertian “seandainya Allah menakdirkanku, niscaya Allah akan mengazabku” atau “seandainya Allah menyempitkanku, niscaya Allah akan mengazabku”; maka makna hadits tersebut akan rusak. Sebab, antara syarat dan jaza’ tidak ada hubungan kesesuaian.
• Dalam sebagian ayat atau hadits, lafal qadara memiliki makna menyempitkan. Namun hal itu bukan berarti lafal qadara dalam hadits ini memiliki makna penyempitan juga. Sebab, sebuah lafal seringkali memiliki makna yang berbeda ketika terletak dalam ayat atau hadits yang berbeda. Untuk memahami hal itu, kita harus memperhatikan kalimat sebelumnya, kalimat sesudahnya, dan susunan kalimat dalam ayat atau hadits tersebut.17
• Sebagian riwayat hadits tersebut dengan jelas menunjukkan bahwa orang tersebut mengingkari qudrah Allah. Sebagian riwayat hadits tersebut berbunyi: “…kemudian taburkanlah abu jenazahku di laut pada hari angin bertiup kencang, semoga dengannya aku membingungkan Allah.” (HR. Ahmad no. 20012 dan Ath-Thabarani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir, 19/1037. Syaikh Ahmad Syakir, Syu’aib Al-Arnauth, dan Nashiruddin Al-Albani menyatakan hadits ini shahih)
• Dalam penggunaan kata yang biasa dipakai oleh Al-Qur’an dan as-sunnah, lafal qadara tidak pernah dipergunakan dengan makna menyempitkan dalam perkara yang berkaitan dengan peristiwa setelah kematian dan peristiwa di alam akhirat.
b. Ketika memberikan wasiat agar mayatnya dibakar dan abunya ditaburkan di lautan pada saat angin bertiup kencang, orang tersebut masih dalam kondisi sadar sepenuhnya. Ia tidak berada dalam kondisi pingsan, gila, shock, atau kehilangan kesadaran. Di antara buktinya adalah:
• Dalam riwayat yang shahih dari jalur Abu Sa’id Al-Khudriyi disebutkan dialog orang tersebut dengan anak-anaknya Ketika sakaratul maut mendatanginya, ia bertanya kepada anakanaknya, “Aku ini ayah yang seperti apa bagi kalian?” Anak-anaknya menjawab, “Engkau adalah sebaik-baik ayah bagi kami.” Laki-laki itu berkata, “Sesungguhnya aku belum pernah beramal kebaikan sedikit pun. Maka jika aku meninggal, bakarlah jenazahku, lalu tumbuklah abunya, lalu tebarkanlah pada hari yang angina bertiup kencang.” Maka anak-anaknya melaksanakan wasiat tersebut. (HR. Bukhari, Ahmad, Ibnu Hibban, dan AlBaihaqi dalam Al-Asma’ wash Shsifat)
• Anak-anaknya yang mendampinginya saat sakaratul maut melaksanakan wasiat orang tersebut. Seandainya ayah mereka berwasiat seperti itu dalam kondisi gila atau kehilangan kesadaran, niscaya anak-anaknya tidak akan melaksanakan wasiat tersebut.
c. Orang tersebut mengingkari satu perkara agama yang sangat besar dan jelas. Jika ia mengingkari satu sifat Allah, yaitu sifat qudrah seperti kesimpulan yang diambil oleh sebagian ulama, maka sudah jelas bahwa hal itu adalah perkara yang besar dan jelas.
Adapun jika ia mengingkari rincian dari sifat qudrah Allah, yaitu kemampuan Allah untuk mengumpulkan jasad makhluk dan membangkitkannya kelak di akhirat, sebagaimana kesimpulan yang diambil oleh sebagian ulama, maka hal itu juga merupakan perkara yang besar dan jelas. Ia bukan perkara yang tersembunyi dan samar-samar (khafiyyah). Sebab, qudrah adalah sifat Allah yang diakui oleh semua kaum muslimin dan semua penganut agama (khususnya agama samawi: Yahudi dan Nasrani).18
Sifat qudrah juga merupakan konskuensi dari rububiyah dan uluhiyah Allah SWT. Sebab, tidak mungkin Allah memiliki rububiyah (menciptakan semua makhluk, mengatur alam semesta, dan memberi rizki seluruh makhluk) kecuali jika Allah memiliki sifat qudrah. Demikian pula, Allah tidak mungkin menjadi satu-satunya Ilah yang seluruh makhluk wajib beribadah, berdoa, berharap, dan berserah diri kepada-Nya; kecuali jika Allah memiliki sifat qudrah. Maka tidak bisa dibayangkan seorang manusia bisa melakukan tauhid rububiyah dan tauhid uluhiyah, jika ia mengingkari sifat qudrah Allah SWT. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menjelaskan kedudukan sifat qudrah Allah dengan mengatakan, “Ia adalah konskuenski dari dzat Allah, dimana ia merupakan sifat kesempurnaan Allah yang paling nyata.”19 Ibnu Qayyim Al-Jauziyah juga menjelaskan, “Wujud Allah, rububiyah-Nya, dan qudrah-Nya itu lebih jelas dari segala hal secara mutlak. Ia lebih terang bagi pandangan hati daripada matahari bagi pandangan mata. Ia lebih jelas bagi akal pikiran daripada segala hal yang dipikirkan dan diakui wujudnya oleh akal pikiran. Tiada yang mengingkarinya, kecuali orang yang menyombongkan diri dengan lisannya, hatinya, akalnya, dan fitrahnya. Dan semua aspek tersebut mendustakan kesombongannya tersebut.”20
Oleh karena itu beberapa ulama menyatakan telah tercapai ijma’ atas kafirnya orang yang mengingkari sifat qudrah Allah SWT.21
Ketika orang ini mengingkari kemampuan Allah untuk membangkitkan dirinya setelah jenazahnya dibakar dan abunya ditaburkan pada hari yang angin bertiup kencang; sesungguhnya ia tidak mengingkari perkara yang kecil atau perkara cabang. Sesungguhnya keimanan kepada hari akhirdan bahwasanya hari akhir itu mencakup semua manusia dan jin, adalah perkara agung yang termasuk perkara paling jelas dalam agama Islam. Tidak ada perbedaannya antara mengingkari kebangkitan seluruh manusia, dengan mengingkari kebangkitan sebagian manusia. Maka hal ini termasuk argumentasi yang mengugurkan pendapat sebagian ulama yang berpendapat bahwa orang ini mengingkari perkara yang samar (khafiyah) dalam agama Islam, sehingga ia tidak dikafirkan karenanya.
Hal ini juga termasuk argumentasi yang mengugurkan pendapat sebagian ulama yang memilah-milah berlakunya udzur dengan kebodohan dalam perkara tauhid; dimana dalam tauhid asma’ wa shifat diberlakukan udzur karena kebodohan, sementara dalam perkara tauhid uluhiyah tidak diberlakukan udzur karena kebodohan.
Pemilah-milahan tauhid seperti itu adalah pendapat yang keliru. Sebab, semua jenis tauhid itu saling berkaitan satu dengan lainnya. Jenis-jenis tauhid tersebut tidaklah berdiri sendiri-sendiri. Jenis-jenis tauhid tersebut tidak bisa dipisahpisahkan. Pelanggaran dan kesalahan dalam satu jenis tauhid berkonskuensi terjadinya pelanggaran dan kesalahan dalam jenis tauhid lainnya.
Oleh karena itu para ulama menegaskan bahwa ma’rifatullah (mengenal Allah, tauhid rububiyah) yang darinya muncul sikap beribadah kepada Allah semata (tauhid uluhiyah), adalah buah dari tauhid mengenal nama-nama dan sifat-sifat Allah SWT.
Imam Izzuddin bin Abdus Salam berkata, “Memahami makna nama-nama Allah adalahs arana menuju interaksi dengan Allah dengan buah-buahnya, yaitu rasa takut kepada-Nya, rasa harap kepada-Nya, mengagungkan-Nya, mencintaiNya, berserah diri kepada-Nya, dan buah-buah lainnya dari mengetahui sifatsifat Allah.”22
Menjelaskan hubungan saling terkait antara jenis-jenis tauhid, Ibnu Qayyim Al-Jauziyah berkata, “Setiap sifat Allah memiliki ‘ubudiyah (peribadatan) khusus yang menjadi konskuensi wajib dari sifat tersebut. Yaitu sebagai konskuensi wajib dari mengenal dan memahami sifat tersebut. Pengetahuan seorang hamba terhadap keesaan Rabb dalam mendatangkan madharat maupun mendatangkan manfaat, dalam memberi karunia atau menahan karunia, menciptakan, memberi rizki, menghidupkan, dan mematikan akan membuahkan ibadah tawakal (berserah diri) kepada Allah secara batin, juga konskuensi-konskuensi dan buahbuah dari tawakal tersebut secara lahir…”23
Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab berkata, “Adapun tauhid shifat, maka sesungguhnya tauhid rububiyah tidak akan lurus, demikian juga tauhid uluhiyah tidak akan lurus, kecuali dengan membenarkan sifat-sifat Allah.”24

[2]- Firman Allah SWT: Dan Kami menyeberangkan Bani Israil ke seberang lautan itu. Maka setelah mereka sampai kepada suatu kaum yang tetap menyembah berhala mereka, Bani lsrail berkata, Wahai Musa, buatlah untuk kami sebuah Tuhan sesembahan (berhala) sebagaimana mereka mempunyai beberapa Tuhan (berhala).» Musa menjawab, «Sesungguhnya kalian adalah kaum yang tidak mengetahui.” (QS. Al-A’raf [7]: 138)
Imam Ibnu Jarir Ath-Thabari menjelaskan ayat ini dengan mengatakan, “Mereka mendatangi suatu kaum yang menyembah berhala-berhala sebagai tuhan sesembahan mereka selain Allah. Maka mereka berkata, “Wahai Musa, buatlah untuk kami berhala yang kami sembah dan patung yang kami jadikan Ilah (Tuhan sesembahan) kami. Sebagaimana orang-orang itu memiliki patungpatung yang mereka sembah. Padahal tidak selayaknya ibadah dilakukan kecuali kepada Allah Yang Maha Tunggal lagi Maha Perkasa.”25
Imam Ibnul Jauzi menjelaskan permintaan Bani Israil tersebut dengan mengatakan, “Ini merupakan pemberitaan tentang besarnya kebodohan mereka, dimana mereka menyangka kebolehan beribadah kepada selain Allah.”
Imam Fakhruddin Ar-Razi secara lebih terang menjelaskan hakekat permintaan Bani Israil tersebut dengan mengatakan, “Ketahuilah, sesungguhnya mustahil orang yang berakal berkata kepada Nabi Musa ‘Buatlah untuk kami Ilah (tuhan sesembahan) sebagaimana mereka memiliki ilah-ilah, pencipta, dan pengatur (alam semesta)!’ Sebab, andaikata Musa mampu memenuhi permintaan, tentulah Musa tidak akan mampu membuat seorang Pencipta bagi alam semesta dan seorang Pengatur. Barangsiapa ragu-ragu atas hal itu, niscaya ia adalah orang yang akalnya tidak sempurna (gila, pent). Maka makna yang lebih dekat kepada kebenaran adalah mereka (Bani Israil) meminta kepada Musa menentukan untuk mereka patung-patung dan berhala-berhala untuk mereka ibadah sebagai sarana mereka mendekatkan diri kepada Allah.”26

Pernyataan Imam Fakhruddin Ar-Razi ini sejalan dengan kondisi para penyembah berhala sebagaimana disebutkan dalam firman Allah SWT:  “Kami tidaklah menyembah mereka kecuali agar mereka mendekatkan diri kami kepada Allah.” (QS. Az-Zumar [39]: 3) َMusa menjawab, «Patutkah aku mencari Ilah (Tuhan sesembahan) untuk kalian elain dari Allah? Padahal Dialah yang telah melebihkan kalian atas segala umat.” (QS. Al-A’raf [7]: 140)
Imam Ath-Thabari menjelaskan ayat ini dengan menulis, “Musa berkata kepada kaumnya apakah aku layak mencari selain Allah sebagai Ilah kalian dan aku menjadikanya sebagai sesembahan yang kalian menyembahnya? Padahal Allah Sang Pencipta kalian, telah melebihkan kalian atas orang-orang yang hidup sezaman dengan kalian. Pantaskah aku mencari untuk kalian sesembahan yang tidak dapat memberi kalian manfaat mauupun madharat, untuk kalian sembah, lalu kalian meninggalkan peribadatan kepada (Allah) Yang telah melebihkan kalian atas seluruh makhluk (yang sezaman dengan kalian)? Sungguh ini merupakan kebodohan kalian.”27
Hal ini menunjukkan bahwa Nabi Musa AS memahami bahwa Bani Israil meminta dari dirinya perkara yang berkonskuensi mengangkat Ilah selain Allah SWT.
Para ulama telah sepakat bahwa Bani Israil meminta perkara yang sangat besar kepada Nabi Musa AS. Mereka juga bersepakat bahwa Bani Israil tidak kafir akibat permintaan tersebut. Namun mereka berbeda pendapat tentang perkara yang menhalangi jatuhnya vonis kafir terhadap Bani Israil.
a. Pendapat pertama menyatakan bahwa Bani Israil tidak kafir dikarenakan mereka tidak melakukan perbuatan kekufuran. Mereka hanya meminta perbuatan kekufuran semata. Pendapat ini dipegangi oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dan Syaikh Abdul Aziz bin Baz.
Pendapat ini lemah dikarenakan:
• Orang yang meminta sebuah kekufuran berarti orang tersebut tidak mengetahui bahwa perbuatan yang ia minta sebenarnya adalah perbuatan kekufuran. Akibatnya, ia meyakini perbuatan tersebut boleh dilakukan. Untuk itulah ia meminta perbuatan (kekufuran) tersebut. Permintaan tersebut menunjukkan adanya keridhaan terhadap perbuatan (kekufuran) yang diminta. Padahal meridhai kekafiran dan tidak mengingkarinya (pada saat ada kemampuan, pent) merupakan sebuah kekufuran, sama saja apakah ia telah melakukan perbuatan kekufuran tersebut maupun ia belum melakukannya.
• Permintaan mereka tersebut menunjukkan bahwa mereka tidak memahami hakekat tauhid dan hakekat syirik. Dengan demikian, hal ini menunjukkan bahwa mereka tidak merealisasikan salah satu syarat tauhid, yaitu ilmu (memahami makna tauhid dan konskuensinya).
b. Pendapat kedua menyatakan bahwa Bani Israil tidak kafir karena mereka adalah orang-orang bodoh. Mereka tidak mengetahui bahwa apa yang mereka minta tersebut adalah sebuah kekufuran dan syirik akbar. Oleh sebab itu Nabi Musa tidak mengkafirkan mereka, sebagaimana bisa dilihat dan dibaca dalam rangkaian ayat-ayat tersebut.
Nabi Musa AS berinteraksi dengan mereka dengan menempatkan mereka dalam posisi orang-orang yang tidak memahami hakekat perkataan mereka sendiri dan tidak memahami sesembahan mereka yang hak. Untuk itu Nabi Musa segera menjelaskan kepada mereka menunjukkan bukti atas kebatilan permintaan mereka. Pendapat inilah yang lebih benar.
[3]- Hadits tentang Dzatu Anwath.

Dari Abu Waqid al-Laitsi RA berkata, “Kami berangkat bersama Rasulullah SAW menuju perang Hunain dan waktu itu kami belum lama meninggalkan kekafiran (mereka masuk Islam pada masa penaklukan kota Makkah, pent). Maka kami berjalan melewati sebatang pohon bidara tempat orang-orang musyrik biasa menggantungkan senjata mereka padanya. Pohon itu dikenal sebagai pohon Dzatu Anwath. Kami berkata, ‘Wahai Rasulullah, buatlah untuk kami Dzatu Anwat sebagaimana mereka memiliki Dzatu Anwat!’
Maka Rasulullah SAW bersabda, “Allahu Akbar! Demi Allah Yang nyawaku berada di tangan-Nya, kalian telah mengatakan seperti perkataan Bani Israil kepada nabi Musa, ‘Buatkanlah untuk kami Tuhan sesembahan sebagaimana mereka memiliki (patung-patung) tuhan-tuhan sesembahanI’ Maka Nabi Musa menjawab, “Sungguh kalian adalah kaum yang bodoh.” Rasulullah SAW kembali bersabda, “Sungguh kalian akan mengikuti jejak langkah orang-orang sebelum kalian.” (HR. Tirmidzi no. 2180 dan ia berkata: hadits hasan shahih, Ahmad no. 21897 dan 21900, Abdur Razzaq, Ibnu Abi ‘Ashim dalam As-sunnah no. 76, Ath-Thabarani dalam al-Mu’jam al-Kabir no. 3290-3294, Ibnu Abi Syaibah no. 37375, Abu Ya’la no. 1441, dan lain-lain. Sanad Ahmad dan Abdur Razzaq shahih menurut syarat Bukhari dan Muslim)
Riwayat-riwayat lain, di antaranya riwayat Imam Al-Azraqi dalam Akhbar Makkah, I/130, menjelaskan bahwa orang-orang musyrik biasa mengelilingi pohon Dzatu Anwath, menggantungkan senjata mereka padanya, meminta keberkahannya, dan menyembelih hewan persembahan untuknya.
Para ulama berbeda pendapat dalam memahami jenis permintaan para sahabat dalam kisah Dzatu Anwath ini dan status hukumnya.
Pendapat pertama menyatakan para sahabat tersebut tidak meminta perkara yang berupa kekufuran. Mereka hanya meminta perbuatan yang menyerupai kekufuran. Hukum maksimal dari perbuatan tersebut adalah kufur asghar, bukan kufur akbar. Pendapat ini dipilih oleh Imam Ibnu Athiyah Al-Andalusi, Abdul Lathif bin Abdurrahman bin Hasan bin Muhammad bin Abdul Wahhab, dan beberapa ulama kontemporer.
Sebagian ulama kontemporer memperkuat pendapat ini dengan mengutip sebagian pernyataan IbnuTaimiyah dan Asy-Syathibi, yang mereka anggap berpendapat demikian. Di antaranya adalah perkataan Ibnu Taimiyah, “Nabi saw mengingkari sekedar sikap menyerupai orang-orang kafir dalam mengambil sebuah pohon sebagai tempat mereka berkumpul dengan menggantungkan senjata mereka padanya. Maka bagaimana lagi dengan tindakan yang lebih besar darinya, yaitu menyerupai orang-orang musyrik atau kesyirikan itu sendiri?”28
Mereka juga berpegangan pada pernyataan Imam Asy-Syathibi terhadap hadits di atas, “Sesungguhnya mengambil pohon Dzatu Anwath itu menyerupai mengambil ilah-ilah sesembahan selain Allah, bukan mengambil ilah selain Allah itu sendiri. Oleh karena itu diperhitungkannya perkara yang ditegaskan dalam nash tidaklah berarti serupa dengan perkara yang tidak ditegaskan dalam nash dari segala sisinya.”29
Sebenarnya pernyataan Asy-Syathibi ini berkenaan dengan deskripsi perbuatan para sahabat, yaitu menyerupai perbuatan orang-orang kafir. Pernyataan Asy-Syathibi tersebut tidak menjelaskan status hukum perbuatan para sahabat tersebut sebagai sebuah kesyirikan atau bukan.
Pendapat kedua, menyatakan bahwa para sahabat tersebut meminta perbuatan yang nilainya syirik akbar. Mereka meminta kepada Nabi SAW untuk mensyariatkan (memperbolehkan) mereka mencari berkah pada pohon Dzatu Anwath, sebagaimana dilakukan oleh orang-orang musyrik.
Pendapat ini dipilih oleh sejumlah ulama muhaqqiq, seperti Ibnu Qayyim AlJauziyah, Abu Syamah, Muhammad bin Abdul Wahhab, Abdullah bin Muhammad bin Abdul Wahhab, Abdullah Abu Buthain, Abdurrahman bin Hasan bin Muhammad bin Abdul Wahhab, Al-Alusi, Shiddiq bin Hasan Al-Qanwaji, Muhammad Rasyid Ridha, Muhammad Hamid Al-Fiqi, Abdurrazzaq Al-Afifi, dan lain-lain.
Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab berkata, “Dalam hadits ini terdapat dua pelajaran agung. Pelajaran pertama: Nabi SAW telah menegaskan bahwa barangsiapa memiliki keyakinan terhadap sebuah pohon atau mencari berkah padanya, maka orang tersebut telah menjadikan pohon tersebut sebagai Ilah. Para sahabat mengetahui bahwa pohon tersebut tidak bisa menciptakan dan tidak pula bisa memberi rizki. Mereka hanya menyangka bahwa apabila Nabi SAW memerintahkan mereka untuk mencari berkah pada pohon tersebut, niscaya pohon tersebut memiliki.”
“Pelajaran kedua: Sesungguhnya syirik terkadang terjadi pada diri orang yang paling berilmu dan paling shalih, tanpa ia sadari.”30
Syaikh Abdurrahman bin Hasan bin Muhammad bin Abdul Wahhab berkata, “Di antara pelajaran yang bisa disimpulkan dari hadits ini adalah sesungguhnya meminta berkah pada pohon dan sejenisnya adalah syirik dan mengangkat Ilah selain Allah. Oleh karenanya, Nabi SAW menyerupakan perkataan para sahabat ‘buatlah untuk kami pohon Dzatu Anwath” dengan perkataan Bani Israil “buatlah untuk kami (patung sebagai) Ilah”.
“Pelajaran lainnya adalah hakekat suatu perkara tidaklah berubah hanya karena perubahan namanya. Pelajaran lainnya adalah bahaya syirik dan kebodohan. Hampir-hampir para sahabat itu terjatuh ke dalam syirik karena ketidak tahuan mereka. Jika hal ini terjadi pada zaman kenabian dan kedatangan (maraknya) agama Islam, lantas bagaimana hal itu tidak akan terjadi lagi setelah berlalunya zaman yang panjang dan terjadinya perubahan suasana serta ajaran agama mengalami keterasingan?”31
Pendapat kedua yang menyatakan permintaan para sahabat tersebut adalah kesyirikan, merupakan pendapat yang lebih tepat dan benar. Hal itu karena:
• Nabi SAW memahami permintaan mereka sebagai sebuah kesyirikan. Karenanya beliau menyerupakan permintaan mereka dengan permintaan Bani Israil kepada Nabi Musa. Syaikh Muhammad Hamid Al-Fiqi berkata, “Perkara yang diminta oleh para sahabat tersebut bukanlah sekedar syirik asghaar. Jika ia sekedar syirik asghar, tentulah Nabi SAW tidak akan menjadikannya serupa dengan perkataan Bani Israil “jadikanlah untuk kami (patung sebagai) Ilah” dan Nabi SAW bersumpah atas hal itu. Justru permintaan para sahabat tersebut adalah syirik akbar, sebagaimana permintaan Bani Israil tersebut adalah syirik akbar.”32
• Nabi SAW bersumpah bahwa permintaan para sahabat tersebut serupa dengan permintaan Bani Israil kepada Nabi Musa. Beliau lantas mengingatkan sunah kauniyah, bahwa umat Islam akan meniru-niru jejak langkah umat-umat terdahulu, agar umat Islam bisa mewaspadai dan menghindarinya.
Lalu para ulama yang mengikuti pendapat kedua ini berbeda pendapat tentang faktor yang menghalangi jatuhnya vonis kafir terhadap para sahabat yang meminta pohon Dzatul Anwath tersebut. Ada dua pendapat dalam hal ini.
a. Pendapat pertama menyatakan para sahabat tersebut tidak kafir dikarenakan mereka tidak melakukan perbuatan kekufuran. Mereka hanya meminta perbuatan kekufuran semata. Pendapat ini dipegangi oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dan Syaikh Abdul Aziz bin Baz.
Pendapat ini lemah dikarenakan: • Orang yang meminta sebuah kekufuran berarti orang tersebut tidak mengetahui bahwa perbuatan yang ia minta sebenarnya adalah perbuatan kekufuran. Akibatnya, ia meyakini perbuatan tersebut boleh dilakukan. Untuk itulah ia meminta perbuatan (kekufuran) tersebut. Permintaan tersebut menunjukkan adanya keridhaan terhadap perbuatan (kekufuran) yang diminta. Padahal meridhai kekafiran dan tidak mengingkarinya (pada saat ada kemampuan, pent) merupakan sebuah kekufuran, sama saja apakah ia telah melakukan perbuatan kekufuran tersebut maupun ia belum melakukannya.
• Permintaan mereka tersebut menunjukkan bahwa mereka tidak memahami hakekat tauhid dan hakekat syirik. Dengan demikian, hal ini menunjukkan bahwa mereka tidak merealisasikan salah satu syarat tauhid, yaitu ilmu (memahami makna tauhid dan konskuensinya).
b. Pendapat kedua menyatakan bahwa para sahabat tersebut tidak kafir karena mereka adalah orang-orang bodoh. Mereka tidak mengetahui bahwa apa yang mereka minta tersebut adalah sebuah kekufuran dan syirik akbar. Hal ini ditunjukkan oleh pernyataan Abu Waqid Al-Laitsi RA yang mengemukakan udzur “dan waktu itu kami belum lama meninggalkan kekafiran.”
Di antara ulama muhaqqiq yang menegaskan hal ini adalah Imam AlAlusi. Beliau berkata, “Dalam hadits ini terdapat penegasan bahwa orang yang berkata adalah satu orang sahabat saja. Barangkali hal ini terjadi karena kebodohan yang diterima sebagai udzur dan seseorang tidak kafir karenanya. Jika tidak demikian, sudah tentu Nabi SAW akan memerintahkan kepadanya untuk memperbaharui keislamannya, padahal hal itu tidak disebutkan dalam riwayat manapun yang telah saya periksa.”33
Di antara ulama lainnya adalah Syaikh Abdurrazzaq Al-Afifi. Saat ditanya tentang orang-orang quburiyyun, beliau menjawab, “Mereka adalah orangorang murtad yang keluar dari Islam jika telah ditegakkan hujah atas diri mereka. Jika belum ditegakkan hujah atas diri mereka, maka mereka mendapatkan udzur karena kebodohan mereka, seperti halnya kelompok Dzatu Anwath.”34
Di antara ulama lainnya yang menegaskan hal ini adalah Syaikh Muhammad Rasyid Ridha. Beliau berkata, “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan kepada NAbi SAW permintaan yang disebutkan (dalam hadits tersebut), adalah orang-orang yang baru saja meninggalkan kesyirikan. Sehingga mereka menyangka apa yang dijadikan oleh Nabi SAW bagi mereka dalam perkara (Dzatu Anwath) itu adalah perkara yang disyariatkan dan tidak membatalkan keislaman.”35
Pendapat inilah yang lebih benar.

[4]- Hadits Hudzaifah bin Yaman RA:

Dari Hudzaifah bin Yaman RA berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda: “Islam akan pudar sebagaimana corak pakaian pudar, sampaisampai tidak diketahui lagi apa itu shiyam, shalat, nusuk (haji atau penyembelihan) dan sedekah (zakat). KItab Allah benar-benar akan diangkat pada suuatu malam, sehingga tidak tersisa satu ayat pun di muka bumi. Yang tersisa hanyalah kakekkakek tua dan nenek-nenek tua. Mereka mengatakan: ‘Kami mendapati orang-orang tua kami mengucapkan kalimat ini, Laa Ilaaha Illa Allah, maka kami pun ikut-ikutan mengucapkannya.”
Shilah (tabi’in perawi hadits) bertanya, “Apa manfaatnya bagi mereka ucapan Laa Ilaaha Illa Allah, sementara mereka tidak mengenal apa itu shalat, shiyam, haji, dan zakat?” Mendengar ucapan itu, Hudzaifah berpaling. Shilah mengulangi pertanyaannya tiga kali, namun setiap kali ditanya, Hudzaifah selalu memalingkan mukanya. Pada pertanyaan yang ketiga, Hudzaifah menghadapkan wajahnya kepada Shilah dan menjawab, “Wahai Shilah, kalimat Laa Ilaaha Illa Allah akan menyelamatkan mereka.” Hudzaifah mengucapkannya sebanyak tiga. (HR. Ibnu Majah no. 4049 dan Al-Hakim no. 8460 dan 8636. Al-Hakim menshahihkannya dan Adz-Dzahabi menyetujuinya. Syaikh Al-Albani menshahihkannya dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah, 1/127 dan Shahih Al-Jami’ Ash-Shaghir, 6/339)
Hadits di atas berkenaan dengan suasana akhir zaman menjelang datangnya kiamat. Pada waktu tersebut Al-Qur’an diangkat kembali ke langit dan masyarakat tidak mengetahui lagi hukum-hukum yang zhahir dan mutawatir seperti shalat, zakat, dan shaum. Mereka hanya mengetahui dua kalimat syahadat yang mereka warisi secara turun-temurun dari orang tua mereka. Mereka hanya mengetahui keimanan secara global dengan mengakui kalimat tauhid.
Jika untuk perkara-perkara yang sangat zhahir dan murtawatir tersebut mereka tidak mengetahuinya. Maka bisa diduga kuat bahwa untuk perkaraperkara lainnya yang lebih rumit dan tingkat ke-zhahirannya lebih rendah seperti detail-detail perkara tauhid dan lainnya, mereka lebih tidak mengetahuinya lagi.
Para ulama Islam menjadikan hadits tersebut sebagai dalil udzur dengan kebodohan, baik dalam perkara aqidah (khabariyah) maupun dalam perkara amalan (‘amaliyah). Sisi kesamaan hadits tersebut dengan orang bodoh yang kebodohannya diakui oleh syariat (al-jahl al-mu’tabar) adalah pada sebagian tempat atau zaman, kebodohan begitu mendominasi dan cahaya ajaran kenabian melemah, sehingga banyak hukum-hukum Islam yang zhahir dan mutawatir tidak mereka ketahui, namun mereka masih memiliki keislaman secara global.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata: “Banyak manusia yang hidup pada tempat-tempat dan zaman-zaman yang padanya telah pudar banyak ilmu-ilmu kenabian, sehingga tidak tersisa seorang yang menyampaikan al-Qur’an dan as-sunnah yang Allah mengutus RasulNya dengannya. Maka manusia tidak mengetahui banyak ajaran yang Allah mengutus Rasul-Nya dengannya, dan di sana juga tidak ada seseorang yang menyampaikannya kepadanya. Maka orang seperti ini tidak kafir.
Oleh karenanya para ulama sepakat bahwa orang yang hidup di daerah terpencil yang jauh dari para ulama dan orang yang beriman, sementara ia belum lama masuk Islam, lalu ia mengingkari sebagian hukum yang zhahir mutawatir ini, maka ia tidak divonis kafir sampai dijelaskan kepadanya ajaran Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam. Oleh karena itu disebutkan dalam hadits ‘Suatu zaman akan datang kepada manusia, pada waktu itu mereka tidak mengetahui shalat, zakat, shaum, maupun haji. Hanya kakek yang jompo dan nenek yang jompo yang mengatakan: “Kami mendapati nenek moyang kami mengatakan ‘Laa Ilaaha Illa Allahu’.” Ditanyakan kepada sahabat Hudzaifah bin Yaman (yang meriwayatkan hadits ini, pent), “Apa manfaat Laa Ilaaha Illa Allahu bagi mereka?” Hudzaifah menjawab, “Ia akan menyelamatkan mereka dari neraka.”36
Hadits ini menjadi dalil berlakunya udzur dengan kebodohan, karena mereka tidak melakukan shalat, zakat, dan shaum bukan karena faktor keteledoran (malas dan tidak sungguh-sungguh dalam) mencari ilmu.
Kelompok ulama yang tidak memberi udzur dengan kebodohan dalam perkara tauhid-syirik membantah argumentasi hadits ini dengan dua bantahan.
Bantahan pertama, hadits tersebut berkaitan dengan suasana tidak ada kemampuan untuk mencari ilmu karena Al-Qur’an telah diangkat ke langit.
Bantahan ini tidak tepat dan keliru. Sebab, kaedah udzur dengan kebodohan itu bermakna barangsiapa tidak teledor (malas dan tidak serius) dalam mencari ilmu, dan ia tidak berpaling dari mencari ilmu, maka ia mendapatkan udzur atas kesalahannya dalam menjalankan ajaran-ajaran Islam. Sama saja apakah ketidak teledorannya dalam menuntut ilmu itu disebabkan oleh kemustahilan untuk belajar, tiadanya kemampuan untuk mencari ilmu, maupun kelupaan. Ketidak mampuan sendiri ada dua macam, yaitu ‘ajzun haqiqi (ketidak mampuan yang sesungguhnya) seperti orang yang hidup di daerah pedalaman yang jauh dari ulama, dan ‘ajzun hukmi (ketidak mampuan untuk meraih ilmu yang benar, dimana ia tidak teledor dan ia telah berusaha untuk menuntut ilmu. Hanya saja ilmu yang ia pelajari tersebut tidak lurus, misalnya karena gurunya adalah ulama sekte bid’ah dan lain-lain).
Bantahan kedua, hadits tersebut tidak menunjukkan mereka terjatuh dalam kesyirikan. Sehingga hadits tersebut bukanlah dalil berlakunya udzur dengan kebodohan dalam perkara syirik.

Bantahan ini juga lemah. Hadits tersebut menegaskan sangat kuatnya kebodohan menguasai kaum tersebut. Sehingga mereka sampai tidak memahami dan melaksanakan syiar-syiar Islam yang paling jelas dan mutawatir seperti shalat, shaum, dan zakat. Maka tidak heran apabila mereka terjatuh pada perkaraperkara yang tingkat kezhahiran atau kemutawatirannya setara dengannya atau lebih rendah darinya. Jika mereka mendapat uzur dalam perkara-perkara yang sangat zhahir dan mutawatir seperti itu, maka hal itu juga menunjukkan bahwa mereka mendapat udzur untuk perkara-perkara pokok ajaran Islam lainnya yang tingkat kezhahiran dan kemutawatirannya setara dengannya.

Bersambung …

Catatan :

13 . At-Tamhid, XVIII/42.

14 . Majmu’ Fatawa, III/231.

15 . Al-Istiqamah, I/164, karya Ibnu Taimiyah

16 . Majmu’ Fatawa, XI/410.

17 . Majmu’ Fatawa, XI/410. dan Al-Ushaimi, Musykilatul Hadits An-Nabawi, hlm. 142.

18 . Majmu’ Fatawa, VIII/7.

19 . Majmu’ Fatawa, XVIII/237

20 . Miftahu Daris Sa’adah, I/212.

21 . Majmu’ Fatawa, III/321.

22 . Syajaratul Ma’arif wal Ahwal, hlm, 17, karya Izzuddin bin Abdis Salam.

23 . Miftahu Daris Sa’adah, II/90.

24 . Muallafat Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, III/42.

25 . Tafsir Ibnu Jarir Ath-Thabari, VI/45.

26 . At-Tafsir Al-Kabir, V/350.

27 . Tafsir Ath-Thabari, VI/46.

28 . Iqtidha’ Ash-Shirath Al-Mustaqim, II/157.

29 . Al-I’isham, I/464.

30 . Ad-Durar As-Sanniyah fil Ajwibah An-Najdiyah, II/112 dan 127. Namun dalam Kitab Tauhid-nya, Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab berpendapat lain. Beliau menyatakan tindakan para sahabat tersebut “hanya” bernilai syirik asghar, bukan syirik akbar.

31 . Ad-Durar As-Sanniyah fil Ajwibah An-Najdiyah, V/120..

32 . Fathul Majid Syarh Kitab At-Tauhid (footnote dari Syaikh Muhammad Hamid Al-Fiqi), hlm. 141.

33 . Ruhul Ma’ani, VI/9, karya Imam Al-Alusi.

34 . Majmu’ Fatawa wa Rasail Syaikh Abdurrazzaq Al-Afifi, hlm. 371.

35 . Majmu’atur Rasail wal Masail An-Najdiyah (komentar beliau), IV/39.

36 . Majmu’ Fatawa, XI/407-408.

Baca juga, PRINSIP-PRINSIP SYARI’AT YANG MENUNJUKAN ADANYA UDZUR DENGAN KEBODOHAN