Mujahidin Taliban telah menang di afhanistan

Duniaekspress.com. (6/9/2018). — Afghanistan — Afghanistan tidak lagi menempati berita utama seperti Suriah dan Yaman – tetapi sudah menjadi, perang terpanjang dalam sejarah Amerika Serikat, mirip Perang Vietnam.

Paska serangan 11 September 2001 – aliansi NATO yang dipimpin Amerika terjebak dalam perang di banyak negara. Bahkan Suriah dan Irak sekarang melihat akhir permainan yang jelas – meskipun negosiasi yang rumit. Namun, di Afghanistan tidak ada akhir yang terlihat.

Hampir setiap hari ada serangan Taliban terhadap pasukan NATO dan pemerintah Afghanistan. Berbicara tentang ‘strategi di Afghanistan’ telah menjadi tema yang membosankan di editorial Barat yang diikuti oleh keniscayaan kekalahan Amerika di Afghanistan.

Bulan lalu, untuk pertama kalinya, pemerintahan Trump mengadakan pembicaraan langsung di Qatar dengan Taliban – ini adalah perubahan yang luar biasa setelah Bush pertama kali mengancam untuk melenyapkan Taliban 17 tahun lalu.

Afghanistan telah membayar harga yang mahal selama 17 tahun perang Amerika yang berlangsung tanpa strategi besar yang terlihat.

Kekerasan selalu tinggi sejak invasi pimpinan AS pada 2001 dan serangan Taliban baru-baru ini terhadap Ghazni adalah pengingat bahwa mereka tetap menjadi punya power di kota.

Taliban lama tidak ada lagi

Ketika seseorang berpikir tentang Taliban lama, citra yang muncul adalah kelompok militan yang sangat puritan yang menghindari televisi dan kamera, meledakkan patung-patung Buddha, melarang pendidikan anak-anak perempuan dan membunuh kelompok agama atau etnis lain. Memang mereka meledakkan patung Buddha Bamyan, menutup sekolah anak perempuan , dan menolak menyerahkan pria paling dicari di dunia, Osama Bin Laden.

Namun ada Taliban lain yang tidak sering ditampilkan – yang melakukan perjalanan ke Texas dan berbicara dengan Amerika dan Argentina . Banyak diplomat Taliban berbicara bahasa Inggris dengan lancar, dan juga muncul di TV untuk berbicara dengan orang- orang seperti Charlie Rose.

Masyarakat internasional juga mengakui bahwa Taliban melarang penanaman opium. Secara regional, Taliban membunuh diplomat Iran dan memusuhi Syiah. Ada juga fakta yang diterima secara luas bahwa Intelijen Antar-Dinas Angkatan Darat Pakistan (ISI) adalah pendukung utama Taliban bersama dengan Saudi dan Emirat.

Namun ketika pertempuran memuncak pada musim panas 2018 – banyak dari apa yang benar dari ‘Taliban lama’ tidak sama lagi dan mereka tidak lagi memiliki pemimpin misterius dan karismatik seperti Mullah Omar, dan Pakistan bukan satu-satunya pendukung Taliban – nyatanya beberapa negara di kawasan itu bergegas untuk membantu mereka dan bahkan Amerika Serikat sedang berbicara dengan mereka.

Serangan minggu lalu di provinsi Ghazni di depan pintu Kabul mengirimkan sinyal peringatan tentang betapa rentannya Kabul. Taliban mengalami banyak kemajuan selama dua tahun terakhir dan AS di bawah pemerintahan Presiden Trump – tidak dapat mencapai kemenangan. Faktanya Taliban berada di atas angin melawan pemerintah Afghanistan.

Berita utamanya adalah kemenangan Taliban yang begitu jelas. Taliban kini jauh lebih pintar. Mereka menyerang kota-kota dan provinsi-provinsi utama Afghanistan sesuka hati – mereka juga mengirim misi diplomatik ke negara tetangga, Uzbekistan.

Menurut ahli Taliban terkemuka dunia, Ahmed Rashid, India bukan lagi musuh Taliban dan telah ada negosiasi di belakang layar. Ini adalah perubahan yang luar biasa yang menunjukkan Taliban baru tidak atas perintah Pakistan. Iran yang selalu menentang Taliban sebaliknya sekarang menjadi tuan rumah sebuah faksi Taliban dan memberikan senjata dan pelatihan kepada kelompok itu.

Taliban tidak lagi secara terbuka anti-Syiah dan telah terlihat di Teheran secara teratur. Rusia – yang selama lebih dari satu dekade adalah pendukung kuat Aliansi Utara dan musuh bebuyutanTaliban – sekarang mendukung Taliban.

Setelah kematian Mullah Omar lewat sudah apa yang disebut Quetta Shura dan Miranshah Shura – dan telah datang Taliban diplomatik yang cerdik yang berbicara dengan Uzbek, berbicara di konferensi Iran dan merasa nyaman dengan Rusia dan India. Bahkan pemerintah Afghanistan mendukung berbagai elemen Taliban.

Mantan Presiden Afganistan, Hamid Karzai menyebut mereka saudara yang hilang sementara yang Presiden saat ini, Ashraf Ghani mengatakan dia terbuka untuk dialog penuh dan perdamaian dengan Taliban – di hari raya Idul Fitri lalu ada gencatan senjata bersejarah.

Sebelum putaran pembicaraan saat ini dengan Taliban oleh Amerika – Taliban telah memiliki kantor di Doha yang dibentuk di bawah sorotan penuh Amerika.

Anehnya ketika Amerika berbicara dengan Taliban, AS memberi sinyal beragam kepada Taliban, Trump mengatakan dia ingin melawan mereka dan mengatakan kepada pemerintah Afghanistan untuk berhenti berbicara dengan mereka. Ghani berkunjung ke Pakistan dan memuji upaya mereka untuk mendukung perdamaian, padahal seminggu sebelumnya dia menuduh Pakistan mendukung serangan Ghazni.

Kabarnya Taliban masih mendapat dukungan dari Pakistan dan dari Iran, Rusia, Amerika Serikat sendiri dan bahkan China. Dan konon bulan ini, Taliban juga meminta Amerika untuk mendukung mereka dalam perang melawan Daesh di Afghanistan.

Tidak mungkin bagi para pemain regional atau kekuatan internasional seperti Amerika dan Rusia untuk berbicara dengan Taliban selama Taliban sendiri memberikan sinyal campuran.

Satu hal yang pasti – Taliban telah menang di Afghanistan.

Sumber:  trtworld

 

Baca juga, MARKAS MILITER BAGHLAN JATUH, MUJAHIDIN TALIBAN RILIS VIDIO KEMENANGAN