Aliansi Al-qaidah dan Taliban menyeret Amerkita pada “Perang Abadi”

Duniaekspress.com. (15/9/2018). Tanggal 11 September ini menandai 17 tahun peristiwa 9/11. Kondisi masih hampir sama sejak perang Amerika di Afghanistan dimulai. Pada perang yang diluncurkan pada 7 Oktober 2001 tersebut, invasi pimpinan AS ke Afghanistan dengan cepat menggulingkan rezim Taliban. Pemimpin mereka, Mullah Omar, menolak menyerahkan Osama bin Laden.

Tujuan strategis Amerika di Afghanistan terlihat tidak jelas. Penolakan Taliban untuk menyerahkan al-Qaidah telah menjadi salah satu motif utama Amerika untuk mengobarkan “perang abadi.” Perang abadi ini juga dibumbui dengan ketakutan bahwa wilayah Afghanistan yang didominasi oleh Taliban akan menjadi tempat yang aman bagi teroris internasional.

Aliansi antara Mujahidin al-Qaidah dan Taliban telah bertahan selama lebih dari 20 tahun. Serangkaian kampanye militer yang dilakukan oleh aliansi militer paling terkemuka di dunia dan pertimbangan geopolitik lainnya seharusnya telah menyebabkan Taliban memutuskan hubungan dengan Al Qaidah. Namun, hingga kini kedua kelompok tersebut tetap terlibat dalam kerja sama, dengan harapan bersama tentang berlanjutnya kerja sama di masa depan.

Sebuah hubungan aliansi tidak mengharuskan mereka bergabung melebur menjadi satu organisasi, beroperasi dalam satu barisan, atau bahkan selalu mematuhi masukan satu sama lain. Dalam hal ini, mereka tentu saja tidak melakukannya, dan mereka terkadang mengabaikan saran satu sama lain. Masing-masih pihak dalam aliansi memiliki wilayah kerja dan tugas utama masing-masing.

Taliban dan Al-Qaidah tentu saja melakukannya. Sejak dimulainya hubungan mereka, kedua kelompok itu berbeda dalam hal tujuan strategis, prioritas, dan taktik mereka.

Taliban terus kukuh fokus pada Afghanistan dan tidak pernah mengadopsi ambisi jihadis global al-Qaidah. Pada bagiannya, al-Qaidah telah secara konsisten mengejar agendanya dengan mengabaikan bagaimana hal itu telah mempengaruhi Taliban.

poto : para pemimpin mujahidin Al-qaidah dan Taliban

Nyatanya mereka bekerja sama di Afghanistan dan mengharapkan kerjasama dan konsultasi di masa depan. Mereka memiliki keinginan yang sama, untuk mengusir pasukan AS dari Afghanistan dan mengembalikan kekuasaan Taliban. Dan mereka sekarang memiliki saingan bersama yaitu Islamic State (ISIS). Tetapi kepentingan bersama tersebut tidak sepenuhnya menunjukkan faktor apa yang mengikat kedua kelompok ini ke dalam kemitraan yang telah terjalin sejak lama.

Hubungan mereka telah berkembang seiring waktu. Meskipun Syaikh Osama Bin Laden telah berjanji bai’at kepada Syaikh Mullah Omar, al-Qaidah adalah “sebuah organisasi yang mendukung sebuah negara” selama tahun 1990-an. Sekarang Taliban tidak bergantung pada al-Qaidah atau tidak membutuhkan dukungan al-Qaidah untuk melakukan pemberontakannya.

Al-Qaidah memperoleh lebih banyak manfaat dari hubungan itu. Al-Qaidah juga mendapatkan prospek masa depan yang aman jika Taliban kembali berkuasa, meskipun Taliban tidak pasti menyediakan tempat perlindungan seperti. Aliansi tersebut terbukti tangguh dan dengan demikian, menimbulkan rintangan bagi upaya untuk menemukan penyelesaian yang dinegosiasikan untuk mengakhiri perang.

Taliban Mendapat “Kerugian” yang Lebih Besar daripada Keuntungan

Taliban telah mengeluarkan biaya luar biasa selama masa aliansinya dengan al-Qaidah, yang berumur lebih dari dua dekade. Hubungan itu berkontribusi pada isolasi dunia internasional kepada Taliban ketika mereka berkuasa, termasuk perpecahan dengan Arab Saudi: satu dari hanya tiga negara bagian yang mengakui pemerintah Taliban.

Kehadiran Al-Qaidah menurut para pengamat, adalah sumber perselisihan internal di dalam Taliban. Beberapa tokoh internal mendesak Mullah Omar untuk mengusir Al Qaidah. Beberapa tokoh di Taliban juga sangat frustrasi oleh deklarasi perang Syaikh Osama Bin Laden dan tindakan al-Qaidah terhadap Amerika Serikat pada tahun-tahun sebelum 2001. Tetapi respon AS justru meningkatkan dukungan Taliban untuk al-Qaidah. Tentu saja, terutama, penolakan Mullah Omar untuk menyerahkan Bin Laden setelah 9/11 menyebabkan invasi Amerika Serikat dan kejatuhan rezim Taliban.

Kegigihan aliansi mereka semakin luar biasa ketika Anda mempertimbangkan betapa sedikitnya kebutuhan terhadap Al-Qaidah sekarang. Namun, hubungan mereka masih menghasilkan beberapa manfaat.

Poto : dukungan masyarakat muslim kepada al-qaidah

Meskipun al-Qaidah adalah penyebab invasi AS, tetapi kelompok itu dengan gigih mendukung perjuangan Taliban. Taliban telah mengambil manfaat dari keahlian al-Qaidah sejak awal konflik. Al-Qaidah membantu melatih komandan Taliban untuk membuat bahan peledak improvisasi yang dimulai sejak hari-hari awal gerakan.

Personil kelompok Al Qaidah juga menawarkan keterampilan khusus dan teknologi lainnya, sehingga menyebabkan seorang tokoh terkemuka di Afghanistan untuk menyebut militan al-Qaidah sebagai “subkontraktor” untuk Taliban. Al-Qaidah telah membantu Taliban dengan operasi khusus dan serangan, menawarkan tenaga kerja tambahan yang berpengalaman. Kelompok jihadis jarang sekali melakukan atau mengklaim serangan di Afghanistan secara mandiri. Mereka lebih suka berkontribusi terhadap serangan yang dilakukan Taliban dan mitranya, kemudian bersama-sama mengklaim tanggung jawab.

Tapi, dari pengakuannya sendiri, Al Qaidah mengakui bahwa “Taliban hampir tidak membutuhkan kami.” Kekuatan terbesar Taliban adalah kemampuannya untuk memanfaatkan keluhan lokal yang meluas dan kurangnya legitimasi pemerintah Afghanistan. Mereka memiliki banyak personel Afganistan, dan mengendalikan atau dalam perebutan setidaknya 44 persen dari distrik-distrik di Afghanistan. Bahkan perkiraan itu sangat mengecilkan pengaruh Taliban.

Selain itu, kadang-kadang, terutama selama tahun 1990-an, Taliban membutuhkan dana dari al-Qaidah. Hal itu tidak lagi terjadi. Pundi-pundi keuangan Taliban didapat melalui hubungan dengan berbagai pihak. Lebih jauh lagi, Taliban diduga menikmati dukungan substansial dari jaringan donor di negara-negara Teluk. Jadi, sejauh al-Qaidah menyediakan sumber daya bagi Taliban, mereka tidak penting bagi kesehatan keuangan Taliban.

Sementara al-Qaidah dan Taliban berbagi antipati terhadap Islamic State, tidak ada indikasi bahwa Taliban membutuhkan bantuan al-Qaidah untuk menghadapi afiliasi lokal Islamic State, yaitu Islamic State in Khorasan.

Meskipun demikian, beberapa hal pada Taliban masih menjadi titik lemah untuk al-Qaidah. Baru-baru ini pada tahun 2015, al-Qaidah mengoperasikan fasilitas pelatihan besar-besaran di Kandahar hingga dihancurkan oleh Amerika Serikat.

Apakah fasilitas itu merupakan anomali atau indikasi bahwa Taliban tetap bersedia menawarkan ruang operasi al-Qaidah di wilayahnya, tidak jelas. Selain itu, faksi Jaringan Haqqani Taliban telah lama dekat dengan al-Qaidah. Mereka telah melakukan operasi bersama dan al-Qaidah telah mendapat manfaat dari perlindungan Haqqani.

Dukungan Haqqani untuk al-Qaidah lebih penting dari sebelumnya sejak pemimpin fraksi, Sirajuddin Haqqani, naik menjadi orang nomor dua di Taliban pada tahun 2015.

 

Al Qaidah Mendapatkan Lebih Banyak Keuntungan daripada Kerugian

Melalui aliansinya dengan Taliban, al-Qaidah berpartisipasi dalam pengambilan pemerintahan Afghanistan. Dengan perang ini, Al Qaidah mempertahankan pijakan dalam kampanye melawan Amerika Serikat, sebagai simbol gerakan jihad global yang lebih luas. Namun, sebagaimana dibahas, keterlibatan Al Qaidah tidak sepenuhnya, dan Taliban tidak bergantung pada al-Qaidah, yang membatasi kerugian dan sumber daya yang harus mereka investasikan dalam upaya di Afghanistan.

Pengaturan ini bekerja dengan baik untuk al-Qaidah karena perjuangan di Afghanistan bukanlah prioritas utamanya. Dalam beberapa tahun terakhir, beberapa ahli militer dan bahan peledak yang terampil bahkan telah meninggalkan Afghanistan untuk menuju Suriah. Dari pengakuan Ayman al-Zawahiri sendiri, Afghanistan berada di pinggiran pertempuran yang lebih besar di mana Irak dan Suriah memiliki lebih banyak kepentingan.

Sejak kemunculan Islamic State, al-Qaidah telah mendapatkan manfaat tambahan dari aliansinya dengan Taliban. Al-Qaidah berusaha untuk mendiskreditkan klaim Islamic State, yang membentuk khilafah dengan Abu Bakar al-Baghdadi sebagai khalifah.

Hal itu dilakukan oleh Al Qaidah dengan cara menyebut pemimpin Taliban sebagai pemimpin “sejati” dari umat beriman. Upaya ini awalnya menjadi bumerang di tengah terkuaknya berita di tahun 2015 yang menyebut Mullah Omar telah meninggal pada tahun 2013. Meskipun demikian, al-Qaidah terjebak dengan pendekatan bahwa Taliban adalah satu-satunya alternatif yang sah secara secara teologis.

poto : mujahidin Taliban

Prospek Masa Depan

Aliansi antara dua gerakan ini telah lama tidak memperhatikan untung-rugi. Hubungan mereka berjalan lebih dalam, terutama setelah 17 tahun berjuang bersama. Ikatan mereka pernah dikaitkan terutama dengan hubungan pribadi antara Mullah Omar dan Bin Laden. Dengan demikian, kematian Bin Laden pada tahun 2011 dan terungkapnya kematian Mullah Omar tahun 2013 seolah bisa menjadi momentum bagi Taliban untuk memutuskan hubungan dengan al-Qaidah. Sekali lagi, bertentangan dengan prediksi para pengamat, aliansi keduanya tetap bertahan.

Namun, para pengamat menyebut bahwa Zawahiri tidak mendapatkan kedudukan yang sama seperti Bin Laden dengan Taliban atau bahkan di antara sekutu al-Qaidah lainnya. Para penerus Mullah Omar juga dianggap kurang mendapat legitimasi. Akibatnya, mereka berusaha untuk menavigasi deklarasi baiat Zawahiri dengan hati-hati. Mullah Akhtar Mohammad Mansour secara terbuka menerima sumpat Zawahiri, meskipun kemudian menghapus pengumuman dari situs web Taliban. Pemimpin Taliban saat ini, Mullah Haibatullah Akhundzada, tidak secara terbuka menyebutkan ikrar Zawahiri yang terbaru.

Taliban juga telah melakukan beberapa manuver retoris untuk menjauhkan diri dari al-Qaidah secara terbuka. Yang paling menonjol, pemimpin Taliban saat ini berjanji bahwa kelompok itu tidak akan mengizinkan Afghanistan digunakan sebagai basis serangan ke negara lain.

Para pihak yang mendukung negosiasi didorong oleh langkah Taliban tersebut. Tetapi al-Qaidah mungkin relatif tidak terganggu oleh pernyataan tersebut. Al Qaidah tidak perlu dan tidak pernah merasa harus berkonsultasi dengan Taliban tentang operasinya di luar Afghanistan. Hal Ini di luar lingkup aliansi mereka. Selain itu, langkah-langkah retorik Taliban tidak merata dan kontradiktif. Taliban juga telah mengeluarkan pernyataan dalam beberapa tahun terakhir yang terkesan mengekspos hubungan mereka dengan al-Qaidah.

Aliansi al-Qaidah lainnya juga terbukti tangguh. Afiliasinya tetap setia meski ada upaya dari Islamic State untuk membujuk mereka. Al-Qaidah juga memiliki jaringan hubungan dengan kelompok-kelompok militan lainnya, seperti Taliban Pakistan dan Lashkar-e-Jhangvi, di Afghanistan dan Pakistan yang telah mendukung Al Qaidah untuk bertahan hidup selama 17 tahun terakhir.

Dampak untuk Proses Negosiasi Damai

Ada harapan baru untuk negosiasi sejak Presiden Donald Trump mengumumkan kesediaan untuk terlibat dalam pembicaraan langsung dengan Taliban. Namun, sulit untuk membayangkan jika Amerika Serikat puas dengan penyelesaian akhir yang dirundingkan, di mana tidak termasuk kesepakatan bahwa Taliban akan melepaskan ikatan dengan al-Qaidah. Seberapa banyak batu sandungan untuk mendapatkan hasil ini?

Para pejabat yang bekerja di Afghanistan cenderung lebih optimis tentang prospek membujuk Taliban untuk memutuskan hubungan dengan al-Qaidah daripada para analis yang bekerja pada kontra-terorisme.

Menentukan pandangan Taliban adalah hal yang sulit karena para pendukung negosiasi di dalam Taliban kemungkinan adalah pihak yang ingin memutuskan hubungan dengan al-Qaidah. Jadi, pandangan mereka tentang topik itu mungkin tidak mewakili faksi-faksi penting dalam Taliban. Sebaliknya, paling tidak beberapa dari mereka yang berada di dalam Taliban yang menentang negosiasi mungkin juga akan menolak al-Qaidah. Dengan kata lain, kepemimpinan Taliban harus mencapai keseimbangan yang sulit, bisa mungkin atau tidak mungkin, antara dua posisi ini.

Pada saat yang sama, para pemimpin Taliban harus waspada untuk menghindari fragmentasi: rintangan utama untuk negosiasi dan penyelesaian akhir di bidang politik. Meskipun Taliban telah menunjukkan persatuan yang luar biasa hingga saat ini, para penerus Mullah Omar tampaknya tidak mendapatkan kesetiaan dan penghormatan yang sama dari anggota Taliban.

Taliban bisa saja kehilangan kekuasaan karena para pemimpin yang dihormati menolak melepaskan al-Qaidah. Sementara pemberontakan di Afghanistan tentu bukan tentang melindungi al-Qaidah. Mengembalikkan posisi Taliban seperti pada tahun 2001 akan menjadi prestasi besar bagi pemimpin Taliban.

Salah satu pejabat Inggris baru-baru ini menyampaikan pendapatnya bahwa Taliban terus merenggangkan hubungan dengan al-Qaidah sebagai sebuah cara tawar-menawar. Taliban mengharapkan untuk mengharapkan konsesi dari Amerika Serikat. Jika ini benar, pertanyaan kuncinya adalah: Pihak mana yang akan diakui Washington?

Sayangnya, ketidakmampuan Amerika untuk mendorong ganjalan antara al-Qaidah dan Taliban bukanlah sesuatu yang aneh. Ini merupakan indikasi kegagalan yang lebih besar untuk mencegah atau mengganggu aliansi antara kelompok-kelompok militan, meskipun sentralitas hubungan semacam itu menjadi ancaman bagi Amerika Serikat sejak tahun 2001. Dalam kasus Al-Qaidah dan Taliban, kegagalan ini merupakan kerugian besar. (RR)

 

Sumber: tnsr