Duniaekspress.com (16/9/2018)- Juru bicara kepresidenan Turki Ibrahim Kalin mengatakan, solusi bagi Idlib merupakan kepercayaan umum yang dibicarakan sampai pada solusi politik, bukan militer. Hal itu dikatakannya setelah pertemuan dengan perwakilan Prancis, Jerman dan Rusia pada KTT keempat di Suriah.

Ketiga negara itu kini tengah mengharapkan kejelasan status Idlib termasuk perlindungan warga sipil, dan pencegahan krisis kemanusiaan di sana. “Poin umum semua pihak adalah solusi yang bersifat politik ketimbang militer,” ujarnya seperti dikutip Huuriyet Daily News, Sabtu (15/9).

Baca Juga:

WARGA IDLIB: TERORIS ADALAH BASHAR, HIZBULLAH DAN RUSIA

PERANG SURIAH TELAH RENGGUT LEBIH DARI 360.000 NYAWA

Kalin mengatakan, kunjungan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mendatang ke Rusia Sochi merupakan hal yang penting. “Turki mengharapkan dukungan yang lebih terbuka dan langsung dari komunitas internasional dan para pemimpin,” tambah Kalin.

Sebelumnya, Para warga di berbagai kota di Provinsi Idlib, Suriah, turun ke jalan pada hari Jumat. Mereka memprotes upaya rezim Presiden Bashar al-Assad yang dibantu Rusia untuk merebut wilayah itu melalui operasi militer besar-besaran.

Di Ibu Kota Provinsi, Kota Idlib, dan di kota-kota lain termasuk Kafranbel, Dana, Azaz, Maaret al-Numan dan al-Bab, para demonstran membanjiri jalan-jalan usai salat Jumat. Mereka menyanyikan lagu perlawanan terhadap Assad, mengangkat bendera tiga warna hijau, putih dan hitam yang telah menjadi panji dari aksi perlawanan tahun 2011.

Baca Juga:

HAMAS: FATAH BERTANGGUNG JAWAB AKIBAT PERJANJIAN OSLO

SYAIKH AYMAN AZ-ZAWAHIRI : AMERIKA MUSUH UTAMA DALAM “PERANG TUNGGAL DI BERBAGAI FRONT”

“Para oposisi adalah harapan kami. Orang Turki adalah saudara kami. Para teroris adalah Bashar, Hizbullah dan Rusia,” bunyi spanduk yang diusung warga di Desa Kneiset Bani Omar.

Menurut lembaga pertahanan sipil White Helmets, sejak awal September, setidaknya 30 warga sipil tewas di Idlib dan Hama dan belasan orang terluka akibat serangan udara oleh rezim dan pesawat tempur Rusia. Sementara pemerintah Suriah baru-baru ini mengumumkan rencana untuk meluncurkan serangan militer besar-besaran ke daerah itu, yakni daerah yang lama dikendalikan oleh berbagai kelompok oposisi bersenjata. Perserikatan bangsa-bangsa (PBB) memperingatkan serangan semacam itu akan mengarah pada bencana kemanusiaan terburuk di abad ke-21. [Rep]