Syaikh Aiman Az-Zawahiri : Amerika musuh Utama dalam “Perang Tunggal di berbagai Front”

Duniaekspress.com. (15/9/2018). Al Qaidah merilis pesan baru dari pemimpinnya, Syaikh Ayman al Zawahiri, untuk memperingati momentum 17 tahun peristiwa 9/11. Pesan Zawahiri tersebut berjudul “Cara Melawan Amerika”. Ceramah ini dimaksudkan untuk menggalang para jihadis dan pendukung Al Qaidah melawan Amerika, sebagai musuh bersama. Dalam kenyataannya, sebagian besar isi pesan Syaikh Ayman Zawahiri tidak berisi “bagaimana cara” seperti judulnya, melainkan berisi pernyataan kembali pandangan Al Qaidah tentang anti-Amerika.

Syaikh Ayman Zawahiri menggambarkan AS sebagai musuh utama umat Islam di seluruh dunia. Al Qaidah telah berulang kali merencanakan dan menyerukan serangan teroris di negara-negara Barat. Tapi dalam pesan tersebut, Syaikh Ayman Zawahiri tidak hanya menyerukan kepada para jihadis untuk terus memerangi Amerika.

Syaikh Ayman Zawahiri menjelaskan, “Kita harus mengobarkan perang, di bagian manapun dari Dunia Islam, seolah-olah itu adalah perang tunggal dengan front yang berbeda, melawan musuh yang bersatu.” Perang di “wilayah kesukuan di Pakistan, di Afghanistan, Irak, Suriah, Palestina, Mesir, Aljazair, Tunisia, Yaman, Mali, Somalia dan tempat lain” tidak hanya “antara Muslim dan pemerintah lokal saja,” menurut Syaikh Ayman  Zawahiri. Sebaliknya, konflik-konflik ini “selalu menghadapkan kaum Muslim melawan sistem kejahatan internasional, di mana Amerika menjadi yang terdepan.”

Dalam kerangka pikir Syaikh Ayman Zawahiri, tidak ada garis tegas antara musuh al Qaidah yang disebut  musuh jauh dan musuh dekat, karena mereka semua adalah bagian dari perang global yang sama.

Syaikh Ayman Zawahiri pasti ingin menyerang Amerika secara langsung, tetapi serangan tersebut hanyalah salah satu cara untuk melemahkan negara terkuat di dunia. Selain “memukul keras di jantung Amerika,” para jihadis juga akan “membuat Amerika berdarah-darah hingga mati secara ekonomi dan militer, sampai mereka meninggalkan tanah-tanah kami dengan membawa kekalahan, dengan izin Allah, seperti mereka pulang dari Vietnam, Aden, Irak dan Somalia.”

Syaikh Ayman Zawahiri merujuk ke Aden dan Somalia kemungkinan dimaksudkan untuk membangkitkan kembali gambaran serangan pertama Al Qaidah pada target Amerika di awal 1990-an. Sementara itu,  untuk membuat AS berdarah-darah “secara ekonomi dan militer” adalah dengan cara melancarkan berbagai pemberontakan yang dilakukan oleh berbagai kelompok jihadis.

Pandangan Syaikh Ayman Zawahiri tentang “bias Yahudi-Kristen” di Amerika

Pesan dari Syaikh Ayman Zawahiri ini mengandung banyak ingatan peristiwa dari masa lalu, terutama teori tentang “Zionis-Crusader” menurut al Qaidah.

Syaikh Ayman Zawahiri memulai pesannya dengan mengklaim, “Tujuh belas tahun telah berlalu sejak Bush meluncurkan perang Salibnya melawan Muslim, sebuah perang yang terkait dengan permusuhan historis yang ditujukan pada Islam, mulai dari peluncurannya hingga hari ini.”

Ada hukum sebab-akibat. Tujuh belas tahun yang lalu anggota al Qaidah membajak empat pesawat di dalam negeri AS. Invasi pimpinan AS di Afghanistan tidak akan terjadi jika bukan karena pembajakan 9/11, tindakan yang benar-benar menyebabkan Amerika “meluncurkan” perang.

Pemimpin Al Qaidah melanjutkan dengan berpendapat bahwa “tangan dari Tentara Salib Barat,” terutama di bawah kepemimpinan Amerika, adalah biang keladi “di balik semua konflik yang melibatkan umat Islam saat ini” baik secara langsung atau melalui “persetujuan diam-diam, pembiaran, kolusi, atau intrik.”

Syaikh Ayman Zawahiri mengklaim bahwa “permusuhan berlatar belakang agama” yang berasal dari prasangka terhadap “Tentara Salib-Zionis” adalah alasan utama yang benar-benar mendorong perang ini, di samping kepentingan ekonomi, politik atau kepentingan lain. Syaikh Ayman Zawahiri juga menganggap Barat mencoba “menyembunyikan sifat religius” dari konflik ini “dengan semua propaganda dan kebohongan.”

Dia menegaskan motivasi agama ini muncul meskipun “banyak orang di Barat telah meninggalkan agama Kristen dan menjadi sekuler secara terbuka, tanpa kepatuhan pada agama apa pun.” Zawahiri mengklaim bahwa keputusan Presiden Trump untuk memindahkan kedutaan Amerika dan “pengakuan Yerussalem sebagai ibukota abadi Israel … adalah artikulasi yang jelas dari motivasi Yahudi-Kristen ini.”

Al Qaidah membenarkan bahwa “permusuhan Amerika kepada Islam telah menyentuh hampir seluruh dunia Muslim” dan ada “di hampir semua negara-negara Muslim” di mana Amerika melakukan intervensi. Dia menyalahkan AS atas hilangnya momentum bagi para jihadis pada masa  Arab spring tahun 2011 lalu, dan memperingatkan umat Islam bahwa mereka harus menghindari “pemilihan umum” dan cara-cara Barat lainnya, karena hanya akan menyebabkan kerugian. Dia menunjuk pada cara-cara kompromi yang dilakukan oleh Islamis di Mesir dan Tunisia, dan berargumen bahwa hanya dengan melancarkan jihad umat Muslim bisa menghindari kegagalan mereka.

Dalam pandangan yang lebih luas, Syaikh Ayman Zawahiri menyalahkan Amerika atas berbagai konflik, termasuk beberapa konflik di mana AS tidak benar-benar terlibat. Dia menyebutkan perang, peristiwa atau konflik di: Kashmir, Pakistan, Burma, Afghanistan, Filipina (dari abad ke-20 dan seterusnya ), Chechnya, Bosnia (selama 1990-an), Irak, Suriah, Jazirah Arab, Mesir, Palestina, Maghreb Islam, Somalia dan Afrika Timur, dan Sudan. Syaikh Ayman Zawahiri juga menyalahkan AS karena mendukung Jenderal Khalifa Haftar di Libya. Syaikh Ayman Zawahiri menunjuk ke Iran, dan menuduh Iran telah bersekongkol dengan AS di Irak, Suriah, Afghanistan dan Yaman. Memang benar bahwa perang AS melawan Islamic State dan tindakan-tindakan lain telah membuka jalan bagi ekspansi Iran, terutama di Irak di mana Iran dan AS mengadakan aliansi de facto melawan pasukan Abu Bakar al-Baghdadi. Tetapi situasinya jauh lebih kompleks di Suriah dan Yaman, di mana keduanya terlibat dalam perang di berbagai sisi.

Puluhan tahun setelah Iran pertama kali menjadikan penulis Salman Rushdie sebagai target operasi, Syaikh Ayman Zawahiri menyebut Rushdie sebagai seorang pria yang telah “menghina Nabi besar Muhammad.” Syaikh Ayman Zawahiri bertanya dan menjawab pertanyaannya sendiri: Siapa yang “menyambutnya [Rushdie ] di Gedung Putih? Tak lain adalah Amerika.”

Kritik terhadap Islamic State

Syaikh Ayman Zawahiri menawarkan uraiannya sendiri tentang strategi Amerika untuk memerangi para jihadis, mengklaim itu adalah multi aspek, dan melibatkan pembentukan aliansi, proxy dan menabur perpecahan di barisan mujahidin, sebelum akhirnya melakukan “pukulan terakhir dengan penggunaan kekuatan udara.”

Syaikh Ayman Zawahiri ingin menghubungkan deskripsinya tentang strategi pertarungan perang Amerika dengan Islamic State, menyamakan keduanya di dalam uraian pidatonya.

Sang amir Al Qaidah mengungkapkan kritiknya dengan mengklaim bahwa Amerika “menutup mata terhadap gerakan-gerakan menyimpang dan membiarkan mereka berkembang dengan cara yang curang sehingga tenaga para Mujahidin terkuras habis dalam pertempuran yang seharusnya tidak terjadi. Syaikh Ayman Zawahiri menganggap Amerika sengaja membuat Mujahidin terlibat dengan konflik tanpa henti dengan gerakan menyimpang tersebut.”

Gerakan “menyimpang” yang dimaksud Syaikh Ayman Zawahiri jelas adalah Islamic State (ISIS). “Setelah membiarkan mereka bergerak untuk sementara waktu sehingga mereka dapat mendatangkan malapetaka di barisan gerakan Jihadi, Amerika akhirnya bergerak untuk menghancurkan gerakan-gerakan ini dengan penggunaan kekuatan udara yang kejam,” kata Syaikh Ayman Zawahiri. “Apa yang terjadi di Irak dan Suriah telah membuktikan strategi Amerika ini.”

Pada titik ini, Syaikh Ayman Zawahiri pada dasarnya menuduh Islamic State (ISIS) melayani rencana jahat Amerika.

“Oleh karena itu, setiap orang yang menabur perselisihan di barisan Mujahidin, berusaha untuk menghancurkan persatuan mereka dan membubarkan kebersamaan mereka, dan setiap orang yang membakar konflik internal dan perselisihan antara Mujahidin, dalam kenyataannya sama artinya dengan mendukung tujuan-tujuan Amerika,” Syaikh Ayman Zawahiri berkata. “Dengan melakukan hal itu, mereka menyelamatkan upaya besar Amerika, yang menelan biaya besar, kerugian nyawa dan keuangan, terlepas dari klaim atau keraguan yang dihembuskan oleh para pemantik perselisihan dan para pencari kekuasaan.”

Sulit untuk melewatkan kepahitan yang dirasakan oleh Syaikh Ayman Zawahiri ini, karena persaingan antara ISIS dengan Al-Qaidah telah menyebabkan kerusakan besar pada para pelaku jihad di Suriah. Tetapi “strategi” Amerika di Irak dan Suriah pada awalnya mengabaikan adanya kemungkinan sebuah kelompok seperti ISIS yang semakin berkuasa, yang akhirnya tumbang juga kekuasaannya.

Di bawah Presiden Obama, AS menarik diri dari Irak dengan dalih menciptakan “akhir yang bertanggung jawab” terhadap perang, meskipun pada kenyataannya hanya omong kosong. AS melakukan intervensi sekali lagi pada tahun 2014, untuk menghentikan ISIS. AS hanya melakukan serangan udara, yang jarang, terhadap Front al-Nusrah, cabang resmi Al-Qaidah di Suriah pada saat itu.

Oleh karena itu,  Syaikh Ayman Zawahiri sangat hati-hati dalam menceritakan kembali tentang perang di Irak dan Suriah sangat selektif.

Namun demikian, pemimpin al Qaidah tersebut menggunakan kerangka kesamaan dalam hal anti-Amerika untuk mendorong persatuan jihadis.

“Jika Umat mengutuk upaya memecah kebersamaan, menceraikan barisan, melanggar kewajiban, dan menumpahkan darah secara tidak sah, para pelaku kejahatan ini akan berpikir seribu kali sebelum melakukan itu,” kata Zawahiri. “Oleh karena itu, konsensus yang luas harus ditetapkan di semua segmen terhadap mereka yang melakukan kejahatan ini sehingga Ummah mampu menanggapi dengan persepsi yang benar terhadap rencana jahat mereka.”

Syaikh Ayman Zawahiri melangkah lebih jauh dengan menganggap tidak mungkin bekerja sama dengan AS dalam situasi apa pun, termasuk untuk melawan musuh-musuh al Qaidah seperti barisan Al Baghdadi. “Kita tidak boleh mencari bantuan dari Amerika atau membantu Amerika dalam memerangi kaum Muslim; bahkan dalam melawan ekstremis inovatif yang menyatakan takfir pada kami dan menganggap halal darah kami, dan melawan siapapun yang terpaksa kita perangi,” jelas Syaikh Ayman Zawahiri. Dia merujuk sindiran yang jelas kepada ISIS. “Ini karena kita harus mematuhi Allah terkati urusan mereka, bahkan jika mereka tidak menaati Allah tentang hubungannya dengan kita.”

Pesan dari Pemimpin Al Qaidah

Sejak pertengahan 2015, al Qaidah telah secara teratur merilis pesan dari Syaikh Ayman Zawahiri. As Sahab, media kelompok Al Qaidah, telah menyebarluaskan beberapa pesan dari pemimpin al Qaidah dalam dua bulan terakhir. Dimanapun Syaikh Ayman Zawahiri berada, dia masih dapat merekam dan sering menyebarkan nasihatnya. (RR).

Sumber: longwarjournal

 

 

Baca juga, ALIANSI AL-QAIDAH DAN TALIBAN MENYERET AMERIKA PADA “PERANG ABADI”