Amerika salah menduga, Al-Qaidah masih aktif dan eksis

Duniaekspress.com. (19/9/2018).Pada 11 September 2001, sembilan belas mujahidin kaderan syaikh Osama bin Laden mengubah jalannya sejarah dunia. AS masih beruntung karena Al-Qaidah belum melakukan serangan sebesar peristiwa 9/11 di Amerika Serikat dalam tujuh belas tahun setelah itu. Namun fakta itu seharusnya tidak mengaburkan kenyataan tentang Al-Qaidah dan jihad globalnya. Mujahidin Al-Qaidah tetap menjadi ancaman bagi AS dan sekutunya. Para pejuangnya bertempur di lebih banyak negara di dunia saat ini daripada sebelum peristiwa 9/11. Dan para pemimpinnya masih ingin menargetkan Amerika Serikat, beserta kepentingan dan sekutunya. Perang ini masih jauh dari selesai.

poto : Syaikh Osama bin Laden bersama Syaikh Aiman az-Zhawahir

Ada banyak alasan belum mampu dilakukan Al-Qaidah untuk kembali melakukan serangan dengan korban massal di AS: pertahanan Amerika menguat, kemampuan serangan taktis AS meningkat; Pejabat anti-terorisme dan intelijen AS, kadang-kadang dibantu oleh sekutu, telah memburu banyak pemikir Al-Qaidah di luar negeri; pejuang Al-Qaidah kurang bisa memanfaatkan peluang.

Alasan yang disebutkan tadi membuktikan bahwa ketika mereka menjadi sasaran yang jelas, sulit untuk melakukan operasi sebesar peledakan WTC pada tahun 2001. Ini adalah salah satu alasan bahwa pemimpin al-Qaidah mulai menyerukan serangan skala kecil yang dilakukan oleh individu dan maupun berskala besar yang mampu dilakukan oleh kaum muslimin.

Al-Qaidah telah menghadapi rintangan lain juga. Dalam perang dengan AS, kelompok itu kehilangan personel penting dalam manajemen. Yang paling penting, tentu saja, adalah meninggalnya syaikh Osama bin Laden pada Mei 2011, dan Sejumlah tokoh senior lainnya telah terbunuh atau tertangkap.

Hal ini telah meningkatkan hambatan logistik, terkadang mengganggu komunikasi dan rantai komando Al-Qaidah. Selain itu, kemunculan Islamic State (ISIS) pada tahun 2013 dan 2014 menciptakan tantangan terbesar bagi otoritas Al-Qaidah dalam gerakan jihadis global sejak didirikan pada tahun 1988.

Terlepas dari semua ini, al-Qaidah masih hidup aktif dan eksis yang sangat bergairah, dan masih banyak disalahpahami oleh AS. Pertimbangkan fakta mengejutkan ini: komunitas kontraterorisme masih belum merumuskan definisi umum atau pemahaman tentang organisasi Al-Qaidah. Fakta-fakta dasar masih diperdebatkan atau secara aktif ditolak.

Dengan menggunakan kerangka pikir tersebut, secara singkat meninjau keadaan Mujahidin al-Qaidah. Ketika melihat organisasi ini secara keseluruhan,  bahwa Al-Qaidah memiliki ribuan pejuang di seluruh dunia. Memang, al Qaeda melakukan jihad di lebih banyak negara hari ini daripada pada sebelum peristiwa 9/11. Loyalis mereka bertempur di mana-mana dari Afrika Barat, melalui Afrika Utara dan Timur, ke jantung Timur Tengah dan Asia Selatan. Beberapa ahli bersusahpayah memotong rantai hubungan antar titik dalam jaringan global Al-Qaidah, jadi mari kita hubungkan kembali.

Al-Qaidah menganggap Syaikh Osama bin Laden sebagai “imam pembaharu” – sebuah kehormatan yang dimaksudkan untuk menekankan perannya yang revolusioner dalam menyebarkan ideologi jihadis. Lihatlah ke seluruh dunia hari ini, dan Anda lihat kebenaran julukan tersebut.

Kepemimpinan senior Al-Qaidah

Pada 2011, Syaikh Ayman al Zawahiri menggantikan Syaikh Osama bin Laden sebagai pemimpin Al-Qaidah. Itu adalah langkah alamiah, karena Syaikh Zawahiri telah bekerja sama dengan Syaikh Osama bin Laden sejak tahun 1980-an. Dan organisasi asli Syaikh Ayman Zawahiri sendiri, Jihad Islam Mesir (Egyptian Islamic Jihad), memberikan dukungan kepada Syaikh Osama bin Laden dengan mengerahkan personil penting dan bantuan logistik di awal 1990-an. Para anggota EIJ memainkan peran penting dalam pengeboman Kedutaan Besar AS tahun 1998, yang merupakan serangan Al-Qaidah yang paling dahsyat sebelum 9/11.

Para veteran EIJ terus memegang beberapa peran paling penting di dalam Al-Qaidah hingga hari ini. Misalnya, PBB baru-baru ini melaporkan bahwa Saif al-Adel dan Abdullah Ahmed Abdullah, yang keduanya masih dicari karena peran mereka dalam pengeboman kedutaan, membantu Syaikh Ayman Zawahiri dari dalam Iran.

Keduanya ditahan oleh Iran selama bertahun-tahun setelah serangan 9/11, tetapi mereka melanjutkan kegiatan mereka pada tahun 2015, setelah al-Qaidah dan Iran dilaporkan menyetujui pertukaran tawanan. Menurut laporan PBB, para pemimpin al-Qaidah yang ditahan di Republik Islam Iran ini telah tumbuh lebih menonjol, bekerja dengan Syaikh Ayman Zawahiri dan memproyeksikan otoritasnya secara lebih efektif daripada sebelumnya.

Ini seharusnya tidak mengejutkan. Departemen Keuangan dan Departemen Luar Negeri AS pada masa Obama mengungkapkan pada tahun 2011 bahwa jaringan Al-Qaidah yang berbasis di Iran berfungsi sebagai “saluran utama” organisasi tersebut melalui “mengalirkan uang, fasilitator dan pejuang asing dari seluruh Timur Tengah ke Asia Selatan.”

Menurut AS, saluran ini beroperasi di bawah “kesepakatan” antara al-Qaidah dan pemerintah Iran. Pada tahun-tahun sejak pemerintahan Obama pertama kali mengekspos “kesepakatan rahasia” ini, pemerintah AS telah mengungkapkan rincian tambahan tentang pemimpin al-Qaidah lainnya yang beroperasi di Iran, termasuk tokoh “generasi baru” yang dipersiapkan untuk menggantikan rekan-rekan mereka yang gugur.

Syaikh Hamza bin Laden, pewaris ideologis dan biologis Syaikh Osama, telah menjadi sosok yang disegani dalam barisan Mujahidin Al-Qaidah secara global. Kelompok Mujahidin Al-Qaidah memang sering “memasarkan” nama bin Laden, tetapi ini bukan hanya soal merk belaka. Ada bukti bahwa penerus syaikh Osama bin Laden memainkan peran kepemimpinan dalam organisasi. Ia juga telah beroperasi di luar Iran.

Al-Qaidah terus memiliki pengaruh yang signifikan di Afghanistan dan Pakistan, dan beberapa pemimpin senior mereka beroperasi di kedua negara tersebut.

Salah satu alasan utama Mujahidin Al-Qaidah telah mampu mengatasi badai kontraterorisme yang dipimpin Amerika di Asia Selatan adalah hubungannya dengan Taliban. Ini mungkin aspek yang paling diremehkan dari operasi al-Qaidah. Mengikuti jejakSyaikh Osama bin Laden, Syaikh Ayman Zawahiri telah bersumpah setia kepada pemimpin Taliban secara total, yaitu kepada seorang ideolog yang dikenal sebagai Hibatullah Akhundzada. Dan tujuan utama Al-Qaidah di Asia Selatan adalah untuk membangkitkan kembali Daulah/Imarah Islam Taliban di Afghanistan, yang menurut Syaikh Ayman Zawahiri adalah “embrio” dari tegaknya kembali khalifah Islamiyah di zaman ini.

Meskipun ada hubungan yang baik, cabang-cabang regional Al-Qaidah akhirnya berbai’at kesetiaan mereka kepada Syaikh Hibatullah Akhundzada juga. Setiap cabang regional dipimpin oleh seorang amir yang telah bersumpah setia kepada Syaikh Ayman Zawahiri. Kesetiaan mereka secara teknis mengikuti Syaikh Ayman Zawahiri hingga sampai ke amir mujahidin Imarah Islam afghanistan Syaikh Hibatullah Akhundzada. Meskipun ada sedikit bukti bahwa hierarki Taliban memainkan peran dalam mengelola keberadaan Al-Qaidah di luar Asia Selatan, tetapi Al-Qaidah membuat skema yang menghubungkan Afghanistan dengan berbagai konflik di seluruh dunia, ketika para Mujahidin dibawah komando Syaikh Ayman Zawahiri berusaha membantu kaum muslimin dalam membangun imarah Islam di beberapa negara.

Al Qaidah di Sub-Benua India (AQIS)

Pada September 2014, Syaikh Ayman Zawahiri mengumumkan pembentukan Al-Qaidah di Sub-Benua India (AQIS), yang menyatukan beberapa kelompok yang terkait dengan al-Qaidah. AQIS dipimpin oleh Syakh Asim Umar, yang secara terbuka menyatakan sumpah kesetiaan pada Syaikh Ayman Zawahiri. Salah satu plot pertama AQIS adalah upaya berani untuk membajak kapal perang Pakistan dan menembakkan senjatanya ke kapal Amerika dan India.

Tujuan utama Mujahidin AQIS adalah membantu Taliban merebut kembali Afghanistan dan mengusir para penjajah dari tanah tersebut. Pejuang AQIS sangat melekat dalam pemberontakan yang dipimpin Taliban, meskipun peran mereka dalam Perang Afghanistan telah diremehkan. Misalnya, pada Oktober 2015, AS dan pasukan Afghanistan menyerbu dua kamp pelatihan di distrik Shorabak selatan. Menurut militer AS, salah satu dari keduanya berukuran sekitar 30 mil persegi – menjadikannya salah satu kamp pelatihan Al-Qaidah terbesar di Afghanistan pasca-2001.

AQIS berusaha memperkuat organisasi Al-Qaidah di seluruh Asia Selatan, bekerja dengan kelompok-kelompok dari Bangladesh, India, Kashmir, Pakistan, dan kemungkinan juga dari negara-negara lain. Taliban Pakistan bersekutu erat dengan al-Qaidah.

Al Qaidah di Semenanjung Arab (AQAP)

Di luar Asia Selatan, cabang terkuat Al-Qaidah adalah AQAP. Mantan ajudan Syakh Osama Bin Laden membentuk AQAP saat tahun 2009. Hari ini, AQAP dipimpin oleh Syaikh Qasim al-Raymi, seorang veteran al-Qaidah yang telah bersumpah setia kepada Syaikh Ayman Zawahiri. Syaikh Raymi dikelilingi oleh veteran al-Qaidah lainnya.

AQAP memperoleh perhatian global pada tahun 2009 dan 2010 dengan upaya mereka yang gagal untuk melakukan serangan di AS. AQAP secara bersamaan mulai mempromosikan gagasan “jihad individu,” sebuah upaya yang hanya memiliki sedikit keberhasilan. Beberapa serangan di AS dapat dihubungkan dengan rencana ini. Pembantaian Januari 2015 di kantor Charlie Hebdo di Paris juga dilakukan AQAP.

AQAP bukan hanya cabang regional organisasi al-Qaidah, tetapi juga telah menempatkan tokoh manajemen senior yang bertanggung jawab untuk membuat keputusan yang mempengaruhi upaya global para jihadis. Sayap media propagandanya juga melayani operasi global al-Qaidah.

AQAP telah mengambil alih Yaman sebanyak dua kali, karena berusaha membangun negara Islam di negara tersebut. Namun, Syaikh Raymi dan para mujahidin AQAP saat ini terlibat dalam perang multi-sisi di Yaman, yang mengadu sebuah koalisi yang dipimpin Arab melawan Houthis yang didukung Iran.

Sementara AQAP kadang-kadang melakukan bentrok dengan koalisi Arab, tetapi UEA dan Arab Saudi belum melakukan serangan darat secara langsung kepada AQAP di lapangan. AQAP sering berada di pihak yang sama dengan koalisi Arab, tetapi AQAP juga menuduh Saudi membantu Amerika dalam kampanye udara yang ditargetkan kepada kelompoknya.

Menurut laporan PBB baru-baru ini, Mujahidin AQAP mungkin memiliki 6.000 hingga 7.000 pejuang, meskipun sulit untuk memperkirakan kekuatan kelompok tersebut karena berbagai alasan.

 

As Shabaab di Somalia

Berbasis di Somalia, kelompok As Shabaab adalah cabang al-Qaidah di Afrika Timur. Tidak hanya bertanggung jawab untuk melancarkan pemberontakan yang produktif di Somalia, tetapi juga telah melancarkan operasi di seluruh wilayah regional Afrika Timur. AS mendukung pemerintah Somalia dalam usahanya untuk menghalangi Mujahidin As Shabaab.

Berkas-berkas yang ditemukan di Abbottabad, Pakistan menunjukkan bahwa Syaikh Osama bin Laden menganggap As Shabaab sebagai bagian dari organisasinya, paling lambat pada tahun 2010. Faktanya adalah As Shabaab sudah terikat kuat dengan jaringan al-Qaidah sejak tahun-tahun sebelumnya.

Pada pertengahan 2010, Syaikh OSama Bin Laden memerintahkan pemimpin As Shabaab pada saat itu untuk menjaga kesetiaannya secara rahasia, karena Syaikh Osama Bin Laden berpikir bahwa pengumuman ke publik akan semakin memperumit misi dan misi As Shabaab. Beberapa pengamat masih belum mengakui hal ini, dan dengan salah mengatakan bahwa Syaikh Osama bin Laden tidak mengakui Shabaab ke dalam bagian dari Al Qaidah. Tetapi ini bukan apa yang dikatakan oleh pendiri Al-Qaidah. Syaikh osama Bin Laden tidak ingin mengumumkan merger resmi mereka kepada publik.

Pada awal 2012, berbulan-bulan setelah meninggalnya Syaikh Osama bin Laden, Shabaab dan pimpinan al-Qaidah mengumumkan persatuan mereka. Hari ini kelompok ini dipimpin oleh Abu Ubaydah Ahmad Umar – seorang pria yang tidak menyembunyikan kesetiaannya kepada Syaikh Ayman Zawahiri dan Al-Qaidah.

Al Qaidah in the Islamic Maghrib (AQIM)

AQIM mengumumkan secara terbuka tentang persatuannya dengan Al-Qaidah pada tahun 2006. Dan data-data yang ditemukan dalam arsip pribadi Syaikh Osama bin Laden bahwa AQIM secara teratur berkomunikasi dengan pimpinan senior Al-Qaidah di Asia Selatan pada tahun-tahun sesudahnya. AQIM tumbuh dari kelompok jihadis yang ada, yang menentang pemerintah Aljazair. Mereka dipimpin oleh Abu Musab Abdul Wadoud (a.k.a. Abdelmalek Droukdel), yang telah bersumpah setia kepada Syaikh Ayman Zawahiri.

AQIM beroperasi di Afrika Utara dan Barat. Seringkali sulit mengukur ruang lingkup operasinya, karena para pemimpin AQIM telah memutuskan untuk menyembunyikan peran mereka di berbagai kelompok di garis depan. Strategi ini telah menyebabkan kebingungan di Barat. Misalnya, AQIM dengan jelas mendukung Ansar al Sharia, salah satu dari beberapa kelompok al-Qaidah atau yang terkait dengan al-Qaidah yang bertanggung jawab atas serangan 11 September 2012 di Benghazi. Namun pemerintah AS awalnya enggan mengakui hubungan Ansar al Sharia dengan AQIM. Organisasi lain di Benghazi, Derna dan tempat lain di Libya telah terikat dengan AQIM. Dan AQIM memiliki “lengan” di Tunisia yang bertanggung jawab untuk melakukan serangan.

Pada tahun 2012, AQIM dan sekutu jihad lokalnya mengambil alih sebagian besar Mali. Niat mereka adalah membangun Imarah Islam, atau negara, yang suatu hari nanti bisa menjadi bagian dari kekhalifahan ISlamiyah bersama Al-Qaidah. Mereka kehilangan cengkeraman mereka di negara itu setelah Prancis menginvasi pada awal 2013. Namun AQIM terus beroperasi di Afrika Utara dan Barat.

 

“Jamaah untuk Membela Islam dan Muslim” (Jama’at Nusrat al-Islam wal-Muslimin, atau JNIM)

JNIM didirikan pada Maret 2017, dengan cara menyatukan beberapa kelompok Al-Qaidah yang telah melakukan jihad di Mali dan Afrika Barat. JNIM dipimpin oleh Syaikh Iyad Ag Ghaly, seorang jihadis dari suku Tuareg yang telah bersumpah setia kepada Syaikh Wadoud dan Syaikh Ayman Zawahiri, serta amir Taliban Syaikh Akhundzada.

Ghaly sebelumnya memimpin sebuah organisasi yang dikenal sebagai Ansar Dine, yang merupakan bagian penting dari rencana AQIM untuk membangun sebuah negara Islam di Mali. Setelah pendirian JNIM, Ansar Dine dilebur ke dalamnya.

Saat ini, pasukan Ghaly sangat produktif, menargetkan pasukan keamanan lokal dan Prancis di Mali. JNIM juga telah membangun jaringan regional yang membentang ke negara-negara sekitarnya.

Al-Qaidah di Suriah

Hingga 2016, kelompok yang dikenal sebagai Jabhat al-Nusrah adalah cabang resmi al-Qaidah di Bumi Syam. Pemimpinnya, Syaikh Abu Muhammad al-Jaulani, secara terbuka menyatakan sumpah setia kepada Syaikh Ayman Zawahiri dari 2013 hingga 2016. Pejabat AS menyebutnya sebagai lengan terbesar Al-Qaidah, dengan sekitar 10.000 pejuang, mungkin lebih.

Namun pada Juli 2016, Syaikh Jaulani mengumumkan bahwa kelompoknya sedang melakukan rebranding. Pada bulan Januari 2017, pasukan  Syaikh Jaulani bergabung dengan beberapa kelompok lain untuk membentuk Hay’at Tahrir al-Sham (HTS), sebuah organisasi yang seolah-olah independen. Dalam bulan-bulan berikutnya, muncul kontroversi mengenai pembentukan HTS dan kepemimpinan Syaikh Jaulani, yang menyebabkan sedikit pertikaian.

Beberapa faksi menyatakan putus hubungan dari HTS. Sebuah kelompok baru, yang diduga terkait dengan Al-Qaidah didirikan awal tahun ini. Menurut laporan PBB baru-baru ini, para pemimpin Al-Qaidah yang berbasis di Iran bertanggung jawab atas pendirian kelompok ini, karena mereka “mempengaruhi peristiwa di Suriah,  dan menyebabkan terbentuknya, dan tergabungnya berbagai kelompok yang berhubungan dengan Al-Qaidah di Idlib.”

Namun, PBB melaporkan bahwa “HTS dan komponennya masih mempertahankan kontak dengan pimpinan Al-Qaidah.” PBB menambahkan bahwa HTS baru-baru ini “diperkuat oleh kedatangan ahli militer dan bahan peledak dari Afghanistan.”

PBB dan pemerintah AS masih menganggap HTS sebagai “afiliasi” al Qaidah. Dan Turki, yang telah menawarkan perlindungan untuk HTS di Idlib, telah menetapkan HTS sebagai organisasi teroris juga, menambah keputusan sebelumnya tentang kelompok Jabhah Nusrah dan memasukkan HTS sebagai nama aliasnya.

Meskipun ada gangguan dalam rantai komando Al-Qaidah di Suriah, ada kemungkinan bahwa Al-Qaidah masih mempertahankan kader loyalis yang kuat di sana. Meskipun hubungan dengan HTS agak suram (HTS mengklaim bahwa mereka bukan lagi bagian dari Al-Qaidah), ada beberapa aktor di dalam Suriah yang merupakan bagian dari jaringan Al-Qaidah dan setia kepada Syaikh Ayman Zawahiri. Organisasi jihadis terkemuka lainnya di Suriah, Partai Islam Turkistan, juga merupakan bagian dari jaringan Al-Qaidah.

Masa depan kehadiran al-Qaidah di Suriah akan ditentukan dalam beberapa minggu dan bulan mendatang. Rezim Assad, Iran dan Rusia sedang mengincar provinsi Idlib untuk kemungkinan invasi besar-besaran. HTS adalah aktor terkuat di Idlib, dan jika para jihadis kehilangan tempat berlindung mereka, atau berjuang untuk mempertahankannya, otoritas Syaikh Jaulani bisa semakin dilemahkan. Bagaimanapun, Al-Qaidah tidak mati di Suriah, apa pun kebenaran sebenarnya tentang HTS.

Al-Qaidah Masih Hidup

AS dan sekutu-sekutunya gagal mengalahkan Al-Qaidah. Organisasi tersebut telah bertahan dari berbagai tantangan. Islamic State yang dipimpin Abu Bakr al-Baghdadi bukanlah satu-satunya organisasi jihadis Sunni yang telah berjuang untuk menguasai wilayah. Dari Afganistan hingga Afrika Barat, pendukung al-Qaidah berusaha membangun kekhalifahan mereka sendiri. Mereka menganggap itu proyek jangka panjang, dengan banyak rintangan di depan mereka.

Karena Al-Qaidah telah memperluas jejak geografisnya, mereka telah menempatkan sebagian besar sumber dayanya dalam berbagai pemberontakan dan perang. Kepemimpinan Al-Qaidah juga telah menurunkan prioritas serangan di Barat. Grup tersebut belum mencoba melakukan serangan dengan korban massal di AS atau Eropa selama bertahun-tahun.

Tapi itu bisa berubah kapan saja. Amerika dan Eropa perlu memiliki pertahanan yang tangguh untuk menghentikan mereka. (RR)

Sumber : longwarjournal

Baca juga, ALIANSI AL-QAIDAH DAN TALIBAN MENYERET AMERIKA PADA “PERANG ABADI”