Berperasangka Buruk Dengan Status Keimanan Seseorang

Duniaekspress.com (19/9/2018)- Di akhir zaman ini keburukan, kejahatan, kemunafikan, kekufuran meningkat lebih banyak dari masa-masa sebelumnya. Hal ini adalah pembenaran dari apa yang disabdakan Nabi. Beliau menyebutkan tidak akan datang suatu hari maka hari selanjutnya lebih buruk dari hari sebelumnya. Ini artinya semakin bertambah usia dunia maka makin bertambah pula kejahatan dan bentuknya; begitu pula dalam pada kekufuran, kemusyrikan, kemunafikan, dan lainnya.

Bahkan, seluruh kekufuran dan kemaksiatan di zaman para Nabi ada dan berkumpul di zaman ini. Dosa kaum Nabi Luth ada di zaman, begitu pula dosa-dosa kaum dari para Nabi lainnya. Ini menambah rumitnya permasalahan di akhir zaman ini. Sehingga, kemanapun kita menginjakkan kaki maka di temapat itu ada kemaksiatan dan kekufuran. Bahkan para pengususng kemaksiatan ini lebih kuat dan lebih “galak” dari pada pengusung kebenaran.

Dosa yang berkembang pesat adalah kekufuran dan kesyirikan

Di antara dosa yang berkembang pesat adalah kekufuran dan kesyirikan. Karena kekufuran berkembang pesat dan banyak orang yang terjebak dalam dosa kekufuran hal ini menimbulkan pertanyaan besar, “apakah pelaku kekufuran tetap dihukumi muslim hakiki atau sudah keluar dari agama Allah? Lalu dalam kehidupan sehari-hari, jika ditemui muslim-muslim yang biasa meninggalkan shalat misalnya atau terjerat dalam dosa kufur apakah kita memberlakukannnya sebagai seorang kafir sejati?

Dalam hal ini yang perlu ditetapkan adalah hukum asal mereka: bahwa mereka asalnya adalah muslim dan wajib diyakini kemusliman mereka hingga ada yang membatalkannya dengan hujjah yang nyata serta terpenuhnya seluruh syarat-syarat yang ditetapkan para ulama. Disinilah letak kaedah:

اَلْيَقِيْنُ لَا يَزُوْلُ بِالشَّك

“Sesuatu yang meyakinkan tidak dapat hilang hanya dengan keraguan“

Hukum Asal Seorang Muslim Adalah Muslim

Maka, hukum asal seorang muslim adalah muslim, karena secara lahiriyah dia adalah Muslim, karenanya wajib memperilakukannya layaknya seorang muslim. Selama seseorang menampakkan keislaman maka kita tetap memperlakukan dia sebagai muslim, hal ini sesuai dengan pendapat Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam Majmu’ Fatawã: 12/468:

“Barangsiapa yang keIslamannya telah dibuktikan dengan yakin, maka keislamannya tidak akan hilang darinya hanya karena sebuah keraguan. Bahkan tidak hilang kecuali setelah hujjah ditegakkan kepadanya dan syubhat dihilangkan darinya. Bila hal itu sudah jelas, maka ketahuilah bahwa permasalahan menghukumi kafir dan menvonis fasiq adalah tergolong permasalah nama-nama dan hukum-hukum yang berkaitan dengan janji dan ancaman di akhirat, dan juga berkaitan dengan loyalitas, permusuhan, pembunuhan, keterjagaan, dan hal lainnya di dunia. Karena Allah telah mewajibkan surga bagi orang-orang yang beriman dan mengharamkan surga bagi orang-orang kafir, dan ini adalah salah satu dari hukum universal yang terus berlaku sampai kapanpun dan dimanapun.”

Seorang muslim yang diketahui kemuslimannya dengan pasti tidak boleh divonis keluar dari kemuslimannya kecuali dengan sesuatu yang pasti pula, bukan dengan sesuatu yang disangkakan apalagi dengan sesuatu yang dituduhkan. Dosa kekufuran yang dituduhkan kepadanya tidak akan menyebabkan ia serta merta kelaur dari kemuslimannya hingga ditegakkan kepadanya hujjah yang dengan hujjah tersebut semua syarat terpenuhi dan penghalang hilang darinya. Itupun, dengan catatan, bahwa seorang muslim harus mengedepankan husnuzan dan berupaya memberikan berbagai uzur kepada pelaku dosa kekufuran.

Mullã ‘Alî Al Qãrî –semoga Allah merahmatinya- berkata: “Para ulama kita telah berkata: apabila ada 99 pendapat yang mengkafirkan seorang muslim, dan satu pendapat yang menyatakan bahwa si muslim tadi tetap Islam, maka mufti dan qadhi harus berpegang pada satu pendapat tadi, pernyataan ini berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berikut ini:

ادْرَءُوا الْحُدُودَ عَنْ الْمُسْلِمِينَ مَا اسْتَطَعْتُمْ فَإِنْ كَانَ لَهُ مَخْرَجٌ فَخَلُّوا سَبِيلَهُ فَإِنَّ الْإِمَامَ أَنْ يُخْطِئَ فِي الْعَفْوِ خَيْرٌ مِنْ أَنْ يُخْطِئَ فِي الْعُقُوبَةِ

“Hindarilah hukuman had dari kaum muslimin semampu kalian, jika ia mempunyai jalan keluar maka lepaskanlah ia. Karena sesungguhnya seorang imam salah dalam memaafkan lebih baik daripada salah dalam menjatuhi hukuman.” (HR. Tirmidzî dan lainnya. hadis ini dishahihkan oleh Al Hãkim)..”

Termasuk ke dalam pembahasan kaedah ini adalah kekufuran-kekufuran yang diperselisihkan oleh para ulama dan status pelakunya. Maka sebagai kehati-hatian dalam agama ini adalah bersikat tawaqquf (berdiam diri dari vonis) dan tidak memberanikan diri dalam menvonis selama dalam masalah ini tidak ada dalil yang jelas dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Adapun sangkaan yang disangkakan kepada sesama muslim bahwa kaum muslimin hari ini telah jatuh ke dalam dosa kekufuran dan status mereka menjadi kafir adalah sangkaan yang harus dihilangkan. Hal ini selaras dengan firman Allah Ta’ãlã:

وَمَا يَتَّبِعُ أَكْثَرُهُمْ إِلَّا ظَنًّا إِنَّ الظَّنَّ لَا يُغْنِي مِنَ الْحَقِّ شَيْئًا

“Dan kebanyakan mereka tidak mengikuti kecuali persangkaan saja. Sesungguhnya persangkaan itu tidak sedikit pun berguna untuk mencapai kebenaran.” (Q.S. Yûnus/10: 36).

Sangkaan itu tidak dapat dijadikan patokan apalagi hukum. Statusnya tetap hanya sekedar sangkaan; yang jika dipresentasikan maka hanya sampai pada angka 51 – 99 %, tidak sampai pada angka 100%. Karenanya dalam ayat lain Allah memerintahkan untuk menjauh sangkaan karena sangkaan itu adalah dosa. Allah Ta’ãlã berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ

“Hai orang-orang yang beriman jauhilah kebanyakan dari persangkaan, sesungguhnya kebanyakan dari persangkaan itu adalah dosa.” (Q.S. Al Hujurat/49: 12).

******

Perlu dicatat, keumuman kaum muslimin yang jatuh ke dalam dosa kekufuran dan kesyirikan adalah orang-orang yang diliputi kebodohan; sehingga jika mereka mengetahui bahwa apa yang mereka lakukan ternyata adalah kesyirikan maka tentulah hati mereka akan “bergetar” dan meninggalkannya. Karena sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang tidak mengetahui kalau perbuatan mereka memiliki konsekuensi jatuh kepada dosa kesyirikan.

Padahal kebodohan yang tersebar di tengah-tengah umat adalah sesuatu yang sudah digambarkan Nabi seribu empat ratus tahun sebelumnya. Diriwayatkan dari Anas bin Mãlik, beliau berkata, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ أَنْ يُرْفَعَ الْعِلْمُ وَيَثْبُتَ الْجَهْلُ.

“Di antara tanda-tanda Kiamat adalah hilangnya ilmu dan tersebarnya kebodohan.” (HR. Bukhãrî).

Maka, dari uraian demi uraian di atas, penulis justru menanyakan, apa sebenarnya motif dari berkembangnya paham takfiri pada hari ini ? Sadar atau tidak disadari, perkembangan gerakan takfiri seperti sesuatu yang dibiarkan. Mungkin berkembangnya paham takfiri di negeri ini dan di negeri-negeri kaum muslimin yang lain memiliki hubungan dengan apa yang terjadi di Al Jazairi dahulu kala, sebagaimana yang dijelaskan Syaikh Abû Mus’ab As Sûrî :

اَكْبَرُ الدُّرُوْسِ وَخُلاَصَةُ العِبْرِ أَنَّ اِلْصَقَ تُحْمَةِ التَّكْفِيْرِ وِالدَمَوِيَةِ وَالْإِجْرَامِ وَالْجَهْلِ….. بِالِجهَادِيَةِ اليَوْم هِيَ وَسِيْلَةُ الحُكُوْمَاتِ الطَّاغُوْتِيَةِ وَأَعْوَانِهِ المُنَافِقِيْنَ وَمَنْ وَرَاءَهَا مِنْ قَوَي الْكُفْرِ وَالْاِسْتِعْمَارِ. وَذَلِكَ مِنْ أَجْلِ عَزْلِهِم عَنْ شُعُوْبِهِم وَآمَّتِهِم . سَعْيًا لِإِبْعَادِ الأُمَّةِ عَنِ المَعْرَكَةِ هَزِيَمتُهُم. وَتَرَكَ الأُمَّةَ الإِسْلاَمِيَةَ عَزلاَء مِن أَي قُدْرَة عَلَي المُقَاوَمَة الحَمَلاَت الصَلِيْبِيَة اليَهُوْدِيَة القَائِمَة

Syaikh Abû Mush’ab As Sûrî berkata: “Pelajaran terbesar dan ringkasan ibrah yang dapat di ambil dari pemberian stempel “takfir”, “haus darah”, “penjahat” dan “bodoh” kepada aktivis jihad hari ini merupakan sarana untuk memisahkan mereka dari rakyat, dan menjaukan ummat dari jihad. Sehingga pemerintahan Thagut, kaum munafiqin, pasukan kafir dan penjajah yang berada di belakangnya dapat mengalahkan ummat Islam yang telah terpisah dari kekuatan yang semula disusun untuk melakukan perlawanan terhadap perang salib yahudi yang sudah berjalan. (Mukhtashar Syahãdatî ‘Alal Jihãdi Fîl Jazãirî, Abû Mush’ab As Sûrî, hal. 73). [Ayah Shalih]

Baca Juga:

HILANGNYA ETIKA BEDA PENDAPAT, MENANDAKAN KEDUNGUANNYA

DASAR ARGUMENTASI BERLAKUNYA UDZUR DENGAN KEBODOHAN DALAM PERKARA SYIRIK