Tragedi Asyura; Hari Pembantaian Syiah Terhadap Keluarga Nabi

Oleh :

Dian Hardiana,M.Pd.I & Team

Lembaga Kajian Harakah Hadamah PP Pemuda Persis

 

PENDAHULUAN

‘Asyura sebagaimana dalam buku-buku syi’ah adalah hari kesepuluh dibulan Muharram yang diperingati oleh mereka sebagai hari berkabung atas kematian Husein bin Ali r.a..

Bentuk memperingati itu biasanya dengan ceramah, membacakan bacaan tertentu yang ditujukan kepada Husein sambil menepuk dada, bahkan ada juga diluar negeri yang dilakukan sambil memukul-mukul kepala dan badannya dengan benda tajam, namun sekurang-kurangnya dilakukan sambil memperlihatkan kesedihan dan duka seakan-akan hari karbala seperti terjadi pada saat diperingati dalam acaran asyura tersebut, dan itu mereka lakukan berdasarkan hadits mereka sebagai berikut : Dari Ahmad Al Hamdani dari Ali bin Al Hasan bin Fadhal dari bapaknya dari abu al hasan ar ridho AS berkata : “Barangsiapa yang meninggalkan usaha untuk memenuhi kebutuhannya pada hari ‘Asyura, maka Allah akan memenuhi kebutuhan-kebutuhan dunia dan akhiratnya dan barangsiapa yang hari ‘Asyura-nya adalah hari musibah, kesedihan, dan tangisannya, maka Allah akan menetapkan hari kiamatnya adalah hari kebahagiaan dan kesenangan, dan matanya akan tentram bersama kami di surga.

Dan barangsiapa yang menamai hari ‘Asyura-nya hari keberkahan dan menyimpan di rumahnya sesuatu, maka Allah tidak memberkati apa yang dia simpan dan akan dikumpukan pada hari kiamat bersama Yazid dan Ubaidillah bin Ziyad, Umar bin Sa’ad, semua Allah melaknat mereka sampai ke neraka paling dasar. (Biharul Anwar, Jilid 101, Bab ke-14) Dalam kitab Tahdzib al–Ahkam karya Abu Ja’far ath –Thusy (jilid V, hal 372) disebutkan: Dari Zaid asy-Syahham, dari Abu Abdillah (Husein) A.S. pada hari Asyura sedang dia mengetahui hak-haknya, seakan-akan dia telah menziarahi Allah di Arsy-Nya.” Syiah menganggap bahwa melukai diri, melakukan niyahah, berpakaian hitam, adalah suatu ibadah mulia. Itulah yang didapati pada mereka di hari Asyura (10 Muharram).

Dalam kitab Syi’ah sendiri disebutkan,“Sesungguhnya menampar, memainkan pisau ke badan, dan mengenakan pakaian hitam dihari Asyura juga bentuk niyahah bersedih hati saat itu merupakan diantara bentuk ibadah –pendekatan diri- dalam rangka mengenang Husain. Bahkan amalan seperti ini termasuk amalan terpuji.” (Lihat: Fatawa Muhammad Kasyif Al Ghitho war Ruhaani wat Tibrizy wa Ghoirihim min Maroji’il Imamiyah). Di karbala banyak perkumpulan bela sungkawa; 6 perkumpulan bela sungkawa, mereka dari awal sampai 9 Muharam pagi mengadakan acara ‘aza (duka cita). 5 perkumpulan pada sore harinya. 25 perkumpulan, dari awal sampai 11 Muharram. 57 perkumpulan ditambah semua perkumpulan tersebut pada malam asyura, mereka mengadakan acara ‘aza. 31 perkumpulan pada hari Asyura. Jumlah keseluruhan ada 124 perkumpulan ‘aza di Karbala. (Abbas Rais Kermani,Kecuali Ali,Terbitan Daftare Tablighat-Iran,diterbitkan oleh Penerbit Al-Huda.hlm.352.)

 

PEMBUNUH HUSEIN BIN ALI ADALAH SYI’AH

Namun ternyata dibalik prilaku mereka, ada kenyataan yang selama ini mereka tutup-tutupi dengan acara itu, yaitu bahwa PEMBUNUH HUSEIN BIN ALI TERNYATA ADALAH SYIAH, dan itu terbukti dari riwayat-riwayat yang bersumber dari Ahlul Bait sendiri, yaitu sebagai berikut : Imam Husain A.S. berkat dalam mendoakan para pengikutnya ,”Ya Allah, jika engkau memberi nikmat kepada mereka, maka cerai beraikanlah mereka sejadi-jadinya, jadikanlah mereka menempuh jalan berbeda beda, janganlah engkau meridhoi kemimpinan meraka untuk selamanya.karena mereka menyeru untuk menolong kami kemudian mereka memusuhi kami dan membunuh kami .”(Al-Irsyad Lil-Mufid,karya Al-Mufid hal 214).

Suatu hari dia berkhutbah kepada mereka dan mendoakan meraka, dari ucapannya adalah: “Tetapi kamu sekalian segera membaiat kami bagaikan burung biba,berterbangan bagaikan terbangnya kupu-kupu,kemudian kamu melanggarnya. Sungguh bodoh, jauh dari kebenaran dan hancur thagut ummat ini. Kelompok sempalan dan pelempar Al kitab. Kemudian kamu sekalian tidak memberi pertolongan kepada kami serta membunuh kami. Ingat sesungguhnya laknat Allah di timpakan atas orang orang yang dzolim.”(Al-ihtijaj,2/24) [1] Menurut Al Musawi, teks ini menjelaskan kepada kita siapa sebenarnya yang membunuh husain, yaitu pengikutnya sendiri dari orang-orang kufah, atau kakek kami. Maka mengapa mereka melemparkan tanggung jawab kepada ahlu sunnah dalam membunuh Husein A.S. Oleh karena itu, Sayid Muhsin al-Amin berkata, “Husein membaiat dua puluh ribu penduduk kufah lalu mereka semua melanggar sumpah tersebut mereka keluar untuk menentangnya padahal baiat masih terikat dileher-leher mereka, lalu mereka membunuhnya.” (Ayanu Syi’ah, bagian pertama, hal 54)

 

KECAMAN AHLUL BAIT KEPADA SYI’AH YG TELAH MEMBUNUH HUSEIN

Hasan a.s berkata, “Demi Allah, saya melihat Mu’awiyah lebih baik bagiku dari pada mereka. Mereka mengaku sebagai pengikutku, namun mereka berusaha membunuhku dan merampas hartaku. Demi Allah, untuk mengambil dari Mu’awiyah apa yang dapat melindungi darahku dan merasa aman ditengah-tengah keluargaku lebih baik dari pada mereka membunuhku, sehingga menjadi sia-sialah ahlul baitku. Demi Allah kalaulah saya memerangi Mu’awiyah, pasti mereka mengambil leherku lalu menyerahkannya kepadanya dalam keadaan selamat. Demi Allah, saya menyerah kepadanya, sementara saya berada dalam keadaan selamat demi Allah saya menyerah kepadanya sementara saya berada dalam keadaan merdeka itu lebih baik bagiku daripada dia membunuhku sedangkan saya berstatus sebagai tawanan. (Al-Ihtijaj, 2/10).
Imam Zainal a.s berkata kepada kepada penduduk kuffah, ”Apakah kamu sekalian mengetahui bahwa kalian menulis kepada bapakku lalu kalian menipunya. Kalian memberikan sumpah dan janji kepadanya atas kerelaan diri kalian sendiri kemudian kalian memeranginya dan tidak menongnya? dengan mata yang mana kalian melihat Rasulullah saw, ketika dia berkata kepada kalian, ‘Kalian memerangi keturunanku, merusak kehormatanku maka kalian bukanlah ummatku.” (Al-Ihtijaj, 2/32),dia juga berkata tentang mereka “sesungguhnya mereka menyelisishi kami namun siapakah yang membunuh kami selain mereka ? “ (Al-Ihtijaj, 2/29) [1]
Al-Baqir a.s berkata: ”Kalaulah seluruh manusia adalah pengikut kami, tentu tiga perempat dari mereka adalah orang yang diragukan dan seperempat lagi adalah orang yang bodoh.” (Rijal Kisyi, hal.79).

Ash-Shadiq a.s berkata: “Demi Allah, jika saya menemukan dari kamu tiga orang mu’min yang menyembunyikan ucapanku maka sekali-kali aku tidak menghalalkan untuk menyembunyikan satu haditspun kepada mereka.” (Ushul al-Kaafi, 1/496).
Fatimah Ash-Shugra a.s berkata dalam khutbahnya yang disampaikan kepada penduduk Kufah: “Wahai penduduk Kufah, wahai orang-orang yang suka berhianat, membuat makar dan tipu daya, sesungguhnya Allah menguji kami dengan kamu sekalian, dan kamu sekalian diuji dengan kami, maka Allah menjadikan kami sebagai ujian yang baik. Kalian ingkar kepada kami, mendustakan kami, memandang bahwa jiwa-jiwa kami halal untuk dibunuh dan harta-harta kami halal untuk dirampas. betapa banyak kalian telah membunuh kakek-kakek kami, sedangkan pedang-pedang kalian masih berlumurkan darah-darah kami, Ahlul Bait.

Celaka kalian semua, tunggulah laknat dan adzab! Sebab ia seakan-akan telah menimpa kalian semua. untuk merasakan kepada sebagian kamu keganasan sebagian yang lain kemudian kamu sekalian kekal didalam siksa yang pedih pada hari kiamat akibat kezhaliman kalian atas kami. Ingat sesungguhnya laknat Allah atas orang-orang yang zhalim.

Celaka kalian wahai penduduk Kufah, betapa banyak kalian membacakan janji untuk Rasulullah dan keluarganya, kemudian kalian berhianat kepada saudaranya, Ali bi Abi Thalib, kakekku, dua anaknya dan keturunan yang baik.” Maka, salah seorang penduduk Kufah menimpali dengan sombong, seraya berkata, “kami membunuh Ali dan kedua anak Ali dengan pedang Hindia dan Panah. Kami tawan wanita-wanita mereka sebagaimana tawanan orang-orang Turki, dan kami gempur mereka dengan gempuran yang tidak ada tandingnya.” (Al-Ihtijaj, 2/28).

Zainab binti Amirul Mukminin –Semoga shalawat dilimpahkan kepadanya—berkata kepada penduduk Kufah sebagai kecaman atas mereka: ”Wahai penduduk Kufah, wahai orang-orang yang sombong, penghianat dan kaum yang tidak memiliki solidaritas, sesungguhnya perumpamaan kalian adalah bagaikan seorang perempuan yang mengurai benang-benang yang sudah dipintal dengan kuat kemudian mencerai-beraikannya kembali. Tidak ada diantara kalian selai kejahatan, kesombongan, kebencian dan kedustaan. Apakah kalian menangisi saudaraku,? Tentu demi Allah, banyaklah menangis dan sedikitlah tertawa sungguh kalian telah diuji dengan kehinaan. Bagaimana kalian memandang enteng untuk membunuh menantu dari penutup para nabi. ” (Al-Ihtijaj, 2/29-30)

Orang Kuffah Pengkhianat Husein adalah SYI’AH
Qadhi Nurullah Syustri pula menulis didalam bukunya Majalisu Al’Mu’minin bahwa selepas sekian lama (lebih kurang 4 atau 5 tahun) Sayidina Husain terbunuh, ketua orang-orang Syi’ah mengumpulkan orang-orang Syi’ah dan berkata, ”Kita telah memanggil Sahidina Husain telah memberikan janji akan taat setia kepadanya, kemudian kita berlaku curang dengan membunuhnya. Kesalahan kita sebesar ini tidak akan diampunkan kecuali kita berbunuh-bunuhan sesama kita”. Dengan itu berkumpullah sekian ramai orang-orang Syi’ah ditepi sungai Furat sambil mereka membaca ayat yang bermaksud, ”Maka bertaubatlah kepada tuhan yang telah menjadikan kamu dan bunuhlah dirimu. Itu adalah lebih baik bagimu pada sisi tuhan yang menjadikan kamu” (Surah Al-Baqarah ayat 54). Kemudian mereka berbunuh-bunuhan sesama sendiri. Inilah golongan yang dikenali dalam sejarah islam dengan gelaran “At-Tawaabun”.

Sumber Rujukan :
[1] Sayyid Husain Al-Musawi, Mengapa Saya Keluar dari Syi’ah, hal.19-22. [2] Sayyid Husain Al-Musawi, Mazhab Pecinta Keluarga Nabi. [3] Prof. Dr. Ali Ahmad As-Salus, Ensiklopedi Sunnah Syiah, hal.vii. [4] Prof. Dr. Ali Muhammad Ash-Shalabi, Biografi Ali Bin Abi Thalib [5] Sayyid Hasan al-Husaini, Hasan & Husain, 480-484. [6] https://web.facebook.com/notes/abu-basyer/terbongkar-pembohongan-syiah-pembunuh-sebenar-saidina-hussain-adalah-syiah-kufah/10151630768066040/?_rdr

Sumber: Aliansi Nasional Anti Syiah