Untuk Saat Ini China ‘Hanya’ Genosida Budaya Atas Muslim Uighur Di Xinjiang

*Oleh: Kate Cronin-Furman (Foreign Policy)

Duniaekspress.com (21/9/2018)- Kabar dari Xinjiang, wilayah barat China, musim panas ini telah menjadi malapetaka Orwellian. Satu juta orang telah ditahan melawan kehendak mereka di kamp pendidikan ulang politik. Pejabat intelijen China telah ditugaskan untuk “diadopsi” oleh keluarga sipil. Pos pemeriksaan ada di setiap sudut dan spyware wajib terpasang di setiap perangkat.

Sasaran dari pengawasan oleh polisi politik ini adalah minoritas Muslim Uighur China, yang kesetiaannya pada pemerintah pusat telah lama dicurigai karena alasan nasionalis dan agama. Hubungan yang goyah ini semakin memburuk di tahun 2009, ketika protes yang dilakukan warga Uighur berujung pada kerusuhan dan menyebabkan penindakan keras sebagai tanggapan atas kerusuhan itu.

Ratusan orang tewas dalam bentrokan atau diculik oleh pasukan keamanan. Sejak itu, beberapa serangan teroris mematikan di dekat Xinjiang telah menjadi alasan untuk membenarkan semakin ketatnya pembatasan terhadap hak-hak dan kebebasan kelompok.

Baca Juga:

CHINA LAKUKAN PELANGGARAN HAM MASSAL TERHADAP MUSLIM UIGHUR

Warga Uighur dianggap sebagai masalah bagi China, dan mungkin juga warga yang keras kepala. Mereka adalah subyek yang enggan di negara China, mereka menempati daerah yang merupakan rute penting Inisiatif Sabuk dan Jalan Xi Jinping, dan penindasan yang meningkat sejauh ini telah mendorong resistensi lebih lanjut.

Tapi sejauh yang kami tahu, China tidak membantai orang-orang Uighur. Tapi bukan berarti bahwa represi itu tidak kejam. Anggota pasukan keamanan telah melakukan penyiksaan dan pembunuhan di luar hukum dengan kekebalan hukum. Tetapi tidak ada bukti bahwa China secara sistematis menggunakan kekerasan mematikan dalam upaya untuk secara fisik membasmi minoritas Uighur. Kenapa tidak?

Tentu bukan karena enggan untuk menggunakan kekuatan yang mematikan. Pembatasan telah meningkat ke level mengkhawatirkan dalam beberapa bulan terakhir, dengan pihak berwenang memperlakukan Islam sebagai penyakit ideologis yang menular yang penderitanya harus dikarantina. Jaringan kamp interniran ini telah berkembang menjadi dua kali lipat dalam ukuran sejak awal 2018, dan orang-orang tidak lagi muncul kembali setelah beberapa hari atau minggu.

Sampai sekarang, mereka masih menghilang sejak berbulan-bulan lamanya. Warga Uighur yang tinggal di luar negeri melaporkan bahwa kerabat mereka di kampung halaman tidak menjawab panggilan mereka lagi. Mereka tidak tahu apakah orang yang mereka cintai telah memutuskan hubungan luar negeri untuk menghindari kecurigaan atau menghilang ke kamp seperti warga Uighur lainnya di Xinjiang.

Walaupun pernyataan pemerintah tentang Uighur masih menggambarkan mereka sebagai subjek yang bahagia di negara itu, retorika “teroris” dan “separatis” telah menjadi semakin tidak manusiawi. Setiap warga Uighur, terutama pemuda, dianggap sebagai ekstremis yang harus dihilangkan.

Di lingkungan online China yang dikontrol ketat oleh pemerintah, ujaran kebencian terhadap Islam dan Uighur hampir tidak terkendali. Dalam prakteknya, sekarang sangat sulit bagi orang Uighur untuk tinggal di luar Xinjiang; Orang China Han akan dihukum hanya karena menyewakan kamarnya ke warga Uighur di luar Xinjiang—sementara warga Uighur penyewa telah dikirim ke kamp-kamp di Xinjiang.

Baca Juga:

AS UNGKAP JUTAAN MUSLIM UIGHUR DITAHAN REZIM KOMUNIS CINA

Dengan ukuran apa pun, China telah melakukan kejahatan terhadap kemanusiaan atas perlakuannya terhadap orang-orang Uighur. Secara khusus: penahanan sewenang-wenang dan penganiayaan, keduanya memenuhi syarat sebagai kejahatan terhadap kemanusiaan “ketika dilakukan sebagai bagian dari serangan yang luas atau sistematis yang ditujukan terhadap penduduk sipil manapun.”

Mantan tahanan juga telah mengungkapkan bagaimana penyiksaan di dalam kamp. Ini juga merupakan kejahatan terhadap kemanusiaan jika dilakukan secara massal atau sistematis—seperti yang ditunjukkan oleh laporan Human Rights Watch belum lama ini.

Beberapa anggota komunitas Uighur mengatakan bahwa kekerasan itu semakin meluas. Mereka menuduh China melakukan genosida budaya. Genosida budaya berarti penghapusan identitas kelompok, melalui tindakan-tindakan seperti memindahkan anak-anak secara paksa dari keluarga mereka, membatasi penggunaan bahasa nasional, melarang kegiatan budaya, atau menghancurkan sekolah, lembaga agama, atau situs ingatan.

Tidak seperti genosida “fisik”, tidak harus ada kekerasan. Aktivis Uighur menunjukkan pemisahan paksa keluarga, penargetan ulama dan pemimpin masyarakat lainnya, penahanan dan “pendidikan ulang”, larangan penggunaan bahasa Uighur di sekolah-sekolah, razia masjid, dan larangan penanda identitas budaya seperti rambut, pakaian, dan nama-nama bayi adalah bukti bahwa China sedang mencoba untuk membasmi identitas Uighur.

Genosida budaya bukanlah kejahatan yang didefinisikan dalam hukum internasional. Meskipun dibahas panjang lebar selama penyusunan Konvensi Genosida 1948, perbedaan antara genosida fisik dan budaya tidak selesai sampai ke dokumen akhir. Dari tindakan yang mungkin memenuhi syarat sebagai genosida budaya, hanya pemindahan paksa anak-anaklah yang dikriminalisasi.

Dalam prakteknya, ketiadaan ini bukanlah masalah. Jenis tindakan yang memenuhi syarat sebagai genosida budaya umumnya terjadi bersama, atau menjadi awal dari, kekerasan massal. Aksi-aksi non-kekerasan yang dilakukan dalam upaya penghancuran identitas budaya sering berfungsi sebagai bukti niat yang diperlukan untuk pembantaian massal agar memenuhi syarat sebagai genosida.

Sebagai contoh, kekerasan terhadap Rohingya oleh militer Myanmar telah disertai dengan upaya yang jelas untuk menghilangkan lembaga dan pemimpin budaya Rohingya, dan peristiwa itu terjadi setelah dekade pembatasan kemampuan kelompok tersebut untuk menikah, bekerja, atau mencari pendidikan secara bebas.

Namun, sejauh ini China masih belum melakukan pembunuhan massal. Itu membingungkan. Bertanya mengapa pemerintah tidak melakukan pembantaian mungkin tampak aneh, tetapi ini adalah penganiayaan dalam skala astronomi.

Dengan kekerasan yang represif yang dilakukan terhadap minoritas yang rentan secara massal dan sistematis, tidak terjadinya kematian massal adalah sebuah anomali. Dan khususnya mengejutkan mengingat betapa rumit, mahal, dan sulitnya menghancurkan orang tanpa membunuh mereka.

Operasi yang dijalankan China ini membutuhkan jaringan intelijen besar-besaran yang dapat memantau setiap rumah Uighur di China dan menjangkau anggota diaspora di luar negeri, teknologi biometrik untuk mengidentifikasi dan melacak mereka, pembangunan sistem kamp besar untuk menampung mereka, dan personel untuk menegakkan penahanan mereka dan mengawasi “pendidikan ulang mereka.”

Menghilangkan orang-orang selalu membutuhkan tingkat organisasi dan sumber daya yang tinggi. Meskipun sebuah media populer dapat menggambarkan kekerasan jenis ini tidak rasional, genosida yang berhasil pasti sangat rasional, dan dirasionalisasikan. Ini bukan kekerasan yang kacau; malah khas dengan ketertiban dan kontrolnya.

Baca Juga:

CHINA GUNAKAN TEKNOLOGI CANGGIH UNTUK TINDAS MUSLIM UIGHUR

 

Kasus-kasus simbolis dari abad terakhir, Holocaust dan genosida Rwanda, keduanya terkenal karena hierarki organisasi yang sangat jelas dan rutin yang bertanggung jawab untuk melakukan pembunuhan massal. Struktur komando dan kontrol Nazi yang terkenal kaku memungkinkan kelancaran operasi sistem yang mengantar 11 juta orang ke kematian mereka. Demikian juga, di Rwanda, para penghasut genosida mengeksploitasi aparat birokrasi negara yang canggih untuk memastikan bahwa perintah untuk membunuh dari atas dilakukan di tingkat daerah.

Inilah yang diperlukan untuk melakukan pemusnahan fisik suatu kelompok: struktur organisasi yang dikontrol ketat yang anggotanya dapat secara efektif mengidentifikasi dan mengalahkan sejumlah besar korban, dan yang dapat diandalkan untuk melaksanakan bahkan perintah-perintah yang paling menjijikkan dan amoral.

Namun menghancurkan budaya kelompok tanpa membunuh anggotanya adalah perintah yang lebih sulit daripada pembunuhan massal. Kebutuhan untuk memantau terus suatu populasi menambah beban pengawasan tambahan yang signifikan dan sangat mahal.

Pendanaan untuk Xinjiang tampaknya telah berada di bawah tekanan, dengan pemerintah daerah melaporkan masalah utang yang rumit. Populasi yang dipenjara secara potensial tidak dibatasi ukurannya (daripada yang anggotanya sampai dibunuh untuk memberi ruang bagi lebih banyak narapidana) menciptakan permintaan yang konsisten untuk lebih banyak tenaga kerja; pada tahun 2016 saja, di wilayah tersebut ada lebih banyak personel keamanan dari tahun 2008 hingga 2012, menurut peneliti Adrian Zenz. Dan fakta bahwa tugas ini tidak memiliki titik akhir yang jelas berarti sistem ini harus dipertahankan tanpa batas waktu

Namun ada manfaat yang jelas bagi para pelaku untuk melakukan genosida budaya, daripada fisik. Ya, memang itu lebih sulit dan mahal, tetapi juga lebih mudah untuk menyembunyikan dan mengaburkannya. Tidak ada kuburan massal, tidak ada racun mematikan dan pembusukan. Penahanan sewenang-wenang dan penyiksaan insidentil dapat dengan mudah dimaafkan sebagai upaya anti-terorisme yang terlalu bersemangat, daripada pembunuhan massal.

Dan bahkan ketika protes terhadap tujuan negara yang sah itu sepenuhnya salah (seperti yang harus dilakukan dalam kasus perlakuan kejam China terhadap orang-orang Uighur), rentang perhatian internasional yang terbatas dan pasokan kekejaman yang tidak pernah berakhir ini berarti bahwa penindasan sistematis tanpa adanya jumlah korban tewas yang tinggi hanya mengorbankan reputasi daripada pertumpahan darah. Mengingat dinamika internasional ini, masuk akal untuk aktor berkapasitas tinggi seperti China memilih untuk melakukan strategi ini.

Tingkat kapasitas dan kendali yang luar biasa tinggi yang diperlukan untuk menerapkan kebijakan genosida budaya menjelaskan mengapa kita begitu jarang melihat jenis represi ini tanpa adanya kekerasan yang dahsyat. Meskipun biayanya tinggi dalam istilah absolut, kekerasan mematikan adalah jalan yang lebih murah dan lebih mudah untuk menghancurkan kelompok.

Bukanlah suatu kebetulan bahwa laju penjagalan Holocaust semakin cepat ketika Nazi Jerman menghadapi tekanan yang meningkat pada sumber daya dan kapasitasnya. Demikian juga, perubahan Myanmar dari pemeliharaan negara apartheid menjadi serangan gencar terhadap Rohingya menunjukkan perubahan strategi sebagai reaksi terhadap ketidakmampuan untuk secara efektif menggunakan cara-cara yang kurang kasar untuk menghapuskan identitas kelompok.

Preseden ini memicu peringatan tentang bagaimana keadaan di Xinjiang di masa mendatang. Tindakan China menunjukkan adanya niat yang jelas untuk membasmi ancaman yang dirasakan bahwa identitas Uighur menimbulkan ancaman bagi keamanan negara. Saat ini, China menggunakan strategi tersulit dengan biaya tertinggi untuk tujuan ini. Jika strategi ini terbukti terlalu sulit, kemungkinan besar upaya itu akan gagal dan akhirnya akan menggunakan pendekatan yang lebih mudah daripada melepas targetnya—dengan konsekuensi yang fatal. [mata-mata politik]

*Kate Cronin-Furman adalah seorang dosen Hak Asasi Manusia di Departemen Ilmu Politik di University College London.