Dengki dan Iri Hati Penghalang Hidayah para Munafikun

Duniaekspress.com (22/9/2018)- Salah satu sebab orang munafik memerangi dakwah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah rasa dengki

وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مَسْجِدًا ضِرَارًا وَكُفْرًا وَتَفْرِيقًا بَيْنَ الْمُؤْمِنِينَ وَإِرْصَادًا لِمَنْ حَارَبَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ مِنْ قَبْلُ وَلَيَحْلِفُنَّ إِنْ أَرَدْنَا إِلا الْحُسْنَى وَاللَّهُ يَشْهَدُ إِنَّهُمْ لَكَاذِبُونَ (107) لَا تَقُمْ فِيهِ أَبَدًا لَمَسْجِدٌ أُسِّسَ عَلَى التَّقْوَى مِنْ أَوَّلِ يَوْمٍ أَحَقُّ أَنْ تَقُومَ فِيهِ فِيهِ رِجَالٌ يُحِبُّونَ أَنْ يَتَطَهَّرُوا وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُطَّهِّرِينَ

“Dan (di antara orang-orang munafik itu) ada orang-orang yang mendirikan masjid untuk menimbulkan kemudaratan (pada orang-orang mukmin) dan karena kekafiran(nya), dan untuk memecah belah antara orang-orang mukmin serta menunggu kedatangan orang-orang yang telah memerangi Allah dan Rasul-Nya sejak dahulu. Mereka sesungguhnya bersumpah, “Kami tidak menghendaki selain kebaikan.” Dan Allah menjadi saksi bahwa sesungguhnya mereka itu adalah pendusta (dalam sumpahnya). Janganlah kamu shalat dalam masjid itu selama-lamanya. Sesungguhnya masjid yang didirikan atas dasar takwa (Masjid Quba), sejak hari pertama adalah lebih patut kamu salat di dalamnya. Di dalamnya ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. Dan Allah menyukai orang-orang yang bersih”. (Q.S. At Taubah/9: 107-108).

Dua ayat ini berbicara tentang orang munafik dan gerakan mereka dalam menggembosi dakwah Muhammad. Karenanya, ada beberapa pelajaran yang perlu ditadaburi dari dua ayat di atas. Di antaranya : kedengkian dan iri hati dapat menghalangi hidayah dan menyebabkan pelakunya menjadi musuh Allah dan Rasul-Nya. Itulah yang menimpa Abû ‘Ãmir Ar Rãhibi. Terlahir sebagai suku Khadraj dan menjadi salah satu tokohnya. Namun ketokohan Abû ‘Ãmir Ar Rãhibi tidak mampu menghimpun suku Khadraj dan Aus untuk bersatu di bawah kepemimpinannya.

Ketika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tiba di Madinah dan berhasil menyatukan Aus dan Khadraj, bahkan menjadi pemimpin yang diikuti dan ditaati oleh masyarakat Madinah, hal ini membuat Abû ‘Ãmir Ar Rãhibi mendengki dan iri dengan pencapaian Rasulullah. Ia dengki dan iri lalu memerangi Rasulullah bukan karena perangai Rasulullah yang dinilainya buruk, namun karena keberhasilan dan capaian Rasulullah menjadi orang nomor satu di Madinah.

Dengki dan Iri Hati Menghalangi Hidayah

Salah satu sebab orang munafik memerangi dakwah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah rasa dengki mereka kepada dakwah ini dan keberhasilan yang dicapai Rasulullah dalam kepermimpinan.

Hingga Allah berfirman: “Dan (di antara orang-orang munafik itu) ada orang-orang yang mendirikan masjid untuk menimbulkan kemudaratan (pada orang-orang mukmin) dan karena kekafiran(nya), dan untuk memecah belah antara orang-orang mukmin serta menunggu kedatangan orang-orang yang telah memerangi Allah dan Rasul-Nya.”

Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan ketika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tiba di Madinah, orang-orang muslim berkumpul bersamanya dan kalimah Islam menjadi tinggi. Lalu Allah memenangkan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan kaum mukminin dalam Perang Badar. Maka Abû ‘Ãmir Ar Rãhibi (tokoh dari suku Khadraj) mulai terbakar (baca, mendengki) dan bersikap sebagai oposisi serta memusuhi Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam secara terang-terangan. Ia melarikan diri bergabung dengan orang-orang kafir Mekah, kaum musyrik Quraisy dan membujuk mereka untuk memerangi Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Maka bergabunglah bersama Abû ‘Ãmir Ar Rãhibi orang-orang dari kalangan Arab Badui yang setuju dengan pendapatnya, lalu mereka datang pada tahun terjadinya Perang Uhud. Maka terjadilah suatu cobaan yang menimpa kaum muslim dalam perang itu. Namun akibat yang terpuji hanyalah bagi orang-orang yang bertakwa.

Tersebutlah bahwa Abû ‘Ãmir ini telah membuat lubang-lubang di antara kedua barisan pasukan, dan secara kebetulan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam terjatuh ke dalam salah satunya. Dalam perang itu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengalami luka pada wajahnya, gigi geraham bagian bawah kanannya ada yang rontok, dan kepalanya luka.
Pada permulaan perang, Abû ‘Ãmir maju menghadapi kaumnya yang tergabung ke dalam barisan orang-orang Ansar, lalu ia berkhutbah kepada mereka, membujuk mereka guna membantunya dan bergabung ke dalam barisannya. Setelah menyelesaikan pidatonya itu, orang-orang mengatakan, “Semoga Allah tidak memberikan ketenangan pada matamu, hai orang fasik, hai musuh Allah.” Mereka melempari dan mencacinya. Akhirnya Abû ‘Ãmir kembali seraya berkata, “Demi Allah, sesungguhnya kaumku telah tertimpa keburukan sepeninggalku.”

Pada mulanya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah menyerunya untuk menyembah Allah —yaitu sebelum ia melarikan diri- dan membacakan Al Qur’an kepadanya, tetapi ia tetap tidak mau masuk Islam, dan membangkang. Maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mendoa untuk kecelakaannya, semoga dia mati dalam keadaan jauh dari tempat tinggalnya dan terusir. Maka doa itu menimpanya.

Kejadian itu terjadi ketika kaum muslim selesai dari Perang Uhud dan Abû ‘Ãmir melihat perkara Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam makin bertambah tinggi dan makin muncul. Maka Abû ‘Ãmir pergi menemui Heraklius -Raja Romawi- untuk meminta pertolongan kepadanya dalam menghadapi Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Kaisar Romawi memberikan janji dan harapan kepadanya, lalu ia bermukim di kerajaan Romawi.

Sesudah itu Abû ‘Ãmir menulis surat kepada segolongan kaumnya dari kalangan Ansar yang tergabung dalam golongan orang-orang munafik lagi masih ragu kepada Islam. Dia menjanjikan dan memberikan harapan kepada mereka, bahwa kelak dia akan datang kepada mereka dengan membawa pasukan Romawi untuk memerangi Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan mengalahkannya serta menghentikan kegiatannya. Lalu Abû ‘Ãmir menganjurkan orang-orangnya untuk membuat suatu benteng yang kelak akan dipakai untuk berlindung. Tempat itu sekaligus akan menjadi tempat pengintaian baginya kelak di masa depan bila ia datang kepada mereka.

Maka orang-orang Abû ‘Ãmir mulai membangun sebuah masjid (baca, masjid Dhirar) yang letaknya berdekatan dengan Masjid Quba. Mereka membangun dan mengukuhkannya, dan mereka baru selesai dari pembangunan masjidnya di saat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam hendak pergi ke medan (jihad) Tabuk. Lalu para pembangunnya datang menghadap Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan memohon kepadanya agar sudi melakukan shalat di masjid mereka. Tujuan mereka untuk memperoleh bukti melalui salat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam di dalamnya, sehingga kedudukan masjid itu diakui dan dikuatkan.

Mereka mengemukakan alasannya, bahwa sesungguhnya mereka membangun masjid ini hanyalah untuk orang-orang yang lemah dari kalangan mereka dan orang-orang yang berhalangan di malam yang sangat dingin. Tetapi Allah Swt. memelihara Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dari melakukan shalat di dalam masjid itu. Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. menjawab permintaan mereka melalui sabdanya:
“إِنَّا عَلَى سَفَرٍ، وَلَكِنْ إِذَا رَجَعْنَا إِنْ شَاءَ اللَّهُ”
“Sesungguhnya kami sedang dalam perjalanan. Tetapi jika kami kembali, insya Allah.”

Ketika Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. kembali ke Madinah dari medan Tabuk, dan jarak antara perjalanan untuk sampai ke Madinah hanya tinggal sehari -atau setengah hari- lagi, Malaikat Jibril ‘Alaihis Salam turun dengan membawa berita tentang Masjid Dhirar dan niat para pembangunnya yang hendak menyebarkan kekufuran dan memecah belah persatuan umat Islam. Mereka hendak menyaingi masjid kaum muslim —yaitu Masjid Quba— yang sejak semula dibangun dengan landasan takwa.

Maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. mengutus orang-orang ke Masjid Dirar itu untuk merobohkannya sebelum beliau tiba di Madinah. Dinukil dari Tafsir Ibnu Katsir dengan sedikit ringkasan.

Di antara pelajaran penting dari ayat ini dan sebab turunya ayat –sejarah yang melatarbelakangi turunnya ayat- bahwa salah satu sebab yang menyebabkan Abû ‘Ãmir Ar Rãhibi menjadi musuh dakwah tauhid yang diserukan Rasulullah adalah rasa dengki dan irinya Abû ‘Ãmir kepada pribadi Rasulullah; dimana beliau berhasil menyatukan dua suku bangsa, Aus dan Khadraj dan Abû ‘Ãmir tidakmampu sekalipun ia sangat menginginkannya. Bukan saja menyatukan dua suku yang telah bermusuhan ratusan tahun itu, beliau juga berhasil menjadi pemimpin tertinggi, imam besar mereka. Inilah salah satu sebab Abû ‘Ãmir Ar Rãhibi mendengki lalu memerangi Rasulullah dan kaum muslimin. Disinilah pentingnya menjaga kesucian hati agar tidak dihinggapi penyakit akut iri dan dengki. [ayah_salih]