Duniaekspress.com (24/9/2018)- Pemerintah Israel mengatakan kepada warga Palestina yang tinggal di desa Badui Khan Ahmar Tepi Barat yang diduduki untuk menghancurkan rumah mereka dalam delapan hari ke depan dan pergi.

Peringatan Israel pada hari Ahad kemarin datang hanya beberapa minggu setelah Mahkamah Agung Israel menolak banding terhadap pembongkaran pemukiman Palestina di Khan Ahmar.

“Berdasarkan keputusan Mahkamah Agung, penduduk Khan al-Ahmar menerima pemberitahuan hari ini yang mengharuskan mereka untuk menghancurkan semua struktur di tempat tersebut pada 1 Oktober, 2018,” kata Unit kementerian pertahanan Israel yang mengawasi urusan sipil di Tepi Barat mengatakan dalam sebuah pernyataan.

“Jika Anda menolak, pihak berwenang akan menegakkan perintah pembongkaran (secara paksa, red) sesuai keputusan pengadilan dan hukum,” Ancam kementerian Isarel tersebut.

Baca Juga:

IRLANDIA AKAN AKUI PALESTINA SEBAGAI NEGARA MERDEKA

PESAWAT TEMPUR ISRAEL SERANG GAZA

Rencana Israel untuk menghancurkan desa, yang dihuni 180 orang, dan merelokasi penduduknya telah dikritik oleh pemerintah Palestina dan menarik kecaman dari dunia internasional.

Awal bulan ini, Inggris, Prancis, Jerman, Italia dan Spanyol memperbarui seruan mereka untuk Israel agar tidak menghancurkan desa, memperingatkan konsekuensi bagi penduduk, serta “prospek solusi dua negara”.

“Tidak ada yang akan pergi. Kami harus diusir dengan paksa,” kata juru bicara desa Eid Abu Khamis kepada Al Jazeera.

“Jika kami ingin mengambil insentif ini, kami akan mengambilnya 30 tahun lalu, insentif terus berdatangan tetapi kami semua menolak. tambahnya.

“Kami tinggal di tanah kami, kami tidak akan pergi hanya dengan paksa,” tegasnya.

Yousef Abu Dahouk, ayah empat anak berusia 37 tahun, mengatakan kepada Al Jazeera bahwa pasukan Israel memasuki desa dan menodongkan persenjataan berat di depan anak-anak dekat sekolah yang juga diperkirakan akan dihancurkan.

“Pasukan Israel mencoba memasuki sekolah tetapi para aktivis mencegah mereka. Setelah itu, mereka berjalan di sekitar desa, di antara rumah-rumah dan menjelajahi tempat itu, mencoba mencari tahu berapa banyak aktivis yang ada. Lalu mereka pergi.”