Duniaekspress.com (24/9/2018)- Pejuang oposisi Suriah pro Turki mengatakan pada hari Sabtu (22/9) mereka akan bekerja sama dan mendukung upaya diplomatik Turki yang telah berhasil menghentikan serangan pemerintah yang didukung Rusia di Idlib, tetapi mereka tidak akan menyerahkan senjata atau wilayah mereka.

Sebelumnya dikabarkan, Turki dan Rusia mencapai kesepakatan pada hari Senin yang akan menciptakan zona demiliterisasi antara pemerintah dan pejuang oposisi di Suriah barat laut, menyisakan daerah itu serangan besar yang telah dimobilisasi oleh pasukan pro-pemerintah.

Baca Juga:

MENGAPA DIBENTUK ZONA DEMILITERISASI DI IDLIB ?!

Berdasarkan perjanjian itu, pejuang Suriah harus menarik diri dari zona itu pada 15 Oktober. Presiden Rusia Vladimir Putin mengatakan bahwa zona itu akan 15 hingga 20 km (10 hingga 12 mil) dalam dan  sepanjang garis kontak antara pemberontak dan pejuang pemerintah.

Ini akan dipatroli oleh pasukan Turki dan Rusia.

Front Nasional untuk Pembebasan Suriah, yang berkumpulnya sejumlah faksi pejuang oposisi pro Turki dari Tentara Suriah Merdeka (FSA) yang dianggap moderat, telah mengumumkan kerjasamanya dengan Turki dalam membuat upaya mereka berhasil dalam menyelamatkan warga sipil bencana dari perang.

“Kami tetap berhati-hati dan waspada terhadap setiap pengkhianatan oleh Rusia, rezim dan Iran, terutama setelah penerbitan pernyataan oleh mereka yang menunjukkan perjanjian ini bersifat sementara,” kata kelompok NFL.

“Jari kami akan tetap berada di pelatuk dan kami tidak akan melupakan senjata kami atau tanah kami atau revolusi kami,” tambahnya kelompok pejuang oposisi Suriah pro Turki seperti yang dikutip MEMO, Ahad (23/9/2018).

Putin mengatakan bahwa semua senjata berat oposisi, mortir, tank, sistem roket harus dihapus dari zona demiliterisasi pada 10 Oktober.

Baca Juga:

RUSIA TELAH MEMBUAT ZONA DEMILITERISASI DI IDLIB

Turki mengatakan “oposisi moderat” akan mempertahankan senjatanya dan tetap berada di wilayah yang dimilikinya, dan “kawasan itu akan dibersihkan dari kaum radikal”.

Kelompok militan paling kuat di barat laut, Tahrir al-Sham, belum menyatakan posisinya pada perjanjian Turki-Rusia. Tahrir al-Sham adalah penggabungan militan yang didominasi oleh kelompok yang sebelumnya dikenal sebagai Front Nusra, yang merupakan afiliasi resmi al Qaeda hingga 2016.

Hampir 3 juta orang tinggal di Idlib, sekitar setengah dari mereka Suriah mengungsi akibat perang dari bagian lain Suriah, dan PBB memperingatkan bahwa serangan akan menyebabkan bencana kemanusiaan.