Perseteruan di tubuh daulah ISIS, antaraPengikut Al Hazimi vs Pengikut Turki Al Binʻali

Baca sebelumnya, SEJARAH GHULAT DI LAJNAH MUFAWADHAH ISIS

Duniaekspress.com. (28/9/2018). Sebagaimana diketahui, Daulah ISIS (IS) dan Al-qaidah berbeda pendapat tentang hal takfir, yang pertama lebih keras dalam takfir daripada yang terakhir. Tetapi didalam Daulah ISIS sendiri juga ada pembagian yang kadang-kadang digambarkan sebagai “Pengikut AlHazimi” yang sangat ekstrem/ghuluw dengan “Pengikut Al Bin’ali” yang lebih moderat. Para pengikut Al Hazimi biasa disebut dengan Hazimiyyun atau aliran
Al Hazimi (athThayyaralHazimi), dinamakan seperti itu karena mereka mengkuti seorang ulama’ Arab Sa’udi bernama Ahmad bin ‘Umar Al Hazimi yang lahir di Makkah.
Al Hazimi adalah seorang ulama Salafi di ‘Arab Sa’udi yang dipercaya berusia lima puluhan tahun. Meskipun dipenjara oleh Sa’udi sejak tahun2015, Al Hazimi tidak dikenal karena kecenderungan jihadnya. Dia seorang ulama yang relatif tidak jelas. Al Hazimi mendapatkan reputasi pada jihad hanya setelah revolusi 2011 di Tunisia.
Al Hazimi Berpergian kesana untuk berkhotbah pada beberapa kesempatan. Dalam ceramahnya, ia menganut sebuah doktrin kontroversial yang dikenal sebagai takfir al’adzir atau pengafiran berantai yang menjadi semboyan pengikut Al Hazimi.
Ketika Al Hazimi menjelaskan doktrin takfir al’adzir dalam serangakaian ceramah yang direkam pada akhir 2013, ia bertemu dengan banyak penentang dari kalangan mujahid. Pada pertengahan 2014, Syaikh Turki Al Bin’ali mencela konsep Al Hazimi tentang takfir al’adzir dalam sebuah tweet dengan kata-kata kasar. Syaikh menyebut hal tersebut sebagai bid’ah. Tidak lama setelah itu, Abu Sulaiman As Syami, seorang keturunan Suriyyah-Amerika yang bekerja pada Departemen Media Daulah IS/ISIS, menulis kritik pedas terhadap Al Hazimi dan ide-idenya. Kritik utama yang ditujukan terhadap Al Hazimi adalah bahwa doktrinnya membawa menuju takfir berantai (attakfir biattasalsul). Bahaya takfir berantai secara rinci diperingatkan dalam buku pedoman untuk tentara Daulah ISIS yang ditulis oleh lembaga yang dipimpin oleh Turki Al Bin’ali (lihat, misalnya pada”Muqarrar”, hal.30-32, dan pada
“Taqrirat”,hal.58-60).

Perang Opini antara pengikut Al Hazimi dengan pengikut Turki Al bin’ali

Pada tahun 2014, Komite Umum (Lajnah ‘Ammah)-kemungkinan pendahulu KomiteDelegasi-, mengeluarkan pernyataan untuk melarang pembicaraan tentang “isu-isu sekunder” yang berkaitan dengan udzur biljahl dan mengancam untuk mengadili siapa pun yang mendistribusikan materi audio, visual, atau tulisan terkait hal
tersebut. Target tersirat dari ancaman ini tentu saja adalah para Ghulat dan doktrin mereka tentang takfir al’adzir.
“Orang-orang bodoh tertentu-dalam pernyataan itu-,telah berusaha menebarkan konflik dan perpecahan di antara para prajurit Daulah IS/ISIS dengan mengangkat isu-isu ini.”
Juga di tahun 2014, Daulah IS/ISIS mengumpulkan sejumlah pengikut Al Hazimi di dalam kekuasaannya. Pada bulan September 2014, Daulah IS/ISIS mengeksekusi dua pejabat syariat terkenal, yaitu Abu Ja’far Al Haththab dan Abu ‘Umar Al Kuwaiti, mereka dituduh mengadopsi pandanganAl Hazimi dalam masalah takfir dan pada bulan Desember, merilis sebuah video yang menyoroti penangkapan sel dari Ghulat, video itu disertai artikel berbahasa Inggris yang membahas pembubaran sel tersebut.
Mereka yang ditangkap dituduh tidak hanya mendukung gagasan berbahaya tentang takfir, tetapi juga merencanakan pemberontakan melawan kekhalifahan  Abu bakar al-baghdady.  Namun,
ternyata ini bukanlah akhir dari Hazimiyyun atau Ghulat di dalam Daulah IS/ISIS.

Pernyataan resmi berikutnya tentang takfir berasal dari sesuatu yang disebut Kantor Pusat untuk Pengawasan Departemen (Maktab al Markazili Mutaba’atad Dawawin). Menetapkan dalam rilisan nomor 155 tertanggal 29 Mei 2016, pernyataan ini seperti yang pertama tadi (rilisan Lajnah Ammah), melarang diskusi tentang masalah sekunder udzur biljahl, itu juga dengan jelas mengingatkan takfir berantai (at takfir bi’ltasalsul) dan melarang penggunaan istilah takfir al’adzir. Pada saat yang sama, dalam upaya berkompromi dengan Hazimiyyun/Ghulat, pernyataan itu menegaskan bahwa tidak ada alasan untuk ragu-ragu dalam takfir dan juga mengatakan bahwa masalah ini sudah harus selesai bagi siapapun yang tinggal di Daulah IS/ISIS. Komite Delegasi (Lajnah Mufawwadhah) pada tanggal 17 Mei 2017 merilis ta’mim berjudul “Agar Orang yang Binasa Itu Binasa dengan Bukti yang Nyata
dan Agar Orang yang Hidup Itu Hidup dengan Bukti yang Nyata”. (AB)

 

Bersambung…

 

Baca juga, MEMBONGKAR SANGGAHAN DITUBUH ISIS TIDAK ADA KHAWARIJ