Duniaekspress.com (30/9/2018)- Universitas Islam Al-Azhar Mesir mengecam apa yang digambarkan sebagai “penindasan brutal” yang dilakukan oleh tentara Israel terhadap demonstran damai di Jalur Gaza Palestina. Kecaman itu tertuang dalam sebuah pernyataan.

Pernyataan itu datang sebagai tanggapan terhadap bentrokan Israel dengan demonstran Palestina pada hari Jumat. Sedikitnya tujuh orang Palestina tewas, termasuk dua anak di bawah usia 15 tahun, dan lebih dari 500 orang terluka.

Al-Azhar yang berbasis di Kairo, lembaga belajar Islam paling bergengsi, mengatakan bahwa kejadian pembantaian massal ini beberapa jam setelah kesimpulan sidang Majelis Umum PBB di New York menunjukkan bahwa Israel mengabaikan komunitas internasional dan institusi-institusinya.

Baca Juga:

ISRAEL TEMBAK MATI TUJUH ORANG PALESTINA DUA DIANTARANYA ANAK-ANAK

PEMUDA PALESTINA KEMBALI TEWAS DIHANTAM PELURU ISRAEL

“Itu terjadi di tengah ketidakmampuan kronis komunitas internasional untuk memberikan perlindungan bagi rakyat Palestina dan meminta otoritas penjajah bertanggung jawab atas kejahatan terus menerus mereka terhadap anak-anak dari orang-orang tidak bersenjata ini,” tambah Al-Azhar seperti dikutip dari Xinhua, Minggu (30/9/2018).

Pada hari Jumat, ribuan orang Palestina bergabung dalam unjuk rasa yang disebut “the Great March of Return” yang dimulai pada 30 Maret di lima tempat di Gaza timur di sepanjang perbatasan dengan Israel.

Protes yang sedang berlangsung menuntut hak para pengungsi Palestina untuk kembali ke tanah kelahirannya, yang jumlahnya meningkat dari sekitar 750.000 pada tahun 1950 menjadi lebih dari 5,3 juta pada saat ini.

Ashraf al-Qedra, juru bicara Kementerian Kesehatan Gaza, mengatakan pada hari Jumat bahwa tentara Israel menembak mati 193 orang Palestina dan melukai lebih dari 20.000 orang di Jalur Gaza sejak protes meletus pada akhir Maret.[Sind]