Duniaekspress.com (1/10/2018)- Pengadilan Kairo telah memerintahkan pengadilan ulang pemimpin Ikhwanul Muslimin Mohamed Badie dan tokoh senior lainnya dari kelompok itu mulai 7 Oktober.

Badie, pemimpin spiritual Ikhwanul Muslimin, telah dijatuhi hukuman mati dan hukuman penjara dalam persidangan lain sejak militer Mesir mencopot Presiden Mohamed Morsi yang juga anggota Ikhwan, pada Juli 2013.

Menurut MENA, pengadilan ulang berkaitan dengan kasus di mana Badie dan 14 lainnya yang diberikan hukuman seumur hidup karena hasutan untuk melakukan pembunuhan dan percobaan pembunuhan terhadap demonstran anti Ikhwanul Muslimin di dekat markas kelompok itu pada Juni 2013.

Empat lainnya dijatuhi hukuman mati pada putusan Februari 2015.

Baca Juga:

MESIR HAPUS PIMPINAN IKHWANUL MUSLIMIN DARI DAFTAR TEROR

MESIR BEKUKAN ASET IKHWANUL MUSLIMIN

Tuduhan baru termasuk pembunuhan terencana, percobaan pembunuhan, pemukulan sampai mati dan kepemilikan senjata tanpa izin, MENA melaporkan.

Tidak jelas mengapa dakwaan itu diubah tetapi menurut hukum Mesir, dakwaan dapat diubah jika bukti baru muncul.

Pengadilan ulang, yang diperintahkan oleh Pengadilan Kriminal Kairo, hanya mempengaruhi mereka yang berada di tahanan dan bukan para terdakwa yang diadili secara in absentia.

Khairat al-Shater, seorang tokoh Ikhwan senior lainnya, juga di antara mereka yang akan diadili, menurut kantor berita negara tersebut.

Baca Juga:

PEMIMPIN IKHWANUL MUSLIMIN DIVONIS SEUMUR HIDUP

Sebelumnya, pengadilan Mesir telah menghapus nama pimpinan Ikhwanul Muslimin Mohammad Badie dan 35 anggota lainnya dari daftar teror.

Pengadilan mengadakan dua persidangan untuk membahas banding yang diajukan oleh pemimpin Ikhwannul Muslimin dan anggota terhadap putusan sebelumnya yang dibuat oleh Pengadilan Kriminal Kairo yang menambahkan 51 warga Mesir, termasuk Badei, ke daftar teror selama tiga tahun pada tahun 2017.

Mereka dituntut atas tuduhan bahwa mereka “menyiapkan ruang operasi untuk mengarahkan tindakan Ikhwanul Muslimin melawan negara selama waktu antara Juli 2013 dan Januari 2014.” Para tersangka menyangkal klaim tersebut.