Shock Therapi Kritikan demi kritikan atas Ta’mim Daulah ISIS yang Ghuluw

Baca sebelumnya, BANTAHAN DARI SYAIKH TURKI AL BIN’ALI TERHADAP TA’MIM DAULAH ISIS

Duniaekspress.com. (30/9/2018). Pada bulan Juli dan Agustus muncul sekumpulan sanggahan lain oleh para ulama
Daulah IS/ISIS. Ini ditujukan tidak hanya kritik terhadap ta’mim Komite Delegasi, tetapi juga kepada kepemimpinan kekhalifahan secara umum. Yang pertama dari sanggahan ini ditulis di Mayadin, Suriyyah oleh seorang pejabat syariat bernama Abu Muhammad Al Hussaini Al Hasyimi, seorang Sa’udi keturunan Suriyyah. Dirilis pada tanggal 5 Juli dengan judul “Nasihat Hasyimiyyah untuk Amir Negara Islam”, surat tersebut dipertujukan kepada Abu Bakar Al Baghdadi, dimana penulis mencurahkan kemarahan dan frustasinya.”Kekhalifahan ini,”katanya,” sedang dimakan wilayahdemi wilayah…Mereka yang dulu takut kepada kita sekarang menyerang kita dan mereka yang dulu melarikan diri dari kita, tentara kita sekarang yang melarikan diri…
Daulah IS/ISIS telah menjadi sebuah entitas dimana bidah dan ekstremisme telah menyebar, dimana posisi paling penting ditempati oleh orang-orang yang menindas dan jahat yang bersekutu dengan Khawarij.”

“Wahai,Khalifah,”katanya,”Anda melihat dan Anda tidak berdaya untuk melakukan apapun.” “Wahai, Khalifah, dimana manhaj nubuwwah dengan manhaj yang seimbang (tidak ghuluw dan tidak tafrith). Jika ini adalah kekhalifahan, maka tentu saja itu bukan kekhalifahan yang dijanjikan oleh Nabi Muhammad, ini adalah hal terjauh dari manhaj nubuwwah.” “Jika ada kalimat kritik yang bernada keras, “dia menulis,” itu karena pasien yang sakit membutuhkan terapi kejut (shock therapi).”Al Hasyimi juga mengutuk beberapa orang di Kominte Delegasi. Misalnya ‘Abdun Nashir Al’Iraqi laknatullah’alaih, dia adalah pemimpin Komite Delegasi dan dia juga yang telah meletakkan stempelnya pada ta’mim yang mengerikan tersebut dan Abu Hafsh Al Jazrawi, seorang kelahiran Sa’udi di bagian keamanan(UnitAmni) juga berulang kali dicela dan dido’akan semoga Allah memberinya tempat kembali di neraka-. Al Hasyimi juga mengungkapkan bahwa ia pernah bekerja di Kantor Penelitian dan Studi dibawah pimpinan Turki Al Bin’ali dan wakilnya, Abu Muhammad Al’Azdi. Disana ia menyaksikan secara langsung devaluasi dari departemen kebadan menjadi kantor dan penurunan yang terkait dari pengaruhnya dalam menghadapi konsentrasi kekuasaan yang semakin besar berada ditangan Komite Delegasi. Kematian Turki Al Bin’ali menurut Al Hasyimi, ia merenung, bukanlah kebetulan.

“Turki Al Bin’ali dan para ulama lainnya yang menentang ta’mim tersebut diatur untuk mati dalam serangan udara, koordinat posisi mereka dibocorkan ketangan para Salibis. Mungkin [Komite Delegasi] telah membunuh beberapa dari mereka dan berkata,’Pesawat-pesawat tentara Salib yang telah membunuh mereka.’ “Al Hasyimi juga mengatakan bahwa Abu ‘Abdul BarAs Salihi bersama dengan lebih dari
enam puluh pendukungnya tewas dengan cara ini. Mereka ditangkap pada akhir Juni,kemudian mereka dikurung dipenjara dan kemudian dilenyapkan dalam serangan udara. Semua masalah ini, katanya, telah dibagikan kepada banyak ulama-ulama di Daulah IS/ISIS. “Jika Anda mau, saya dapat menyebutkan untuk Anda lebih dari 30 ulama dan hakim yang semuanya akan berbicara mendukung apa yang telah saya tulis ini.”

Salah satu ulama yang mendukung Al Hasyimi adalah Khabbab Al Jazrawi yang pada pertengahan Agustus merilis pernyataan tentang berita kematian Abu Bakar Al Qahthani. Al Qahthani, seorang ulama kharismatik kelahiran Sa’udi di Daulah IS/ISIS yang dikenal karena penentangannya yang kuat terhadap Ghulat (ia berdebat selama berjam-jam dengan para ekstremis tentang masalah takfir), Al Qahthani dilaporkan terbunuh oleh serangan udara pada 11Agustus. “Keadaan suram ketikaAl Qahthani terbunuh mengingatkan Al Jazrawi tentang cara Turki Al Bin’ali terbunuh.” Khabbab Al Jazrawi melanjutkan dalam pernyataan ini, penjelasan tentang kebangkitan orang-orang yang ia sebut sebagai orang-orang Khawarij (Ghuluq). Sementara beberapa tahun yang lalu mereka tampaknya telah ditundukkan, pada kenyataannya hanya satu kelompok dari mereka yang dipimpin oleh Abu Ja’far Al Haththab yang telah dibersihkan, mereka mengafirkan khalifah Abu bakar al-baghdady dan mencoba memberotak. Kemudian lanjutnya, “Negara[Daulah IS] mulai memperlakukan orang Khawarij (ghuluw) dengan baik…dan [pada akhirnya] mengadopsi doktrin mereka untuk mempertahankan kekuasaan dan karena takut jika Khawarij (ghuluwer) berbalik arah dari mereka.”

Pada akhir Agustus, seorang ulama Negara atau daulah IS/ISIS lainnya menyuarakan keprihatinan seperti yang dilakukan oleh Al Hasyimi dan Al Jazrawi dalam sebuah pernyataan panjang lebar. Ini adalah surat terbuka yang ditulis oleh Abu ‘Abdul Malik Asy Syami di Dair Az-Zur,”Kepada semua orang yang peduli dengan kekhalifahan dan
penegakan hukum Allah dimuka bumi. “Surat itu berjudul” Menghela Napas dari Negara Penindas “yang berisi sebagai berikut. Asy Syami menggambarkan keadaan saat ini di dalam Daulah IS/ISIS sebagai” mimpi buruk yang benar-benar terjadi yang mengancam untuk memusnahkan kita.” “Tragedi terjadi dengan sangat cepat, dengan
kota-kota yang jatuh satu demisatu dan sekarang semua yang tersisa adalah sebidang tanah kecil daerah yang meliputi Mayadin, Al Bukamal, dan beberapa desa di antara mereka.”

Penyebab semua malapetaka ini banyak, namun menurutnya ada tiga penyebab utama:
1.Kepemimpinan Daulah IS/ISIS yang didominasi diisi oleh para pengkhianat.
2.Para Khawarij yang dilindungi dan diberdayakan oleh nomor 1.
3.Media Negara IS/ISIS yang terus berbohong penuh tipu daya yang selalu meyakinkan kita bahwa Negara Islam versi abu bakar al-baghadady keadaannya baik-baik saja, padahal kenyatannya tidak.
“Khalifah itu”, katanya,” telah vakum daritampuk kepemimpinannya dalambeberapa waktu, Komite Delegasi yang sangat berkuasa mengambil alih ke pemimpinannya ketika ketidak hadirannya khalifah. Setelah Abu Muhammad Al
‘Adnani dan kemudian Abu Muhammad Al Furqan, pemimpin Komite Delegasi adalah
‘Abdun  Nashir Al ‘Iraqi yang telah memberikan dukungan kepada paraekstremis/Ghulat lebih dari pendahulunya.

“Al Furqan juga,” menurutnya, “telah mendirikan Kantor Pusat untuk Pengawasan Departemen (Maktab al Markazi) untuk menyenangkan para ekstremis (ghuluw), syaikh Turki Al Bin’ali padahal telah mengajukan keberatan atas pernyataannya pada takfir (rilisan Maktab al Markazino.155), tetapi Al Furqan telah meyakinkannya. Kemudian ‘Abdun Nashir Al ‘Iraqi selama masa jabatannya mendirikan sesuatu yang disebut Kantor untuk
Penelitian Metodologi (Maktab Tadqiq al Manhaji) –Syaikh Turki Al Bin’ali mengacu dengan ini dalam suratnya kepada Komite Delegasi sebagai Komite Metodologi (Lajnah Manhajiyyah)-yang tujuannya adalah untuk menegakkan kemurnian ideologis dengan menyelidiki mereka yang dituduh memegang keyakinan irja’. Itu adalah bentengnya ekstremis/Ghulat. Kemudian datanglah malapetaka besar, yaitu rilis nyata Ta’mim Komite Delegasi yang dimaksudkan untuk menegaskan beberapa doktrin ekstrem/ghuluw dan akhirnya ta’mim tersebut memicu reaksi keras.”

Asy Syami menyebutkan bahwa para ulama seperti Syaikh Turki Al Bin’ali, As Salihi, An Najdi, dan Al Jazrawi yang semuanya telah dibunuh atau dianiaya dipenjara setelah berbicara. Para ekstremis/Ghulat, menurut Asy Syami, terutama berasal dar iTunisia dan Mesir, kemudian ada juga yang berasal dari Sa’udi, Azerbaijan, dan Turki. Ia
memperkirakan pemerintah Sa’udi mengirim Al Hazimi ke Tunisia untuk merusak pikiran para jihadis muda yang kemudian hijrah ke’Iraq dan Suriyyah. Dia juga
menganggap kepemimpinan Negara IS/ISIS telah ditembus oleh mata-mata dinas intelijen regional yang bekerja dengan para ekstremis/Ghulat.
Sementara itu, “Media Negara IS/ISIS terus menyembunyikan berita tentang kehilangan wilayah dan penarikan mundur tentara Negara sambil memikat mereka dengan fantasi dan ilusi memalukan. Salah satu ilusi adalah klaim bahwa kita hidup di akhir zaman, bahwa Negara IS/ISIS adalah negara yang akan menaklukan Istanbul
(Konstantinopel) dan kemudian Roma, dan salah satu khalifahnya akan menjadi orang
yang menyerahkan panji kepada Imam Mahdi atau kepada Isa Al Masih.”
“Pembicaraan seperti itu,” kata Asy Syami, “benar-benar tidak beralasan.”
“Pembentukan kekhalifahan tidak selalu berarti bahwa kita adalah orang-orang yang akan berperang di Dabiq dan bahwa kita adalah orang-orang yang akan menaklukanRoma,dll. Dua ilusi lainnya adalah perbandingan antara Negara IS/ISIS saat ini dan negara muslim awal (diMadinah). Selama Perang Ahzab, dimana Nabi dan para
sahabatnya menang atas pengepungan panjang oleh musuh-musuh mereka, dan bahwa Negara IS/ISIS dapat entah bagaimana mundur kegurun, kemudian memulihkankekuataannya dan  merebut kembali semua yang telah hilang.” “Tidak ada negara tanpa wilayah,”tegasnya.

Asy Syami mengakhiri suratnya dengan seruan kepada ikhwan-ikhwan mujahidin untuk segera menuntu agar khalifah melangkah maju dan agar menyatakan pandangannya dengan jelas tentang apa yang telah terjadi dan membubarkan Komite Delegasi yang korup.”Satu-satunya yang bisa mengakhiri malapetaka ini adalah
khalifah.” Namun, Asy Syami tidak berharap banyak. Berharap untuk segera mati, ia menulis bahwa ia berdoa generasi mujahid masa depan dapat belajar dari pengalaman yang ia tulis tersebut dan tidak melakukan kesalahan yang sama, yaitu membiarkan Ghulat berada dibarisan mujahidin. (AB)

 

Bersambung …

 

Baca juga, SEJARAH GHULAT DI LAJNAH MUFAWADHAH ISIS