duniaekspress.com, 7 Oktober 2018. Eskatologi adalah studi tentang tanda-tanda akhir zaman. Beberapa tokoh dan kelompok menggalinya dari sumber-sumber dalil Islam yang memang kaya khabar tentang tanda-tanda akhir zaman ini, dan mengantarkan pada kesimpulan-kesimpulan tertentu. Namun celakanya kesimpulan-kesimpulan ini menjadi bersifat politis yang membahayakan dan meletakkannya di atas syari’at yang jelas bahkan dapat mengganggu sikap normal seseorang terhadap lingkungannya, seperti tidak ingin berusaha lagi di dunia, atau menjadi fobi yang berlebihan.

Contoh keekstriman akibat kesesatan ini adalah eskatologis Imron Hosein dan para pendakwah ISIS.

Kesesatan Imron Hosein

Imron Hosein lahir tahun 1942 di kepulauan Karibia, Ia sempat bekerja beberapa tahun di Departemen luar negeri negara Trinidad and Tobago,  Ia tertarik kepada ulama Pakistan,  Muhammad Fazlur Rahman dan belajar di Institut Pendidikan Islam Alamiyah dimana Fazlur menjadi kepala sekolahnya. Setelah lulus dan mengabdi pada akhirnya ia menjadi kepala sekolah di institut tersebut.

Bukti penyimpangan Imron Hosein adalah pandangannya tentang rusia. Imron Hosein menganggap Rusia adalah sekutu dan teman di tengah pembantaian sipil Suriah oleh jet-jet pembom Rusia yang mensuport rezim syi’ah berdarah-darah, bashar assad. Hanya dikarenakan Rusia berada di pihak yang berlawanan dengan NATO yang mana Israel berada di dalamnya, bahkan mengajak bersekutu dengan rusia dalam memerangi Turki, karena Turki adalah anggota NATO, sehingga dianggap rusia lebih baik dari Turki (dapat dilihat pada link youtube: https://m.youtube.com/watch?v=5MjM4Zwe3DE

Ketika Imron Hosein ditanya oleh seorang penanya sebagai berikut:

Penanya: Kapan umat Islam membuat dan bersekutu dengan Rum (sesuai hadits tentang akhir zaman bahwa umat islam akan bersekutu dengan Rum), Apakah Rum itu Roma di Italia?

Jawaban Imron Hosein:

Rum dalam Al-Qur’an mudah diidentifikasi. Ini adalah ‘Gereja Kristen Ortodoks Timur’; yang telah mendirikan Kekaisaran Bizantium dengan Konstantinopel sebagai ibukotanya …
Nabi SAW berkata ‘kalian akan membuat aliansi dengan Rum’. Kekaisaran Bizantium telah lenyap hari ini, tetapi ‘Gereja Kristen Ortodoks Timur’ belum. Jika kita ingin menemukan Rum, di mana ‘Gereja Kristen Ortodoks Timur’ hari ini?

Jawabannya, bahwa itu bermarkas sekarang di Rusia. Jika saya salah, saya mengundang Anda untuk mengoreksi saya. Maka ketika Nabi SAW berkata, ‘Anda akan membuat aliansi dengan Rum’, jawaban saya adalah akan menjadi aliansi dengan Rusia…

Tanya-jawab dikutip dari sini:

http://www.imranhosein.org/faq/28-muslim-village/326-rum-rome.html

Kesesatan ISIS /IS

Keekstriman lainnya adalah para propaganda ISIS atau IS, dimana mereka mendalilkan bahwa panji-panji hitam yang dikabarkan dalam hadits-hadits akhir zaman adalah kelompok mereka. Termasuk kehadiran amir mereka, Abu Bakar al baghdadi telah dikabarkan dalam hadits agar wajib setiap kaum muslimin untuk membai’atnya. Propagandis kelompok ini bahkan tak segan-segan mengubah matan hadits, contoh tentang hadits baiah walau sampai merangkak di atas salju:

Ibnu Masud RA meriwayatkan bahawa, “Kami mendatangi Rasulullah SAW dan baginda keluar dengan membawa berita gembira, dan kegembiraan itu terbayang pada wajahnya. Kami bertanya kepada baginda perkara yang menggembirakan itu dan kami tidak sabar untuk mendengarnya. Tiba-tiba datanglah sekumpulan anak-anak muda Bani Hasyim yang di antaranya adalah al-Hasan dan al-Husain RA. Apabila terpandangkan mereka, tiba-tiba kedua-dua mata baginda berlinangan lalu kami pun bertanya, “Wahai Rasulullah, kami melihat sesuatu yang kami tidak sukai pada wajahmu.” Baginda menjawab, “Kami Ahlulbait, telah Allah pilih akhirat kami lebih dari dunia kami. Kaum kerabatku
akan menerima bencana dan penyingkiran selepasku kelak sehingga datanglah Panji panji Hitam dari Timur. Mereka meminta kebaikan tetapi tidak diberikannya. Maka merekapun berjuang dan memperoleh kejayaan. Sesiapa di antara kamu atau keturunan kamu yang hidup pada masa itu, datangilah Imam yang dari ahli keluargaku walau terpaksa merangkak di atas salju. Sungguh, mereka adalah pembawa Panji-panji yang mendapat hidayah. Mereka akan menyerahkannya kepada seorang lelaki dari ahli keluargaku yang namanya seperti namaku, dan nama bapanya seperti nama bapaku. Dia akan memenuhkan dunia ini dengan keadilan dan kesaksamaan.” (Abu Daud, At-Tarmizi, Al-Hakim, Ibnu Hibban, Ibnu Majah).

Mereka menghubungkan Abu Bakar Al-Baghdadi (Amir daulah ISIS) sebagai ahli keluarga Nabi SAW yang dimaksud di dalam hadits di atas. Lalu menghubungkan panji-panji hitam dalam matan hadits di atas sebagai bendera yang dibawa ISIS hari ini. Padahal matan aslinya adalah sebagai berikut:

Telah menceritakan kepada kami Utsman bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami Mu’awiyah bin Hisyam telah menceritakan kepada kami Ali bin Shalih dari Yazid bin Abu Ziyad dari Ibrahim dari ‘Alqamah dari Abdullah dia berkata, “Ketika kami berada di sisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, tiba-tiba seorang pemuda dari Bani Hasyim datang, ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melihat mereka, maka kedua mata beliau terlihat berbinar-binar dan berubah wajahnya.” Abdullah berkata, “Lalu saya bertanya, “Kenapa kami masih melihat di wajah anda ada sesuatu yang kami benci?” beliau menjawab: “Sesungguhnya kami adalah ahli bait yang Allah memilihkan akhirat buat kami atas dunia. Dan sungguh, sepeninggalku nanti ahli baitku akan menemui musibah, bencana dan pengusiran, sehingga suatu kaum dari timur datang dengan membawa bendera-bendera hitam, mereka meminta (diterapkannya) kebaikan namun ditolak. Kemudian mereka berperang dan mendapatkan kemenangan, akhirnya mereka diberi apa yang mereka minta, lalu kaum tersebut tidak mau menerima sehingga mereka menyerahkan urusan tersebut kepada seorang laki-laki dari ahli baitku, lantas ia memenuhinya dengan keadilan sebagaimana (sebelumnya) bumi dipenuhi dengan kejatahan. Barangsiapa dari kalian mendapatinya, maka berbaiatlah walau dalam keadaan merangkak di atas salju.”(oleh Ibnu Majjah 4072)

Jadi yang dimaksud adalah Imam Mahdi itu sendiri.

Kemudian mereka menafsirkan dengan mengubah matan pada hadits sebagai berikut:

Dari Abdullah bin Mas’ud RA, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda , “Raha (peperangan) islam akan berkobar pada tahun tiga puluh lima (35), tiga puluh enam (36), atau tiga puluh tujuh (37). Apabila mereka binasa, maka itulah jalan orang-orang yang binasa, namun apabila mereka menegakkan agamanya, maka akan bertahan hingga tahun ke tujuh puluh.” Lalu aku bertanya, “Akankah kurang dari itu atau lebih?” Beliau menjawab, “Lebih dari itu.”

(Shahih Abu Dawud 4254, Ath-Thahawi, Al-Hakim, Imam Ahmad, Abu Ya’la, Ibnul A’rabi, Ibnu ‘Adi, Al-Khotib, dan Al-Khaththabi dari jalan itu. Dan Al-Hakim shahih sanadnya, terdapat juga di Ash-Shahihah 976)

Mereka berkata: Di hadis diatas di jelaskan secara detail tahun awal terjadinya rangkaian perang akhir zaman yakni tahun 35, 36, atau 37. Apakah yang dimaksud tahun 35 adalah tahun1435 H? insya Allah itulah yang dimaksud, karena di hadist-hadits lain secara tersirat disebutkan bahwa umur eksis-nya Umat Islam tidak lebih dari 1.500 tahun alias tidak lebih dari tahun 1500H. Dengan demikian thn 35 berarti bukanlah tahun 1535 H apalagi tahun 1335 H (sudah lewat).

Lantas kelompok mana yang pada tahun 1435 H melakukan pertempuran & peperangan melawan koalisi kafir+munafik dengan dahsyatnya?? (Mereka mengarahkan indikasi ini pada kelompok mereka (ISIS) yang dideklarasikan menjadi khilafah pada 1435 H). Padahal matan aslinya adalah sebagai berikut:

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Sulaiman Al Anbari berkata, telah menceritakan kepada kami ‘Abdurrahman dari Sufyan dari Manshur dari rib’I bin Hirasy dari Al Bara bin Najiah dari Abdullah bin Mas’ud dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Roda Islam akan berputar (berlangsung) selama tiga puluh lima, atau tiga puluh enam, atau tiga puluh tujuh (tahun). Jika mereka binasa maka itulah jalan orang-orang yang binasa (sebelum mereka), namun jika mereka menegakkan agama, maka mereka akan tetap ada hingga tujuh puluh tahun.” Ibnu Mas’ud berkata, “Aku lalu bertanya, “Dihitung dari pasca tiga puluh lima tahun, atau mulai dari awal berdirinya daulah Islam (di masa kenabian)?” beliau menjawab: “Dihitung dari awal.” Abu Dawud berkata, “Siapa yang mengatakan (Rib’ie bin) Khirasy, ia telah keliru.”

Lalu mengenai umur umat Islam yang hanya 1500 tahun akan kita bahas kemudian.

 

Sikap yang Benar Terhadap Asyrotus Sa’ah (Tanda-Tanda Akhir Zaman)

  • Tidak boleh memastikan waktu datangnya kiamat (akhir zaman) baik berupa tanggal tepat maupun range waktu tertentu.

“Mereka bertanya kepadamu tentang Kiamat, ‘Kapankah terjadinya?’ Katakanlah, ‘Sesungguhnya pengetahuan tentang Kiamat itu adalah pada sisi Rabb-ku; tidak seorang pun yang dapat menjelaskan waktu kedatangannya selain Dia. Kiamat itu amat berat (huru-haranya bagi makhluk) yang di langit dan di bumi. Kiamat itu tidak akan datang kepadamu melainkan dengan tiba-tiba.’ Mereka bertanya kepadamu seakan-akan kamu benar-benar mengetahuinya. Katakanlah, ‘Sesungguhnya pengetahuan tentang hari Kiamat itu adalah di sisi Allah, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.’” [Al-A’raaf: 187]

Imam Muslim meriwayatkan dari Anas bin Malik radhiyallahu’anhu, bahwa dahulu ada seorang arab badui datang menemui Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam.
Lelaki badui itu berkata, “Wahai Rasulullah, kapankah hari kiamat itu?”.
Beliau menjawab, “Apa yang sudah kamu persiapkan untuk menyambut datangnya kiamat?”
Dia menjawab, “Kecintaan kepada Allah dan rasul-Nya.”
Beliau pun bersabda, “Sesungguhnya kamu akan bersama dengan yang kamu cintai.”

Dalam hadits tersebut bahkan Rasul SAW tidak menjawab kapan tepatnya kiamat, malah bertanya apa yang sudah disiapkan oleh si penanya dalam menghadapi hari akhir.

Umar bin Khaththab Radhiyallahu anhu berkata :
Suatu ketika, kami (para sahabat) duduk di dekat Rasululah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tiba-tiba muncul kepada kami seorang lelaki mengenakan pakaian yang sangat putih dan rambutnya amat hitam. Tak terlihat padanya tanda-tanda bekas perjalanan, dan tak ada seorang pun di antara kami yang mengenalnya. Ia segera duduk di hadapan Nabi, lalu lututnya disandarkan kepada lutut Nabi dan meletakkan kedua tangannya di atas kedua paha Nabi, kemudian ia berkata : “Hai, Muhammad! Beritahukan kepadaku tentang Islam.”

…………….. Dst……….

Lelaki itu berkata lagi : “Beritahukan kepadaku kapan terjadi Kiamat?”
Nabi menjawab,”Yang ditanya tidaklah lebih tahu daripada yang bertanya.”
Dia pun bertanya lagi : “Beritahukan kepadaku tentang tanda-tandanya!”
Nabi menjawab,”Jika seorang budak wanita telah melahirkan tuannya; jika engkau melihat orang yang bertelanjang kaki, tanpa memakai baju (miskin papa) serta pengembala kambing telah saling berlomba dalam mendirikan bangunan megah yang menjulang tinggi.”

Tentang pembatasan umur dunia, bahkan ada sebagian ulama masa lalu yang tergelincir, contoh kasus adalah Imam As- Suyuthi, beliau bahkan menggunakan hadits-hadits lemah untuk memperkuatnya.

seperti hadits yang diriwayatkan oleh ath-Thabrani dalam al-Kabiir dari adh-Dhahhak bin Zummal az-Zuhani, dia berkata, “Aku bermimpi, kemudian aku ceritakan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam,” selanjutnya beliau menuturkan hadits yang di dalamnya diungkapkan:

إِذَا أَنَا بِكَ يَا رَسُوْلَ اللهِ عَلَى مِنْبَرٍ فِيْهِ سَبْعُ دَرَجَاتٍ، وَأَنْتَ فِي أَعْلاَهَا دَرَجَةً. فَقَالَ: أَمَا الْمِنْبَرُ الَّذِيْ رَأَيْتَ فِيْهِ سَبْعُ دَرَجَاتٍ وَأَنَا فِي أَعْلاَهَا دَرَجَةً، فَالدُّنْيَا سَبْعَةُ آلاَفِ سَنَةٍ، وَأَنَا فِي آخِرِهَا أَلْفًا.

“Tiba-tiba saja aku di (dekat)mu wahai Rasulullah, di atas mimbar yang memiliki tujuh tangga, dan engkau berada di tangga yang paling tinggi,” kemudian beliau bersabda, “Adapun mimbar yang engkau lihat memiliki tujuh tangga dan aku berada di tangga paling tinggi, itu berarti bahwa (umur) dunia tujuh ribu tahun, dan aku berada di seribuan tahun yang terakhir.”

Dari hal itu Imam as-Suyuthi menyimpulkan bahwa kiamat tinggal 300 tahun lagi (dari masa beliau).

Mengomentari hadits ini, berkata Ibnul Qayyim: “Ini adalah kedustaan yang sangat nyata. Andaikata hadits ini shahih, niscaya semua orang tahu bahwa kiamat akan terjadi 251 tahun mendatang (dari masa Ibnul Qayyim).”[9] (Al-Manarul Munif Fish-Shahih Wadh-Dha’if hal. 80)

Ibnu Hazm berkata: “Kami tidak sedikitpun memastikan hitungan tertentu. Sedangkan orang yang menyangka bahwa dunia itu berumur tujuh ribu tahun atau lebih dari itu, atau kurang darinya, sungguh dia telah berdusta dan berbicara dengan sesuatu yang tidak pernah sedikitpun Rasulullah SAW menyabdakannya dalam lafadz shahih. Bahkan telah shahih dari beliau apa yang menyelisihi persangkaannya.

Kadang para peramal mendasarkan pada hadits shahih, tapi mereka salah dalam menafsirkannya. Misal:

كُنَّا جُلُوسًا عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالشَّمْسُ عَلَـى قُعَيْقِعَـانَ بَعْدَ الْعَصْرِ، فَقَالَ: مَا أَعْمَارُكُمْ فِي أَعْمَارِ مَنْ مَضَى إِلاَّ كَمَا بَقِيَ مِنَ النَّهَارِ فِيمَا مَضَى مِنْهُ.

“Kami pernah duduk-duduk bersama Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sementara matahari berada di atas gunung Qu’aiqa’aan setelah waktu ‘Ashar, lalu beliau bersabda, ‘Tidaklah umur-umur kalian dibandingkan dengan umur orang yang telah berlalu kecuali bagaikan sisa hari (ini) dibandingkan dengan waktu siang yang telah berlalu.’” Musnad Ahmad (VIII/176, no. 5966) syarah Ahmad Syakir, dan beliau berkata, “Isnadnya shahih.”
Ibnu Katsir berkata, “Isnad ini hasan la ba’-sa bihi.” (An-Nihaayah/al-Fitan wal Malaahim (I/194)).
Dan Ibnu Hajar berkata, “Hasan,” (Fat-hul Baari XI/350).
Berdasarkan hadits ini bahwa umur umat Muhammad adalah dari ashar sampai maghrib, mereka membuat perhitungan berdasarkan Ibnu Rajab sebagai berikut:

  1. Masa umat-umat dari masa Nabi Adam as. Sampai Nabi Musa as. Adalah (satu malam penuh) sama dengan 3000 tahun.
  2. Masa umat-umat yang tiga (Yahudi-Nashrani-Islam) adalah (satu siang penuh) sama dengan3000 tahun (dekat dari itu).
  3. Masa umat Yahudi adalah setengah dari siang tersebut sebagaimana yang telah dinyatakan oleh Ibn Rajab dan masa umat Nashrani dan Islam adalah setengah lagi dari siang tersebut. Oleh karena itu:
  4. Apabila umur umat Yahudi adalah setengah dari siang tersebut (dekat dari hitungan tersebut) adalah sama dengan1500 tahun.
  5. Umur umat Nashrani dan Islam adalah sama dengan1500 tahun.
  6. Sedangkan umur umat Nashrani adalah (menurut hadits Salman yang diriwayatkan oleh Bukhori) sama dengan600 tahun. Maka: umur umat Islam (tanpa tambahan) sama dengan 1500 dikurangi 600 tahun sama dengan 900 tahun.
  7.  Kemudian 900 tahun ini ditambahkan lagi 500 tahun (setengah hari akhirat) sebagaimana hadis dari Saad bin Abu Waqash riwayat Abu Dawud dan Ahmad. Rasulullah shallallahu
    ‘alaihi wasallam telah bersabda: Hari dimana manusia akan berdiri menghadap Tuhan semesta
    alam adalah selama setengah hari (Beliau menerangkan Al Quran surah ke-83 Al Muthaffifin).
    Setengah hari akhirat adalah 500 tahun. Hal ini dihubungkan dengan hadits Bukhari dan Muslim yang mengatakan bahwa “Kaum fakir miskin akan memasuki surga sebelum orang-orang kaya selama setengah hari yaitu selama 500 tahun. Sehingga umur Islam menurut Ibnu Rajab adalah 900 + 500 = 1400 tahun

Pada kenyataannya sekarang tahun Hijrah sudah mencapai 1440. Jika adapun yang menghitung sampai 1500 tahun, berarti kiamat akan terjadi pada 1500 – 1440 = 60 tahun lagi, dan harus dikurangi 13 tahun (karena hijrah nabi tahun ke 13), sehingga 60-13 = 47 tahun lagi, sedangkan masa Nabi Isa hidup turun di dunia adalah 40, maka 47-40 = 7 tahun. Sehingga perhitungan ini menjadi tidak masuk akal karena tanda-tanda kiamat seperti perbandingan wanita dengan laki-laki adalah 50:1 harus terjadi selama 7 tahun ini, belum lagi tanda-tanda lain yang belum terjadi atau terlihat.

Penentuan perhitungan waktu kiamat ini sudah dibantah ulama zaman dahulu, dalam syarahnya menafsirkan hadits umat islam seperti ashar sampai maghrib, Ibnu Hajar mengatakan, Mereka yang lebih banyak amalnya (Yahudi dan Nasrani) tidak harus berarti lebih lama eksistensinya karena ada kemungkinan bahwa beramal di masa mereka lebih berat sehingga pahalanya otomatis lebih besar. Hal ini dikuatkan oleh firman Allah yang artinya, ‘Wahai Rabb kami, janganlah Kaubebankan kepada kami beban yang berat, sebagaimana yang telah Kau bebankan kepada orang-orang sebelum kami’.”  Jadi Ibnu Hajar menafsirkan bahwa hadits tersebut bukan tentang perbandingan waktu, tapi perbandingan sulitnya amal.

 

  • Tidak Boleh Memastikan Sesuatu yang Disebutkan Pada Tanda-Tanda di Dalil Akhir Zaman Sebagai si Fulan atau Ini-Itu Hanya boleh Menduga Saja.

Beberapa kejadian di bawah ini menjadi pelajaran bagi kita atas kesalahan memastikan tanda pada dalil akhir zaman jika menunjuk ke pada si fulan:

1.  Tentang dugaan shahabat dari ciri-ciri yang disebutkan Nabi SAW tentang dajjal, Rasulullah SAW Bersabda, “Kedua Orang Tua Dajjal Hidup Selama Tiga Puluh Tahun, Tanpa Dikaruniai Seorang Anak, Kemudian Dikaruniai Seorang Anak Lelaki Yang Banyak Memberi Bahaya Dan Sedikit Memberi Manfaat, Kedua Matanya Tertidur Namun Hatinya Tidak Tidur. “Bapaknya Adalah Seorang Yang Tinggi Dan Gempal, Berhidung Mancung Lakasana Paruh Burung, Sedangkan Ibunya Seorang Wanita Yang Bertulang Besar Dan Berdada Besar.”

Abu Bakrah Berkata, “Setelah Itu Kami Mendengar Berita Bahwa Seorang Bayi Yahudi Lahir Di Madinah. Aku Kemudian Pergi Bersama Zubair Bin Awwam Lalu Menemui Kedua Orang Tuanya. Kami Mendapati Keduanya Tepat Seperti Yang Disebutkan Rasulullah SAW. Nama anak itu adalah Ibnu Shayyad. Namun dugaan itu meleset karena setelah dewasa Ibnu Shayyad masuk Islam dan merubah nama menjadi Abdullah.

2. “Rasulullah SAW pernah bersabda kepada para istrinya, ‘Orang yang paling cepat menyusulku di antara kalian adalah yang paling panjang tangannya..’

Maka apabila kami berkumpul, sepeninggal beliau kami mengukur tangan kami di dinding, untuk mengetahui siapakah yang paling panjang tangannya di antara kami. Aisyah, Zainab, Ummu Salamah, Maimunah, Juwairiyah, Saudah, Hafshah dan Shafiyah mengukur panjang tangan mereka. Hasilnya, Saudah binti Zam’ah lah yang paling panjang ukuran tangannya. Namun kenyataannya yang meninggal dahulu adalah Zainab ra. Ternyata yang dimaksud panjang tangan di sini adalah yang paling banyak sedekahnya. Mirip dengan klaim ISIS yang menafsirkan “panji-panji hitam” sebagai panji ISIS sekarang yang memang qodarullah berwarna hitam, padahal bisa saja makna “panji hitam” di sini adalah makna kiasan seperti kasus “panjang tangan” di atas.

3. Pada tahun 1979, terjadi kudeta di masjidil Haram, Makkah. Saat itu seseorang bersenjata bernama Juhayman merebut mikrofon imam masjid Haram dan mengatakan bahwa Imam Mahdi telah datang yang bernama Muhammad Abdullah bin al-Qahthani, perkataannya dibenarkan beberapa orang di Masjidil Haram dan bersaksi bahwa hal itu sesuai mimpi mereka secara bersamaan. Namun kerusuhan itu usai dan sang “Imam Mahdi” yang mereka gadang tewas diterjang peluru sniper.

Demikianlah beberapa pelajaran jika memastikan tanda-tanda masa depan yang disiratkan dalam dalil dan berakibat fatal. Kita hanya bisa memastikan jika kejadian tersebut telah terjadi sesuai dalil. Karena memang masa depan tidak bisa dipastikan, ia adalah hal ghaib yang hanya bisa kita imani. Para ulama dahulu menempatkan asyratu ssa’ah dalam Bab al-Iman bil Ghoib.

  • Tanda-Tanda Akhir Zaman Tidak Boleh Menjadi Sandaran Hukum Apakah Ia Halal, Haram, Mubah, Dll.

Misalnya Hadits sebagai berikut:

“Wahai Adi bi Hatim, Apakah engkau tahu sebuah tempat bernama Hiirah? Demi Dzat Yang jiwaku di TanganNya, Allah akan menyempurnakan agama ini, hingga seorang wanita di Hiirah akan bepergian seorang diri dengan aman untuk thawaf di Baitullah.”

Hadits tentang tanda-tanda akhir zaman ini tidak bisa menjadi hukum bolehnya seorang wanita berthowaf sendirian.

Demikian juga hadits tanda-tanda akhir zaman yang mana terdapat bangunan yang tinggi bukan berarti membangun bangunan yang tinggi menjadi haram. Maka pemahaman Imron Hosein yang lebih mendukung Rusia (Rusia mendukung pembantaian muslim sunni oleh Bashar asad di Suriah) daripada Turki adalah bathil karena bertentangan dengan syari’at wala’ wal bara’ secara normal.

  • Jikalau menafsirkan tanda-tanda akhir zaman harus mengumpulkan berbagai lafal dari semua jalur dan harus sesuai dengan pemahaman ulama salafus sholeh.

Hal ini bisa terlihat dalam penafsiran hadits-hadits tentang fitnah Najd, yaitu mengenai munculnya tanduk setan di Najd, ketika baginda ditanya : “bagaimana mengenai Najd kami? Mengapa Engkau tidak mendoakannya?” Lalu Baginda Rosul SAW menyebutkan munculnya fitnah dan tanduk setan di Najd. sebagian orang menafsirkannya kepada Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab. Padahal jika menelurusi jalur lain ada matan yang berbunyi “Bagaimana dengan Iraq kami?” Jadi tafsiran Najd di sini adalah Iraq. Namun jangan juga menganggap bahwa negeri Irak adalah negeri yang terkutuk, karena yang dimaksud baginda adalah penduduknya pada suatu masa. terbukti terbunuhnya Utsman bin Affan ra, Hasan ra dan Husein ra adalah oleh kejahatan penduduk Iraq. Namun perlu juga diketahui bahwa Irak melahirkan ulama-ulama Salaf yang mahsyur. Jadi tidak bisa ditafsirkan negeri itu adalah negeri terkutuk dan penduduknya selalu terkutuk.

Wallohu a’lam bi sshowaab.

(Abu Usamah)

BACA JUGA,

WMI DISTRIBUSIKAN 1,3 TON BERAS UNTUK GEMPA DAN TSUNAMI PALU

AMERIKA SERIKAT DAN SEKUTUNYA LAKUKAN GENOSIDE DI AFGHANISTAN