Duniaekspress.com (8/10/2018)- Sejak peristiwa gempa yang disertai tsunami Aceh 2004 yang lalu, frekuensi gempa di Indoensia bertambah meningkat. Bahkan pada gempa Lombok, hampir setiap hari sejak gempa pertama pulau Lombok selalu digoncang dengan gempa. Peristiwa ini jika dikaitkan dengan akidah islamiyah maka memiliki korelasi dengan sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَكْثُرَ الزَّلاَزِلُ.

‘Kiamat tidak akan terjadi hingga frekuensi gempa meningkat.” (HR. Bukhȃrî dalam kitab Al Fitan).

Satu hal yang perlu dicatat, para pemimpin pemerintahan Islam dahulu kala memaknai bahwa musibah seperti gempa adalah teguran Allah. Hal ini telepas bahwa secara sains gempa diterjemahkan sebagai pergeseran lempengan bumi. Lalu para saintis sekuler yang sangat menentang kekuasaan Tuhan itu tidak pernah mau mengkaitkan kuasa dan iradah Tuhan dalam peristiwa gempa.

Terlepas bahwa secara sains gempa adalah pergeseran lempengan bumi, namun satu hal yang perlu dicatat bahwa lempengan bumi tidak akan bergerak kecuali atas izin Allah.

Siapa yang menggerakan lempengan bumi hingga gerakan lempengan-lempengan itu menciptan goncangan yang maha dasyat? Begitu pula jika kita maknai gempa adalah musibah yang Allah timpakan kepada penduduk suatu negeri, pertanyaannya siapa yang menimpakan musibah tersebut? Allah tentunya. Allah Ta’ȃlȃ berfirman:

مَآ أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ فِى الْأَرْضِ وَلَا فِىٓ أَنفُسِكُمْ إِلَّا فِى كِتٰبٍ مِّن قَبْلِ أَن نَّبْرَأَهَآ ۚ إِنَّ ذٰلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ

Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Q.S. Al Hadîd/57: 22).

مَآ أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ ۗ وَمَن يُؤْمِنۢ بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُۥ ۚ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَىْءٍ عَلِيمٌ

Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan ijin Allah; dan barangsiapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (Q.S. Ath Thaghȃbûn/64: 11).

Tidak ada satu musibahpun kecuali musibah itu sudah ditentukan olehNya sejak dahulu kala di lauhul mahfudz dan semua musibah yang terjadi atas izinNya. Karenanya, selain memahami gempa secara sains maka juga harus memahami gempa dari sudut akidah islamiyah dan menjadikan gempa sebagai bahan evaluasi diri, mudah-mudahan dengan adanya gempa semua penduduk negeri dapat mengingat kuasa Allah.

Imam Ibnul Qayyim dalam kitab Al Jawȃb Al Kȃfî mengungkapkan, “Dan terkadang Allah menggetarkan bumi dengan guncangan yang dahsyat, menimbulkan rasa takut, khusyuk, rasa ingin kembali dan tunduk kepada Allah, serta meninggalkan kemaksiatan dan penyesalan atas kekeliruan manusia. Di kalangan Salaf, jika terjadi gempa bumi mereka berkata, ‘Sesungguhnya Tuhan sedang menegur kalian.”

Diriwayatkan pernah terjadi gempa di zaman Rasulullah dan beliau memaknainya sebagai teguran dari Allah sebagai kutipan riwayat dalam Fathul Bari disebutkan :

ﺯﻟﺰﻟﺖ ﺍﻟﻤﺪﻳﻨﺔ ﻓﻲ ﻋﻬﺪ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻓﻘﺎﻝ : ﺇﻥ ﺭﺑﻜﻢ ﻳﺴﺘﻌﺘﺒﻜﻢ ﻓﺄﻋﺘﺒﻮﻩ
“terjadi gempa di Madinah pada zaman Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam, maka Beliau berkata : “Sesungguhnya Rabb kalian sedang menegur kalian, maka bertaubatlah.”

Dalam riwayat lain gempa terjadi di zaman Rasulullah adalah gempa yang terjadi di bukit Uhud, yaitu ketika Rasulullah sedang mendaki bukit Uhud bersama Abu Bakar, Umar, Ustman dan lainnya :

ﺃَﻥَّ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲَّ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﺻَﻌِﺪَ ﺃُﺣُﺪًﺍ ﻭَﺃَﺑُﻮ ﺑَﻜْﺮٍ ﻭَﻋُﻤَﺮُ ﻭَﻋُﺜْﻤَﺎﻥُ ﻓَﺮَﺟَﻒَ ﺑِﻬِﻢْ ﻓَﻘَﺎﻝَ ﺍﺛْﺒُﺖْ ﺃُﺣُﺪُ ﻓَﺈِﻧَّﻤَﺎ ﻋَﻠَﻴْﻚَ ﻧَﺒِﻲٌّ ﻭَﺻِﺪِّﻳﻖٌ ﻭَﺷَﻬِﻴﺪَﺍﻥِ

Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mendaki bukit Uhud bersama Abu Bakar, ‘Umar dan ‘Utsman. Lalu gunung Uhud itu bergetar, maka beliau bersabda: “Tenanglah wahai Uhud, karena di atasmu sekarang ada Nabi, Ash Shiddiq (orang yang jujur, maksudnya Abu Bakar) dan dua orang (yang akan mati) syahid (maksudnya ‘Umar dan ‘Utsman),” (HR. Bukhari).

Diriwayatkan dari Shafiyyah binti Abi Ubaid –istri Abdullah bin Umar- ia menceritakan :

ﺗَﺰَﻟْﺰَﻟَﺖِ ﺍﻟْﻤَﺪِﻳﻨَﺔُ ﻋَﻠَﻰ ﻋَﻬْﺪِ ﻋُﻤَﺮَ، ﻭَﺍﺑْﻦُ ﻋُﻤَﺮَ ﻗَﺎﺋِﻢٌ ﻟَﺎ ﻳَﺸْﻌُﺮُ، ﺣَﺘَّﻰ ﺍﺻْﻄَﻔَﻘَﺖِ ﺍﻟﺴُّﺮُﺭُ، ﻓَﻠَﻤَّﺎ ﺃَﺻْﺒَﺢَ ﻋُﻤَﺮُ ﺭَﺿِﻲَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻨْﻪُ ﻗَﺎﻝَ : ﻳَﺎ ﺃَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟﻨَّﺎﺱُ، ﻣَﺎ ﺃَﺳْﺮَﻉَ ﻣَﺎ ﺃَﺣْﺪَﺛْﺘُﻢْ : ﻟَﺌِﻦْ ﻋَﺎﺩَﺕْ ﻟَﺄَﺧْﺮُﺟَﻦَّ ﻣِﻦْ ﺑَﻴْﻦِ ﺃَﻇْﻬُﺮِﻛُﻢْ

“Terjadi gempa bumi di Madinah pada zaman Umar, -waktu itu Ibnu Umar sedang shalat dan beliau tidak merasakannya-, hingga kursi-kursipun bergoyang. Keesokan harinya Umar bekhutbah : “Wahai manusia, alangkah cepatnya (kemaksiatan) yang kalian buat-buat, sehingga menyebabkan teguran Allah ini, seandainya sampai terjadi gempa lagi, aku sungguh-sungguh akan keluar dari tempat kalian ini”. (HR. Al Baihaqi dan Ibnu Abi Syaibah).

Khalifah Umar bin Abdul Aziz juga tak tinggal diam saat terjadi gempa bumi pada masa kepemimpinannya. Ia segera mengirim surat kepada seluruh wali negeri, Amma ba’du, sesungguhnya gempa ini adalah teguran Allah kepada hamba-hamba-Nya, dan saya telah memerintahkan kepada seluruh negeri untuk keluar pada hari tertentu, maka barangsiapa yang memiliki harta hendaklah bersedekah dengannya.”

“Allah berfirman, ‘Sungguh beruntunglah orang yang membersihkan diri (dengan tobat ataupun zakat). Lalu, dia mengingat nama Tuhannya, lalu ia sembahyang.” (Q.S Al A’lȃ/87: 14-15). Lalu katakanlah apa yang diucapkan Adam Alaihis Salam (saat terusir dari surga), ‘Ya Rabb kami, sesungguhnya kami menzalimi diri kami dan jika Engkau tak jua ampuni dan menyayangi kami, niscaya kami menjadi orang-orang yang merugi.”

“Dan katakan (pula) apa yang dikatakan Nuh Alaihis Salam, ‘Jika Engkau tak mengampuniku dan merahmatiku, aku sungguh orang yang merugi’. Dan katakanlah doa Yunus AS, ‘La ilaha illa anta, Subhanaka, Tiada Tuhan selain Engkau, Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim’.”

Jika saja Umar bin Abdul Aziz ada bersama kita, mereka tentu akan marah dan menegur dengan keras, karena rentetan “teguran” Allah itu tidak kita hiraukan bahkan cenderung diabaikan. Maka, sebelum Allah menegur kita lebih keras, inilah saatnya kita menjawab teguran-Nya. Labbaika Ya Allah, kami kembali kepada-Mu. Karena gempa bukan peristiwa alam semata namun ia berkaitan dengan iradah dan kuasa pencipta alam, Allah Ta’ala. [ayah_shalih]