Menebak Langkah Yang Dijalankan Ratna Dalam Kasus Operasi Plastik

oleh: Sultan Serdang

Duniaekpsress.com (10/10/2018)- Benar-benar Allah rasakan kepada manusia secara umum dan kaum muslimin secara khusus Sanawȃt Khadda’ȃt/tahun yang dipenuhi dengan kebohongan, tahun yang dipenuhi “sandiwara”. Sanawȃt Khadda’ȃt adalah salah satu dari rangkaian akhir zaman yang akan dirasakan khususnya kaum muslimin hingga mereka tidak dapat percaya berita yang mereka dengarkan atau mereka dapatkan. Termasuk di antaranya adalah kasus “Sandiwara Ratna Sarumpaet”.

Lalu sandiwara seperti apa yang sedang terjadi? Karena setiap kita pasti memainkan sandiwara dalam kehidupan masing-masing yang menurut para penulis ini yang disebut dengan “dramaturgi”. Untuk kasus Ratna, ternyata kita, manusia Indonesia, khususnya kaum muslimin sedang menyaksikan “Perpolitikan yang dipenuhi sandiwara dan kepalsuan”. Selamaat datang di era “Sanawȃt Khadda’ȃt”.

“Sandiwara” ini bermula dari foto Ratna Sarumpaet dalam keadaan “bonyok” yang tersebar di dunia maya, bahkan foto berubah menjadi obrolan di dunia nyata hingga di warung-warung kopi. Lalu foto tersebut disebar-luaskan oleh para pendukung oposisi/Prabowo-Sandi bahkan tokoh-tokoh oposisi seperti Fachri Hamzah dan Fadli Zon; jadilah sandiwara ini semakin seru dan menegangkan.

Skrip “sandiwara” ini bermula dari peristiwa yang diceritakan oleh Ratna yaitu pada tanggal 21 September 2019, di Cimahi Ratna dikeroyok sejumlah orang hingga dilarikan sebuah klinik disana. Ternyata, benar saja, peristiwa mengundang iba dan empati sejumlah tokoh hingga Prabowo – Sandi pun terekam jejak digitalnya memberikan dukungan kepada Ratna Sarumpaet.

Dukungan dan empati ini dapat dipahami karena Ratna Sarumpaet sejak beberapa waktu yang lalu sudah menampakkan sikap oposisi terhadap pemerintah berkuasa, lalu hal ini diperkuat dengan penampilan ia dalam aksi 212. Hal ini diperkuat lagi dengan ingatan masyarakat pada kasus yang menimpa aktivitas dan aktivis GHPF dan #2019GantiPresiden; lahirlah persepsi liar di benak masyarakat dalam bentuk dukungan dan empati kepada Ratna.

Baca Juga:

MURKAKAH ALLOH KEPADA NEGERI INI ?

Pada skrip selanjutnya Polisi Republik Indonesia langsung tampil bergerak cepat seperti film India. Dalam waktu yanag sangat kilat, Polisi langsung mengeluarkan laporan yang lengkap sekali. Polisi telah mewawancarai sejumlah saksi di bandara Husein Satranegara, di RS Khusus Bedah Bina Estetika Jakarta dan melakukan pengecekan di 23 RS di wilayah Bandung. Polisi juga telah mengantongi rekaman CCTV, hasil penjejakan melalui sinyal handphone dan bukti perpindahan uang di rekening putra Ratna Sarumpaet. Bahkan kerangka hukum dan analisis yuridis yang telah disiapkan oleh Polda Metro Jaya.

Dalam laporan itu pula, Polisi menyebut bahwa kasus itu bisa dikenai dua pasal; pasal pertama adalah pasal tentang menyiarkan berita bohong dan menimbulkan keonaran di hadapan publik : yaitu pasal 1 dan 2 UU KUHP No 1 Tahun 1946. Sementara pasal yang kedua adalah pasal penebaran ujaran kebencian atau permusuhan individu berdasarkan SARA di media elektronik dengan pasal 28 UU ITE.

Selanjutnya, dalam babak ini publik mungkin mulai merasakan “keanehan”, Ratna Sarumpaaet sebagai “aktor utama” ternyata tidak didakwa dengan Pasal UU ITE, karena Ratna tidak pernah menyiarkan kebohongannya itu lewat media sosial. Lalu pertanyaannya, jika ada dua analisis yuridis yang telah disiapkan polisi, sementara satu pasalnya tak bisa diterapkan kepada Ratna Sarumpaet, lalu pasal itu akan diterapkan pada siapa?

Skrip selanjutnya bermula dengan kemunculan aktor berikutnya : Farhat Abbas, pengacara kontroversial. Apa perannya? Farhat-lah yang melaporkan 17 nama kubu oposisi, tidak tanggung-tanggung nama pertama adalah Prabowo Subianto, lalu Ratna Sarumpaet, Fadli Zon, Rachel Maryam, Rizal Ramli, Nanik Deyang, Ferdinand Hutahaean, Arief Puyono, Natalius Pigai, Fahira Idris, Habiburokhman, Hanum Rais, Said Didu, Eggy Sudjana, Captain Firdaus, Dahnil Azar Simanjuntak, dan Sandiaga Uno.

Kalau skrip ini benar, tentu “sandiwara” ini sukses besar dan sangat menguntungkan pihak petahana dan sangat-sangat merugikan pihak oposisi. Hampir sama dengan skandal Ahok pada pilkada Jakarta sebelumnya.

Lalu kalau skrip “sandiwara” ini benar, maka pertanyaannya adalah apa yang memotivasi Ratna untuk berani bertindak sejauh ini? Apakah uang kah? Apa karena Ratna berideologi sama dengan kubu pendukung petahana? Apa karena “kartu” Ratna dipegang kubu petahana? Atau karena ada tawaran jabatan? Apa karena hubungan relasi yang kuat dengan pihak petahana? Apa Ratna ingin populer dengan “kencing di air zam-zam”? sampai detik ini belum ada indikasi yang menguat sehingga semua analisa hanya berupa zhan dan zhan kata Allah tidak dapat memberikan keputusan hukum apapun! Selamat menganalisa.