Duniaekspress.com (13/10/2018)- Kelompok hak asasi manusia mengatakan Muslim Uighur di Cina menghadapi persekusi dengan antara lain melalui apa yang disebut kamp pendidikan kembali.

Pemerintah daerah Xinjiang menyatakan mereka menerapkan apa yang disebut “pusat pelatihan kejuruan” bagi Muslim Uighur sebagai produk hukum di tengah-tengah kekhawatiran dunia terkait dengan banyaknya orang hilang disana.

Xinjiang menyebutkan berbagai tempat pelatihan tersebut akan mengatasi ekstrimisme lewat “perubahan pemikiran”.

Sementara kelompok hak asasi manusia mengatakan para tahanan dipaksa menyatakan kesetiaan kepada Presiden Xi Jinping, disamping mengecam atau meninggalkan keyakinannya.

Baca Juga:

CHINA LAKUKAN PELANGGARAN HAM MASSAL TERHADAP MUSLIM UIGHUR

Pada bulan Agustus lalu, satu komite PBB menyatakan sekitar satu juta Muslim Uighur dan kelompok Muslim lain kemungkinan ditahan dengan dalih kamp pendidikan kembali.

Tetapi para pejabat yang menghadiri pertemuan HAM PBB mengakui bahwa apa yang mereka sebut warga Uighur “yang dikelabui ekstrimisme keagamaan” telah menjalani pendidikan dan pemukiman kembali.

Cina mengatakan Xinjiang menghadapi ancaman serius dari militan Islamis dan separatis dan menyanggah tuduhan perlakuan tak layak. Ratusan orang dilaporkan meninggal akibat kerusuhan antara Uighur dan anggota mayoritas Han.

Apa isi undang-undang tersebut?
Undang-undang baru Xinjiang mencakup kamp pendidikan kembali itu merupakan rincian pertama terkait apa tindakan pemerintah daerah di wilayah itu.

Di dalamnya disebutkan contoh tingkah laku yang dapat menyebabkan penahanan, termasuk menyebarkan konsep halal pada berbagai hal di luar makanan, menolak menonton TV pemerintah dan mendengarkan radio pemerintah, serta mencegah anak mendapatkan pendidikan pemerintah.

Cina mengatakan di dalam kamp penahanan juga akan diajarkan bahasa Cina Mandarin, konsep hukum dan memberikan pelatihan kejuruan.

Kelompok HAM mengecam kebijakan ini. Sophie Richardson dari Human Rights Watch mengatakan “kata-kata tertulis menunjukkan pelanggaran HAM besar-besaran dan tidak pantas disebut sebagai ‘hukum'”.

Produk halal selain makanan dilarang

Cina juga meluncurkan kebijakan terhadap berbagai praktek agama Islam di Xinjiang. Beijing menginginkan penghentian penggunaan produk halal bukan makanan.

Sebuah koran melaporkan penggunaan istilah halal untuk mewakili barang-barang seperti pasta gigi telah mengaburkan batas antara kehidupan keagamaan dengan sekuler, serta membuat orang menjadi korban ekstrimisme keagamaan.

Pada hari Senin (09/10), sejumlah petinggi Partai Komunis di ibu kota Xinjiang, Urumqi, memimpin para kader untuk bersumpah menentang “kecenderungan menyatakan halal pada semua hal”, lapor kantor berita AFP.

Baca Juga:

AS UNGKAP JUTAAN MUSLIM UIGHUR DITAHAN REZIM KOMUNIS CINA

Peraturan baru ini juga memperjelas larangan mengenakan kerudung bagi perempuan Muslim.

Anggota partai komunis dan birokrat diperintahkan untuk menggunakan bahasa Cina Mandarin di depan umum, bukannya bahasa setempat.

Seperti apa keadaan kamp?
Sejumlah mantan tahanan kamp menceritakan kepada BBC tentang siksaan fisik dan psikologis yang terjadi disana. Seluruh anggota keluarga telah hilang, katanya.

Pada bulan Juli, seorang bekas guru di salah satu kamp yang melarikan diri ke Kazakhstan mengatakan di depan pengadilan bahwa “di Cina mereka menyebutnya kamp politik tetapi tempat itu sebenarnya sebuah penjara di pegunungan”.

The New York Times mengutip bekas tahanan yang mengatakan mereka dipaksa menyanyikan lagu-lagu seperti “Tanpa Partai Komunis, Tidak Akan Ada Cina yang Baru” dan bagi orang-orang yang lupa syairnya, tidak berikan makan pagi.

“Pada akhirnya, semua pejabat menyampaikan satu hal penting. Kebesaran Partai Komunis Cina, keterbelakangan kebudayaan Uighur dan kecanggihan budaya Cina,” kata mantan tahanan Abdusalam Muhemet kepada koran tersebut.

Baca Juga:

KURUN WAKTU TIGA BULAN 5000 MESJID DIHANCURKAN REZIM KOMUNIS CINA

Laporan The World Uighur Congress menyatakan para tahanan dibui untuk waktu tidak ditentukan, tanpa dakwaan dan dipaksa meneriakkan slogan Partai Komunis.

Mereka dilaporkan tidak cukup diberikan makanan dan laporan banyak laporan tentang penyiksaan.

Sebagian besar tahanan tidak pernah didakwa dan tidak mendapatkan bantuan hukum.

Meskipun demikian koran pemerintah berbahasa Inggris, Global Times, tetap mengatakan penjagaan ketat di daerah tersebut untuk mencegah tempat itu menjadi “Suriah-nya Cina” atau “Libya-nya Cina”.

Siapakah orang Uighur?

Orang Uighur adalah Muslim berdarah Turki yang sebagian besar tinggal di Xinjiang, di mana jumlah mereka adalah 45% dari keseluruhan penduduk disana.

Mereka sendiri memandang diri, secara budaya dan kesukuan, dekat dengan negara-negara Asia Tengah, dan bahasa mereka mirip dengan bahasa Turki.

Dalam beberapa puluh tahun terakhir, banyak orang Cina Han (suku mayoritas di Cina) pindah ke Xinjiang dan warga Uighur merasa kebudayaan dan kehidupan mereka terancam.

Xinjiang secara resmi diperlakukan sebagai daerah otonomi di dalam Cina, seperti Tibet di bagian selatan negara itu.

Sumber: BBC